
***Apartemen Mewah Justin***
Justin pulang di tengah malam setelah selesai bersenang-senang dengan ke tiga temannya. Saat masuk ke dalam kawasan apartemen, ia cukup heran melihat begitu gelapnya suasana di sana.
Saat melangkah masuk ke dalam loby, ia bertanya pada salah satu penghuni di sana.
"Kenapa semua lampu di sini padam?" Tanya Justin. Bagaimana bisa kawasan apartemen mewah itu padam listrik.
"Tidak tahu, listrik di sini sudah padam selama satu jam. Masih di lakukan pemeriksaan oleh petugas." Balas yang di tanya.
Justin mengerti, setelah itu ia pamit menuju ke arah sofa yang ada di dalam loby tersebut. Untuk menggunakan anak tangga, terlalu tinggi bagi Justin yang memiliki kamar pada lantai 23. Ia lebih memilih menunggu sampai listriknya hidup kembali.
Baru saja Justin duduk, listrik pun hidup kembali, ia beranjak ingin segera masuk ke dalam kamarnya. Sejak di perjalanan pulang, ia baru mengingat jika Sia belum makan malam dan ia kurung di dalam kamar mandi.
Justin masuk ke dalam apartemen dan segera menuju ke dalam kamar pribadinya. Justin membuka pintu kamar mandi yang ia kunci dari luar. Saat ingin mendorong pintu, ia merasakan ada yang sedang mengganjal pintu.
Begitu ada celah pintu terbuka, ia terkejut melihat tubuh Sia terbaring di atas lantai dan mengganjal pintu yang akan ia buka. Dengan sedikit kuat dan perlahan Justin mendorong pintu agar ia bisa masuk, tentunya tubuh Sia terseret mengikuti arah Justin membuka pintunya.
Begitu berhasil masuk, Justin meraih tubuh lemah Sia. Tubuhnya penuh akan peluh, wajah pucat dan demam. Justin mencoba untuk membuat Sia sadar dengan menepuk-nepuk pipinya yang sudah menghangat.
"Sia…Sia…Sia bangun…!!" Panggil Justin perlahan menepuk pipi Sia agar wanita itu sadar.
"Badannya panas, kenapa wajahnya pucat. Sepertinya tadi tidak seperti ini waktu aku tinggal." Gumam Justin memperhatikan wajah pucat Sia.
Justin segera mengangkat tubuh Sia ala bridal. Justin meletakkan tubuh Sia di atas ranjang dan segera meraih ponselnya. Dia menghubungi Adam, tapi sayangnya Adam tidak mengangkat sambungan telepon darinya.
Merasa khawatir kepada Sia, dia tidak ingin terjadi apapun pada wanita yang sudah menjadi istri keduanya itu. Ia ingin menghubungi Kevin yang merupakan dokter pribadinya, namun ia urungkan. Rahasianya yang memiliki istri kedua tidak boleh terbongkar sebelum wanita yang tengah terbaring itu hamil anaknya.
Pria itu lebih memilih membawa Sia ke rumah sakit terdekat, agar segera mendapatkan penanganan. Justin yakin jika istrinya itu tidak memakai apapun pada bagian dalamnya, dengan terpaksa dan telaten memasangkan semua di perlukan oleh tubuh Sia.
Saat Justin melihat kemolekan tubuh Sia, ada reaksi dari tubuh bagian bawahnya.
"Sial…wanita ini begitu mudah membuat aku bereaksi." Umpatnya kesal karena barangnya yang mulai bereaksi tidak dapat di ajak kerja sama. Justin berusaha menekan hasratnya, dengan cepat ia menutupi bagian tubuh Sia yang membangkitkan sesuatu yang seharusnya tidur.
Justin juga memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya agar tidak di kenali saat membawa Sia ke rumah sakit. Begitu sampai di rumah sakit, Sia segera mendapatkan penanganan. Adam yang di hubungi juga sudah datang ke rumah sakit tujuan mereka.
Beberapa menit kemudian, dokter telah selesai memeriksa kondisi Sia. Adam yang beranjak untuk bertanya kepada dokter apa yang terjadi pada Sia.
"Bagaimana kondisinya dokter?" Tanya Adam.
"Nona ini terserang trauma yang mengakibatkan oksigen di dalam tubuhnya tidak stabil, itulah yang membuat tubuhnya demam dan tidak sadarkan diri. Dia harus di rawat inap hingga sadar dan stabil kembali." Penjelasan dokter.
"Terserang trauma?" Tanya Adam tidak mengerti.
"Oksigen di dalam tubuhnya kurang dan tidak stabil. Itu biasanya terjadi jika terlalu mendapatkan tekanan pada otak dan bagian tubuh lainnya. Itu bisa terjadi karena terserang trauma yang mendalam, bisa juga karena terserang stress yang hebat, tuan." Penjelasan dokter secara singkat.
__ADS_1
"Jadi untuk saat ini, pasien harus rawat inap dulu dan di lakukan pemeriksaan lebih lanjut saat pasien sudah sadar. Bagaimana tuan?" Tanya dokter kembali bersuara.
"Baik dokter, lakukan semua yang terbaik." Balas Adam setuju.
Dokter pergi setelah pamit dan melakukan semua yang terbaik untuk Sia.
Satu jam telah berlalu, Sia sudah berada di dalam kamar perawatan VVIP yang ada di rumah sakit tersebut. Itu atas permintaan Justin yang ingin mereka berada di ruangan khusus.
"Tuan apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Adam ingin tahu, melihat tuannya tidak lepas memandang ke arah Sia yang masih terbaring lemas dan masih setia menutup matanya.
Justin melihat sekilas ke arah Adam.
"Aku tidak tahu." Geleng lemah Justin. Ia memang benar tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Sia.
"Aku meninggalkannya terkunci di dalam kamar mandi selama 2 jam." Balas Justin sukses membuat Adam terkejut.
Bagaimana bisa tuannya begitu kejam mengurung istri keduanya di dalam kamar mandi selama 2 jam.
"Saat aku pulang listrik di kawasan apartemen padam, dan baru hidup beberapa menit setelah aku datang. Aku masuk ke dalam kamar dan sudah mendapati Sia terkapar lemah di atas lantai kamar mandi dengan wajah yang pucat dan tubuhnya yang demam." Kata Justin mencoba menjelaskan apa yang tadi memang ia dapati.
"Dokter tadi menjelaskan, bisa saja nyonya mengalami trauma dan stress yang berat. Apakah karena nyonya terkurung di dalam kamar mandi dia menjadi stress dan trauma?" Ungkap Adam. Pandangan mata Justin melihat serius ke arah Adam.
"Apa bisa seperti itu?" Tanya balik Justin.
Wanita yang mampu dengan mudah membuat dirinya terlena dan memuaskan kebutuhan biologisnya, kebutuhan dan kepuasan yang sudah lama tidak ia dapatkan dari sosok istri pertama yang begitu sibuk akan karir keartisannya. Hingga menolak memiliki anak dari hubungan yang telah menginjak usia 5 tahun pernikahan mereka.
"Adam, aku akan tidur di sini. Kau bisa kembali besok pagi dan bawakan semua perlengkapan yang aku butuhkan untuk ke kantor." Perintah Justin kepada Adam.
Adam dapat mengerti jika kini bosnya tersebut tengah mengkhawatirkan istri keduanya itu. Akibat ulahnya sendiri membuat wanita yang ia nikahi kemarin, kini terbaring lemah di atas ranjang perawatan rumah sakit.
"Baik tuan, saya mengerti. Saya akan kembali besok dan membawa semua yang Anda butuhkan. Saya permisi tuan." Balas Adam kemudian meninggal ruangan tersebut.
Justin melangkah mendekati Sia dan duduk pada kursi tunggal yang ada di samping ranjang. Pandangan matanya teduh memandang wajah pucat Sia yang masih terlihat cantik saat matanya terpejam.
Justin perlahan menggenggam tangan dingin istrinya tersebut.
"Maafkan aku…!" Hanya kata kata itu yang terlontar dari mulutnya.
Genggaman tangannya mendapatkan respon dari Sia, ada pergerakkan dari jari-jari Sia dan matanya yang terpejam perlahan terbuka.
Justin bangkit dari duduknya dan mendekati Sia ingin tahu bagaimana kondisi wanita itu.
"Eeeehhhh…"Lenguh Sia berusaha membuka matanya kembali.
"Sia…Apa kau bisa mendengarkan ku…!!" Sapa pelan Justin.
__ADS_1
Sia mendengar samar panggilan Justin. Tubuhnya yang masih demam terasa lemas. Sia berusaha membuka perlahan matanya, dan dapat melihat samar wajah khawatir Justin.
"Sia…bagaimana perasaan mu…?" Tanya Justin masih terlihat khawatir.
Sia tidak sepenuhnya sadar, dia masih terbawa perasaan takutnya akibat trauma yang ia dapatkan beberapa jam yang lalu. Ia hanya menglenguh sedih dan bergetar takut di sela-sela tubuhnya yang lemah dan setengah sadar.
"Jangan…tolong… hidupkan…di sini…gelap…tolong…hidupkan…lampunya…aku takut…tolong…tolong aku…buka…aku takut…:!!" Gumam Sia dengan suara gemeter dan isak tangis di sela-sela matanya yang masih setia terpejam.
Justin diam terpaku, kini dia tahu penyebab Sia tidak sadarkan diri. Sia memiliki trauma dan rasa takut akan gelap dan ruangan yang tertutup.
Justin menggenggam tangan Sia yang semakin dingin. Tanpa sadar Justin memeluk tubuh Sia yang terbaring, ingin menenangkan tubuh Sia yang bergetar. Ada perasaan tidak nyaman di hatinya melihat kondisi Sia kali ini.
"Maafkan aku…tidak akan aku ulangi lagi…!" Ucap Justin pelan yang tentu saja samar terdengar oleh Sia. Ia belum sepenuhnya sadar.
Perlahan tubuh bergetar Sia berhenti akan pelukkan hangat dan menenangkan yang Justin berikan. Sia merasakan jika tubuhnya mendapatkan ketenangan dan kehangatan dari seseorang yang tengah memeluk dirinya.
Sia tertidur tenang dengan nafas yang kini terdengar teratur. Justin bangkit dan melihat wajah tenang dan damai Sia, ia memutuskan untuk ikut berbaring di samping tubuh Sia. Justin ingin memeluk tubuh Sia agar tidak merasakan traumanya kembali.
Walaupun sedikit sempit, namun cukup nyaman untuk Justin. Itulah yang Justin rasakan nyaman tidur dengan memeluk tubuh istri keduanya tersebut. Keduanya tertidur pulas dengan pelukkan dari Justin.
Tanpa Justin ketahui, jika mata Sia dapat menangkap sekilas wajah Justin yang ada di dekatnya. Pengaruh obat penenang yang Sia dapatkan, ia kembali terpejam dan tertidur pulas dan nyaman di dalam pelukan pria yang begitu kejam padanya dan kini terlihat khawatir kepadanya.
...--------------------------------...
Pagi menjelang, sebelum Sia bangun dari tidur nyenyaknya. Justin lebih dulu bangun, dia sudah selesai bersiap dan rapi dengan setelan jas mahalnya.
Perlahan Sia membuka matanya, dan saat ini sadar sepenuhnya. Ia melihat ke atas dan sekelilingnya. Dapat ia rasakan tubuhnya yang masih lemah, ia juga tahu jika dirinya pasti berada di rumah sakit.
"Kau sudah bangun!!" Sapa Justin mengalihkan pandangan mata Sia mengarah padanya.
Sia melihat Justin melangkah mendekatinya, tidak dapat Sia pungkiri jika pria yang ada di hadapannya itu begitu penuh akan pesona dan kharisma yang kuat. Sia mengakui jika suami kejamnya itu sangatlah tampan sempurna.
"Maaf tuan, sepertinya hari ini saya tidak bisa ke kantor. Tubuh saya masih lemah dan lemas." Balas lemah Sia berusaha bangkit dari tidurnya dengan susah payah.
Justin repleks membantu Sia untuk bangun dari tidurnya. Sia cukup terkejut akan respon cepat Justin membantu dirinya. Sia dapat mencium aroma harum parfum maskulin yang di gunakan oleh Justin. Begitu segar dan menenangkan hati dan jiwanya, ia merasa jika semalam juga mencium aroma tersebut.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1