
Pagi harinya dirumah Rania.
Cinta membuka matanya perlahan setelah tertidur saat dia kelelahan karena menangis. Dia mengusap matanya berkali-kali agar pandangannya terlihat jelas.
"Ehm ... Kenapa penglihatanku sedikit buram ya? Bagaimana bisa penglihatanku rusak hanya dalam 1 malam?", gumam Cinta sambil terus mengusap matanya karena penglihatannya tidak jelas. Diapun menoleh ke sebelahnya dan melihat ada kaca mata diatas nakas
"Eh, kacamata? Milik siapa ya? ". Dia langsung meraihnya dan langsung menggunakannya tanpa pikir panjang. Setelah menggunakan kacamata, Cinta mulai menyadari ada yang aneh dengan kamarnya.
"Ini dimana? Jelas-jelas semalam aku tidur dikamarku, kenapa sekarang aku tidur ditempat kumuh seperti ini? Bahkan jika dibandingkan dengan kamar pembantu dirumah … ini jauh lebih kecil. Iiuuh … baju lusuh ini, bagaimana bisa aku pakai baju tidur seperti ini?".
Cinta tersadar saat dia tidak mengenali kamar yang dia tempati. Dia pun beranjak dari tempat tidurnya untuk melihat sekeliling, namun saat dia melewati cermin … ada sesuatu yang membuatnya sangat terkejut.
"Hah! Siapa itu?". Cinta menatap dirinya dicermin dengan wajah yang berbeda. Dia memegangi pipinya sendiri untuk memastikan.
"Apa ini aku? Bagaimana aku bisa jadi itik buruk rupa begini?! Tidaaaaaaak!!!". Cinta berteriak karena terkejut mendapati wajahnya yang berbeda.
"Rania! Apa yang kamu lakukan?! Kenapa pagi-pagi begini sudah membuat keributan?!". Ibu Rania yang mendengar suara teriakan dari kamar Rania langsung datang dan bertanya dengan berteriak.
"Rania? Siapa itu Rania?", gumam Cinta yang bingung dengan panggilan ibu Rania padanya.
Dug dug dug
"Rania! Buka pintunya! Kenapa kamu membuat keributan pagi-pagi begini?!". Ibu Rania terus saja berteriak sambil mengetuk pintu kamar Rania dengan keras.
"Berisik sekali?", ujar Cinta sambil mengorek kupingnya sendiri. Diapun berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Kenapa kamu sudah berteriak pagi-pagi begini?!".
Cinta sangat terkejut karena begitu dia membuka pintu, ibu Rania berteriak padanya.
"Sepertinya bukan aku yang membuat keributan? Kamu sendiri yang membuat keributan dengan berteriak dan mengetuk pintu begitu keras!". Cinta yang tidak biada ditindas langsung menanggapi ibu Rania dengan sikap yang dingin.
"Kamu sudah berani melawan ibu ya?!", ujar Ibu Rania yang semakin kesal.
"Ibu?! Kamu ibuku? Seorang ibu pagi-pagi sudah membuat keributan didepan kamar anaknya"
"Apa yang salah denganmu? Jangan berpikir dengan sikapmu begini, ibu akan mengembalikan uang gajimu yang ibu ambil. Sebaiknya cepat mandi dan bersiap ke sekolah!". Ibu Rania yang tidak ingin ambil pusing langsung beranjak pergi dari kamar Rania.
Cinta memicingkan mata karena dia semakin bingung dengan apa yang dikatakan ibu Rania.
"Ini tidak benar. Aku harus segera menemui pemilik tubuh ini? Tapi dimana? Apa dia masuk ke tubuhku?"
...****************...
Sementara itu dirumah Cinta. Bi Susi berniat membangunkan nona mudanya untuk pergi ke sekolah.
__ADS_1
"Nona, bangun. Ini sudah pagi. Anda harus segera pergi ke sekolah. Bukankah anda bilang hari ini anda akan jadi awal baru karena anda berusia 17 tahun?". Bi Susi membangunkan nona mudanya dengan lembut dan penuh perhatian.
"Eum …"
Rania yang berada di tubuh Cinta mulai bangun dari tidurnya. Tangannya meraba-maba mencari sesuatu. Bahkan sebelum dia membuka matanya.
"Mana kacamataku?", gumam Rania tidak mendapatkan kacamatanya.
Bi Susi yang berada disampingnya merasa bingung melihat tingkah Cinta yang tidak seperti biasanya.
"Nona, apa yang anda cari?", tanya Bi Susi penasaran
"Kacamataku". Rania menjawab dengan mata yang masih belum terbuka. Kemudian dengan cepat membuka mata setelah menyadari sesuatu.
"Eh? Anda siapa?", tanyanya setelah tersadar ada seseorang disampingnya.
"Ini … dimana? Apa aku disurga? Tidak. Ini seperti … kamar tuan putri? Apa aku ada disebuah istana dalam novel? Apa ini mimpi? Aww. Ini sakit". Rania terlihat bingung dengan kamar yang dia tempati. Diapun mencubit pipinya sendiri untuk memastikan ini mimpi atau bukan.
"Nona, apa anda baik-baik saja? Nona tidak boleh bercanda seperti itu. Jangan buat Bibi takut, Non". Bi Susi bicara dengan sopan pada gadis muda didepannya.
"Saya serius. Bibi ini siapa?". Rania masih tidak mengerti dengan situasinya.
"Ini tidak lucu, Non. Nona harus bangun sekarang dan bersiap pergi ke sekolah. Nona bisa terlambat jika terus seperti ini".
Bi Susi menarik selimut Rania dan membantunya pergi ke kamar mandi. Rania masih menoleh kesana kemari mengangumi kamar Cinta yang saat ini dia tempati.
"Woow … bahkan kamar mandinya saja sangat indah dan luas. Apa ini benar-benar nyata?". Rania terus saja mengamati setiap sudut kamar mandi beserta barang-barang yang ada disana. Tapi dia sangat terkejut saat menatap cermin.
"Eh? Siapa ini? Sepertinya wajahnya tidak asing? Dia sangat cantik". Rania bicara pada cermin sambil mengagumi kecantikan wajah Cinta.
"Iih … apa ini … aku? Bagaimana bisa wajahku berubah? Tidaaaaakkkk!!". Rania sangat terkejut begitu melihat wajahnya sendiri dicermin diapun memegang pipinya berkali-kali.
"Non, apa yang terjadi? Apa Non Cinta baik-baik saja?!". Bi Susi yang mendengar suara teriakan langsung datang ke kamar mandi untuk memastikan keadaan majikannya.
"I-iya. Saya baik-baik saja". Rania menanggapi dengan gugup.
"Bagaimana ini?Apa yang terjadi? Kenapa bisa jadi seperti ini?". Rania langsung menangis karena bingung. Diapun berjalan kesana kemari memikirkan apa yang tarjadi padanya.
Tring tring tring
Tiba-tiba ponsel Cinta berdering. Bi Susi pun langsung mengetuk kembali pintu kamar mandi untuk memberikan telepon Cinta.
Tok Tok Tok.
"Non, sejak tadi ponsel nona terus berdering. Apa mau diterima dulu?". Bi Susi bertanya dengan sopan karena takut Cinta akan marah
__ADS_1
"Eh? Dari siapa Bi?". Rania pun keluar dari kamar mandi untuk mengambil ponsel.
"Ini, Non. Tidak ada namanya, tapi sudah berkali-kali menghubungi Nona". Rania pum mengambil ponsel itu dan melihat nomor dilayar teleponnya. Dia hafal betul nomor siapa itu.
"Ha-lo?". Rania menerimanya dengan hati-hati.
"Halo, siapa ini?". Cinta yang berada diujung telepon langsung bertanya dengan nada bicaranya yang dingin.
"Kamu yang menghubungi saya lebih dulu. Harusnya saya yang bertanya ini siapa?". Rania menanggapi dengan suara yang lembut.
Mendengar dari nada bicaranya, Cinta tahu kalau itu bukan pelayan. Jadi dia langsung menjawabnya.
"Aku Cinta, pemilik ponsel itu. Sekarang katakan siapa kamu?"
"Emm... Aku Rania, pemilik ponselmu".
Cinta langsung sadar dengan situasi yang terjadi padanya saat ini.
"Jadi tubuh kita saling tertukat?", tanya Cinta dengan sikap yang tenang.
"Emmm. Mungkin? Tapi bagaimana ini bisa terjadi?", tanya Rania berusaha mencari jawaban.
"Eantahlah. Aku juga tidak mengerti, tapi alangkah baiknya kalau kita bertemu dan bicara secara langsung". Cinta yang cerdas langsung menyarankan langkah yang harus diambil.
"Baiklah. Tapi dimana kita akan bertemu?".
"Aku tidak tahu ini dimana jadi kamu harus datang kemari. Kita akan bertemu di sekitar tempat sekolahmu".
"Baik. Saya akan naik bus kesana", ujar Rania dengan polosnya.
"Naik bus? Untuk apa kamu naik bus? Kamu bisa pakai salah satu mobilku kan?". Cinta bertanya dengan dahi berkerut karena heran.
"Naik mobilmu? Tapi aku tidak bisa mengemudi"
"Kamu bisa minta supir mengantarmu kesini. Tidak akan ada yang berani bertanya macam-macam".
"Baiklah. Aku akan minta supir mengantar saya kesana". ujar Rania sambil menganggukkan kepala.
Cinta terdiam memikirkan sesuatu yang janggal.
"Tapi … dimana sekolahmu? Aku tidak tahu harus pergi kemana?", tanya Cinta dengan sikap acuh tak acuh.
"Sekolah Nusa Bangsa. Kita akan bertemu di kafe bunga depan sekolah saya". Rania memberitahu Cinta dengan tenang.
"Oh. Baiklah kalau begitu". Cinta langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Rania.
__ADS_1
"Eh, langsung ditutup begitu saja? Apa dia tidak punya sopan santun?"