
***Kamar Hotel Mewah***
POV… Elysia Arabella Ardelia.
Kamar hotel mewah yang kami tempati terasa panas, akibat pergerakkan yang kami lakukan seakan membakar tubuh kami. Padahal AC yang ada di dalam kamar tersebut berada pada suhu yang sangat terasa dingin.
Sentuhan lembut yang di lakukan oleh tuan Justin pada seluruh tubuh polosku, membuat aku sangat menikmatinya, terasa nyaman dan membuatku melayang ke nirwana.
Kami berdua sama sama menikmati setiap gerakan yang saat ini kami lakukan. Tuan Justin secara perlahan menuntun tubuhku yang berada di bawah kungkungannya, untuk menikmati setiap sentuhan dan permainan yang kami lakukan saat ini.
"Apa kau siap…?" bisiknya pelan seraya menatap lembut dan mesra mataku. Aku menjawab dengan hanya menganggukkan kepalaku saja.
Terlihat tatapan lembut dan hangatnya menatap ku, yang membuat aku pasrah dan patuh begitu saja kepadanya. Sial otak dan tubuhku sangat bertentangan saat ini. Aku menikmati malam pertama kami berdua malam ini, tanpa penolakan ataupun beban pikiran dan hati. Aku pasrah kepada pesona kuatnya.
Dengan perlahan tuan Justin berusaha menyatukan tubuh kami berdua dengan lembut dan tidak menyakiti ku sama sekali. Aku sangat menikmati apa yang di berikan dan di lakukan oleh tuan Justin pada penyatuan tubuh kami. Perlahan tapi pasti kenikmatan yang kami butuhkan menjadi kesatuan yang seirama yang kami dambakan malam ini.
"ooooo……!!!" bisiknya mesra di sela-sela gerakkannya yang lembut. Tuan Justin mengecup lembut telingaku, lalu turun ke arah leherku yang jenjang dan putih, ia meninggalkan sebuah tanda kepemilikan di sana.
Tanpa sadar aku menatap tuan Justin dengan hangat dan lembut, serta terus menikmati apa yang di berikan olehnya kepadaku, dengan perlahan pria dingin yang sedang menguasai tubuhku ini memberikan sebuah ciuman ringan dan hangat pada bibirku. Aku terlena dan terbuai. Pada akhirnya aku pun membuka sedikit mulutku, agar tuan Justin bisa mengabsen setiap bagian di dalamnya dan menikmati bibir ku yang terasa manis dan sangat ia sukai.
Kami berdua sama-sama menikmati penyatuan yang kami lakukan, seluruh tubuh kami terlihat sudah basah bermandikan peluh, olah raga malam ini begitu kami nikmati yang membuat kami berdua melayang dan lupa akan apapun saat ini. Hanya mencapai kl*m*ks dan puncak kenikmatan terakhir yang kami dambakan bersama.
Hampir satu jam lebih aku dan tuan Justin mengarungi kenikmatan yang hanya bisa di ciptakan oleh dua insan berpasangan, pria dingin yang menjadi idola setiap kaum hawa ini begitu terlihat sangat kuat dan tangguh memimpin permainan olahraga tubuh kami, tubuhku tanpa sadar menggeliat dan menegang beberapa kali akan puncak sesuatu yang menerobos keluar dari bawah tubuhku. Tuan Justin sangat kuat, tangguh dan mendominasi tubuhku, aku puas akan apa yang aku dapatkan dari permaianan suami dingin ku itu.
"Aaaaaaa……!!!" ucap tuan Justin saat mencapai puncak kenikmatannya sembari memeluk tubuhku erat lalu mencium lembut bibirku dengan sedikit kecupan- kecupan panjang yang kami lakukan.
Dengan nafas yang terengah-engah kami saling menatap lembut dan hangat, terlihat jelas di matanya begitu puas akan kenikmatan yang kami berdua ciptakan dan dapatkan.
Tuan Justin menatap ku lembut, aku tidak tahu apa yang ia pikirkan saat ini? Ia lalu mencium sayang keningku, begitu hangat dan aku meresapinya. Kami berakhir dengan ciuman panjang dan dalam yang sangat manis aku rasakan.
Perlahan dia merenggangkan dan membaringkan tubuhnya di samping tubuh polosku. Aku tidak berani menatap ke arahnya, aku hanya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosku. Aku malu dan puas secara bersamaan.
"Istirahat lah, besok pagi kita harus bekerja. Aku tidak ingin terlambat untuk bangun besok pagi. Ingat satu hal, patuhi semua aturan yang sudah aku buat, tanpa membuat masalah baru yang akan membuatmu mendapatkan hukuman dariku." Ucapnya panjang lebar sembari menutupi tubuh polosnya dengan selimut yang sama dengan yang aku gunakan.
Aku melihat ke arahnya, setelah begitu panjang rutinitas kenikmatan yang kami lakukan tadi. Tidak ada kata kata manis sedikitpun yang terlontar dari mulutya. Dia hanya mengingatkan aku pada pekerjaan yang harus aku lakukan besok pagi. Hilang sudah kepuasan yang tadi aku dapatkan, yang ada hanyalah rasa kesal dan dongkol di dalam hatiku.
"Saya mengerti, tuan." Balasku ketus karena melihatnya sudah memejamkan matanya.
Habis manisnya setelah itu di buang begitu saja. Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku segera ingin bangkit dari tidurku, namun tiba-tiba saja tubuhku di tahan olehnya.
"Diam dan tidur." Ucapnya masih memejamkan mata, namun tubuhku di dekap begitu erat dari arah samping.
"Saya hanya ingin bersih bersih, tuan." Balasku.
"Tidak perlu, biarkan seperti itu agar kau cepat hamil."
__ADS_1
Aku melihat ke arahnya, wajah kami begitu dekat. Aku berusaha menelan salivaku karena rasa gugup yang tiba-tiba datang saat melihat wajah tampannya begitu dekat dengan ku. Wajahku terasa menghangat dan kini mungkin sudah merona merah. Aku dengan segera memalingkan pandangan mataku ke arah langit-langit kamar mewah kami.
Tanpa perlawanan, aku diam dan berusaha untuk menuruti semua perintahnya. Akibat rasa lelah dan malam yang sudah begitu larut, mataku mengantuk dan akhirnya tertidur di dalam dekapan suami dinginku.
Kami berdua tertidur pulas karena sama-sama lelah, dengan saling mendekap dan perpelukkan sepanjang malam. Malam pertama yang begitu berkesan di dalam hati kami masing-masing. Entah bagaimana perasaannya akupun tidak tahu?
...--------------------------------...
POV Author…
Pagi pun tiba, Sia dan Justin sudah bersiap untuk ke kantor. Jika sepasang pengantin baru akan berlibur dan berbulan madu, tidak dengan mereka. Mereka akan kembali ke rutinitas seperti biasanya, dan tidak ada hari libur sama sekali.
"Pasangkan dasi ini." Ucap Justin sembari menyodorkan sebuah dasi ke hadapan Sia yang baru saja bangkit dari meja riasnya.
Sia dengan terpaksa patuh, bagaimana juga itu adalah salah satu kewajiban Sia sebagai seorang istri. Membantu suaminya bersiap.
Sia meraih dasi tersebut, lalu dengan telaten memasangkan dasi pada leher suaminya. Sedangkan Justin begitu menikmati wajah segar dan cantik Sia yang ada tepat di hadapannya.
'Cantik.' Gumam Justin di dalam hatinya mengagumi begitu saja wanita yang kini sudah berstatus menjadi istrinya.
"Sudah tuan." Ucap Sia begitu selesai memasangkan dasi. Tanpa ia ketahui jika Justin mamandanginya dengan intens.
Tanpa berbicara Justin melangkah menuju ruang tengah untuk sarapan pagi yang sudah di siapkan oleh sang asisten pribadinya.
Sia yang memang sudah siap sedari tadi mengikuti dari arah belakang. Dia harus melayani dan menemani suaminya tersebut untuk sarapan pagi. Mereka duduk dengan tenang tanpa sepatah katapun keluar dari mulut mereka masing-masing.
Sia melihat ke arah Justin, mulutnya masih mengunyah makanan yang baru saja ia masukkan.
"Saya bisa berangkat sendiri setiap hari, saya tidak perlu seorang supir, tuan." Balas Sia.
Justin melihat ke arah istrinya tersebut. Tatapan matanya dingin dengan raut wajah datar.
"Terserah padamu." Balasnya. Ia meminum kopinya, lalu bangkit dari duduknya.
"Kau harus sampai ke kantor terlebih dahulu dari pada aku. Aku tidak suka karyawan ku terlambat dan tidak disiplin." Ucapnya melihat tajam ke arah Sia, dan berlalu pergi begitu saja.
Sia menatap sejenak lalu berpikir. Ia tahu itu sebuah peringatan untuknya. Sia dengan cepat minum dan ikut berlalu dari tempat itu.
Langkah kakinya ia percepat, walaupun cepat tetapi tidak dapat menyusul Justin yang melangkah lebar dan cepat.
'Pria kejam, bagaimana bisa ia mengatakan itu. Dia benar-benar menganggap aku karyawannya dan bukan istrinya. Brengsek…!!' Umpat Sia di dalam hatinya.
Sia melangkah secepat mungkin, dan akhirnya bisa menyusul Justin masuk ke dalam lift. Nafasnya terengah-engah akan langkah cepatnya, dia berusaha mengatur pernafasannya dan tidak peduli akan tatapan aneh Justin kepadanya. Sia tidak peduli akan pikiran Justin tentangnya, yang Sia inginkan tidak mencari masalah agar tujuan hidupnya saat ini berjalan lancar.
Mereka kini sudah masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Sia mengemudikan mobilnya sendiri, sedangkan Justin bersama Adam sang asisten pribadinya.
__ADS_1
"Adam. Ikuti dia dari arah belakang." Perintah Justin kepada Adam sembari masih melihat lurus ke depan. Di mana mobil Sia melaju cepat masuk ke jalan raya.
"Baik tuan." Balas Adam.
Adam melakukan perintah atasannya, mengikuti mobil Sia dari arah belakang. Cukup cepat dan berkelok-kelok saat menyalip kendaraan lainnya.
"Apa wanita itu sudah gila dan tidak sayang pada nyawanya sendiri?" Gumam Justin yang tentu dapat di dengarkan oleh Adam.
"Apa dia seorang pembalap, Adam?" Tanya Justin kembali. Melihat Sia mengemudikan mobilnya dengan cepat dan berkelok-kelok.
"Tidak tuan. Nyonya hanya takut terlambat. Seperti perintah anda tadi." Balas Adam.
Justin melihat Adam dari arah kaca spion depan mobil, begitu tajam dan dingin. Adam bergidik ngeri, diapun hanya fokus pada kemudinya.
"Aku tidak mau tahu, kau harus atur seorang supir untuk wanita itu. Kalau seperti itu, dia bisa saja kecelakaan. Bagimana bisa ia memberikan aku seorang keturunan jika hidupnya seperti itu. Kau mengerti Adam?" Peringatnya tegas.
"Baik tuan."
'Anda yang berbuat, kenapa saya yang jadi repot begini? Beginilah nasib jadi sebagai seorang bawahan.' Gumam Adam di dalam hatinya.
"Apa kau mengumpat ku di dalam hatimu, Adam?" Tanya Justin tiba-tiba.
"Tidak tuan. Untuk apa saya berbuat seperti itu?" Kilah Adam dengan senyum palsunya.
Justin tahu itu, namun dia hanya berusaha tidak peduli.
'Tuan seperti seorang cenayang yang bisa membaca pikiran orang? Ini akan bahaya jika itu benar.' Gumam Adam lagi.
"Kau harus pastikan, wanita itu harus bisa memberikan aku seorang putra. Jika tida, lakukan sesuai kontrak yang sudah kita sepakati. Kau mengerti, Adam…!!"
"Baik tuan. Saya mengerti."
'Inilah tuan Justin…begitu kejam, dingin dan tidak tersentuh sama sekali. Bagaimana bisa dia menginginkan seorang anak dari wanita yang tidak ia sukai dan pedulikan sama sekali?' Gumam Adam, namun tatapan matanya lurus untuk mengikuti laju mobil Sia yang ada di depan.
Hingga mereka tiba di parkiran basement perusahaan Radeya group. Sia dengan cepat keluar dari mobilnya, dengan sedikit berlari dan melangkah lebar masuk ke dalam arah loby perusahaan.
Dia harus tiba lebih cepat dari suaminya yang kini menjadi bosnya sekarang. Sia melangkah menuju resepsionis untuk bertanya di mana ruang divisi marketing perusahaan tersebut. Di awal semua berjalan lancar, dan tidak ada masalah sedikitpun?
Tanpa ia sadari, apa yang selanjutnya akan terjadi padanya di perusahaan tersebut? Begitu banyak rintangan dan pekerjaan yang sudah di siapkan untuknya. Tidak akan lupa persaingan yang ketat akan Sia lalui mulai sekarang. Awal bekerja pada suaminya sendiri.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.