
Cinta duduk bersama Lina disalah satu sudut kelas. Dia menatap keluar jendela dengan sebelah tangan menyangga dagunya sambil memikirkan apa yang terjadi padanya.
"Kenapa hidupku begini ya? Bagaimana mungkin aku bisa masuk ke dalam tubuh orang lain? Bukankah cerita seperti itu hanya ada dalam dongeng dan sinetron saja? Ini seperti mimpi. Mana ada orang yang akan percaya jika aku ceritakan yang sebenarnya. Bisa-bisa aku langsung digelandang kerumah sakit jiwa".
Brak!
Cinta terperanjat karena terkejut dan seketika tersadar dari lamunannya ketika Helen tiba-tiba datang dan langsung memukul mejanya.
"Ada apa lagi? Kamu sangat ingin membuat masalah denganku ya?". Cinta menanggapi Helen dengan sikap acuh tak acuh.
"Kamu sudah berani ya? Bahkan sekarang kamu sudah tidak gemetar lagi saat bicara denganku". Helen bicara dengan nada mencibir.
Dia bahkan melipat kedua tangannya didada saat bicara hingga dia terkesan angkuh.
"Memang apa yang harus aku takutkan darimu? Haah... Bisakah kamu pergi saja dan tidak menggangguku? Moodku sedang tidak bagus, jadi sebaiknya kamu berhenti membuat masalah dan biarkan aku sendiri". Cinta tetap pada sikapnya yang biasa dingin dan acuh tak acuh. Namun hal itu menjadi tidak biasa untuk orang lain yang melihatnya.
"Hei cupu, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi sepertinya sekarang kamu lebih berani ya!". Helen bicara dengan nada mencibir sambil memegang dagu Cinta dengan keras.
"Kalau iya, kenapa?". Cinta menepis tangan Helen dan berdiri menantangnya.
"Dasar kurang ajar!"
Plak!
"Kamu!"
"Apa? Masih kurang? Plak!"
"Helen!"
Awalnya Helen hendak menampar wajah Cinta, namun dengan cepat Cinta memegang tangannya dan menampar wajahnya. Tidak hanya sekali, bahkan Cinta menampar Helen sebanyak 2 kali. Semua orang sangat terkejut melihatnya. Karena selama ini tidak pernah ada yang berani melawan Helen, bahlan Rania juga selalu jadi bahan bully dan hiburan untuk Helen.
"Sudah kubilang kalau moodku sedang tidak bagus. Aku sudah memperingatkanmu dari tadi tapi kamu tidak peduli". Cinta kembali duduk dan bicara dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuh.
"Rania, kamu pikir kamu sudah menang? Lihat saja nanti! Ayo pergi!". Helen yang merasa malu terlihat sangat kesal. Dia mengancam Cinta terlebih dahulu lalu pergi sambil memegangi sebelah pipinya yang merah.
"Ran, apa yang kamu lakukan? Kamu tahu kan siapa itu Helen? Sekarang dia pasti akan melaporkan kejadian tadi pada ibunya dan kamu bisa dapat masalah karena ini". Lina mendekati dan bicara dengan panik.
"Aku tidak peduli. Dia sendiri yang lebih dulu membuat keributan". Cinta menanggapi dengan santai dan acuh tak acuh.
"Ran, kamu hebat. Kamu berani melawan Helen. Rasakan!"
"Benar. Ku kira kamu akan diam saja seperti biasanya".
__ADS_1
Dalam sekejap meja Cinta dikerubuni rekan sekelasnya karena dia telah berani melawan Helen. Mereka sangat antusias dan bahagia saat menceritakan reaksi Helen yang tadi ditampar Cinta.
Semua orang terlihat senang saat bercerita bersama, lain halnya dengan Cinta yang tidak suka keramaian. Emosinya langsung naik mendengar orang-orang saling bicara satu sama lain.
"Bisakah kalian kembali ke meja kalian masing-masing? Kepalaku rasanya mau pecahan mendengar ocehan kalian semua", ujar Cinta dengan sikap dingin.
"Haha baiklah-baiklah. Ayo ayo". Mereka yang terlalu senang dengan reaksi Helen tadi sama sekali tidak peduli dengan sikap Cinta yang dingin namun tetap menuruti keinginan Cinta dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
...****************...
Ditempat lain..
Helen keluar dari kelas Cinta dengan penuh emosi dan juga malu.
"Brengsek! Rania sialan! Bisa-bisanya dia menamparku didepan banyak orang bahkan sampai 2 kali! Mau ditaruh dimana mukaku ini?". Helen terus menggerutu dan mencaci Cinta karena dia kesal.
"Tenang Len. Kita pasti akan membalasnya nanti", ujar salah satu teman Helen menenangkan.
"Tapi ... bagaimana bisa sicupu itu berubah drastis hanya dalam waktu 1 hari? Bahkan kemarin dia masih diam saja saat aku memintanya membersihkan toilet". Sambung Helen yang bingung dengan perubahan Rania.
"Aku juga tidak mengerti"
"Apa mungkin dia kerasukan?"
"Tidak mungkin. Apa dia memiliki kepribadian ganda?"
Kedua teman Helen terus bicara dengan saling menimpali satu sama lain mengutarakan pendapat mereka mengenai perubahan Rania.
"Kepribadian ganda... Apa hal seperti itu memang ada?", tanya Helen pada kedua temannya.
Kedua temannya saling menatap satu sama lain dan mengangkat bahu mereka secara bersamaan.
"Entahlah. Mungkin. Kami juga tidak tahu".
"Kalau begitu kita harus mencari tahu sepulang sekolah. Apa dia memang memiliki kepribadian ganda atau hanya berlagak sok berani saja. Lagipula aku harus membalaskan rasa maluku dihadapan banyak orang. Aku tidak bisa diam saja untuk hal seperti ini". Helen bicara dengan seringai tipis dan nada yang sinis. Sedangkan kedua temannya hanya mengangguk setuju tanpa mengatakan apapun lagi.
...****************...
Cinta terus memandang keluar jendela selama jam pelajaran. Bahkan saat guru menerangkan mata pelajaran hari ini, dia masih terus memikirkan apa yang terjadi padanya
"Rania! Kenapa kamu terus mengabaikan pelajaran Ibu?! Kamu tidak mendengarkan apa yang sejak tadi Ibu katakan?!". Cinta pun ditegur oleh guru pelajarannya karena tidak memperhatikan.
"Saya mendengarkan apa yang ibu katakan",jawab Cinta dengan sikap acuh tak acuh.
__ADS_1
"Ooh, kalah begitu jelaskan pada Ibu mengenai ekonomi dan sumber daya negara kita!". Ibu guru pun meminta Cinta menjelaskan lagi apa yang dia terangkan dihadapan teman-temannya.
"Negara kita memiliki banyak sumber daya alam didalamnya, hanya saja kita masih belum bisa mengelolanya secara mandiri sehingga kita masih memerlukan sumber daya dari negara luar, karena itu kita belum bisa menstabilkan ekonomi rakyat secara menyeluruh. Jika kita bisa mengelola sendiri sumber daya alam kita, maka ekonomi kita akan stabil dan tidak akan ada lagi pengangguran dan tunawisma disini". Cinta menjelaskan dengan tenang dan percaya diri mengenai apa yang gurunya jelaskan sejak tadi.
"Hah, dia bisa menjelaskan apa yang aku minta dengan sangat jelas dan percaya diri? Biasanya kalau aku memintanya menjelaskan sesuatu, dia akan bicara dengan terbata-bata karena gugup. Sepertinya dia sudah bisa mengendalikan rasa percaya dirinya".
Sesaat guru Rania terkejut dengan perubahan sikap muridnya, namun tak lama kemudian dia tersenyum puas melihatnya.
"Bagus, Rania. Tapi ibu harap lain kali kamu memperhatikan pelajaran saat ada guru menerangkan sesuatu dan pertahankan sikapmu itu", ujar guru Rania dengan sikap tenang.
"Pertahankan sikapmu? Apa yang harus aku pertahankan? Memang aku seperti ini, tapi memangnya seperti apa sikap pemilik tubuh ini ya, hmn?"
"Baiklah, kita akhiri dulu pelajaran kita sampai disini. Besok kita akan ada kelas olahraga dengan kelas lain"
"Baik, Bu".
Guru Rania pun meninggalkan kelas dan semua bersiap untuk pulang.
"Ran, Hari ini kamu ada freelance di minimarket kan? Karena satu arah dengan rumahku, jadi kita pulang bersama ya?". Lina bertanya pada Rania dengan sikap yang ceria.
"Oh, iya. Baiklah"
"Kebetulan sekali karena aku tidak tahu si Rania ini bekerja dimana saja"
"Kalau begitu ayo pergi sekarang!". Lina langsung menggandeng Cinta tanpa membiarkannya menjawab ucapannya lagi.
Lina dan Cinta berjalan bersama meninggalkan sekolah. Belum juga terlalu jauh mereka dari sekolah, ada 3 orang gadis yang tiba-tiba menghadang mereka.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa menghadang kalan kami?". Lina bertanya dengan raut eajah khawatir.
"Kami tidak ada urusan denganmu. Lebih baik kamu pergi saja dari sini", ujar salah satu teman Helen.
"Kalian jangan macam-macam ya. Aku bisa saja melaporkan kalian pada kepala sekolah".
"Melaporkan kami? Hahaha... silahkan saja kalau berani"
"Lina, dengarkan aku baik-baik. Sebaiknya kamu pergi dari sini dan lakukan sesuatu untukku". Cinta berbisik pada Lina dan mendorongnya untuk pergi
"Tapi, Ran"
"Tidak papa. Pergi saja. Mereka bertiga bukan apa-apa bagiku. Aku bisa membuat mereka jatuh tanpa ada siapapun yang bisa menolongnya"
"Apa katamu? Dasar gadis cupu tidak tahu diri!"
__ADS_1