CINTA DAN DENDAM.

CINTA DAN DENDAM.
8. Cerita Kevin.


__ADS_3

Mereka masih betah berada di dalam ruang VVIP club yang di miliki oleh Rio. Mereka berempat tidak satupun ingin pulang ke rumah masing-masing.


"Bagaimana menurutmu, Justin?" Tanya Dude kepada Justin yang sudah memiliki kerja sama dengan perusahaan Dimitri Grup lebih dulu.


Justin melihat ke arah Dude sembari menyesap minuman yang ada di tangannya.


"Kami hanya bekerja sama seperti perusahaan lainnya. Tidak ada yang aneh padanya." Balas Justin santai namun tetap datar.


Dude menganggukkan kepalanya mengerti, dia sangat tahu dan mengenal bagaimana sahabatnya itu. Tidak akan banyak memiliki komentar yang memang tidak perlu ia ucapkan. Apa lagi jika itulah kenyataan yang ia lihat sendiri.


"Kau tidak takut pada tuan Verdian, Justin?" Kini giliran Rio yang bertanya, bagaimana pun ia masih khawatir akan nasib sahabatnya itu. Jika saja rumor yang beredar mengenai tuan Verdian Dimitri benar.


Bisa saja tuan Verdian akan menyukai Justin yang terlihat sangat tampan dengan wajahnya yang selalu dingin. Justin memiliki pesona dan kharisma yang berbeda dari mereka berempat. Justin sangat terlihat menonjol jika di bandingkan beberapa pria tampan lainnya.


Verdian Dimitri bukanlah orang sembarangan yang bisa mereka lawan begitu saja. Dunia mafia di balik layar yang di miliki oleh Verdian adalah kekuatan yang tidak bisa mereka lawan dengan mudah. Jika bisa, lebih baik mereka menghindar.


Justin menghembuskan nafasnya perlahan, dia tahu jika para sahabatnya khawatir akan nasibnya ke depan.


"Tenang saja. Aku rasa itu hanya rumor belaka. Belum tentu benar, seperti yang aku lihat saat bertemu dengannya beberapa kali. Dia terlihat normal dan tidak seperti rumor yang beredar." Balas Justin seperti apa yang sebenarnya ia lihat.


"Tidak mungkin tuan Verdian akan memperlihatkan sikapnya yang sebenarnya kepadamu dengan cepat, sepertinya kau harus tetap berhati-hati. Aku tidak sanggup melihat mu, pedang bermain dengan pedang. Itu bukanlah tipemu yang datar, dingin dan kejam." Ucap Dude dengan santainya.


Rio dan Kevin tertawa ringan mendengar ucapan Dude yang mengatakan, jika Justin bisa saja menjadi seseorang yang suka pada pedang bermain dengan pedang.


"Jika itu benar, tentu saja aku akan memberikanmu padanya. Lagi pula kau masih lajang dan sedang mencari pasangan. Itu akan sangat cocok untuk pria yang juga mencari jodoh lajang seperti dirimu." Balas Justin dengan senyum devilnya.


Justin cukup kesal mendengar lelucon Dude.


Dude bergidik ngeri melihat sahabatnya seperti itu, dia memasang senyum takutnya melihat sikap dingin dan kejam Justin melihat ke arahnya.


"Sudah sudah. Semua itu tidak akan terjadi, berharap dan berdoalah jika nasib buruk yang kalian pikirkan tidak akan terjadi." Kini giliran Kevin yang berbicara untuk menengahi. Sang dokter tampan yang juga betah melajang.


"Sedangkan kau, bagaimana Kevin? Apakah kau sudah menemukan perempuan itu?" Tanya Rio pada Kevin yang melihatnya serius.


Mereka tahu jika Kevin tidak memiliki pasangan sampai saat ini, karena sedang menantikan dan masih mencari keberadaan gadis di masa lalunya. Gadis yang menjadikannya seorang dokter yang hebat, kaya raya dan terkenal seperti sekarang ini.


"Tidak. Gadis itu seperti lenyap di telan bumi." Balas Kevin terlihat sedih dan menggelengkan kepalanya lemah.


Para sahabat mengerti bagaimana Kevin selama ini masih setia pada gadis yang mereka juga tidak tahu bagaimana sosoknya.


"Apakah kau masih mencari keberadaan gadis itu? Tidak kah kau bisa melepaskan, melupakan dan mulai dari awal lagi? Ini sudah hampir 10 tahun lamanya. Tidak mungkin gadis itu tidak memiliki pasangan dan akan mengingat mu lagi." Balas Dude yang mengerti bagaimana perasaan Kevin. Namun ia juga menyayangkan sikap Kevin yang begitu bucin dan setia terhadap gadis tersebut, hingga tidak mau melirik gadis ataupun wanita lainnya.

__ADS_1


"Jika memang dia sudah memiliki pasangan yang ia cintai, aku akan mulai merelakannya dan akan mencoba dari awal lagi." Balas Kevin mengerti kekhawatiran sang sahabat.


"Aku hanya ingin melihatnya bahagia, sebelum aku melanjutkan hidupku."


"Itu tidak adil." Balas Dude tidak suka akan keputusan Kevin.


"Seperti apa gadis itu, kau membuat aku sangat penasaran?"


Kevin tersenyum jika mengingat gadisnya yang lugu, cerdas, cantik dan baik hati.


"Dia gadis yang sangat cantik, manis, lugu, baik hati dan juga cerdas. Di usianya yang begitu belia, 18 tahun. Gadis seperti itu sangat luar biasa akan kecerdasannya di atas rata-rata." Kenangnya dengan senyuman di wajahnya.


"Saat aku bertemu dengannya di hutan pinggiran kota, tempat kita melakukan perburuan pertama kita. Aku yang pada saat itu di patuk seekor ular berbisa, sudah tidak bisa menahan rasa sakit itu. Apa kalian ingat…??" Tanya Kevin mulai menceritakan kisah yang tidak pernah ia ceritakan sebelumnya.


Ke 3 sahabatnya mengangguk tanda mengingat kejadian yang di ucapkan oleh Kevin.


"Gadis itu, entah dari mana tiba-tiba datang dan menolongku. Dengan cepat dia merobek kain gaun yang ia gunakan untuk mengikat pergelangan kakiku untuk menghentikan peredaran bisa ularnya. Tanpa rasa takut, gadis itu menghisap beberapa darah yang sudah tercemar akan bisa ular, yang bisa saja meracuni dirinya juga. Namun, karena dia gadis yang baik hati. Dia menghisap dan mengeluarkan semua bisa dan darah beracun pada kakiku, sehingga aku bisa selamat dan hidup sampai saat ini. Jika bukan bantuan darinya aku sudah lama mati."


"Bagaimana bisa gadis yang berumur 18 tahun, dapat dengan mudah tahu akan penanganan korban yang di patuk seekor ular berbisa?" Tanya Dude penasaran, sekaligus mewakili dua sahabatnya yang juga ikut penasaran.


Kevin tersenyum karena kembali mengingat perbincangannya bersama gadis misterius itu.


"Kalau itu aku juga tahu, kami pun terkejut akan keputusan mu itu, yang sangat jauh dari bisnis keluarga mu yang tidak sama sekali memiliki latar belakang yang berhubungan dengan kedokteran ataupun medis." Balas Rio menimpali.


"Namun, kalian bisa lihat sekarang. Keputusan yang aku buat karena gadis itu, membawaku menjadi salah satu dokter hebat dan sukses dengan beberapa rumah sakit ternama, besar dan terkenal. Berkat gadisku yang juga bercita-cita menjadi seorang dokter, akupun mengikuti jejaknya." Ucap Kevin dengan bangganya.


"Kau sudah terkenal seperti sekarang ini, tapi kenapa gadis itu tidak mengingat atau mencarimu? Apakah dia tidak mengingat mu lagi? Kau cukup terkenal dan sering masuk ke dalam berita besar akan karier mu sebagai seorang dokter. Mengapa dia tidak muncul juga? Apakah dia begitu hidup terpencil sehingga tidak tahu berita tentang dirimu?" Ucap pertanyaan Dude heran.


Kevin terdiam. Apa yang di katakan oleh Dude adalah benar. Mengapa gadisnya tidak muncul, sedangkan dia sangat terkenal saat ini.


"Kevin. Jangan-jangan dia sudah…!!" Ucap Dude terhenti. Kini suasana sunyi dan terasa tegang tidak nyaman bagi mereka.


Perkataan menggantung Dude menciptakan pemikiran baru di dalam otak mereka masing-masing. Dan tahu arah ucapan Dude selanjutnya.


"Tidak…Tidak mungkin dia sudah meninggal." Ucap Kevin tahu kemana arah perkataan Dude tentang gadisnya.


"Bahkan kau tidak memiliki photonya. Lukisan gadis yang kau buat pun tidak banyak membantu kita dalam pencarian." Ucap Dude ingin sahabatnya itu segera sadar akan penantian yang tidak berujung dan tidak pasti.


"Kau benar." Ucap Rio menimpali.


Justin hanya diam menyimak pembicaraan para sahabatnya tersebut. Sebenarnya ia sepakat dengan apa yang di ucapkan oleh Dude, untuk Kevin segera mulai dari awal lagi. Umur mereka sudah cukup matang untuk memiliki pasangan di masa depan yang lebih jelas.

__ADS_1


Dude yang masih lajang, bukan berarti dia tidak pernah memiliki seorang kekasih. Lain halnya dengan Kevin yang masih lajang karena kesetiaannya terhadap gadis di masa lalunya yang sudah mencuri hatinya pada pandangan pertama. Sejak saat itu, Kevin sama sekali tidak pernah memiliki kekasih ataupun suka pada seorang wanita. Sehingga kedua orang tuanya juga khawatir akan masa depan keturunan keluarga Misel yang menginginkan Kevin segera menikah dan memiliki keturunan.


Kevin menghela nafasnya yang terasa berat.


"Aku masih berharap bertemu dengannya satu kali saja. Saat itu tiba, keputusan akan aku buat untuk masa depan ku. Aku merasakan jika sebentar lagi aku akan bertemu dengannya kembali." Kevin masih saja optimis.


"Bagaimana kalau dia sudah memiliki pasangan? Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau bisa menerima itu tanpa terluka?" Tanya Dude. Sedangkan Rio dan Justin terdiam melihat intens ke arah Kevin. Mereka juga menginginkan yang terbaik untuk sahabatnya itu.


Sudah cukup selama 10 tahun Kevin dalam penantiannya yang tidak berujung.


"Jika dia sudah menikah, tentu saja aku akan mengikhlaskan dirinya. Walaupun berat dan hatiku sakit, aku hanya ingin dia bahagia bersama dengan orang yang ia cintai. Karena Elysia berhak bahagia, dan aku tidak ingin dia terbebani oleh perasaan ku." Ucap Kevin dengan senyum sedih pada wajahnya.


Rio, Dude, dan Justin mengerti. Sangat besar cinta Kevin pada sosok gadis yang telah berhasil mencuri hatinya pada pandangan pertama, dan telah berhasil bertahta di dalam hati seorang Kevin Misel. Dokter tampan yang banyak menjadi incaran bagi kaum hawa di seluruh pelosok kota dan luar negeri.


Justin seketika teringat akan seorang wanita dengan nama yang sama dengan gadis di masa lalu Kevin. Dia mengingat Sia yang tengah terkurung di dalam kamar mandi apartemennya.


"Elysia…!" Ucap pelan Justin yang masih dapat di dengar oleh ke 3 sahabatnya.


Mereka sontak melihat ke arah Justin yang sejak tadi hanya diam saja.


"Ada apa Justin?" Tanya Rio yang duduk paling dekat dengan Justin.


Justin melihat ke arah Rio, lalu berkata. "Tidak ada." Balas singkat Justin sembari menyesap minumannya. Namun pikirannya seketika melayang pada istri keduanya saat ini. Nama depan istrinya kebetulan sama yaitu, Elysia.


"Kau menyebutkan nama Elysia." Timpal Dude mendengar jelas ucapan singkat dan pelan Justin menyebutkan nama Elysia.


"Apa kau memiliki kenalan dengan nama Elysia?" Tanya Kevin memajukan badannya yang bersandar.


Justin melihat ke arah Rio, Dude, dan Kevin secara bergantian.


'*Ini hanya kebetulan bukan. Di dunia ini banyak orang memiliki nama yang sama dan mirip. Mungkin mereka adalah orang yang berbeda*.' Gumam Justin dalam benaknya, ia rasa kekhawatirannya salah. Elysia istri keduanya dan Elysia gadis masa lalu Kevin adalah dua orang yang berbeda.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2