Cinta Bukan Cinta

Cinta Bukan Cinta
Hari Pertama Cinta Sebagai Rania


__ADS_3

Cinta telah selesai mandi dan hendak bersiap untuk pergi ke sekolahnya Rania.


"Seragam apa ini? Apa ini pantas disebut seragam? Kenapa sangat lusuh sekali? Bagaimana gadis ini bisa memakainya? Bukannya selama ini dia kerja paruh waktu? Lalu uangnya dia kemanakan?". Cinta masih terheran-heran dan tak habis pikir dengan semua barang-barang yang Rania miliki.


Brak!


Cinta sangat terkejut hingga dia berjingkut karena Aurel tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Sejenak dia menoleh ke arah pintu, lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada seragam yang sedang dia kenakan.


"Ran, kenapa kamu masih belum siap juga sih? Kakak bisa terlambat kalau harus mengantar kamu pergi ke sekolah!". Aurel langsung masuk ke kamar Rania karena sang adik masih belum turun untuk sarapan.


"Sebentar lagi siap". Cinta menanggapi dengan sikap dingin dan acuh tak acuh.


"Aku tidak mau menunggumu lagi! Kamu pergi sendiri saja!", ujar Aurel yang langsung berbalik dan pergi meninggalkan kamar Cinta karena kesal.


"Eh, jika dia pergi begitu saja... bagaimana denganku? Aku kan tidak tahu dimana pemilik tubuh ini sekolah". pikir Cinta ketika melihat Aurel pergi.


"Tunggu aku! Kamu tidak bisa membiarkanku pergi sendiri ke sekolah!". Cinta bergegas mengejar Aurel yang berjalan cepat keluar dari kamarnya.


"Apa?! Kamu?...". Aurel menghentikan langkahnya dan berbalik setelah mendengar ucapan Cinta.


"Sejak kapan kamu berani memanggilku dengan kata 'kamu'? Sekarang kamu sudah berani menentangku ya?". Aurel bicara dengan nada yang sinis dan sikap yang sombong.


"Gawat. Aku tidak tahu tubuh ini biasa memanggilnya apa. Aku sama sekali tidak tahu orang seperti apa pemilik tubuh ini". Batin Cinta kembali bergelut dengan pikirannya sendiri karena tidak tahu sama sekali bagaimana sikap Riana sebenarnya.


"Bukannya aku memang biasa memanggilmu seperti itu?". Cinta bicara dengan sikap tenang seakan dia tidak tahu apa-apa.


"Biasa darimana?! Kamu gila ya?! Harusnya kamu memanggilku kakak! Itu baru benar! Dasar gadis bodoh!". Aurel terus berteriak pada Cinta karena dia kesal.


"Baiklah, Kakak". Cinta hanya menanggapinya dengan acuh tak acuh.


"Aurel, sayang... kamu belum berangkat? Ini sudah siang, kamu bisa terlambat ke kampus!". Ibu Rania menegur Aurel dengan dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


"Ini semua karena Rania, Bu! Dia ingin diantar ke sekolah, tapi si culun ini sangat lambat!". Aurel mengeluh pada sang ibu tentang Rania.


"Ran, ibu kan sudah sering bilang, jika kamu ingin diantar pergi maka bersiaplah lebuh awal!". Sang ibu menegur Rania dengan cara yang berbeda. Dia terlihat kesal dengan kedua tangan dipinggang dan melihat Rania dengan mata yang hampir keluar.


Cinta yang berada ditubuh Rania hanya berjalan kedepan dengan sikap acuh tak acuh.

__ADS_1


"Ya, baiklah. Lain kali aku akan mengingatnya".


Aurel dan sang ibu hanya bisa menatap heran satu sama lain dengan sikap aneh yang ditunjukan Rania sejak kemarin malam.


"O iya, Rania hari ini kamu akan menerima gaji dari cafe kan? Jangan mampir kemana pun dan langsung pulang kerumah. Ini sudah waktunya ibu membayar sewa rumah ini". Sang ibu kembali bicara dengan sikap tenang meskipun tak terdengar lembut sama sekali.


"Gajian dari cafe? Membayar rumah ini? Kenapa harus gadis bodoh ini yang bayar?". Cinta terheran- heran karena dia yang harus membayar uang sewa rumah. Bukan sang ibu apalagi kakaknya, lalu kemana ayahnya pergi?.


"Kamu dengar apa yang ibu katakan tidak? Kakak juga harus membeli perlengkapan make up kakak yang habis, jadi jangan sampai pulang terlambat oke? Kamu bisa ambil cuti dulu untuk tidak pergi ke minimarket?". Aurel bicara sambil tersenyum manis dan menepuk-nepuk pipi Rania.


"Kenapa harus aku yang bayar? Dan untuk apa pergi ke minimarket?", tanya Cinta dengan sikap yang dingin.


"Apanya kenapa? Karena memang harus kamu yang bayar! Dasar gadis bodoh! Kamu bahkan masih bertanya untuk apa ke minimarket, tentu saja untuk bekerja! Hahaha". Aurel terbahak lalu meninggalkan sang adik menuju mobilnya.


"Ayo cepat naik! Dasar gadis bodoh!"


Cinta pun bergegas mengikuti Aurel meskipun dengan wajah yang masih tak percaya.


"Apa mereka selalu bersikap seperti ini pada Rania? Bagaimana bisa ibu dan kakaknya bersikap seperti itu?"


...****************...


"Cepat turun! Ingat, jangan sampai ada yang tahu kalau aku ini kakakmu! Aku tidak sudi punya adik buruk rupa sepertimu". Aurel memperingatkan sang adik dengan sikap yang sinis.


"Hmn …". Cinta bergegas turun dari mobil Aurel meskipun dia masih bingung.


"Dimana kelasnya Rania ya? Bagaimana caraku mengetahuinya? Dimana teman-temannya ya?". Cinta terus melangkahkan kaki sambil celingak celinguk karena bingung dengan sekolah Rania.


"Rania! Tunggu aku Ran!".


Cinta terus saja berjalan meskipun seseorang memanggilnya sejak tadi.


"Hei, apa kamu tidak mendengarku? Aku sudah berteriak memanggilmu sejak tadi, hah hah hah".


Cinta baru menghentikan langkahnya setelah seseorang menepuk pundaknya dan bicara dengan terengah-engah. Dia menatap gadis dihadapannya dengan tatapan heran.


"Ran, kenapa kamu diam aja? Kamu tidak mendengar aku memanggilmu?". Lina kembali bertanya pada Rania karena dia tidak mendapatkan jawaban sebelumnya.

__ADS_1


"Oh, aku tidak mendengarmu. Maaf". Cinta menanggapi dengan senyum tipis dibibirnya.


"Sudahlah. Sebaiknya kita segera peegi ke kelas", ujar Lina sambil menggandeng tangan Cinta.


"Eh culun!".


Belum jauh Cinta dan Lina berjalan, mereka dihadang oleh 3 gadis cantik.


"Gawat Ran, apa lagi yang mereka inginkan? Mereka pasti ingin mengerjai kita lagi". Lina berbisik pada Cinta dengan raut wajah khawatir sambil memegangi tangan Cinta. Cinta hanya diam dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Culun, pergi ke kantin dulu gih. Belikan aku sarapan!", ujar Helen dengan sikap sombong.


"Kenapa harus aku?", tanya Cinta dengan sikap dingin.


"Karena kamu adalah kacung pribadiku! Sejak kapan kamu berani banyak tanya?! Cepat belikan!". Helen meninggikan suara dengan sikap yang sangat angkuh.


"Tidak mau. Ayo pergi!".


Cinta mengabaikan Helen dan berjalan melewatinya.


"Ran, tunggu aku!" Lina kembali mengejar Cinta yang sedikit menjauh


Helen dan kedua temannya menatap Cinta dengan tatapan tak percaya.


"Len, dia sudah berani menentangmu!", ujar salah satu teman Helen.


"Benar, si culun itu telah berani mengabaikanmu", timpa satu lagi teman Helen yang berada disebelahnya.


"Kalian tenang saja. Kita akan kasih dia pelajaran agar tidak berani macam-macam denganku dan kembali jadi budak yang penurut dan bodoh!". Helen menyeringai sinis menatap punggung Cinta yang semakin menjauh.


"Ran, kenapa kamu bersikap seperti itu? Helen pasti marah besar. Dia tidak akan melepaskanmu dan pasti akan membuat masalah denganmu lagi nanti". Lina bertanya dengan raut wajah khawatir.


"Apa yang salah dengan sikapku? Kurasa aku sudah bersikap biasa". Cinta menanggapi dengan acuh tak acuh.


"Apanya yang biasa? Kamu tahu sendiri apa yang akan dilakukan Helen padamu kalau kamu melawan. Kamu bisa dikurung dikamar mandi lagi atau lebih parahnya Helen bisa melampiaskan amarahnya padamu".


"Dia? Melampiaskan amarahnya padaku? Huh, silahkan saja kalau dia berani". Cinta menanggapi ucapan Lina dengan seringai tipis yang membuat Lina menatapnya dengan heran.

__ADS_1


"Apa yang terjadi pada Rania? Kenapa sikapnya jadi aneh begitu? Apa karena dia dimarahi lagi oleh ibu dan kakaknya?"


"Ah sudahlah. Ayo kita masuk ke kelas!"


__ADS_2