
Rania pulang dari sekolah dengan langkah kaki yang cepat karena dia harus segera pergi bekerja disebuah kafe.
"Gawat. Ini sudah terlambat! Aku harus lebih cepat". Diapun berlari setelah melihat jam tangan miliknya.
"Hah hah hah. Maaf, Pak. Saya terlambat. Ada tugas disekolah yang harus saya selesaikan terlerbih dahulu", ujar Rania dengan nafas terengah-engah.
"Baiklah. Lain kali beri kabar dulu jika kamu akan datang terlambat. Cepat ganti baju dan bersihkan meja-meja itu", ujar manajer kafe sambil menunjuk ke beberapa meja sebelum berlalu pergi.
"Baik, Pak. Terima kasih". Rania menanggapi dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. Napasnya masih terengah-engah setelah berlari dari sekolahnya.
Setelah beberapa lama, Rania keluar dengan mengenakan seragam kafe. Dia mulai membersihkan meja-meja yang kotor setelah tamunya pergi. Namun tiba-tiba.
Prang!!
"Aakh!"
Rania menyenggol sebuah meja dibelakangnya hingga membuat gelas jus tumpah dan percikan jusnya mengenai dress seorang gadis muda.
"Apa kamu gila?! Kamu tidak bisa kerja ya?! Lihatlah dres baruku ini jadi kotor karenamu!", teriak gadis itu pada Rania.
"Maafkan saya. Saya tidak sengaja. Biar saya bantu bersihkan!". Rania meminta maaf dengan raut wajah bersalahnya sambil berusaha membersihkan bercak noda dipakaian gadis tersebut dengan kain bersih yang dia pegang.
"Lepaskan tangan kotormu itu! Lihatlah, bajuku jadi semakin kotor karena ulahmu! Dasar pelayan miskin bodoh!". Gadis itu menepis tangan Rania dengan keras hingga dia terjatuh ke lantai.
"Maafkan saya. Saya hanya ingin membantu saja", ujar Rania dengan penuh rasa bersalah. Matanya mulai berkaca-kaca karena bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
Disalah satu tempat duduk dikafe tersebut, Cinta sedang menikmati minumannya sebelum dia pergi memeriksa kue dan kebutuhan ulang tahunnya yang lain. Dia berusaha mengabaikan keributan yang terjadi di kafe, namun tetap saja merasa terganggu. Cinta pun menoleh untuk melihat apa yang terjadi.
"Apa kamu tidak tahu malu? Kamu membuat keributan hanya untuk baju murahan seperti itu?". Cinta bicara dengan sikap yang dingin sambil menatap gadis itu dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
"Apa katamu? Murahan? Kamu tidak tahu berapa harga baju ini kan? Ini adalah dres terbaru dari perancang busana terkenal. Aku harus menunggu lama untuk mendapatkan baju ini. Bahkan aku harus pergi keluar negeri untuk mendapatkannya, bagaimana mungkin kamu berani mengatakan kalau ini baju murahan hah?". Gadis itu menoleh pada Cinta dan berjalan mendekati mejanya. Dia terlihat kesal saat Cinta mengatakan kalau bajunya murahan.
"Berapa banyak uang yang kamu gunakan untuk membeli barang murahan seperti ini? Apa kamu tidak bisa membedakan barang asli dan barang tiruan? Bahan seperti ini kamu bilang asli?". Cinta bicara dengan sikapnya yang dingin dan acuh tak acuh. Dia menyentuh pakaian gadis itu saat memastikan bahannya.
"Memangnya kamu tahu apa mengenai baju ini, hah?! Tidak usah ikut campur!", ujar gadis itu yang tidak mau kalah argumen dengan cinta.
"Aku berkomentar karena aku tahu detil baju itu. Bahan yang mereka gunakan adalah sutra asli, bukan sutra imitasi seperti ini", ujar Cinta dengan senyum mencibir.
"Apa maksudmu ini bahan imitasi. Memangnya siapa kamu sampai berani mengatakan hal itu padaku?!". Gadis itu terus berteriak pada Cinta karena kesal.
"Kamu pikir aku selevel dengan orang sepertimu? Baju murahan seperti itu sama sekali tidak membuatku tertarik!". Cinta terus saja menanggapi dengan acuh tak acuh.
"Dasar kurang ajar. Beraninya kamu!". Gadis itu mengangkat sebelah tangannya hendak menampar wajah Cinta, namun Cinta dengan sigap menahannya.
"Jangan berani-beraninya terhadapku! Aku tidak takut ancamanmu. Bahkan jika mau, aku bisa mematahkan tanganmu sekarang juga! Lebih baik kamu pergi sekarang sebelum aku memotong lidahmu itu!". Tatapan mata Cinta yang tajam membuat gadis itu terintimidasi. Dia seketika terdiam mendengar kata-kata Cinta dan berbalik pergi meninggalkan kafe.
"Itu … terima kasih karena sudah membantuku. Maaf membuat anda tidak nyaman". Rania. bicara pada Cinta dengan sedikit ragu.
Tidak jauh dari meja tempat Cinta duduk, seorang pemuda mengawasinya dengan senyum tipis dibibirnya.
"Gadis yang unik. Dia sangat berani mengutarakan pendapatnya. Semoga ada kesempatan untuk kita bertemu lagi", gumam pemuda itu sambil terus menatap Cinta yang semakin menjauh.
Rania kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Dia membersihkan meja yang telah selesai digunakan tamu. Dia terpana melihat seorang pemuda yang duduk disalah satu sudut kafe.
"Wah … tampannya. Bagaimana bisa ada pemuda yang sangat tampan seperti itu. Rambutnya yang ditata rapih. Pakaian dan aksesoris yang terlihat mahal. Dia terlihat seperti lukisan yang hanya bisa dipandang saja. Seandainya aku memiliki kekasih seperti dia … Tidak-tidak. Bangun Rania jangan bermimpi terlalu tinggi. Dia itu seperti langit tinggi yang tidak akan mungkin bisa kamu gapai. Jangan berpikir macam-macam sebaiknya kembali bekerja!".
Rania terus bicara dalam hatinya sambil menatap pemuda tampan tersebut tanpa berkedip. Batinnya berkecimuk sambil terus mengelap meja yang bahkan sudah tidak ada debu secuilpun disana.
...****************...
__ADS_1
Cinta mengunjungi toko kue untuk memastikan sendiri kue pesanannya sudah dipersiapkan dengan baik atau belum.
Treng...
Lonceng pintu toko berbunyi dan menandakan ada seseorang yang masuk.
"Selamat datang! Oh nona Cinta". Salah seorang karyawan toko menyapa ketika Cinta masuk.
"Bagaimana dengan kue pesananku?". Cinta langsung menanyakan kue pesanannya.
"Hampir siap. Besok pasti akan kami kirimkan tepat waktu". Karyawan toko itu menanggapi Cinta dengan senyum yang ramah.
"Aku tidak ingin ada cacat sedikitpun. Kue pesananku harus sampai tepat waktu dan sesuai dengan permintaanku". Cinta bicara dengan sikap yang tenang. Sikapnya yang dingin tapi elegan membuatnya terlihat penuh wibawa dan berkelas.
"Baik, nona. Anda tidak perlu khawatir. Kami akan mengirimkannya sesuai dengan keinginan anda". Karyawan toko itu pun menanggapi permintaan Cinta dengan sikap yang tenang dan sopan. Meskipun tanpa Cinta sadari karyawan wanita itu sebenarnya gugup saat menghadapi Cinta.
"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa lagi".
"Ya, nona. Hati-hati dalam perjalanan". Cinta pun beranjak pergi meninggalkan toko kue untuk pulang kerumah.
Dari kejauhan pemuda yang tadi Cinta temui dikafe terlihat terus memperhatikannya.
"Tuan muda, sudah saatnya kita pergi", ujar pemuda lain yang merupakan asisten pribadinya.
"Ben, kamu lihat gadis yang yang mengenakan seragam itu?". Pemuda itu menunjuk pada Cinta yang baru keluar dari toko kue.
"Maksud anda gadis yang baru keluar dari toko kue itu?", tanya sang asisten meyakinkan.
"Ya. Aku ingin kamu mencari tahu informasinya dengan rinci. Secepatnya!", ujar pemuda itu dengan sikap yang tenang.
__ADS_1
"Baik. Saya akan mencarikan informasi tentangnya secepatnya".
"Bagus. Ayo pergi!"