
Malam hari semakin larut dan bulan terlihat ditutupi oleh awan-awan yang seolah berjalan beriringan membuat cahayanya terlihat redup, namun cahaya lampu di perkotaan mampu membuat jalanan menjadi terang benderang, beberapa kendaraan masih melaju di jalan raya tepat di depan masjid yang cukup megah.
"Ra kamu lapar nggk?" tanya Zahra di hadapan Aisha yang sedang membaca Al-Quran, setelah beberapa lama kemudian Aisha mengakhiri bacaannya dan meletakkan Al-Quran di rak dengan penuh hati-hati.
"Iyaa Ra," ujar Aisha sambil merapihkan kerudungnya.
"Emangnya kamu ada uang Ra," lanjut Aisha kemudian duduk di samping Zahra.
"Emm nggk ada Sha," gumam Zahra sambil menundukkan wajahnya, Aisha hanya terdiam di hadapannya tidak bisa berkata-kata.
"Maaf Sha ini semua salahku," sesal Zahra dengan perasaan yang penuh bersalah.
"Kalau saja aku nggk memaksa kamu buat ikut seleksi ke kota, ini semua pasti nggk bakal terjadi," rintih Zahra sambil memegang tangan Aisha, di wajahnya tercermin penyesalan yang amat mendalam, seolah-olah ia merasakan beban yang teramat berat di pundaknya.
"Ini semua bukan salah kamu Ra." Aisha berusaha menenangkan Zahra yang mulai meneteskan air mata.
"Dompet hilang juga itu karena keteledoran aku Sha, kalau aku nggk teledor kita masih bisa makan dan pulang Sha!" Air mata mulai berjatuhan dari bola mata Zahra yang kemudian terasa hangat di pipinya, terasa jelas penyesalan yang amat mendalam bagi Zahra.
"Udah udah nggk apa-apa Zahra..... itu semua bukan salah kamu ko, mungkin ini emang udah jalannya aja Ra, kita jalanin aja dulu yu... sebisa dan semampu kita oke... kamu masih ingat kan waktu pengajian itu kata pak ustadz...Allah nggak bakal memberi ujian kepada hambanya kecuali hambanya mampu untuk menjalaninya." Aisha lalu menggenggam dengan erat tangan Zahra dan mencoba untuk menenangkannya, setelah beberapa saat, Zahra lalu mulai mengusap air mata yang berada di pipi dan wajahnya dengan tangannya dan mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Maaf Sha," ucap Zahra dengan suara penyesalan.
"Iyaa nggk apa-apa Ra." Aisha merangkul bahu sahabatnya dan menguatkannya.
"Kita jalanin sama-sama yaa," ucap Aisha lembut kepada sahabatnya, tiba-tiba Zahra bangkit dan memeluk Aisha dengan sangat erat seolah tak ingin mereka berpisah di hiruk pikuk kota ini yang penuh dengan orang-orang yang hanya mementingkan diri mereka sendiri.
__ADS_1
Pelukan mereka adalah perlindungan terhadap dunia yang tak berperasaan, tempat mereka bisa saling berbagi beban pahit yang tak terungkapkan. Dalam eratnya pelukan itu, mereka merasakan ketenangan yang tak tergantikan, menemukan kekuatan di dalam kelemahan mereka.
Kedua sahabat itu berharap bahwa pelukan mereka bisa menjadi penyembuh bagi luka-luka yang tergores dalam perjalanan hidup mereka. Mereka ingin menyatukan hati mereka, membaurkan kesedihan dan kegembiraan yang mereka alami.
Dalam kehangatan yang memenuhi tubuh mereka, waktu berhenti sejenak. Mereka menginginkan saat itu abadi, membiarkan cahaya yang menerangi pelukan mereka menembus kegelapan dan menerangi jalan di depan.
Pelukan itu adalah tanda persahabatan yang tak tergoyahkan, janji setia yang takkan pernah luntur. Dalam ketukan yang rapat dari jantung mereka, terdapat kepercayaan, pengertian, dan cinta yang tak tergoyahkan.
Pelukan sahabat itu menjadi simbol kehidupan yang tak terpisahkan, meskipun pahit dan manisnya perjalanan yang dihadapi. Dalam keabadian mereka, mereka bersumpah untuk terus saling mendukung, mengangkat satu sama lain dalam kesedihan dan kegembiraan.
................
"Sha sini sha!!" Zahra berlari menghampiri Aisha yang sedang merapihkan bawaan mereka di teras masjid, Zahra berlari dengan wajah yang ceria dan di kedua tangannya ia membawa sebuah plastik yang berwarna merah.
"Coba tebak aku bawa apa!?" Seru Zahra dengan suara yang semangat. Aisha memperhatikan plastik merah itu dengan seksama, hidungnya kemudian mencium aroma khas yang keluar dari bungkusan itu.
"Gorengannn!!" seru Aisha tak kalah semangat dengan Zahra.
"Betul!! selamat anda mendapatkan sepuluh miliar poin," kelakar Zahra. kemudian,mereka membuka isi bungkusan itu yang langsung di sambut oleh Aisha, mereka lalu memakannya dengan lahap sehingga tidak butuh waktu lama gorengan itu lenyap, Zahra mencoba untuk mengumpulkan remah-remah gorengan yang ada plastik dan langsung melahapnya tak bersisa.
Meskipun gorengan itu mengeluarkan bau yang kurang sedap mereka tetap memakannya karena perut mereka yang sudah merasakan lapar yang amat sangat, tekstur gorengan itu sudah sangat lembek yang bahkan sudah sedikit berlendir namun dengan adanya sebuah cabai yang sudah agak kecoklatan mereka tetap memakannya dengan lahap karena lidah mereka sudah terasa oleh rasa pedas.
................
"Haus?" tanya Aisha memperhatikan Zahra yang kepedasan setelah memakan cabai. Zahra hanya mengangguk sambil membereskan sampah dari bekas makanan mereka.
__ADS_1
Aisha lalu pergi ke halaman masjid dan mencari botol bekas, setelah lama mencari ia lalu mendapatkannya di sudut masjid. lalu, ia pergi ke sebuah keran yang berada di tempat wudhu dan mengisi botol itu dengan air keran tanpa sedikit pun curiga bahwa ada seseorang yang memperhatikan gerak geriknya dari luar pagar masjid.
"Minum air ini Ra." Aisha menyodorkan botol air minum itu kepada Zahra setibanya ia dari tempat wudhu.
"Air keran?" tanya Zahra sambil menerima botol air, Aisha hanya mengangguk pelan.
"Gorengan tadi dari mana Ra?" tanya Aisha.
" Dari depan gerbang masjid Sha kayaknya udah lama deh, tapi tetep aja abis hehe," canda Zahra sambil mengusap mulutnya membersihkan sisa air yang menempel di bibirnya.
"kamu yakin itu bukan punya siapa-siapa?" lanjut Aisha memastikan bahwa Zahra tidak mengambil hak orang lain meskipun ia tahu bahwa tidak mungkin orang lain yang mempunyai gorengan itu yang menurutnya sudah tidak layak.
"Beneran Sha! aku nggak ngambil dari orang lain ko, lagian juga aku ngambilnya dari bawah bukan di atas meja atau di atas sesuatu!" Zahra meyakinkan bahwa gorengan yang ia dapatkan memang bukan punya siapa-siapa, alias sudah di buang pemiliknya.
"Em begitu, soalnya ketika aku kembali dari tempat wudhu kaya ada orang yang sedang memperhatikan kita," ungkap Aisha kepada Zahra bahwa ia merasa ada orang yang menatapnya ketika ia hendak pergi dari tempat wudhu.
"Aku nggk tau Sha"
"Masuk ke dalam yuk," ajak Aisha seraya menggapai tangan Zahra dan langsung membawanya masuk ke masjid.
Aisha dan Zahra merasa memang ada orang yang berada di depan pagar masjid itu. Mereka lalu bersembunyi tepat di belakang pintu takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, di luar terdengar suara langkah kaki berat yang berjalan mendekat ke arah mereka berada, seketika jantung mereka berdua berdetak dengan hebat karena panik dan takut terjadi apa-apa terhadap mereka.
semakin lama semakin terdengar langkah kaki yang kian mendekat, orang itu membuka sandalnya dan berjalan menuju pintu yang dibaliknya mereka bersembunyi. Lalu tiba-tiba.
...****************...
__ADS_1