
Tok Tok Tok!!
Pintu di ketuk oleh seseorang, Aisha dan Zahra panik tak karuan di balik pintu sambil meremas jari mereka, saking paniknya keringat dingin mulai bercucuran di tubuh mereka.
Tok Tok Tok!!
Sekali lagi orang itu mengetuk pintu dengan tenaga yang cukup kuat sehingga bunyi ketukannya sedikit menggelegar di dalam masjid. namun, tak ada seorang pun yang berada di dalam nya kecuali mereka berdua, Aisha dan Zahra saling menatap bingung apa yang harus mereka lakukan.
"Assalamu’alaikum." Orang itu mengucapkan salam kepada mereka berdua, sehingga membuat mereka bingung apakah orang itu hendak berbuat jahat atau malah sebaliknya.
"Waalaikum salam." Aisha memberanikan diri untuk menjawab salamnya dengan perasaan yang tidak karuan.
"Aisha!?" ucap orang tersebut membuat Aisha terkejut bagaimana mungkin dia bisa mengetahui namanya.
"Siapa?" sahut Zahra yang sedari tadi mencoba untuk mengintip dari balik jendela.
"Saya Dean yang tadi ikut menguji," ujar laki-laki yang bernama Dean itu membuat mereka merasa tenang karena mengetahui bahwa orang itu adalah orang yang baik.
Mereka lalu membuka pintu dan menyapanya kemudian memohon maaf karena sudah curiga kepadanya.
"Tidak apa-apa ko, tapi yang buat saya penasaran kenapa kalian belum pulang?" tanya Dean dengan penuh penasaran.
Mereka lalu menceritakan kejadian sebelumnya kepada Dean, bahwa mereka berasal dari kampung Rambutan yang jauh dari kota, mereka pergi ke kota hanya untuk mengikuti penyeleksian karena Aisha mempunyai suara yang sangat merdu. kemudian, karena keteledoran mereka dompet yang terdapat uang untuk makan dan pulang hilang di perjalanan membuat mereka terlantar dan terpaksa harus menginap di masjid dan mereka tidak tau apa yang harus mereka lakukan, sedangkan untuk pulang membutuhkan biaya yang lumayan mahal mereka juga menceritakan bahwa uang yang mereka bawa adalah uang tabungan mereka selama mengajar di sekolah dasar.
"Bagaimana jika sementara kalian tinggal di pondok pesantren yang tidak jauh jaraknya dari sini?" ajak Dean, "Kebetulan saya merupakan pengajar di pondok itu," lanjut Dean sambil menatap ke arah Aisha.
__ADS_1
"Apakah membutuhkan biaya? kami nggak ada uang sama sekali," tutur Zahra seraya menatap ke arah sahabatnya.
"Tidak apa-apa insya allah gratis buat kalian nanti saya akan beri tau pak kiyai tentang keadaan kalian," sambung Dean sambil tersenyum ramah.
"Daripada kalian di sini dan tidak tau apa yang harus kalian lakukan, lebih baik kalian tinggal dulu sementara di pondok pesantren nanti besok insya allah saya akan temani kalian untuk mengirim surat ke keluarga kalian ke pos mudah-mudahan bisa membantu," ucap Dean kepada mereka, Aisha dan Zahra hanya mengangguk karena memang mereka tidak punya pilihan lain, daripada mereka tinggal seperti gembel lebih baik tinggal di pesantren untuk sementara.
Setelah berkemas mereka kemudian berjalan mengikuti langkah kaki Dean yang menggunakan sarung berwarna hitam dan peci rotan, Dean terlihat berwibawa melangkahkan kakinya yang mantap membawa mereka menuju pondok pesantren yang tidak terlalu jauh dari masjid tempat mereka berada. malam semakin larut dan lalu lalang kendaraan mulai berkurang, angin yang dingin mulai terasa membuat mereka rindu kepada kampung halaman.
......................
Pondok Pesantren Babus salam tertulis di gerbang pintu masuk pondok itu, terdapat gedung asrama yang cukup sederhana dan musholla yang lumayan besar dengan dua buah kubah yang berwarna hijau tua.
Suasana di pondok sangat hening mungkin para santri sudah terlelap tidur karena malam sudah sangat larut. Namun, beberapa burung-burung malam memecahkan keheningan malam itu dengan kicauannya yang sedikit memekakkan telinga. Di samping asrama terdapat sebuah kolam ikan yang cukup besar beberapa ikan terlihat sedang menimbulkan kepalanya ke permukaan.
Aisha dan Zahra lalu masuk ke dalam ruangan itu dengan hati-hati, karena terdapat beberapa piring dan gelas di tengah ruangan itu.
"Baiklah kalian istirahat, saya pamit dulu." Setelah mengucapkan salam Dean lalu pergi meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu.
"Ra pakai ini dulu buat naruh barang," ucap Aisha seraya menunjukkannya kepada lemari yang lumayan sudah usang. Zahra lalu menaruh bawaan mereka di dalam lemari itu dengan hati-hati. Terdapat beberapa kitab di sebuah rak buku dan juga sajadah dan kerudung. mereka lalu mulai merapihkan ruangan agar bisa istirahat dengan tenang.
"Tidur pakai karpet Sha?" Zahra membawa sebuah karpet dari sudut ruangan.
"Mau pakai apa lagi Ra," tutur Aisha seraya mengatupkan bibirnya dan tersenyum lebar, Zahra lalu membentangkan karpet di tengah ruangan dengan hati-hati setelah itu mereka beristirahat di atas karpet seraya merindukan suasana malam di rumah mereka masing-masing.
Aisha merindukan ibu dan adiknya, entah apa yang sedang mereka lakukan, ibunya pasti tidak akan khawatir karena ia sudah memberitahukannya bahwa ia akan menginap di rumah Zahra, rasa bersalah mulai menghantui pikiran dan perasaannya karena sudah berani membohongi ibunya, entah apa yang akan ia katakan nanti di hadapan ibunya ia hanya pasrah dengan apa yang terjadi hari ini. Kantuk mulai menyerangnya matanya perlahan terkatup lalu ia pergi menyulam mimpi.
__ADS_1
......................
"Teh bangun teh sudah siang." Seorang perempuan dengan bulu halis yang tipis dan hidung yang mancung membangunkan Aisha dari tidurnya, perlahan Aisha bangun dan terkejut melihat perempuan itu yang sedang tersenyum kepadanya.
"Halo teh nama saya Hipjiah," ucap perempuan yang manis itu seraya mengulurkan tangannya kepada Aisha.
Aisha lalu bangun dan menyambut ulurannya dan memperkenalkan dirinya, ia kemudian melihat ke arah Zahra yang sedang memakan sesuatu di atas piring dengan senyuman canda kepadanya.
"Udah aku bangunin kamunya kebo banget sih," canda Zahra sambil tertawa kecil yang kemudian di sambut oleh Aisha yang memasang ekspresi cemberut.
"Ayo teh Aisha, di makan dulu sarapannya," ucap Perempuan manis yang bernama Hipjiah itu seraya menyodorkan sebuah piring yang berisi nasi putih dan tempe goreng kepadanya.
"Makan Sha biar kuat." Zahra kembali bergurau sambil memakan tempe ke mulutnya. Aisha lalu mulai memakan makanan yang telah Hipjiah sediakan dengan lahap.
"Setelah makan nanti kita pergi ke kiyai yah, aku pamit dulu." Hipjiah lalu pergi meninggalkan mereka berdua yang tengah menikmati makanan dengan lahap. Setelah selesai makan, mereka mencuci piring di samping kantor yang terdapat sebuah keran air.
"Weh ada anak baru nih." Seorang perempuan dengan perawakan yang tinggi datang kepada mereka di susul oleh dua orang temannya.
"Boleh nih traktir kita," ucap seorang perempuan yang mempunyai tahi lalat di atas bibirnya.
"ya minimal gorengan lah," sambung temannya yang mempunyai bulu mata yang sangat lentik.
Aisha dan Zahra hanya pokus untuk mencuci piring itu tanpa memperdulikan ucapan mereka bertiga, namun salah satu dari mereka dengan berani mendorong Zahra yang sedang mencuci piring sehingga membuat piring itu jatuh dan pecah berantakan.
...****************...
__ADS_1