Cinta Bukan Cinta

Cinta Bukan Cinta
Cinta Kiara Leksmana


__ADS_3

Suatu pagi disebuah rumah besar dan mewah yang terletak di kawasan elit sekitar pusat kota. Beberapa wanita berseragam hitam putih sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang memasak, menyapu, membersihkan debu, ada juga yang menyiapkan pakaian.


"Cepat selesaikan. Sebentar lagi nona akan bangun dan bersiap pergi ke sekolah" ujar salah satu pelayan senior kepada pelayan yang menyiapkan sarapan dan juga pakaian. Dia adalah pengasuh yang telah bekerja dirumah itu lebih dari 15 tahun. Namanya Bi Susi.


"Baik, Bi". Mereka pun kembali fokus pada pekerjaan mereka masing-masing.


"Bawa kemari pakaian nona. Aku akan pergi membangunkannya" ujar Bi Susi lagi sambil mengulurkan sebelah tangan meminta pakaian nonanya.


"Ini bi. Kami akan menyiapkan sarapan nona sekarang"


"Ya, pastikan juga mobil yang akan dipakai nona sudah dipanaskan" ujarnya lagi sebelum beranjak pergi ke kamar majikannya.


"Baik. Saya akan minta supir menyiapkan mobilnya". Pelayan yang lebih muda itu beranjak ke depan agar mobil disiapkan. Sementara bi Susi naik ke lantai atas untuk membangunkan nonanya.



Rumah itu terdiri dari 2 lantai. Ada 2 kamar utama dan 5 kamar tamu yang disertai kamar mandi masing-masing. Terdapat juga area fitnes, teater mini dan ruang keluarga didalamnya. Kamar pembantu dan penjaga terdapat digedung bagian belakang rumah utama. Rumah itu terlihat megah bak sebuah istana dalam dongeng.


Tok tok tok


"Nona, apa anda sudah bangun? Saya akan masuk" teriak bi Susi didepan sebuah kamar sambil mengetuk pintu majikannya berkali-kali.


Ceklek


Krieet


Bi Susi masuk kekamar majikannya dengan hati-hati. Dia memperhatikan sekeliling kamar terlebih dahulu. Pandangannya terkunci pada tempat tidur, dimana seorang gadis masih terlihat berbaring dengan selimut disana. Pelayan itu tersenyum lalu berjalan ke ruang wardrobe yang berada disamping kamar mandi untuk meletakkan seragam sekolah milik gadis itu.


"Nona, apa anda tidak mau bangun? Ini sudah siang dan anda harus pergi ke sekolah" ujar bi Susi sambil membuka gorden kamar.


Sreeeek!!.


Cahaya dari jendela kamar itu membuat sigadis yang masih terbaring seketika langsung bangun. Dia menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya yang terkena sinar matahari.


"Aku masih mengantuk, Bi!" ujarnya yang berada dibawah selimut.


"Nona, bukankah hari ini anda harus pergi lebih awal? Anda harus memeriksa kue dan semua persiapan lainnya untuk pesta ulang tahun anda" ujar pelayan itu dengan lembut disertai senyum manis dibibirnya.


"Ah, Bibi benar. Besok adalah ulang tahunku. Dan untuk acara ulang tahunku tidak boleh ada kesalahan sedikitpun!"

__ADS_1


Gadis itu langsung keluar dari selimutnya dan bicara dengan nada ceria lalu melompat dari tempat tidurnya dan bergegas pergi ke kamar mandi. Dia bernama Cinta Kiara Leksmana, putri satu-satunya dari keluarga Leksmana yang merupakan keluarga terkaya dengan banyak bisnis yang dikelola. Mulai dari tambang emas, perhotelan, pakaian dan lainnya.


Bi Susi yang melihat kelakuan Cinta hanya tersenyum melihat kelakuan nonanya yang telah menginjak kelas 3 SMA tapi masih seperti anak kecil.


"Nona... Nona..."


Tak berselang lama Cinta keluar dari kamar mandi. Dengan masih mengenakan jubah mandi, dia berjalan keruang wardrobe untuk bersiap.


Cukup lama Cinta bersiap. Dia sangat memperhatikan penampilannya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, semua harus cocok dan sesuai.


Setelah beberapa lama akhirnya dia keluar dengan mengenakan seragam sekolah, rambut panjangnya yang lurus dibuat sedikit curly dibagian ujungnya, diapun menggunakan sebuah jepit rambut mahal disebelah bagian rambutnya. Dengan sedikit riasan tipis diwajahnya, dia terlihat sangat sempurna.


"Bagaimana penampilanku Bi?" tanya Cinta pada pengasuhnya yang telah mengurusnya sejak dia masih bayi. Bi Susi sangat mencintai Cinta seperti anaknya sendiri.


"Nona sangat sempurna" jawab bi Susi sambil mengacungkan sebelah tangan membentuk 'Ok'


"Tentu saja" sahut Cinta penuh percaya diri.


"Ya sudah. Ayo kita turun dan sarapan, Non"


Cinta mengangguk dan berjalan keluar untuk sarapan diikuti pelayannya yang membawakan tas miliknya.


"Pagi. Apa ada pesan untukku? Dimana papa dan mama? Apa mereka sudah berangkat ke kantor?" tanya Cinta yang mulai duduk dan menikmati sarapan miliknya.


Bi Susi dan pelayan pria itu saling menatap satu sama lain. Mereka terlihat ragu menjawab pertanyaan nona muda mereka.


"Kenapa kalian diam saja? Dimana papa dan mama?" tanya Cinta lagi yang terlihat mulai kesal. Raut wajahnya yang tadi ceria kini terlihat murung dan dingin.


"Anu … itu …" ujar pelayan pria yang tidak berani bicara. Dia adalah Pak Juan, kepala pelayan dirumah ini. Dia adalah orang kepercayaan yang mengurus semua keperluan rumah dan melaporkannya pada ayah Cinta.


Brak!!!


"Apa kalian tidak ada yang punya mulut?!". Cinta mulai kesal sampai dia memukul meja makan dan membuat semua orang tersentak karena terkejut. Dia tahu betul saat ini orang tuanya pasti pergi ketempat jauh.


"Tuan dan nyonya harus berangkat keluar negeri karena ada masalah dengan perusahaan disana. Beliau bilang kalau mereka akan tiba sebelum pesta nona dimulai" jawab Pak Juan menjelaskan dengan ragu-ragu.


Cinta terlihat semakin kesal. Selera makannya langsung hilang seketika. Diapun langsung beranjak pergi dengan penuh emosi tanpa mengatakan apapun lagi.


"Berikan kunci mobilnya!" pinta Cinta pada sopir yang biasa mengantarnya.

__ADS_1


"Nona, biar saya saja yang mengantarkan anda". Supir itu tidak memberikan kunci mobilnya dan tetap ingin mengantar sang majikan.


"Berikan kuncinya atau kamu aku pecat!". Cinta bicara dengan sikap dingin dan sorot mata yang tajam penuh emosi.


Si supir menoleh pada pak Juan, dan pak Juan pun menganggukkan kepala perlahan mengizinkan. Akhirnya supir itu memberikan kunci mobilnya pada majikannya. Cinta dengan cepat meraih kunci mobil dan beranjak keluar dengan langkah kaki yang cepat.


"Kurang ajar! Pagi-pagi sudah membuatku emosi! Apa kalian tidak bisa pergi setelah berpamitan padaku langsung?! Bisa-bisanya kalian selalu meninggalkanku dengan para pelayan ini!". Cinta terus menggerutu kesal dalam perjalanan menuju mobil.


"Kasihan nona. Dia pasti sangat sedih karena tuan dan nyonya tidak punya waktu untuknya" ujar bi Susi yang terus menatap punggung Cinta yang berjalan keluar rumah.


"Kamu benar. Meskipun nona sepertinya kuat, tapi aku yakin kalau dalam hatinya … dia adalah gadis remaja yang rapuh. Dia hanya butuh kasih sayang dari orang tuanya". Juan ikut menimpali sambil menatap punggung nona mudanya.


Cinta berkendara dengan kecepatan penuh. Dia sangat pandai mengendalikan laju mobilnya melintasi jalanan ibu kota yang mulai ramai dengan lalu lalang mobil lainnya.


Tak butuh waktu lama, Cinta tiba disekolahnya. Dia turun dari mobil dengan anggun dan berjalan menuju ruang kelas. Permen lolipop atau coklat selalu dia makan saat sedang kesal.


"Hei, anak baru! Kami kan hanya memintamu untuk membeli sarapan, bisa-bisanya kamu menumpahkannya ke lantai. Kamu bosan sekolah disini, hah?!".


"Maaf, tapi saya tidak sengaja".


Cinta yang hendak melewati satu lorong menuju kelasnya tiba-tiba berhenti setelah mendengar keributan dibawah tangga. Dia yang sedang memegang lolipop dimulutnya langsung berbelok dan mendekati beberapa pemuda itu.


"Apa yang kalian lakukan dibawah tangga? Sedang mencari tikus atau sedang cosplay jadi tikus?" ujar Cinta dengan sikap yang dingin.


4 orang siswa itupun menoleh mendengar suara Cinta. 3 laki-laki dan 1 anak perempuan yang berlutut.


"Jangan ikut campur! Kami juga tidak pernah ikut campur dengan urusanmu" ujar salah satu siswa menanggapi Cinta.


"Kenapa kalian tidak ikut campur? Aku tidak pernah melarang siapapun yang ingin ikut campur dengan urusanku". Cinta menanggapi dengan sikap acuh tak acuh.


"Kami tidak ingin bercanda. Sebaiknya kamu pergi ke kelasmu. Tidak baik jika wanita cantik ikut campur dalam masalah kecil seperti ini. Tapi jika kamu memang ingin berada disini dan menjadi pacarku …tidak masalah. Aku tidak akan menolak". Siswa itu tersenyum dengan bangga ketika meminta Cinta jadi pacarnya.


"Ya, kamu sama sekali tidak masalah, tapi aku yang terkena masalah karena punya pacar jelek seperti kamu. Jadi, jangan bermimpi!". Cinta menunjukkan seringai tipis lalu bicara dengan nada mencibir.


"Dasar gadis kurang ajar! Kamu tidak tahu siapa aku?!" ujar pemuda itu kesal.


"Aku tidak peduli siapa kamu. Tapi aku tidak suka jika ada orang yang ribut pagi-pagi begini. Mengganggu telingaku saja. Apalagi yang kalian ganggu adalah seorang anak perempuan. Memangnya kalian ini seorang pengecut?"


"Apa katamu?!"

__ADS_1


__ADS_2