Cinta Bukan Cinta

Cinta Bukan Cinta
Gadis Kaya Liar


__ADS_3

Pemuda itu terlihat kesal mendengar ucapan Cinta, namun Cinta tetap bersikap acuh tak acuh sambil menikmati permen lolipop miliknya.


"Hei! Kamu! Sampai kapan kamu akan berlutut disana? Memangnya mereka itu majikanmu sampai kamu mau berlutut dihadapan mereka?" ujar Cinta dengan sikap acuh tak acuh


"Tapi...". Gadis itu ingin berdiri mendekati Cinta, namun di terlihat ragu-ragu dan takut pada ketiga siswa yang berdiri dihadapannya.


"Tidak usah tapi-tapian. Cepat kemari dan bawakan tasku ke kelas!" ujar Cinta dengan sikap sombong dan penuh percaya diri. Gadis itu terus menatap cinta dan 3 siswa dihadapannya secara bergantian seraya mempertimbangkan.


"Mau sampai kapan kamu bersikap seperti sapi kebingungan begitu? Cepat kemari!". Gadis itu pun akhirnya berdiri dan mendekati Cinta.


"Pergi kekelas dan bawakan juga tasku!" Cinta memberikan tasnya dan membiarkan gadis itu kembali ke kelas lebih dulu.


"Cinta, siapa yang mengizinkanmu membiarkan gadis bodoh itu pergi?" ujar salah satu siswa yang mengganggu gadis tadi.


"Tidak ada. Aku hanya tidak suka saja melihat kalian selalu menindas murid baru. Apalagi kali ini kalian menindas anak perempuan. Kalian tidak punya malu ya?" Cinta terus bicara dengan sikap acuh tak acuh. Dia sama sekali tidak terlihat takut padahal banyak siswa yang sejak tadi pura-pura tidak melihat mereka.


"Jika kamu bukan anak perempuan, pasti aku sudah merobek mulut kasarmu itu!".


"Memangnya kenapa kalau aku anak perempuan? Kamu takut padaku?".


"Kamu ini benar-benar ya. Dasar gadis sombong. Kamu memang harus dikasih pelajaran! Tangkap dia!" ujar pemuda itu dengan sikap yang sinis. Dia bernama Alan, anak dari pemilik sekolah dan anggota dewan.


Dua teman Alan berusaha menangkap Cinta, namun mereka tidak tahu kalau Cinta bisa beladiri. Alhasil... mereka pun berkelahi. Tak butuh waktu lama untuk Cinta mengalahkan kedua teman Alan, apalagi saat ini suasana hatinya sedang buruk. Ini adalah kesempatan Cinta meluapkan amarahnya.


"Apa kemampuanmu sama payahnya dengan mereka? Tidak seru. Mereka sama saja seperti samsak untukku latihan. Tidak menyenangkan!". Cinta bertanya pada Alan dengan sikap acuh tak acuh sambil menunjuk kedua temannya yang meringis kesakitan.


Alan terdiam dan menatap kesal punggung Cinta yang pergi begitu saja dengan sikap yang seakan merendahkannya.


"Sial. Awas saja kamu, dasar gadis liar!"


Cinta pergi kekelasnya untuk mengambil tas. Disana ada siswi yang dia tolong tadi sedang duduk dengan meletakkan tas Cinta diatas mejanya. Cinta berjalan mendekati gadis itu untuk mengambil tasnya.


"Terimakasih sudah membawakan tasku" ujar Cinta sambil meraih tasnya dan beranjak pergi ke tempat duduknya.


"Tunggu! Terimakasih karena tadi kamu sudah menolongku". Langkah kaki Cinta terhenti ketika gadis itu menghentikannya.


"Namaku Aina" sambung gadis itu sambil mengulurkan sebelah tangannya pada Cinta.


"Aku Cinta" Cinta hanya menyebutkan namanya tanpa menyambut uluran tangan Aina padanya.

__ADS_1


Semua rekan sekelas mereka menatap sinis pada Cinta yang bersikap sombong dan acuh tak acuh.


"Aina, sebaiknya kamu tidak mendekatinya. Dia itu terlalu sombong dan tidak butuh orang lain. Percuma saja kamu baik padanya"


"Benar. Jika kamu dekat dengannya, kamu hanya akan jadi pelayannya saja".


"Dia itu hanya gadis kaya yang liar seperti orang utan. Sebaiknya kamu jauhi saja dia!"


"Apa kamu bilang? Katakan lagi didepanku!


Brak!


Cepat katakan langsung kenapa kalian diam saja?!"


Teman-teman sekelas Cinta terus saja berkomentar menjelekkannya, namun saat Cinta menoleh dan bertanya pada mereka dengan sorot matanya yang tajam sambil memukul meja, mereka semua diam seperti batu.


"Sialan! Merusak moodku saja!".


Aina pun kembali duduk dikursinya meskipun sesekali dia menatap Cinta seakan ingin dekat dengannya.


Jam pelajaranpun dimulai. Cinta yang suasana hatinya sedang tidak baik sama sekali tidak menyimak apa yang diterangkan oleh gurunya. Dia hanya menggambar dibuku dan sesekali menatap jauh keluar jendela sampai jam pelajaran selesai.


"Cinta! Maaf, apa aku boleh ikut denganmu? Tidak, tidak, maksudku hanya sampai pertigaan didepan saja. Ibuku tidak bisa menjemputku, nanti aku akan naik taksi disana". Aina bicara pada Cinta dengan ekspresi ragu. Terlihat jelas kalau dia takut pada Cinta, tapi juga ingin dekat dengannya.


Cinta terdiam dengan mata yang menatap sinis pada Aina. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana bersikap pada orang baru yang mendekatinya karena Cinta bukanlah orang yang mudah bergaul.


"Baiklah". Cinta pun mengizinkan Aina ikut meskipun dia menjawabnya sambil berlalu pergi.


"Terimakasih" ujar Aina sambil berjalan mengikuti Cinta dari belakang.


Semua orang menatap Aina dan Cinta dengan tatapan heran karena Cinta yang kasar tidak pernah berjalan beriringan dengan orang lain.


"Cinta, apa kamu tidak papa?" tanya Aina yang menyadari tatapan sinis semua orang disekeliling mereka.


"Aku baik-baik saja" Cinta menanggapi dengan sikap acuh tak acuh.


"Tapi … semua orang …" ujar Aina yang dengan ragu-ragu.


"Aku tidak peduli dengan mereka. Terserah mereka mau mengatakan apapun tentangku. Itu bukan urusanku". Aina pun tidak mengatakan apapun lagi dan terus berjalan mengikuti Cinta menuju mobil.

__ADS_1


Aina dan Cinta tidak banyak bicara lagi selama dalam perjalanan, hingga mereka tiba di pertigaan jalan seperti yang dikatakan Aina.


"Cinta, terimakasih ya karena sudah memberikan tumpangan padaku" ujar Aina dengan senyum lembut dibibirnya.


"Ya sama-sama. Aku pergi dulu" Cinta pun langsung memacu mobilnya menuju mall untuk memeriksa keperluan ulang tahunnya. Sedangkan Aina masih terus menatap mobil Cinta yang semakin menjauh.


...****************...


Sementara itu ditempat lain. Seorang gadis tengah bekerja keras membersihkan toilet sekolah sebagai hukuman atas apa yang tidak pernah dia lakukan.


"Rania! Kamu harus cepat membersihkannya. Jangan sampai nanti pak guru keburu datang kemari!" ujar Helen dengan sikap yang sinis.


"Iya Helen. Ini juga sedang aku kerjakan. Tapi kan ini hukuman untukmu, kenapa aku yang harus membersihkannya? " ujar Rania dengan nada bicara yang lembut.


Rania adalah seorang gadis miskin yang bersekolah disebuah sekolah mewah karena mendiang sang ayah pernah menjadi orang yang berjasa bagi pemilik sekolah.


"Anggap saja ini hukuman untukmu karena wajah jelekmu itu membuat mataku sakit. Ya sudah cepat kerjakan! Jangan jadi orang yang super lambat seperti itu!" bentak Helen pada Rania.


Rania hanya bisa diam dan kembali membersihkan toilet sekolah yang sangat bau itu. Sesekali dia menaikkan kacamatanya yang terus turun saat dia menunduk.


Setelah cukup lama, akhirnya Rania selesai membersihkan toilet.


"Helen, aku sudah selesai" ujar Rania dengan suara yang lemah dan berdiri dengan hati-hati karena pinggangnya seakan mati rasa.


"Bagus. Cepat kembali ke kelas sana. Aku akan melapor kepada pak guru" Helen bicara sambil mendorong Rania pergi.


Rania pun melangkahkan kaki dengan kepala tertunduk menuju kelas. Sedangkan Helen berjalan menuju ruang guru.


Tok tok tok


"Permisi. Pak, saya sudah selesai membersihkan toilet" ujar Helen sambil mengusap dahi yang sama sekali tak da keringatnya itu.


"Kerja bagus. Jangan diulangi lagi. Jika lain kali kamu sampai membuat keributan lagi, maka hukumannya akan lebih berat lagi"


"Baik, Pak. Kalau begitu saya akan kembali ke kelas. Permisi".


"Hmn …" Helen membalikkan badan dan beranjak pergi setelah pak guru mengizinkan dia kembali kekelas.


Fyuuh … untung saja ada sibodoh Rania yang kebetulan lewat ke toilet, jika tidak, maka sudah pasti tanganku ini akan kapalan karena harus menyikat toilet yang sangat bau itu.

__ADS_1


__ADS_2