
Suara anak-anak terdengar riuh, beberapa dari mereka ada yang sedang bermain bola dan ada pula yang sedang bermain kucing kucingan, beberapa siswi sedang melompati karet setinggi hampir dua meter dengan lihai nya.
“ Jadi kan Sha?“ tanya Zahra ketika sedang istirahat di kantin sekolah Setelah memesan beberapa makanan.
“ Emmm insya allah Ra, abis zuhur ya nanti aku tunggu di kantor,” pinta Aisha sambil memakan gorengan yang ada di depannya.
“ Okee siap Aisha, kamu udah izin kan ke orang tuamu?“ tanya Zahra penasaran.
“ Alhamdulillah sudah, izin ke ibu tadi pagi tetapi aku izinnya setelah mengajar aku langsung ke rumah kamu nginap untuk ngerjain rapor anak-anak,” ujar Aisha dengan mata sayu.
Zahra menatap sahabatnya itu dengan tatapan iba, ia lalu meyakinkan bahwa impiannya itu pasti akan tercapai walaupun mungkin di kemudian hari akan ada rintangan tapi itu merupakan hal yang lumrah untuk menggapai sebuah impian.
“ Aku pasti bakal terus ngedukung kamu Sha, kalau ada apa-apa langsung aja cerita ke aku ya, insya allah aku pasti akan ada untukmu kita kan the best friend,” tutur Zahra sambil tersenyum kepadanya yang kemudian di balas oleh senyuman manis Aisha yang membuatnya lebih bersemangat.
Lonceng berbunyi memecah hiruk pikuk anak-anak yang sedang bercanda dan bermain. seketika, anak-anak itu langsung masuk ke dalam kelasnya masing-masing dengan berurutan. Zahra dan Aisha lalu membayar makanan yang sudah di pesannya kemudian pergi meninggalkan kantin.
......................
Setelah selesai mendirikan sholat Zuhur Aisha dan Zahra berkemas untuk pergi ke kota dengan membawa beberapa uang dan berkas-berkas yang di perlukan mereka langsung bergegas pergi menuju halte bus yang jaraknya cukup jauh.
"Kamu tau kan tempatnya Ra?" tanya Aisha khawatir mereka akan tersesat.
"Tau ko Sha aku sudah pernah ke sana," jawab Zahra sambil mengecek kembali berkas-berkas yang Aisha bawa.
"Kamu udah pernah ke sana?" Aisha penasaran tapi Zahra hanya menganggukan kepalanya.
" Ngapain kamu ke sana?" Tambah Aisha rasa penasaran masih bertanya-tanya di dalam kepalanya.
__ADS_1
"Waktu itu aku dan orang tuaku pergi karena ada urusan, udah agak lama sih tapi aku masih hafal ko tempatnya," tutur Zahra meyakinkan Aisha.
Sesampainya di halte bus mereka menunggu cukup lama, beberapa orang sedang duduk bersama mereka untuk menunggu bus datang, seorang ibu yang sedang menyusui anaknya tepat duduk di samping Aisha. beberapa orang sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Dari kejauhan datang sebuah mobil bus yang ukurannya cukup besar membuat orang-orang yang berada di halte bus menyiapkan bawaan mereka, Aisha tertegun kagum melihat mobil bus itu karena ini adalah kali pertama melihatnya.
Mereka lalu mulai masuk ke dalam dengan hati-hati beberapa orang juga keluar dari bus itu, pertama kali Aisha memasukinya terasa penciumannya merasakan bau yang membuatnya merasa mual, namun hal itu tidak berlangsung lama setelah bus itu berjalan menuju kota.
"Ra," ucap Aisha setelah mobil melaju cukup cepat.
"Kenapa Sha?" jawab Zahra Sambil merapihkan tempat duduknya.
"Masih jauh ya?" tanya Aisha.
"baru juga jalan Aisha," tutur Zahra sambil tertawa, Aisha hanya terdiam dengan wajah cemberut.
"Kamu udah siap kan Sha?" tanya Zahra memastikan sahabatnya siap untuk penyeleksian vokal sholawat.
"Insya allah Ra aku siap, semalam aku latihan sambil baca Quran," jawab Aisha menjelaskan sambil tersenyum.
"Okee deh... Aisha siap mengguncang hati kalian!!" canda Zahra sambil mengepalkan tangannya dan mengacungkannya, Aisha tertawa sambil menaruh tangan di mulutnya.
Hampir dua jam perjalanan terlihat pemandangan di luar berubah menjadi gedung-gedung yang berjejer di tepi jalan, banyak pula lalu lalang sepeda motor beberapa becak juga terlihat sedang mangkal di pertigaan jalan.
Mata Aisha terkagum melihat beberapa ruko yang berderet rapih dan juga beberapa kendaraan yang berlalu-lalang di balik jendela bus, ia melihat Zahra tertidur di sampingnya dengan wajah yang terlihat lelah.
Setelah beberapa lama Aisha menikmati pemandangan di kota, bus kemudian berhenti di halte setelah itu beberapa penumpang keluar dari dalam bus, Aisha membangunkan sahabatnya dan memberi tahukannya bahwa bus sudah berhenti. Zahra bangun lalu mulai merapihkan pakaiannya dan membawa barang bawaannya terlihat jelas wajahnya yang baru bangun dari tidur.
__ADS_1
"Kita ke mana Ra?" tanya Aisha setelah turun dari bus.
"Kita cari makan dulu yu," ajak Zahra sambil mengusap kedua matanya dengan tangan untuk menyingkirkan rasa kantuk, Aisha kemudian setuju karena memang dirinya pun merasa lapar. lalu, keduanya mencari rumah makan terdekat.
"Masakan padang?" cetus Aisha dengan rasa penasaran setelah Zahra mengajaknya untuk makan di rumah makan masakan padang.
"Iyaa Aisha masakan padang, waktu itu aku sama orang tuaku juga makan di rumah makan padang karena kata orang tuaku sih harganya murah," tutur Zahra menjelaskan kepadanya.
Setelah memasuki rumah makan itu terdapat sebuah kipas angin yang cukup tua dengan suara khas mesin yang sudah lama di pakai, terdapat juga beberapa meja dan bangku untuk pelanggan. Di depannya terlihat beberapa lauk pauk yang sudah di susun dengan rapih membuat mereka semakin lapar ketika melihatnya.
"Assalamu’alaikum bu, mesan dua bungkus yaa lauknya ikan sama minumnya teh anget aja," pesan Zahra kepada ibu paruh baya yang menjaga rumah makan itu. kemudian mereka duduk di tempat yang sudah disediakan.
"Bentar lagi ashar kita mau sholat di mana Ra?" tanya Aisha setelah melihat jam yang tergantung di dinding rumah makan itu.
"Nanti kita sholat di masjid aja," jawab Zahra kemudian memberitahukannya letak masjid terdekat dari rumah makan itu Aisha kemudian mengangguk pelan.
Dua piring dengan lauk ikan datang ke meja mereka, mereka lalu memakannya dengan lahap menikmati setiap irisan daging yang ada di ikan itu setelah selesai makan mereka lalu meneguk teh hangat membuat stamina mereka pulih kembali setelah lelah dari perjalanan menuju kota.
"Semuanya jadi berapa ya bu?" tanya Zahra setelah menikmati makanannya dan hendak melanjutkan perjalanan.
"Semuanya jadi dua puluh ribu neng," ucap ibu itu sambil tersenyum ramah.
Zahra kemudian mengambil dompet yang ada di tasnya. Deg!! dompet yang ia cari tidak di temukan, setelah mencarinya berulang-ulang namun hasilnya tetap saja nihil, dompet nya tidak ada sama sekali. seketika wajahnya bercucuran keringat dingin wajahnya menjadi pucat. dompet yang terdapat uangnya dan uang Aisha tidak di temukan.
Aisha yang menunggu di luar kembali masuk dan menanyakan apa yang terjadi kepada sahabatnya, Zahra tertunduk lesu kakinya terasa lemas jantungnya berdetak kencang. Di kota yang serba mahal ini ia kehilangan uang yang merupakan segalanya di sini, pikirannya membayangkan bagaimana caranya nanti kembali pulang dan apa yang harus ia katakan kepada sahabatnya.
...****************...
__ADS_1