Cinta Buah Simalakama

Cinta Buah Simalakama
Ini Ujian


__ADS_3

Aisha mengangkat tangannya bertakbir kepada Allah yang maha besar, ia membaca surat Al-fatihah dengan tartil dan menikmati setiap bacaan yang di ucapkan lisannya. setiap kehidupan pasti akan ada ujian entah itu harapan yang tidak pernah tercapai atau suatu peristiwa yang menimpa kehidupan yang meninggalkan trauma yang mendalam dan tidak pernah terlupakan.


Setelah Zahra kehilangan dompetnya mereka berdua sangat panik dan bingung harus berbuat apa dan makanan mereka berdua pun belum di bayar, namun karena ibu penjaga rumah makan itu baik hati ia hanya menyuruh mereka untuk mencuci piring dan gelas yang lumayan menumpuk di belakang rumah makan, setelah selesai mencuci piring dan gelas mereka lalu pergi ke masjid yang jaraknya cukup dekat dari rumah makan masakan padang.


"Sha bagaimana dong," rengek Zahra kepada Aisha setelah menyelesaikan sholat ashar, Aisha yang di tanya malah makin bingung dengan apa yang harus dilakukan.


"Aku juga nggk tau Ra," ucap Aisha sambil duduk di samping Zahra dengan tatapan lesu dan pasrah.


"Kita ke kantor penyeleksian vokal dulu bagaimana!?" usul Zahra sambil memegang tangan Aisha, Aisha lalu menyetujuinya karena Zahra mengatakan berkali-kali kepadanya bahwa jaraknya dari tempat itu tidak terlalu jauh, mereka lalu bergegas pergi menuju tempat penyeleksian vokal untuk mengikuti penyeleksian yang mungkin tidak lama lagi akan di tutup.


Suasana di kota sangat jauh berbeda dengan suasana di pedesaan. Di kota bunyi bising kendaraan terdengar seolah tak berhenti, beberapa kali terdengar suara klakson kendaraan yang memekakkan gendang telinga, berbeda dengan tempat mereka yang berada di pedesaan yang setiap pagi disambut dengan kicauan burung yang sedang hinggap di dahan-dahan pohon yang rindang dengan angin sepoi-sepoi yang memanjakan tubuh.


Setelah sampai di depan gedung tempat penyeleksian yang ukurannya cukup besar mereka di sambut oleh Satpam tepat di depan gerbang.


"Hallo selamat sore, ada yang bisa saya bantu," sapa Satpam sambil melangkahkan kakinya ke arah mereka.


"Halo pak, saya ingin mengikuti penyeleksian vokal suara pak apa benar ini tempat nya?" tanya Zahra.


"Yaa betul tapi kakak-kakak ini sepertinya datang sangat telat ya, sebentar lagi penyeleksiannya akan segera di tutup," ungkap Satpam itu seraya melihat jam yang berada di tangan kirinya.


"Ohh terima kasih pak!" seru Zahra sambil menarik tangan Aisha menuju ke dalam gedung sembari berlari kecil di area lorong hingga mengeluarkan suara yang cukup gaduh, Aisha hanya pasrah sambil mengikuti langkah Zahra yang melangkah sangat cepat.


......................


Seorang perempuan dengan kaca mata dan kerudung berwarna merah tua bercampur biru hendak menutup pintu dengan tangan kirinya perlahan, di leher nya terdapat kartu tanda pengenal ke panitiaan Penyeleksian vokal sholawat, namun dari kejauhan ia di kagetkan dengan suara langkah kaki yang sangat berisik yang menggema di sepanjang lorong gedung.


"jangan dulu di tutup kakk!!" Seorang perempuan berlari sambil menggandeng seseorang di belakangnya.


"Halo kak, mohon maaf nama saya Zahra dan ini teman saya Aisha yang ingin ikut penyeleksian vokal sholawat," lanjut perempuan itu sesampai di hadapannya.


"Halo juga kak, tapi sepertinya penyeleksian sudah di tutup yaa," balasnya sambil menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"kak kami mohon, kami datang dari luar kota kak," rengek Aisha sambil menunjukan tatapan permohonan kepadanya.


"Ya terus kalo kalian dari luar kota saya peduli gitu!?" hardik perempuan itu seraya mengerucutkan bibirnya.


"kasih kami kesempatan kak," pinta Zahra seraya memohon kepadanya.


"Kalian ngeganggu banget sih kan di pengumuman juga tertulis kalo penutupannya jam lima sore!" Sesal perempuan itu menghembuskan napas berat seraya menutup pintu ruangan. kemudian, berjalan meninggalkan mereka berdua yang hanya pasrah dengan tatapan putus asa.


"Zwa!?" Suara seorang laki-laki terdengar nyaring memanggil perempuan itu sambil berjalan ke arahnya.


"Kenapa Dean?" Tanya perempuan itu.


"Kakak-kakak ini mau ikut seleksi juga kan, kenapa nggk kamu buka aja pintu nya buat seleksi yang nggak butuh waktu lama juga kan?" tutur laki-laki itu sambil menatap lurus ke arah perempuan itu.


"Tapi An waktunya udah habis loh," tukas perempuan itu.


" Mereka udah datang ke sini Zwa seenggaknya hargai mereka meski datang telat, mungkin mereka juga ada kesibukan lain yang kita nggak tau," kilah laki-laki itu membela pendapat nya agar memberi kesempatan kepada mereka.


"Heuh, yaudah ayo siapa yang mau seleksi siap-siap masuk ke dalam ruangan!" teriak perempuan itu sambil melangkahkan kakinya kembali ke dalam ruangan.


"Pak Dito nya mana Zwa?" tanya laki-laki itu.


"Udah pulang," ketus perempuan itu.


"Yaudah aku aja yang ikut nilai."


"Terserah kamu aja deh, males aku ngomong sama kamu," cibir perempuan itu.


......................


Setelah mengikuti penyeleksian Aisha dan Zahra bergegas untuk pergi menuju masjid terdekat, penyeleksian tidak membutuhkan waktu lama Aisha hanya di minta untuk memperkenalkan diri dan membawakan satu sholawat yang kemudian di nilai oleh panitia.

__ADS_1


"Hai, kalian mau langsung pulang?" tanya laki-laki yang bernama Dean ketika mereka sudah sampai di depan gerbang masuk gedung.


"Kita mau pergi ke masjid terlebih dahulu ka," jawab Zahra.


"Oh begitu, oke hati-hati di jalan ya."


" Baik kak."


" Oh iya kak, makasih ya buat bantuannya tadi kalo nggk ada kakak nggk tau lagi deh gimana kelanjutannya," ucap Aisha berterima kasih kepada Dean.


"Nggk apa-apa ko, emang Nazwa nya aja yang agak kasar orangnya," tutur Dean memberitahukan kepada mereka nama perempuan yang tadi pertama kali bertemu.


"Yaudah kak, kita duluan ya takut ke maghriban di jalan," pamit Zahra kemudian mereka berjalan menuju arah masjid meninggalkan tempat penyeleksian itu berada, di depan gerbang Satpam menyapa mereka berdua sambil tersenyum ramah.


......................


Suara Adzan bergema di langit-langit kota, suara takbir berkumandang dengan indahnya, beberapa ekor kelalawar terbang dengan gesitnya meskipun jumlah mereka tidak sebanyak di pedesaan. Kendaraan di jalan bertambah padat suara bising klakson terdengar memecah hiruk pikuk kota, debu-debu berterbangan dengan bebasnya karena ban mobil dan sepeda motor yang berlalu lalang.


"Ra gmna kita pulang nya?" tanya Aisha dengan tatapan sedih.


"Aku juga nggk tau Sha," balas Zahra dengan tatapan yang tidak jauh beda dengan tatapan Aisha.


"Malam ini kita tidur di mana Ra?" ucap Aisha dengan mata yang mulai berlinang air mata.


"Kalau ayahku tau aku di sini apa yang bakal ia lakuin Ra, aku takut," sambung nya sambil meneteskan air mata.


"Nggk tau Sha, aku juga nggk tau, aku juga bingung," tutur Zahra sambil memeluk lututnya.


Terlintas di pikiran mereka bayangan yang liar bagaimana mereka melanjutkan hidup, bagaimana mereka besok akan makan, mandi atau hanya untuk berganti pakaian. Apakah besok mereka akan mengemis atau mengamen atau malah menjual diri sendiri hanya untuk pulang ke kampung halaman.


Satu dua tetes air mata keluar dari bola mata yang kemudian mengalirkan aliran yang hangat di wajah mereka. bola mata yang terlihat indah lama kelamaan berubah menjadi merah kesedihan. Apa yang harus mereka lakukan untuk bisa bertahan hidup di kota ini?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2