Cinta Buah Simalakama

Cinta Buah Simalakama
Debu Kota


__ADS_3

Suara yang cukup keras terdengar saat sebuah piring jatuh dari tangan Zahra, pecahannya berserakan di lantai membuat beberapa orang memperhatikannya.


"Yang bener dong kalo nyuci tuh!" cela perempuan dengan bulu mata yang lentik.


"maksud kalian apa?" timpal Zahra dengan nada suara yang cukup tinggi,"jelas-jelas kamu yang ngedorong aku!" sambung Zahra dengan tatapan mata yang tajam


"Eh anak baru nggk usah songong deh!" potong perempuan dengan perawakan yang tinggi sambil menatap Zahra dengan tatapan sinis.


"Udah Ra nggak usah di ladenin," ucap Aisha sambil merapihkan pecahan piring yang berserakan di lantai.


"Nah gitu dong anak kampung kaya kalian emang pantes nya jadi babu!" hina perempuan dengan bulu mata letik yang kemudian di susul oleh tawa mereka bertiga.


"Maksud kamu apa? anak kampung pantes jadi babu hah!?" cecar Zahra dengan tatapan merah padam dan tangannya yang di kepal keras.


"Ada apa ribut-ribut," Hipjiah datang melerai perdebatan mereka, "Hana Rahayu Anggi kalian ngapain di sini? bukannya sekarang tugas kalian buat membersihkan halaman pondok?!" sambung Hipjiah memojokkan mereka bertiga yang sekarang menundukan kepalanya ke bawah.


"Nggak kak tadi kita cuma ngobrol aja," ucap Hana perempuan dengan perawakan yang tinggi.


"Iya kak kita cuma kenalan doang ko," sambung Anggi perempuan yang mempunyai tahi lalat di atas bibirnya sambil menatap ke arah Aisha dan Zahra.


"Apa benar begitu Zahra, Aisha?" tanya Hipjiah kepada mereka berdua, seketika mereka bertiga khawatir jika mereka akan membeberkan apa yang sebenarnya terjadi, Zahra hendak membuka suaranya namun Aisha menahannya.


"Iya ka betul tadi kami cuma kenalan aja," jawab Aisha kepada Hipjiah, Zahra langsung menatap bingung Aisha karena ucapannya yang tidak sesuai dengan kebenaran yang ada.


"Itu kenapa piringnya pecah?" lanjut Hipjiah sambil memijingkan matanya sebelah membuat Aisha sedikit gelagapan.


"Itu tadi aku kepeleset ka mohon maaf jadi piringnya pecah," balas Aisha dengan permohonan maaf sambil menundukan kepalanya.


"Iyaa ka kita juga di sini sekalian mau bantuin ngeberesinnya," sahut Rahayu yang kemudian langsung membantu membersihkannya.


"Kalau begitu yasudah, kalian bertiga lanjutkan bersih-bersihnya. kemudian, lanjutkan bersih-bersih halaman!" seru Hipjiah dengan tegas membuat mereka sedikit tertunduk setelah itu mereka pergi ke area halaman dengan membawa alat-alat kebersihan sambil menatap Aisha dan Zahra yang berdiri di depan kantor.


"heuh malah ada Si Hipjiah, awas aja nanti," tutur Hana dengan dengusan kesal.

__ADS_1


"Haha nanti aja kita kerjain lagi, ya nggak?" ucap Rahayu sambil tertawa kemudian di ikuti oleh Anggi dan Hana sambil menyebutkan rencana-rencana yang akan mereka buat untuk menjebak Aisha dan Zahra.


......................


"Aisha Zahra ayo kita pergi ke kiyai dulu," ajak Hipjiah setelah mereka membersihkan badan yang sudah lengket karena dari kemarin belum mandi, setelah itu Hipjiah memberikan pakaian gamis kepada mereka berdua dan juga dua buah kerudung.


Aisha dengan bola matanya yang indah membuat siapapun iri melihatnya, apalagi perilaku yang lembut dan halus seperti menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang melihatnya, dengan menggunakan gamis yang berwarna biru muda dan kerudung putih ia berjalan bersama Zahra dan Hipjiah untuk menemui kiyai pimpinan pondok.


......................


"Assalamu’alaikum Abi, ini ada dua orang anak baru." Sesampainya mereka di rumah kiyai yang bernama Abdul Aziz, umurnya sudah cukup sepuh dengan janggut yang sudah mulai memutih. Namun, tatapannya masih cukup awas dan wajah nya memancarkan aura yang sangat positif bagi siapapun yang menatap wajahnya.


Setelah Aisha dan Zahra memperkenalkan dirinya masing-masing kepada kiyai, mereka lalu menceritakan tujuan mereka datang ke kota dan kejadian yang menimpa mereka sehingga mereka harus berada di kota karena memang sudah tidak ada lagi uang yang mereka punya untuk membawa mereka pulang. Lalu, mereka menceritakan bahwa Dean lah yang membawa mereka hingga kemari.


"Yang dilihat cahaya tapi yang ada kegelapan," ucap Kiyai singkat. kemudian, terdiam, Aisha dan Zahra pun terdiam, begitu juga Hipjiah, setelah mendengar suara dari kiyai yang pelan namun terasa menusuk ke dalam sanubari.


"Sekarang tinggal dulu saja di pondok ini, lalu impianmu itu silahkan saja jika memang kamu menginginkannya dan mengharapkannya selama itu bukan hasrat hati memeluk gunung." Kiyai lalu pergi meninggalkan mereka setelah selesai berbicara. Lalu, pergi ke dalam ruangan yang lain, setelah itu mereka bertiga keluar dari rumah kiyai dengan berurutan.


"Aku juga nggak tau, ini baru pertama kalinya aku dengar dari Abi," jawab Hipjiah yang juga merasakan penasaran yang sama, Aisha hanya mengangguk-angguk pelan.


Ketika mereka duduk di taman pondok sambil mengobrol dari kejauhan Dean datang ke arah mereka bertiga.


"Assalamu’alaikum." Dean memberi salam kepada mereka. kemudian, mereka menjawabnya dengan bersamaan.


"Ada apa Dean?" ucap Hipjiah sambil bangkit dari duduknya.


"Aku mau ngajak mereka ke kantor pos buat kirim surat ke kampung halamannya," tutur Dean sambil menatap Aisha.


"Ohh yaudah, silahkan." Hipjiah mempersilahkan mereka ketika pamit kepadanya sambil tersenyum ramah.


"Jangan lama-lama yaaa nanti nasi buat makan siang nya bisa abis duluan loh," canda Hipjiah yang diikuti oleh tawa Aisha dan Zahra, kemudian mereka pergi meninggalkan Hipjiah yang masih berdiri di taman itu sambil terus menatap mereka pergi menjauh darinya.


......................

__ADS_1


"Emangnya jauh ya tempat kantor pos nya," tanya Zahra ketika di perjalanan.


"Nggak terlalu jauh ko," balas Dean.


"Hem coba aja kalo ada alat yang bisa ngehubungin kita dari jarak jauh," keluh Zahra sambil terus berjalan mengikuti Dean.


"Bisa aja ada Ra kan teknologi selalu maju," timpal Aisha.


"Kalian punya ibu?" potong Dean mengganti topik pembicara mereka.


"Iya punya, kenapa emangnya kak?" tanya Zahra penasaran karena tiba-tiba Dean menanyakan perihal ibu kepada mereka.


"Ohh, nggak apa-apa," jawab Dean singkat, mereka masih penasaran terhadap pertanyaan Dean perihal ibu.


......................


Debu-debu yang berterbangan di jalan membuat mata sedikit perih, sesekali knalpot kendaraan mengeluarkan asap yang hitam membuat udara di kota itu kurang sehat dan beberapa kali kendaraan angkot menyalakan klakson membuat gendang telinga sakit.


"Sha kalo ayahmu tau bagaimana ya," ucap Zahra khawatir.


"Aku juga nggak tau Ra, apalagi kita pergi ke kota nggak izin dahulu, belum lagi kita nggak ngajar di sekolah," tutur Aisha pelan.


"Emm maaf ya sha," ucap Zahra masih merasa bersalah.


"Itu di depan kantor pos nya," potong Dean lalu menunjukkan tangannya ke arah bangunan yang cukup besar di seberang jalan.


"Hati-hati lewat jalannya, banyak mobil besar," sambung Dean sambil berjalan menuju seberang jalan.


Mereka lalu berjalan perlahan memotong jalan raya itu, Aisha dan Zahra yang tidak terbiasa dengan keadaan kota yang banyak kendaraan sedikit kaku ketika melewati jalan raya.


Ketika mereka berada di tengah jalan raya sandal Zahra terlepas ketika ia berlari kecil mengikuti Dean, membuatnya terjatuh di atas aspal yang sangat berdebu, tapi yang membuat jantungnya terperanjat adalah tepat di depannya sebuah mobil berwarna kuning dengan membawa muatan barang melaju ke hadapannya dengan kecepatan yang tinggi membuat keringat dingin langsung bercucuran di dahinya, matanya menatap kosong ke depan karena panik.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2