
Rania turun keruang makan ditemani bi Susi. Dia terus menatap sekeliling rumah Cinta dengan tatapan penuh kekaguman
Waah rumahnya benar-benar indah dan luas. Barang-barang yang ada disini pun terlihat sangat mahal sekali.
Batin Rania terus saja berseru mengagumi rumah Cinta.
"Selamat pagi, Nona". Beberapa pelayan yang ada diruang makan menyapa Rania dengan sopan.
"Ya, selamat pagi"
*Eh? Non Cinta tersenyum?
Apa aku salah lihat? Non Cinta menanggapi kami dengan senyum yang ramah?
Apa yang terjadi dengan non Cinta*?
Semua pelayan tampak bingung melihat nona mereka menyapa dengan senyum yang ramah. Bahkan bi Susi pun tampak terkejut.
"Nona, apa anda baik-baik saja?", tanya bi Susi dengan raut wajah khawatir.
"Ya? Saya baik-baik saja", ujar Rania dengan senyum yang manis.
Semua orang yang ada disana semakin bingung dengan apa yang terjadi pada nona mereka
"Apa karena semalam nona terlalu banyak menangis sampai membuat sikapnya sedikit aneh?"
"Bisa jadi. Karena terlalu lama menangis ada sela sarafnya yang rusak?"
Beberapa pelayan saling berbisik membicarakan sikap nona mereka.
"Nona, silahkan duduk. Anda bisa mulai sarapan anda". Bi Susi menarik kursi untuk Rania duduk.
Lagi-lagi Rania terpana begitu melihat beberapa jenis makanan diatas meja makan. Dia menatap meja makan dengan mulut menganga dan mata membelalak.
Waah, apa menu sarapan sebanyak ini? Bagaimana aku menghabiskannya?
"Apa aku hanya makan sendiri", tanya pada Bi Susi.
"Ya, tuan dan nyonya masih belum kembali, jadi anda harus makan sendiri", ujar Bi Susi menjelaskan.
"Apa kalian sudah sarapan? Kenapa hanya berdiri saja? Makanlah bersamaku!". Rania bertanya pada Bi Susi dan pelayan lain yang ada disana.
Para pelayan saling menatap satu sama lain sebelum menjawab ajakan Rania
"Tidak, Nona. Terima kasih. Ini bukan tempat kami. Kami sudah sarapan di dapur", ujar Bi Susi dengan sikap yang sopan.
__ADS_1
"Hmn … baiklah kalau begitu". Rania pun tidak banyak bicara lagi. Diapun mulai makan sendiri dengan para pelayan berada disampingnya.
Salah satu pelayan hendak menuangkan minuman untuk Rania, namun tanpa sengaja dia menumpahkannya dan mengenai roknya.
"Ah". Rania yang terkejut langsung berdiri dan membersihkan roknya.
"Maafkan saya, Nona. Saya tidak sengaja. Tolong jangan pecat saya". Pelayan itu langsung bersujud dihadapan Rania agar tidak dipecat dari pekerjaannya.
"Eh. Apa yang kamu lakukan? Cepat berdiri!". Rania langsung membantu pelayan itu berdiri.
Lagi-lagi semua orang terkejut melihat sikap nona muda mereka yang tidak marah.
'Nona tidak marah pada saya? Nona tidak akan memecat saya kan?". Pelayan itu bertanya dengan mata berkaca-kaca karena menangis.
Rania sangat terkejut mendengar ucapan pelayan itu.
Apa pemilik tubuh ini selalu marah dan memecat mereka begitu saja?
"Ini hanya air saja. Sebentar lagi juga kering. Kenapa saya sampai harus memecatmu?", ujar Rania dengan senyum yang ramah.
"Benarkah? Nona tidak akan memecat saya?", tanya pelayan itu memastikan.
"Iya. Saya tidak akan memecatmu"
"Eh hentikan. Lepaskan tanganku!". Rania berusaha menarik tangan yang digenggam pelayannya dengan canggung.
"Maafkan saya, Nona", pelayan itu kembali meminta maaf pada Rania. Rania hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala dan kembali duduk untuk menikmati sarapan miliknya.
"Nona, sudah saatnya anda pergi ke sekolah. Anda bisa terlambat jika pergi lebih lama lagi". Bi Susi mengingatkan Rania untuk segera berangkat ke sekolah.
"Oh, baiklah. Ayo berangkat!". Rania beranjak dari duduknya dan mengajak bi Susi untuk berangkat ke sekolah.
"Nona, anda biasa berangkat sendiri. Mobil anda juga sudah dipanaskan", ujar bi Susi menjelaskan.
"Apa? Mengendarai mobil sendiri?", ujar Rania dengan raut wajah terkejut
Bagaimana aku bisa mengendarai mobil sendiri? Naik mobil pribadi saja aku belum pernah.
"Bisakah mengantarku ke sekolah? Aku sedang tidak ingin mengemudi sendiri". Rania bicara dengan sikap yang sopan dan senyum yang manis.
*Hah? Nona meminta dengan sopan? Kurasa pagi ini aku akan kena serangan jantung mendadak karena sikap nona berubah drastis.
Apa kepala Nona terbentur atau dia masih belum sadar setelah bangun tidur ya? Kenapa sikap nona sangat berubah*?
"Kenapa kalian diam saja? Apa tidak ada yang bisa mengantarku?", tanya Rania dengan sopan.
__ADS_1
"Saya akan mengantar Nona", ujar seorang pelayan pria sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Ayo kita berangkat!", ajak Rania sambil berdiri dari duduknya.
"Baik, Nona". Rania dan supirnya pun berangkat menuji sekolah.
"Terima kasih", ujar Rania saat supir membukakan pintu mobil untuknya.
"Tolong antarkan saya ke jalan ini. Saya ada urusan disana", ujar Raia ketika supirnya mulai menjalankan mobil.
"Tapi, Nona. Bukannya kita akan pergi ke sekolah? Anda bisa terlambat nanti", ujar supir berusaha menjelaskan.
"Saya tidak akan ke sekolah hari ini. Antarkan saja saya ke alamat ini". Rania bicara dengan senyum tipisnya.
Sesaat supir itu terdiam sebelum menyetujui permintaan Rania.
"Baik, Nona"
...****************...
Ditempat lain. Cinta masih tak percaya dengan apa yang dia alami saat ini. Sama seperti Rania yang terkejut dengan semua hal dirumah Cinta, Cinta pun merasakan hal yang sama dirumah Rania.
"Ini kamar mandinya? Yang benar saja. Tidak ada bathtub, kamar mandinya juga sangat kecil. Haaah bagaimana aku bisa mandiiii?!". Cinta tampak frustasi dengan apa yang ada dirumah Rania.
"Rania! Apa yang kamu lakukan di toilet?! Kenapa lama sekali?! Cepatlah! Kakak juga mau mandi!", teriak Aurel sambil mengetuk pintu dengan keras. Dia adalah kakaknya Rania.
"Berisik! Tunggu sebentar!". Cinta pun kembali menanggapi Aurel dengan berteriak.
"Hei! Sejak kapan kamu berani berteriak pada Kakak?! Kamu mau Kakak laporkan pada ibu?!". Aurel mengancam Cinta karena berani melawannya.
"Terserah!". Cinta menanggapi ucapan Aurel dengan sinis dan acuh tak acuh.
"Ibuuuu! Lihatlah Rania! Dia sudah berani menentangku!". Aurel langsung mengeluh pada sang ibu agar dia menegur Rania untuknya.
"Ada apa, sayang? Eh? Rel, kamu masih belum mandi? Kenapa belum mandi? Ini sudah siang, kamu bisa terlambat ke kantor nanti!", ujar sang ibu yang terus khawatir dengan putri tertuanya.
"Ini, Bu. Rania mandinya lama, jadi aku masih belum siap-siap". Keluh Aurel yang memang masih mengenakan piyamanya.
"Rania! Apa yang kamu lakukan didalam?! cepat mandinya! Dug dug dug". Ibu Rania ikut berteriak sambil mengetuk pintu dengan keras.
"Haah!! Berisik sekali! Bagaimana bisa aku menikmati waktu mandiku?!". Cinta semakin kesal dengan teriakan ibu Rania. Diapun bergegas menyelesaikan mandinya
"Uuh airnya dingin sekali!". Sambung Cinta menyalakan air dingin. Diapun kini menyalakan keran air hangat.
"Aah panas sekali…! Kulitku bisa melepuh! Aku tidak bisa hidup disini…!!". Teriak Cinta begitu terkena cipratan air keran.
__ADS_1