CINTA DAN DENDAM.

CINTA DAN DENDAM.
6. Kepatuhan Dan Hukuman.


__ADS_3

***Apartemen Mewah Justin***


POV Author…


Justin melepaskan kasar cekalan tangannya dari pipi Sia. Wajah Sia terhempas ke samping, begitu sakit yang Sia rasakan.


"Kau harus mendapatkan pelajaran berharga malam ini, agar kau tahu siapa aku. Orang yang seharusnya tidak kau singgung dan lawan." Ucap Justin menunjuk ke arah Sia yang masih memalingkan wajahnya ke samping.


Dengan kuat Justin menarik tangan Sia dan membawa wanita itu masuk ke dalam kamar pribadinya yang ada di lantai atas. Begitu kuat akan amarahnya, sehingga tangan yang ia cekal kini sudah berubah menjadi merah.


Sia di bawa masuk ke dalam kamar mandi, lalu dengan kuat Justin menghempaskan tubuh Sia begitu saja. Tubuh Sia tersungkur di atas dinginnya lantai kamar mandi yang terlihat cukup luas dan mewah dengan berbagai fasilitas mahal.


"Kau harus tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini?" Ucap Justin penuh akan nada marah di dalamnya.


Tatapan tajam dan dingin begitu mendominasi wajah tampan tetapi terlihat garang dan sangar. Sia menelan salivanya di tengah-tengah isakan tangisnya.


Tubuhnya bergetar akan situasinya yang mencekam. Untuk mengatakan sepatah katapun ia tidak bisa.


Justin melangkah mendekati tubuh Sia, ia lalu merendahkan tubuhnya untuk mencengkram kembali lengan kiri atas Sia.


"Kau pikir siapa dirimu, wanita murahan…?" Ucap Justin dengan penekanan pada kata-katanya.


Sia hanya bisa diam menahan gejolak di dalam hatinya. Rasa marah, benci dan sakit di dalam hatinya tercampur menjadi satu. Apalagi perkataan Justin yang lagi-lagi mengatakan jika dirinya adalah wanita murahan.


Iya, dia yang telah menjadi seorang jaminan pelunas hutang dari keluarga angkatnya, juga memiliki tujuan untuk membalas dendam kepada istri pertama pria yang kini ada di hadapannya, mereka memang memiliki kesepakatan kontrak yang di bayar menggunakan uang yang tidak sedikit.


Apakah bisa di sebut telah menjual diri dan tubuhnya? Apakah itu dapat di katakan sebagai sesuatu yang murahan? Jika memang benar seperti itu, ia rela menjadi wanita murahan jika semua dendamnya terwujud. Sia tidak akan menyesali semua yang telah terjadi.


"Kau berani melawan dan tidak mematuhi apa yang aku perintahkan." Ucap Justin dengan senyum sinisnya memandang Sia yang terlihat bergetar dan takut akan sikap kerasnya.


"Kau harus tahu dan camkan ini baik baik…tidak ada yang berani melawan semua perintah dan keinginan ku…!!" Ucapnya sembari merobek kasar kemeja yang di gunakan oleh Sia.


"Aaaa…!" Histeris Sia terkejut akan apa yang di lakukan oleh Justin kepadanya.


Sia berusaha menahan sisa robekan kain kemeja yang masih bisa ia pegangin. Namun sayang sekali, semua tindakan Sia tidak ada gunanya. Justin begitu kuat merobeknya, hingga kemeja itu tidak berbentuk dan memperlihatkan semua apa yang Sia gunakan di dalamnya.


Tangisan Sia begitu saja terdengar akan rasa takut. 'Apa yang ingin di lakukan Justin padanya?' Itulah gumaman yang terlontar di dalam hati Sia saat ini.


"Tuan jangan…!!" Ucapnya memelas sembari menutupi bagian tubuh atasnya yang hanya terbungkus beberapa kain pembungkus.


"Sekarang kau bisa memohon?" Balas Justin dengan senyum devilnya. Terlihat lapar dan ingin melahap habis Sia detik itu juga.


"Kemana kesombongan dan keberanian mu tadi saat menolak semua perintah dariku, dan membuat ku menunggumu." Ucapnya lagi.


Sia tidak ada jalan lain untuk pergi, melawanpun ia tidak bisa. Ia sungguh membenci dirinya saat ini, yang sangat penakut dan pengecut.

__ADS_1


"Sudah ku katakan, jika kau berani melawan perintahku, kau akan mendapatkan hukuman dariku. Dan ingat ini semua, jangan pernah melawan perintah dariku." Ungkap Justin.


"Ingat nasib seluruh keluargamu ada di tanganku, jika kau tidak mengikuti aturan dariku. Malam ini juga aku pastikan akan kehancuran mereka semua. " Ancam Justin.


"Apa kau mengerti?" Tanya bentaknya dengan sebuah cekalan kuat tangannya pada lengan Sia.


"Kau mengerti?" Ucapnya lagi. Sia hanya dapat pasrah dan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Jawab aku?" Tanya Justin ingin sebuah kepastian.


"I…iya Tu…tuan…" Balas terbata Sia patuh.


Nasib keluarganya ada pada kepatuhan dirinya terhadap semua perintah Justin, kepatuhan dirinya akan melancarkan balas dendamnya akan cepat terwujud. Kepatuhannya akan menjadikan posisinya aman saat ini.


Walaupun ia akan menjadi wanita murahan di mata Justin, Sia tidak peduli lagi. Yang ia inginkan saat ini, hanyalah malam ini dapat terlewati dan meredakan amarah Justin adalah bagian terpenting dari semua jalan balas dendamnya.


"Layani aku dan puaskan aku malam ini. Jika tidak, jangan harap malam ini kau bisa tidur dengan nyenyak." Ancam Justin menatap tajam dan dingin Sia.


"Apa Kau mengerti?"


Sia hanya mengangguk pasrah. Perintah Justin untuk di layani dan di puaskan malam ini adalah hukuman untuknya yang telah berani menolak perintah Justin tadi siang.


Justin beranjak dan berdiri di hadapan Sia. Tatapan matanya masih dingin dan tajam melihat ke arah Sia. Sia hanya bisa menelan salivanya melihat Justin mulai membuka baju dan celana yang ia gunakan satu persatu. Hingga kini dia terlihat polos tanpa sehelai benangpun.


Sesuatu hal yang tidak pernah ia lakukan selama hidupnya, kini ia lakukan malam ini terhadap kepemilikan suaminya tersebut. Dengan patuh, terpaksa dan lembut ia membelai serta memenuhi hasrat Justin akan hal yang pria itu inginkan malam ini.


Walaupun di dalam hatinya ia marah dan jijik akan hal yang ia lakukan, tetapi Sia tidak bisa menolak ataupun melawan perintah dan permintaan Justin. Dengan beberapa gerakan dan belaian lembut tangannya, Sia terus bergerak memasukkan senjata suaminya ke dalam rongga mulutnya sedalam mungkin.


Tanpa ia sadari, kegiatan itu dapat melepaskan lenguhan dari mulut Justin akan kenikmatan yang di berikan oleh Sia. Tangan Justin menuntun kepala Sia dengan lembut untuk melakukan gerakkan itu lagi dan lagi.


"Aaaakkkk…iya seperti itu…terus lakukan, aku suka…!!" Ucap rintihan Justin di sela sela kenikmatan yang di berikan oleh Sia.


Justin tidak tinggal diam, tangannya meraba setiap inci tubuh Sia yang dapat ia raih, tangannya juga aktif untuk membuka sesuatu yang masih membungkus bagian atas Sia. Hingga terlihat menyembul indah sesuatu yang lembut dan besar bergerak seirama tubuh Sia.


Pemandangan yang semakin membangkitkan gairah dan hasrat Justin ingin meminta lebih dari pelayanan Sia. Ia ingin menguasai tubuh Sia malam ini.


"Buka semuanya yang kau gunakan, cepat…!" Perintahnya pada Sia.


Wanita itu patuh pada apa yang di katakan oleh Justin, tanpa pikir panjang Sia pun melepaskan semua yang melekat pada tubuh bagian bawahnya. Walaupun dengan susah payah, karena ia harus terus sembari memberikan kenikmatan itu pada Justin tanpa lepas sedikitpun dari mulutnya.


Begitu Justin puas akan layanan Sia padanya, ia pun menuntun Sia untuk berdiri dan mendorong tubuh Sia hingga berada pada dinding yang ada di bawah shower. Tanpa aba-aba, dengan cepat Justin mencakup kedua pipi Sia dan menciumi bibir wanitanya dengan brutal.


Ciuman yang tadinya panas menggebu, kini telah berubah menjadi ciuman lembut dan beberapa kali kecupan pada beberapa bagian leher dan dada Sia. Menciptakan beberapa tanda kemerahan di sana, memberikan tanda kepemilikan Justin pada tubuh wanitanya.


Dalam hati Sia menolak semua perlakuan Justin, namun tubuhnya telah berkhianat. Tubuhnya menikmati semua perlakuan Justin yang terkadang brutal dan terkadang lembut secara bersamaan pada setiap inci tubuhnya.

__ADS_1


Di bawah guyuran air shower kedua tubuh mereka yang telah menyatu, saling memberikan kenikmatan kepada mereka berdua. Justin sangat ahli dalam menguasai tubuh Sia hingga berada di dalam kuasanya malam ini.


Beberapa rintihan dari bibir mereka berdua terdengar nyaring seirama dengan gerakkan tubuh mereka di bawah air shower. Sia dan Justin menikmati percintaan mereka malam ini. Tubuh yang basah akan guyuran air, semakin memberikan sensasi berbeda bagi mereka.


Beberapa posisi mereka lakukan, memuaskan masing-masing untuk mencapai kenikmatan suragawilah yang mereka berdua inginkan.


Justin mengangkat tubuh Sia dalam gendongan koalanya tanpa melepaskan penyatuan tubuh dan ciuman dalam mereka. Justin menuju ke arah meja wastafel dan mendudukkan tubuh Sia di atas sana.


Melanjutkan aktivitas selanjutnya dengan posisi Sia yang duduk di atas meja wastafel dan Justin dengan posisi berdiri. Sia dengan lembut mengalungkan kedua lengannya pada leher Justin, beberapa kecupan pada bibir keduanya terus mereka lakukan. Hingga pada puncak kenikmatan yang akan meledak, ciuman dalam dan pelukkan erat keduanya memberikan ikatan akan kenikmatan yang benar-benar diciptakan oleh mereka berdua.


Justin puas akan layanan Sia malam ini, Sia yang patuh apapun yang Justin inginkan membuatnya melunak dan amarah yang tadi meledak kini mereda. Begitu pun Sia, tubuhnya terpuaskan oleh Justin. Walaupun di dalam hatinya masih menolak, marah dan kecewa terhadap ucapan Justin. Namun tubuhnya menerima baik semua yang di berikan suaminya malam ini.


Nafas keduanya terengah akan rasa lelah akan aktivitas mereka. Lengan Sia masih terkalung pada leher Justin, sedangkan tangan Justin masih erat memeluk pinggang Sia. Tubuh mereka masih melekat, dan dahi keduanya masih saling menempel.


Perlahan kedua tangan mereka terlepas, menyisakan Justin yang berdiri di hadapan Sia dengan tatapan datarnya kembali melihat ke arah Sia. Sedangkan Sia yang masih duduk di atas meja wastafel, perlahan turun dan kini berdiri tertunduk akan tatapan datar Justin.


Hilang sudah tatapan lembut yang penuh akan gairah tadi. Kini tergantikan tatapan dingin kembali, Sia tidak ingin mendapatkan hukuman untuk kedua kalinya. Ia pun hanya dapat berdiri menundukkan kepalanya.


Justin yang sudah puas melihat Sia, ia melangkah untuk membersihkan dirinya di bawah air shower.


"Bantu aku memakai sabun." Perintah Justin pada Sia.


Tanpa melawan Sia meraih botol sabun yang biasanya Justin gunakan, dan melakukan apa yang di perintah oleh Justin. Sia kini seperti sedang memandikan seorang anak yang memiliki ukuran tubuh lebih besar darinya.


'Sial, begitu dia puas. Masih juga memerintahkan ku untuk melakukan ini. Apa belum puas hukuman yang ia berikan padaku tadi?' Gumam Sia di dalam benaknya.


Dengan cekatan Sia memberikan cairan sabun pada seluruh tubuh Justin, tanpa melihat ke arah wajah pria itu sama sekali. Sia tidak ingin melakukan kontrak mata di antara mereka.


Sedangkan Justin dengan tenang menikmati wajah Sia yang ada di hadapannya. Justin mengakui jika Sia sangat cantik berada di bawah guyuran air shower, membangkitkan gairahnya saat aktivitas bercintanya tadi.


Begitu selesai, Justin melangkah menjauh dan mengeringkan tubuhnya sendiri. Lalu keluar berlalu begitu saja dari kamar mandi tanpa mengatakan apapun. Sia melihatnya dengan kesal, dia benar-benar seperti wanita murahan yang selesai di pakai, setelah puas di buang begitu saja.


"Dasar brengsek, pria mesum." Gumamnya pelan mencurahkan sakit hatinya yang tidak bisa ia curahkan melihat sikap Justin terhadapnya.


Dia dengan segera membersihkan tubuhnya juga, cukup lama untuk membersihkan semuanya. Sia masih dapat mencium aroma pria itu yang melekat pada kulit tubuhnya. Sia ingin menghilangkan aroma tersebut dengan beberapa kali memakai sabun dan shampo pada tubuhnya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2