
***Perusahaan Radeya Group***
POV…Elysia Arabella Ardelia.
Aku berdiri di hadapan semua karyawan bagian marketing perusahaan Radeya group, tentu sebagai karyawan baru biasa yang sudah di ketahui oleh ketua tim bagian marketing.
"Perhatian semuanya, kita mendapatkan seorang teman baru di bagian marketing kita ini. Dia pindahan dari perusahaan Adhitama group yang baru saja bekerja sama dengan perusahaan Radeya group." Ucap ketua tim memperkenalkan aku di hadapan semua anggota tim marketing.
"Silahkan perkenalkan dirimu." Perintah ketua tim kepadaku.
Aku melihat ke arahnya sejenak sembari menganggukkan kepalaku pelan.
Aku tersenyum semanis mungkin untuk memberikan kesan yang baik kepada semua anggota tim.
"Selamat pagi semuanya. Perkenalkan nama saya, Elysia Arabella Ardelia. Teman-teman bisa memanggil saya dengan nama Sia, saya pindahan dari bagian marketing perusahaan Adhitama group. Mohon bantuan kalian semua, terima kasih." Ucapku memperkenalkan diriku dengan terus tersenyum.
Tentu saja ada yang terlihat senang menyambutku dan ada juga yang terlihat tidak suka melihat kehadiran ku di tempat itu. Aku tidak peduli, bekerja dan menghasilkan uang untuk biaya hidup adalah fokus ku untuk saat ini. Aku sudah biasa untuk hidup mandiri sejak kecil, dan tidak suka bergantung pada orang lain. Itu bukanlah jiwa dan kepribadian yang aku miliki selama ini.
"Baiklah, aku harap kalian bisa bekerja sama dengan teman baru kalian. Silahkan Sia, untuk duduk di samping Kania." Tunjuknya ke arah seorang wanita manis yang terlihat seumuran denganku.
"Ayo, kembali bekerja. Bagian marketing harus tetap memberikan yang terbaik bagi perusahaan Radeya group. Apa kalian mengerti…?!?" Ucap semangat ketua tim.
"Mengerti…ketua tim." Balas semua anggota yang hadir secara serempak, termasuk aku.
Mereka mengerti dan membubarkan diri untuk kembali ke meja mereka masing-masing. Aku menuju meja kerja kosong yang sudah di sediakan untukku. Tanpa sengaja aku mendengar sesuatu dari dua wanita yang aku lewati.
"Masuk dengan koneksi pastinya itu. Terlihat dari penampilannya yang sok imut dan cantik. Trik murahan." Bisikkan yang terdengar saat aku melewati mereka.
"Terlihat seperti wanita penggoda." Ucap salah satunya lagi.
Aku tidak tuli, bahkan wanita manis yang duduk di samping mejaku saja dapat mendengarkan itu.
"Abaikan saja, mereka memang sering seperti itu. Tidak suka melihat karyawan wanita yang lebih cantik di bandingkan mereka." Ucap wanita manis yang tersenyum tulus kepadaku. Terlihat jelas dari sorot matanya yang jujur dan tulus.
Aku hanya tersenyum getir, tidak menutup kemungkinan jika ini semua pasti akan terjadi. Di mana pun aku berada dan bekerja? Pasti ada saja yang suka dan ada juga yang tidak suka.
"Hai, aku Kania. Senang bisa mengenalmu." Ucap Kania mengulurkan tangannya ke arahku.
"Hai, aku Sia. Senang juga bisa mengenalmu." Balasku dengan menyambut uluran tangannya.
Aku hanya tersenyum sembari duduk pada kursi kerjaku. Lebih baik mulai bekerja daripada harus repot repot memikirkan ucapan orang lain tentangku. Hidup memang penuh rintangan dan perjuangan.
Aku hanya bisa diam saja, untuk menerima semuanya. Kamipun kembali fokus pada komputer kami masing-masing.
Baru saja aku menyalakan komputer ku, suara bising dari ketua tim yang keluar dari ruangannya sedikit berlari, membuat beberapa orang heran melihatnya.
"Perhatian semuanya, bersiaplah untuk semua orang. Kita ada kunjungan mendadak dari presdir, tuan Justin." Ucap ketua tim memberikan informasi.
Beberapa orang terlihat tegang, beberapa orang lagi terlihat senang dan ada juga yang bersikap biasa saja. Namun tidak dengan beberapa wanita single yang terlihat merapikan diri mereka, dengan berkaca merapikan riasan dan rambut mereka. Aku melihat heran ke arah mereka.
'Untuk apa ada kunjungan mendadak? Pria dingin itu pasti memiliki tujuan. Apa dia cuma ingin memastikan aku tidak terlambat atau berbuat masalah?' Gumamku di dalam hati, aku sangat malas melihat dirinya.
Sangat cukup bagiku semalam dan tadi pagi, tapi apalah dayaku. Aku hanya seorang karyawan biasa yang tidak memiliki kuasa apapun, sedangkan pria dingin itu adalah bos di perusahaan ini. Hanya bisa menghela nafas yang bisa aku lakukan.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa kamu menghela nafas seberat itu? Apa kamu mengenal presdir?" Tanya bisik Kania padaku.
"Tidak." Gelengku tanpa melihat ke arahnya.
Aku berusaha terlihat biasa saja. Walaupun aku berbohong, tetapi itu aku lakukan dengan terpaksa. Tidak mungkin aku katakan jika aku mengenal presdir perusahaan Radeya group,. Apalagi mengatakan jika aku adalah istri kedua presdir yang kemarin baru saja melakukan pernikahan kontrak dengannya. Tentu saja tidak mungkin aku mengatakan itu semua.
"Kamu lihat kedua wanita ganjeng itu." Tunjuk Kania ke arah dua wanita yang tadi membicarakan diriku.
Aku melihat ke arah Kania. Lalu beralih melihat ke arah dua wanita yang berusaha merapikan diri mereka, Kania lalu berkata.
"Mereka berharap bisa menarik perhatian presdir perusahaan ini."
"Untuk apa? Bukankah presdir sudah menikah?" Tanyaku ingin tahu.
"Mereka berharap menjadi istri kedua presdir. Kamu tidak tahu gosip yang beredar beberapa bulan ini, karena kamu baru di sini."
"Gosip, gosip apa?" Tanyaku mengerutkan keningku.
"Presdir yang sudah lama menikah menginginkan seorang anak. Anak yang tidak pernah ia dapatkan dari istrinya, karena menjadi seorang super model ternama membuat nyonya muda Radeya tidak ingin merusak tubuhnya hanya untuk hamil dan melahirkan seorang anak untuk tuan Justin."
Aku heran melihat Kania, lebih tepatnya. Aku heran mendengar gosip yang aku dengarkan.
'Jadi benar kontrak pernikahan yang aku lakukan bersama tuan Justin. Tujuannya hanya untuk mendapatkan seorang keturunan untuk tuan Justin dan keluarga Radeya.' Gumamku di dalam hati.
Aku menghela nafas ku secara diam-diam.
"Jadi mereka berharap menarik perhatian tuan Justin untuk menjadi istri kedua dan bisa memberikan seorang keturunan untuk keluarga Radeya."
"Entahlah, gosip itu tersebar begitu saja?" Balas Kania sembari mengedikkan kedua pundaknya.
"Apa tuan Justin tahu tentang gosip ini?"
"Aku tidak tahu. Entah apa yang akan terjadi jika beliau tahu tentang gosip ini? Tuan Justin terkenal kejam dan dingin. Kamu tahu, aku saja sangat takut melihatnya, walaupun dari jarak yang cukup jauh. Tetapi tidak dengan mereka berdua dan beberapa karyawan wanita lainnya. Mereka malah berusaha mencari jalan dan kesempatan bisa berada dekat, ataupun hanya bisa berpapasan dengan beliau."
Aku terdiam, ternyata suami dinginku itu banyak memiliki penggemar wanita. Tidak bisa di pungkiri jika dia adalah pria mapan, kaya raya, terkenal, tampan dan memiliki tubuh yang bagus dan juga atletis.
'Sial, kenapa malah aku jadi teringat kejadian semalam.' Gumamku di dalam hati, wajahku mulai menghangat karena rasa malu akan ingatan semalam.
"Ada apa? Kau sakit Sia? Wajahmu memerah." Ucap Kania menegurku dari lamunan.
"Tidak, aku baik baik saja. Aku sedikit mengantuk karena semalam tidak nyenyak tidur." Bohongku.
Untung Kania mengerti dan menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Bersamaan dengan datangnya sang presdir yang di dampingi oleh asisten pribadinya yang tidak kalah tampan dan dingin. Kharisma mereka berdua begitu berkilau, mengalihkan semua pandangan mata anggota tim mengarah kepada mereka berdua.
Ketua tim menyambut sang presdir yang memasang wajah datar dan dinginnya.
"Selamat pagi, tuan." Sambut Ketua tim dengan ramah dan tersenyum.
Semua terdiam pada tempat mereka masing-masing. Begitu juga dengan ku yang hanya bisa melihatnya dengan datar.
Pandangan mata kami bertemu sejenak, aku cukup tahu di mana tempatku sekarang. Aku mengalihkan pandangan ku dengan cepat ke arah bawah, cukup malas untuk melihat tatapan dingin dan tajamnya ke arahku.
"Adam, apa kau sudah memberikan informasi itu kepada ketua tim bagian marketing?" Tanyanya terdengar jelas dan tegas. Namun aku tahu, tatapannya yang masih melihat ke arahku.
__ADS_1
'Sial, bisakah kau stop memandangi ku seperti itu. Kau memberikan masalah baru padaku kalau terus melihat ke arahku seperti itu.' Umpat ku di dalam hati. Aku kesal jika tuan Justin seperti itu, itu sama halnya mengundang masalah baru untukku. Bagaimana tidak? Lihatlah tatapan tajam dan tidak suka beberapa wanita single yang merasa tersaingi melihat ke arahku.
"Sudah tuan. Ketua tim, apa kau sudah mengerti dengan apa yang aku beritahukan kemarin padamu?" Tanya Adam melihat ke arah ketua tim yang ada di hadapan mereka.
"Sudah tuan. Kami akan melakukan semua yang terbaik dalam acara ulang tahun perusahaan tahun ini. Suatu kehormatan bagi kami, telah di berikan kesempatan berharga itu untuk tim marketing kami. " Balas Ketua tim.
"Apa dia karyawan baru yang kau katakan itu, Adam?" Tanyanya terdengar jelas menunjuk ke arahku.
Sial, dia pandai bersandiwara ternyata.
"Iya tuan." Balas Adam.
Tuan Justin melangkah mendekatiku, tentu dengan pandangan semua mata melihat ke arahku dan tuan Justin secara berganti. Aku benar-benar berada dalam masalah kali ini. Lihatlah tatapan tajam dan tidak suka dari beberapa staf wanita terus mengarah padaku.
"Sia, perkenalkan dirimu pada presdir perusahaan ini." Ucap perintah Ketua tim yang ada di sampingku.
Aku mengerti harus berbuat apa? Ini adalah hanya demi kesopan santunan terhadap atasanku.
"Selamat pagi tuan. Perkenalkan nama saya, Elysia Arabella Ardelia. Saya karyawan pindahan dari Adhitama group. Terima kasih atas perhatian anda, tuan." Ucapku memperkenalkan diri, seolah-olah kami berdua tidak saling mengenal. Memang benar kami berdua sama sama tidak saling mengenal. Kami berdua baru saja mengenal beberapa hari yang lalu, karena pernikahan kontrak yang kami sepakati.
Tuan Justin hanya diam dengan wajahnya yang terlihat datar dan tatapan mata dinginnya melihatku. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini? Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Aku tidak peduli, yang aku pedulikan sekarang. Bagaimana caranya aku menghadapi masalah yang akan aku dapatkan dari beberapa staf wanita yang kini menatapku tajam?
"Bekerja dengan benar. Berikan kinerjamu yang bagus. Kau mengerti…!!" Ucapnya yang membuat aku hanya bisa mengangguk pasrah.
"Baik tuan. Terima kasih atas nasehat anda."
Tanpa membalas perkataan ku, dia berlalu begitu saja. Membuat beberapa staf wanita yang tadi melihat ku tajam tersenyum puas akan sikap dingin tuan Justin kepadaku. Apa aku peduli? Tentu saja tidak.
Tuan Justin meninggalkan ruang bagian marketing, dengan di ikuti oleh ketua tim dari arah belakang. Kami pun kembali duduk untuk melanjutkan pekerjaan kami. Namun tidak dengan beberapa staf wanita yang tengah berbisik-bisik.
"Lihatlah, tingkahnya seperti sudah dekat saja dengan tuan Justin. Murahan sekali." Ungkap bisikkan yang masih dapat aku dengarkan.
"Alah.... mana mau tuan Justin dengan wanita seperti itu. Lihat tampangnya seperti wanita penggoda, hanya akan menjatuhkan martabat dan kehormatan tuan Justin saja." Ucap salah satunya lagi.
"Kau benar, wanita murahan yang sangat tidak cocok dengan presdir kita." Ucap salah satunya, lalu tersenyum sinis melihat ke arahku.
Aku hanya bisa diam mendengarkan bisikkan tersebut. Andaikan kalian tahu siapa aku sekarang? Mungkin saja kalian akan terkejut tidak percaya, marah dan bisa saja menabuh genderang perang padaku sekarang juga.
Hidupku kini cukup sulit, akan sangat mudah jika tuan Justin bisa berada jauh dariku. Itu lebih aman bagiku sekarang, hingga tujuanku selesai. Ternyata balas dendam yang ingin aku lakukan tidak mudah seperti rencana yang sudah aku atur selama ini. Semua memiliki rintangan dan halangan yang harus aku lalui.
Aku harus kuat untuk semuanya. Sebab musuhku yang sebenarnya adalah seorang wanita licik, kejam yang cukup kuat untuk aku lawan. Jika di bandingkan dengan wanita wanita ini, mereka semua tidak ada artinya di mataku. Wanita yang kini sudah sah menjadi maduku lah, musuh utama ku yang sebenarnya.
Balas dendam yang cukup sulit bagiku.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1