
POV Author…
Sia tidak peduli akan bisikan dan pandangan mata beberapa wanita yang sangat terlihat tidak suka akan kehadirannya. Bekerja dengan baik dan mengerahkan semua kemampuannya dalam bekerja, lebih baik daripada melakukan hal yang menurutnya tidak berguna.
Namun tanpa ia ketahui begitu banyak rintangan yang akan di hadapi Sia mulai sejak hari ini. Entah itu dari teman sekantor ataupun dari atasannya, hidupnya sekarang tidaklah mudah. Terbukti dari sebuah pesan yang membuatnya dalam masalah hari ini.
"Nyonya, tuan ingin anda mempersiapkan makan siang hari ini, dan bawa langsung ke ruangannya." Pesan WA yang ia terima dari Adam sang asisten dingin yang sama seperti tuannya.
Sukses mata Sia membulat sempurna selesai membaca pesan tersebut.
"Bagaimana bisa aku melakukan ini?" Gumam pelan Sia, sepelan mungkin agar Lani yang ada di sampingnya tidak dapat mendengarkan.
"Nyonya jangan sampai terlambat, tuan ingin anda juga menemaninya makan siang." Pesan kedua yang Sia terima.
Mata Sia membulat untuk kedua kalinya, genggaman pada ponselnya sangat kuat, kini ia menahan gejolak amarah.
"Tuan, bagaimana saya bisa melakukan hal itu? Itu sama halnya saya mencari masalah." Balas pesan Sia tidak ingin kalah dari permintaan konyol Justin terhadapnya.
"Tuan Justin tidak mau tahu, anda harus datang dengan beberapa masakan yang harus anda masak sendiri." Balas Adam yang sukses membuat Sia kembali terkejut akan permintaan suami kejamnya tersebut.
"Gila…ini gila…Bagaimana aku bisa masak makanannya? Di mana aku harus memasaknya?" Gumam Sia pelan sembari terus meremas ponselnya. Ia geram dan kesal pada permintaan Justin yang tidak masuk akal baginya.
"Tuan, bagaimana caranya saya melakukan itu, di mana harus saya masak makanan itu." Balas Sia.
"Tuan Justin tidak mau tahu, jika anda tidak melakukan perintah itu. Tuan Justin akan memberikan sebuah hukuman kepada anda malam ini."
"Kau pikir aku anak sekolah, yang di hukum jika tidak mau melakukan hal yang di perintahkan. Terserah padamu saja, lebih baik di hukum dari pada melakukan hal gila seperti itu, aku bukan pelayannya." Ketus pelan Sia berbicara sendiri.
"Dia pikir mudah ada di posisi ku sekarang." Gumam Sia lagi. "Dasar pria brengsek." Gumamnya sembari meletakkan ponselnya dengan kasar ke atas meja kerjanya.
Lagi-lagi sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, Sia menatap tajam ponselnya dan bertahan tidak akan membuka pesan tersebut. Semua perintah Justin tidak masuk akal dan tidak mudah untuk dia lakukan.
Namun ternyata, bukan Justin jika tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Terbukti dari ponsel Sia yang seketika bergetar, dan panggilan tersebut dari nomer Adam sang asisten. Dengan cepat dan malas Sia menerima panggilan tersebut, karena tidak ingin mengganggu yang lainnya. Terutama Lani yang ada di dekatnya.
"Hallo…!!" Sapa pelan Sia.
"Lakukan semua perintahku. Kau dengar…!!" Ucap tegas Justin tanpa basa basi.
Tentu Sia mengenali suara suaminya tersebut.
"Tapi tuan, itu tidak mungkin saya lakukan." Balas bisik Sia tetap menolak keinginan Justin yang tidak masuk akan baginya.
"Aku tidak mau tahu, jika tidak jangan harap kau bisa selamat malam ini." Ancam Justin seketika mematikan ponselnya tanpa ingin mendengar penjelasan selanjutnya dari Sia.
"Apa dia sudah gila, apa dia tahu posisi ku saat ini? Apa mungkin aku bisa masuk ke ruangan yang tidak mudah di masuki oleh staf biasa seperti diriku? Pria brengsek, rupanya dia mulai menyusahkan aku. Sial, sial, sial…dasar pria dingin, pria brengsek…" Umpat Sia pelan namun sayangnya Lani mendengar umpatan tersebut.
"Ada apa Sia?" Tanya Kania.
Sia seketika melihat ke arah sampingnya.
"Tidak. Tidak ada apa-apa." Kilah Sia tersenyum bohong.
"Tapi sepertinya tadi kau sedang mengumpat." Jujur Kania apa yang ia dengar beberapa detik yang lalu.
__ADS_1
"Hahaha…" Tawa renyah Sia ingin mengalihkan Kania yang terlihat curiga kepadanya.
"Aku hanya mendapat pesan dari seseorang yang membuat aku kesal." Balas Sia untuk mengurangi rasa curiga Kania.
"Pesan dari siapa?" Kania ingin tahu.
"Dari seorang teman di perusahaan lamaku." Kilah bohong Sia. Tidak mungkin ia jujur mengatakan jika pesan dan panggilan yang ia terima adalah dari asisten Adam, dan sedang mengumpat presdir mereka. Sia akan dalam masalah dan menjadi gila jika sejujur itu.
"Tapi itu sudah selesai." Ucap cepat Sia ingin Kania menyudahi pertanyaan tersebut.
"ooooo…ya sudah. Ayo kita bekerja lagi." Ajak Kania tanpa ingin memperpanjang pertanyaannya.
Sia hanya mengangguk, sudah ia putuskan. Lebih baik mendapatkan hukumannya dari pada harus terkena masalah dari semua orang orang yang ada di kantor tersebut. Sia hanya ingin bekerja dengan tenang sampai tujuannya selesai.
...--------------------------------...
Sedangkan di dalam ruang kerja Justin, ia begitu geram akan pesan penolakan Sia terhadap keinginannya yang tidak terpenuhi.
"Aku pastikan jika kau akan mendapatkan hukuman mu karena tidak mematuhi apa perintahku kali ini. Kau harus tahu siapa aku, wanita murahan." Ucap Justin terlihat geram akan penolakan Sia.
"Adam awasi terus wanita itu, aku ingin tahu apapun yang ia lakukan hari ini." Perintah tegas Justin kepada Adam.
"Baik tuan." Balas Adam menerima perintah.
"Aku ingin tahu, apakah dia benar-benar berani menolak perintah ku hari ini." Ucapnya sembari menatap lurus ke arah ponsel Adam yang ada di atas meja. Ponsel yang ia gunakan saat menghubungi Sia.
Adam diam saja, namun ia cukup ngeri melihat tatapan tajam sang tuan. Ia sangat mengenal bagaimana kejam tuannya tersebut.
Ia langsung berlalu dari ruangan yang terasa panas akan amarah Justin saat ini, Adam pergi setelah menerima isyarat dari Justin dan meraih ponselnya yang ada di atas meja kerja Justin.
Adam tidak ingin menjadi sasaran kemarahan Justin, lebih baik pergi menghindar dari pada dia terkena imbas amarah sang tuan.
...--------------------------------...
Sia benar-benar melewatkan makan siang Justin, yang sukses membuat Justin sangat marah kepada Sia. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang tidak mematuhi perintah dan keinginannya.
Jika banyak wanita maupun pria akan dengan senang hati menerima ajakan makan bersama Justin. Tidak dengan Sia, yang sangat tidak suka berada dekat bersama suami dinginnya tersebut. Sudah cukup baginya bersama di kawasan pribadi seperti tempat tinggal mereka.
Sia yang merasa jika tindakannya sudah benar, tidak merasakan firasat apapun. Hari ini ia bekerja seperti biasanya tanpa hambatan apapun? Hingga waktu pulang tiba, pesan kembali masuk ke dalam ponselnya.
Pesan dari Adam memberikan alamat sebuah apartemen mewah yang berada di kawasan elite. Sia hanya menerima dan tahu jika apartemen tersebut adalah tempat tinggalnya bersama Justin, dengan langkah ringan ia pun pulang ke apartemen tepat pukul 6 sore.
Kini di sinilah dia berada, berdiri di hadapan Justin yang tengah duduk pada sofa ruang tengah apartemen tersebut. Justin sendiri, sedangkan Adam sudah kembali ke tempatnya.
Sia masih berdiri kaku, dari tatapan tajam, dingin dan datarnya mimik wajah Justin. Sia tahu jika situasinya saat ini tidaklah bagus. Sia tahu Justin tengah marah kepadanya, karena telah menolak perintah Justin tadi siang.
Sia berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup kencang karena takut, sedangkan Justin mulai bangkit dan melangkah mendekati Sia. Sia melangkah mundur dengan berusaha menelan salivanya.
'Tenang Sia, tidak akan terjadi apapun padamu.' Gumam Sia menguatkan hatinya.
"Kau tahu apa kesalahan mu?" Tanya Justin dengan menekankan setiap kata-katanya dengan nada yang terdengar biasa.
Sia menganggukkan kepalanya mengerti.
__ADS_1
"Apa kesalahan mu?" Tanya Justin masih melangkah maju. Sedangkan Sia melangkah mundur hingga terbentur dinding yang ada di belakangnya, hingga tidak dapat ke mana pun.
"Jawab…!!" Bentak keras Justin hingga tubuh Sia tersentak karena bentakkan Justin kepadanya.
"Ti…tidak mengikuti perintah anda tuan." Jawab Sia terbata-bata.
"Kau pikir siapa dirimu, wanita murahan." Ucap bentak keras Justin sembari mencekal kuat kedua pipi Sia dengan satu tangannya.
Sia sungguh terkejut dan merasakan sakit akan apa yang di lakukan oleh Justin kepadanya saat ini. Sia merasa tersudut dan tidak dapat melakukan apapun?
Air matanya jatuh begitu saja, karena rasa takut dan sakit yang ia rasakan secara bersamaan.
"Berani-beraninya kau mengabaikan perintah dariku, kau pikir wanita murahan seperti dirimu pantas melakukan itu kepadaku. Aahhh…" Ucapnya, tekanan pada cekalan pipi Sia semakin kuat.
"Kau wanita j*l*ng, kau bahkan lebih rendah dari seorang p*l*cur hina."
Sakit, itulah yang di rasakan hati Sia saat ini, hinaan Justin menusuk hatinya. Genggaman kuat kedua tangan Sia meremas kuat gaun bawahnya menahan gejolak di dalam hatinya.
"Dengar wanita j*l*ng…aku bisa menghancurkan dirimu dan seluruh keluargamu saat ini juga." Ucap Justin dengan senyum liciknya menatap remeh Sia.
Sia hanya bisa menatap tajam di balik air matanya, dia tahu ancaman Justin bukanlah sekedar ancaman yang main-main saja.
Membawa nama keluarganya, mengingatkan dirinya akan sosok mama angkat yang begitu baik kepadanya selama 5 tahun masa hidupnya yang terpuruk akan kehilangan dua orang yang sangat berarti baginya. Sia tidak bisa melihat satu-satunya orang di dalam hidupnya mendapatkan penderitaan karena ulahnya.
Sia tidak akan mungkin rela melihat mama angkatnya menderita, ancaman Justin sukses meluluh lantahkan perlawanan Sia kali ini. Air matanya terus berlinang tanpa ingin berhenti sedikit pun.
"Ti…Tidak tuan, ma…maafkan saya…!" Ucap Sia terbata-bata dan memohon.
Justin tersenyum mengejek, namun di dalam hatinya ingin menunjukkan siapa sebenarnya dirinya kepada Sia. Dia orang yang tidak seharusnya Sia lawan, dan tidak seharusnya Sia tolak begitu saja.
Justin begitu marah dan tidak terima, untuk pertama kalinya ada seseorang berani melawan dan menolak perintah darinya.Wanita di hadapannya ini, Elysia Arabella Ardelia adalah satu-satunya yang berani melakukan hal itu kepada Justin.
Justin begitu terkesan sekaligus marah akan penolakan Sia, perasaan itu datang secara bersamaan. Justin menatap remeh pada wanita yang kini ia cekal kuat, air mata Sia tidak sama sekali membuat dirinya luluh.
"Setelah membuat aku marah, dengan mudahnya kau mengucapkan kata maaf. Apa kau pikir aku pria yang bisa kau permainkan?" Tanya tegas Justin semakin kuat pada cekalannya.
"Aaahhhh…!!!" Ringis Sia akan rasa sakit pada kedua pipinya.
Sia memegangi tangan Justin untuk melonggarkan cekalan Justin. Namun Justin tidak sedikitpun melonggarkan kekuatan tangannya.
Hanya menangis dan menahan rasa sakitlah yang bisa Sia lakukan sekarang. Dia tahu Justin tidak akan meringankan hukuman tersebut, jika Justin tidak mendapatkan apa yang ia inginkan sekarang. Untuk melawan pun Sia tidak bisa, hingga membuat dirinya semakin marah pada dirinya sendiri yang tidak mampu berbuat apapun dan melawan Justin?
Bagaimana bisa ia membalaskan dendamnya terhadap musuhnya, jika melawan Justin saja ia tidak bisa. Bagaimana semua dendamnya tercapai? Sia benci pada dirinya sendiri, ia sungguh membenci dirinya sekarang. Begitu lemah dan tunduk terhadap seorang Justin, suami dingin dan kejamnya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1