CINTA DAN DENDAM.

CINTA DAN DENDAM.
2. Malam Pertama.


__ADS_3

***Kamar Hotel Mewah***


Pov… Elysia Arabella Ardelia.


Kali ini tidak ada perlawanan yang bisa aku lakukan, karena kartu kekuasaan masih berada di genggaman tangan tuan Justin Andrian Radeya. Sepertinya banyak usaha dan akal yang harus aku gunakan serta kerahkan untuk masalah ini.


Malam ini adalah malam pertama kami berdua setelah resmi menjadi pasangan suami istri kontrak yang di sembunyikan. Apakah tindakan ku ini sudah benar? Akupun hanya dapat berkata di dalam hati, inilah jalan yang harus aku tempuh dan lalui demi mencapai tujuan di dalam hidupku, yaitu balas dendam terhadap istri pertama suamiku sendiri.


Lebih tepat lagi, dapat di sebut dengan maduku sendiri. Entah bagaimana reaksi wanita itu? Jika mengetahui kebenaran akan pernikahan kami. Apakah aku peduli akan reaksinya? Tentu saja jawabannya, tidak sama sekali.


Setelah aku menandatangani berkas kontrak kerjaku yang baru, itulah awal aku akan menjadi seorang bawahan dari suamiku sendiri. Tentu saja inilah awal perjuanganku untuk menjadikannya sebuah senjata atau malah menjadi boomerang bagiku.


Namun satu yang pasti, aku tidak akan menyerah pada tuan Justin Andrian Radeya. Aku harus kuat untuk melawannya, jika tidak. Itu artinya aku juga tidak cukup kuat untuk melawan wanita yang sudah resmi menjadi musuhku sejak 5 tahun yang lalu. Semua harus berjalan seperti yang aku inginkan dan rencanakan, jika tidak. Aku akan sangat malu kepada almarhum suami dan putraku sendiri, bahkan kematian pun aku tidak pantas untuk itu, jika balas dendam yang aku inginkan tidak tercapai.


Kini di kamar inilah, di mana kamar hotel mewah ini akan menjadi saksi bisu awalnya balas dendam ku di mulai. Sekaligus, awal dari kehancuran hati serta cinta ku terhadap suami yang masih sangat aku cintai sampai detik ini.


Sudah tidak terhitung berapa kali aku harus menghela nafasku yang terasa berat dan sesak. Menunggu tuan Justin yang masih betah berlama-lama di dalam kamar mandi sejak satu jam yang lalu. Aku hanya bisa duduk di tepi ranjang king size dengan sprei putih bersih. Aku kembali menghela nafasku, jujur aku gugup dan frustasi akan malam pertama ini.


Sudah lama aku tidak melakukan itu. Apakah aku bisa melakukannya? Apakah mungkin aku bisa untuk menolak tuan Justin malam ini? Tidak ada yang tahu jawabannya, jika malam ini belum berlalu dan berganti pagi.


'ceklek…' Suara pintu kamar mandi terbuka seirama dengan debaran jantungku yang berdetak dengan cepat.


'Jantungku kendalikan dirimu.' Gumamku menenangkan debar jantungku yang berdebar dengan cepat.


Aku sungguh terpana melihat pria yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, dia hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian pinggang dan bagian bawah tubuhnya. Melihat perutnya yang sixpack dengan kulit putih bersih, membuat aku diam terpaku. Lama sekali sudah tidak aku melihat bentuk itu. Tidak, bahkan suamiku dulu tidak memilikinya.


'Maafkan aku suamiku, aku bersalah telah membandingkan dirimu.' Gumamku di dalam hati segera sadar, telah membandingkan di antara dua pria yang ada di dalam hidupku selama ini.


Aku pun segera membuang pandangan mataku ke arah lainnya, di saat mata tuan Justin melihat ke arah ku. Salivaku seakan susah untuk aku telan, aku gugup dan tidak tahu harus berbuat apa?


Aku tahu tuan Justin memandangiku dengan pandangan seakan lapar dan ingin menerkam ku sekarang juga. Dapat terlihat jelas dari pantulan cermin meja hias yang tidak sengaja aku lihat.


Dia perlahan melangkah mendekatiku, aku diam terpaku pada tempatku. Tubuhku seakan tidak dapat bergerak sedikitpun, entah apa yang terjadi? Aku hanya bisa meremas kuat kain sprei yang ada di dekatku. Menahan semua gejolak yang aku rasakan, takut, gugup, sedih, kecewa, marah dan kesal akan diriku dan keadaanku saat ini. Semua ini terpaksa untuk aku lakukan, demi tujuan balas dendamku tercapai.


"Apa kau hanya akan diam saja?" Tanya tiba-tiba tuan Justin untuk pertama kalinya mengeluarkan suaranya.


Sontak aku melihat ke arahnya, pandangan mata kami bertemu dan saling memandang. Kami masih diam dan saling memandang, tubuhnya yang ada tepat di hadapan ku hanya beberapa inci saja, dapat aku cium aroma sabun serta harumnya parfum maskulin yang ia gunakan.


Lagi-lagi aku menelan salivaku dengan susah payah. Mata dan pikiran ku tidak akan bisa berbohong, untuk mengatakan bahwa dia sempurna dan sangat tampan. Aku benar-benar terpesona, sial bagiku yang malah termakan akan pesona kuatnya.


Aku pasrah dan kalah malam ini, akan pesona dan kharisma kuatnya. Aku juga kalah akan kontrak yang sudah aku tanda tangani. Sial, sial, sial. Hanya itu yang dapat aku katakan di dalam hatiku, namun tidak dapat melakukan apapun? Bahkan menolak dan menghindarinya pun aku tidak bisa.


"Kau akan diam saja, dan tidak melakukan apapun? Malam ini kau harus melakukan kewajiban yang seharusnya kau lakukan sebagai seorang istri. " Ucapnya kembali karena aku hanya diam saja.

__ADS_1


Kembali aku terdiam dan menelan salivaku dengan terus memandangnya.


"Apa kau mengerti?" Ucapnya.


Aku hanya diam masih memandangnya. Tidak ada yang bisa aku ucapkan lagi.


"Aku tahu ini bukan untuk pertama kalinya bagimu." Ucapnya, yang sukses membuat aku mengerutkan keningku melihatnya.


Apa maksud perkataannya?


"Apa maksud anda, tuan?" Tanyaku, hanya itu yang dapat terlontar dari mulutku.


Dia tersenyum, tipis dan terlihat meremehkan.


"Aku tahu kau sudah pernah menikah beberapa tahun yang lalu." Ucapnya.


'Apa, dia tahu aku sudah pernah menikah? Apa mungkin dia juga tahu tujuanku?' Gumamku di dalam hati merasa curiga sekaligus terkejut.


"Bagaimana bisa anda tahu? Anda menyelidiki aku, tuan?" Tanya ku ingin tahu.


Lagi-lagi dia tersenyum tipis serta mengejek ke arahku.


"Apa kau pikir aku pria bodoh yang dengan mudahnya menikahimu begitu saja, tanpa tahu siapa dirimu?"


"Kau menikah karena perjodohan dari ibu angkatmu, lalu kehilangan suamimu dalam kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu."


'Dia tahu.' Gumamku.


"Kau diam, itu artinya semua yang aku katakan adalah benar. Mengapa kau terdiam? Apa kau teringat pada suamimu itu?" Tanyanya sembari melangkah semakin mendekatiku.


"Ingat satu hal, sekarang kau adalah istriku." Ucapnya sembari menyentuh dan mencengkram kuat daguku dan mengangkatnya hingga aku mendongak melihatnya.


"Selama kau menjadi istriku, kau harus patuh pada perintah ku. Kau harus menjaga kehormatan ku, jangan pernah kau berani berbuat yang hanya akan menimbulkan masalah bagi keluarga Radeya. Kau mengerti?" Ucapnya sembari melepaskan kasar tangannya pada daguku.


"Jika kau berani melawan ku, kau akan merasakan sebuah penderitaan yang tidak pernah ada di dalam bayanganmu selama ini, wanita murahan." Ancam serta hinanya padaku.


Iya, itulah yang ada di dalam pikirannya selama ini tentang diriku? Aku wanita murahan baginya.


Aku terdiam dan menunduk melihat ke arah samping di bawah ku. Aku diam bukan karena takut akan ancamannya, ini baru permulaan bagiku dalam perang ini. Ini semua belum seberapa, setelah apa yang sudah aku alami beberapa tahun ini? yaitu sebuah kehilangan yang menyakitkan bagiku.


Baiklah, aku mengalah untuk menang, hanya perkataan itu yang dapat aku jadikan sebagai semangat ku saat ini. Aku harus menelan rasa sakit dan pahit ini di dalam dasar hatiku.


"Cepat lakukan yang seharusnya kau lakukan?" Perintahnya mutlak akan kekuasaan pada diriku.

__ADS_1


Aku menghela nafasku sebelum akhirnya aku berdiri di hadapannya. Aku harus pandai dan bertahan akan sandiwara dan acara murahan yang akan aku lakukan malam ini.


Dengan perlahan dan lembut aku pandang matanya, tangan ku meraih dan meraba lembut dadanya yang bidang. Wanita murahan, itulah aku malam ini. Aku tidak peduli, aku harus terus bertahan demi tujuanku.


Perlahan aku mendekat dan tanganku terus meraba serta berkeliaran semakin turun ke bawah. Perlahan aku meremas lembut benda yang seharusnya tidak aku sentuh. Aku semakin merasa jika diriku benar-benar wanita murahan.


Aku mengecup lembut kedua pipinya, dan dia hanya diam melihat ku intens tanpa perlawanan sedikitpun. Aku terus berusaha untuk melakukan sesuatu yang dapat membangkitkan gejolak pria yang ada di hadapanku ini. Meraba dan mencium mesra serta lembut seluruh bagian wajah pria dingin yang hanya bisa diam saja.


Dia terus hanya diam saja. Aku yang merasa, jika tidak ada balasan sama sekali dari tuan Justin sedikit kecewa. Apakah aku kurang memuaskan baginya? Atau aku memang tidak ahli dalam hal ini? Malam ini sepertinya akan sulit bagiku untuk menaklukkan pria dingin ini.


Aku menyerah, akupun ingin menghentikan semua pergerakan bodoh yang aku lakukan. Lebih baik melihatnya marah dan menghinaku daripada aku yang bergerak dan berusaha seperti orang bodoh dan murahan, namun tidak memiliki hasil sama sekali.


Tetapi di saat aku sudah menghentikan gerakan yang aku lakukan, dan ingin mengatakan sesuatu pada tuan Justin. Tiba-tiba saja pergerakan cepat darinya membuat ku terkejut dan tidak dapat bergerak sama sekali.


Tuan Justin mencakup kedua pipiku dan mengecupi semua bagian wajahku, ia seakan ingin mengabsen setiap inci wajahku, dan sialnya bagiku. Aku justru menikmati sentuhan itu, perlahan aku menggigit bibir bawah ku menahan semua gejolak yang kini aku rasakan di dalam hatiku. Perlahan namun pasti akupun membantu tuan Justin melepaskan handuk yang ia pakai saat ini.


Dengan lembut tetapi pasti ciuman dan pagutan bibir kami berdua menjadi semakin panas dan memburu, bagaikan dua insan yang dahaga dan ingin memuaskan keinginan kami berdua malam ini, kami kini telah melepaskan semua apa yang kami gunakan, dan sama-sama terlihat polos tanpa sehelai benangpun.


Tanpa merasa malu aku semakin merapatkan tubuhku yang polos pada tubuh tuan Justin, karena merasakan halusnya kulit tubuhnya yang terasa nyaman bersentuhan dengan kulit tubuhku, tuan Justin yang sudah terbakar api asmara dan merasa panas karena pergerakkan serta sentuhan lembut yang aku lakukan pada tubuhnya, tidak ingin menunggu lama lagi.


Dengan sedikit dorongan darinya, tubuhku jatuh ke atas ranjang empuk yang ada tepat di belakang ku. Dengan pergerakan yang cepat, wajah pria dingin itu sedikit melunak dan berada di atas tubuhku.


Tuan Justin mencium setiap inci pada tubuh polosku yang terasa nikmat baginya, kini ia sungguh menikmati dan bermain-main dengan kedua benda yang terasa lembut dan penuh pada kedua tangannya, perlahan dia mencium dan menikmati setiap inci kedua benda kenyal yang aku miliki, yang membuat ku semakin terbakar akan sentuhan yang luar biasa nikmat.


"aaahhhh…tuan……" Gumam ku lembut begitu saja di sela-sela tubuhku yang menggeliat, merasakan kenikmatan yang di berikan oleh tuan Justin pada kedua benda kenyal milikku.


Tuan Justin yang mendengar ucapan dan ******* lembut dan remasan jari-jariku pada rambutnya, membuat dirinya semakin terbakar dan tegang yang memuncak, tidak sabar rasanya mengarungi kenikmatan yang sama-sama kami dambakan dan inginkan malam ini.


"Panggil namaku…" bisik tuan Justin lembut dan mesra seraya mengecupi telingaku. Merinding, itulah yang aku rasakan saat ini. Tubuhku panas terbakar akan perlakuannya terhadapku.


"Tuan…Justin…" balas bisikku yang merinding dengan kecupan dan bisikkan darinya.


Kami sudah sama-sama merasakan terbakar api asmara dan ingin mendapatkan sebuah kenikmatan, yang bisa membuat kami merasa terpuaskan malam ini. Kami sama-sama terbuai akan sentuhan yang kami lakukan bersama. Malam ini malam pertama untuk kami berdua. Malam yang tidak akan bisa aku lupakan selama hidupku.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2