Cinta Diantara 3 Bunga

Cinta Diantara 3 Bunga
01 Pangeran dan Cinderella 1


__ADS_3

01 Pangeran dan Cinderella


2009 (SMPN 02 Bumiayu Semester 1)


2009 Juli masuk SMP - Mei 2011 lulus


2009 (SMA Muh Bumiayu Semester 1)


2011 Juli masuk SMA - April 2014 lulus


2014 (Univ Ahmad Dahlan Yogyakarta)


2014 Sept Kuliah S1 - Mei 2018 lulus S1


2018 (Univ Sunan kalijaga Yogyakarta)


2018 Agust Kuliah S2 - Juli 2020 lulus S2


2020 Menjadi Seorang yang baru - 2023


Entah bagaimana ceritanya dia sempat bisa berubah statusnya dari seorang sahabat menjadi kekasih atau pacar. Belum sempat ku lupa namanya karena masih terasa segar dalam benakku. Dia adalah sahabatku yang membuat  masa SMP ku penuh dengan warna keceriaan.


Pertama kali aku bertemu dengannya ketika kami sedang latihan rutin ekstra kurikuler pramuka yang dianggap wajib bagi seluruh siswa kelas VII. Dia adalah seorang gadis cantik berpostur tubuh sedang tidak kurus tidak pula gemuk, tidak terlalu tinggi ataupun pendek, singkat kata berpostur ideal dengan kulit yang putih, wajah cerah mengagumkan, serta kepribadian yang menawan.


Adapun pertama kalinya aku dilihatnya ketika aku dihukum karena berusaha kabur pulang tidak mengikuti apel pembukaan Pramuka. “ Etsss prit… pritttt….. pritsssttt….” Suara sumpritan memekak.


“Etsss… ets… mau kabur lewat pagar ya. Sini-sini…... Kesini cepat!!!” Teriaknya pekik.


“ Siapa namamu woi!!! Berani-beraninya coba mau kabur????”


“ Ikhsan As-Sidiq Kak.” Jawabku datar.


 “Hei kau mau kemana coba?


Hahhh!!!”  Ujarnya sebagai Dewan Penggaalang.


“Maaf Kak aku… ak…aku…Nggak kemana-mana Kak.. Heheheheh…


“ Sudah nanti kau jelaskan dilapangan saja. Cepat jalan!!” Bentak para Dewan Penggalang.


“ Iyya Kak. Sabar……” Gunggam ku meremehkan


 “ Etssssst tak usah banyak cincong… Apa-apaan kau ini hahhhh!!!!! Mau jadi Jagoan? Mau terkenal? Cepat jawab jangan diam saja!!”  Bentak beberapa Dewan Penggalang.


“Maaf kak…” Jawabku pelan


“Maaf… Maaf apa-apaan hahhh? Tak usah banyak minta maaf!! Apa kau


kira ini sekolah nenek moyangmu???” Hardik para Penggalang dengan garangnya.


“ Apa kau tidak membawa hasduk? Kau tidak memakai


sepatu hitam?  Kau tidak pakai kaus kaki hitam?  Ayo jawab!” Berondong para Dewan Penggalang Padaku. Posisiku pada saat itu seperti hendak ditelan bulat-bulat oleh para monster ganas.


“Beberapa tugas khusus seperti menulis Tri Satya dan Dasa Darma Pun tidak kau tulis? Dasar payah!!!


“Kau tambah pula tidak membawa buku saku? tidak membawa bekal makan? Serta tidak membawa tanaman apotek hidup dan pupuk kandang????  Hahhah  kau ini kurang ajar!!!” Bentak Dewan  Penggalan padaku. Yups kala itu 95% tugas aku lupakan. Hal itu kulakukan karena aku tidak berniat mengikuti ekstrakurikuler sama sekali. Tidak sama sekali walau sedikit pun.

__ADS_1


Pada saat itu, aku pertama kali fokus memperhatikannya saat upacara apel penutupan latihan pramuka. Peristiwa itu terjadi pada minggu yang kedua. Sebelum itu memang aku tidak pernah melirik perempuan sama sekali. Maklum aku telah sibuk dengan duniaku sendiri.Dunia aneh yang penuh misteri. Duniaku mulai beralih ketika apel penutupan itu.


Demikian pula mentari mulai beranjak tenggelam di peraduannya. Sore itu benar-benar menjadi moment yang sangat spesial bagiku. Untuk pertama kalinya aku melihat dia dengan penuh perhatian. Begitu pula sebaliknya dia mengamati ku dengan penuh keheranan. Pada saat yang sama dia ditunjuk sebagai perwakilan dari regu putri untuk membaca Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka.


“Kali ini kau sudah kami laporkan kepada Kakak Pembina. Selamat kau


mendapat hadiah khusus untuk pertama kalinya. Paham?? Kau mengerti!!!!” seulas senyum jahat keluar dari para Dewan Penggalang.


“Iyyah siap paham…..”


Berbeda dengan aku satu-satunya contoh buruk bagi regu putra. Aku disuruh maju ke tengah lapangan saat apel penutupan itu. Bukan karena tanpa sebab aku diberi pelajaran.


Posisiku dengannya sangat kontras dan bertolak belakang antara kedisiplinan dengan kesemrawutan. Kemudian sesuatu yang menakjubkan terjadi ketika ia mengikrarkan Tri Satya dan Dasa Darma didepan seluruh  peserta apel penutupan. Seketika itu aku seakan langsung hafal mengikuti ucapannya yang lugas, tegas, dan enak sekali untuk didengar oleh telingaku. Seolah aku terhipnotis mengikuti untaian mantra sihirnya yang indah, padahal sebelumnya aku membaca dan menghafalnya pun tidak. Matahari hampir sayu meredupkan sinarnya di ufuk barat diiringi semilir angin sepoi-sepoi. Dahan-dahan pepohonan sekitar pun berdesir teratur membentuk irama alami penuh makna.


Daun-daun kering tak sanggup lagi bertahan pada tangkai yang bergoyang tertiup angin. Alhasil daun-daun kering coklat kekuningan berhambur bebas terbawa puing hembusan angin yang bertiup. Bersamaan dengan itu pula dia mengucapkan kedua ikrar janji yang dikenal sebagai kode kehormatan seorang Pramuka Penggalang. Suara nyaring lagi lantang penuh penekanan intonasi yang tepat menggelora.


Tri Satya


Demi kehormatanku aku berjanjia kan bersungguh-sungguh :


1.     Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila


2.     Menolong sesama hidup dan membangun masyarakat


3.     Menepati Dasa Darma


Dasa Darma Pramuka itu:


1.     Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa


2.     Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia


4.     Patuh dan suka bermusyawarah


5.     Rela menolong dan tabah


6.     Rajin, terampil dan gembira


7.     Hemat, cermat dan bersahaja


8.     Disiplin, berani dan setia


9.     Bertanggung jawab dan dapat dipercaya


10.  Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan


Kata-kata yang keluar dari lisannya mengalir dengan penuh penghayatan. Demikian pula aku mengikutinya perlahan dan tanpa kusadari Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka membekas terngiang-ngiang dalam benakku seolah-olah aku telah membacanya puluhan kali atau mungkin ribuan kali.


Sorot matanya yang tajam dengan suaranya yang lantang diikuti gestur tubuh yang menawan ditambah lagi wajahnya yang cerah, bibir tipis merah muda, hidung yang mancung, serta kornea mata yang hitam dan alis mata lentiknya. Amboi bentuk tubuhnya yang ideal mulai memperlihatkan aura kecantikan kaum hawa. Dia laksana kuncup bunga yang mekar saat menyongsong mentari di pagi hari. Seketika aku terkesima padanya, aku bergumam betapa sempurna ciptaan Tuhan semesta alam.


Mungkin lain halnya dia dan juga ratusan siswa kelas VII  lainya. Mereka menganggap berdiri di depan lapangan sebagai siswa tak tahu diri yang penuh kesalahan berat bak narapidana yang hendak dihukum mati. Sekilas dia memperhatikanku dengan tatapan sinis, mata kami beradu beberapa kali. Akan  tetapi aku melihatnya tanpa merasa berdosa sekali, malah seakan-akan aku bangga menjadi terkenal di seluruh siswa kelas VII. Kemudian, ketika Kakak Pembina memberikan sambutan diujung penutupan. Beliau sempat menyindir dengan membandingkan antara contoh siswa yang disiplin dengan siswa yang tak kenal aturan. Tentu jelas sekali contoh siswa tak kenal aturan itu aku, dan siswa disiplin itu adalah dia si pembaca kode kehormatan itu.


Saat penutupan apel sudah selasai masing-masing siswa kembali ke kelas untuk mengambil tas dan persiapan pulang. Aku Pun masuk ke dalam kelas tanpa perasaan bersalah sama sekali, biasa saja tak ada yang berbeda dengan diriku. Walaupun sempat beberapa teman sekelas ku memberi komentar dan apresiasi candaan yang konyol, tapi aku tidak perduli.  Beberapa dari mereka cekikikan karena simpati, merasa lucu, geli, bahkan merasa sungkan melihat sikapku yang tak disiplin.


Beberapa saat kemudian Zulmi (sahabatku satu kampung dan satu bangku)  berusaha memecah suasana iseng menyambut ku dalam kelas sebelum pulang bersama teman- teman lainya dikelas VII A.


” Ini dia pahlawan kelas kita, sosok pemberani yang mau kabur malah dapat penghargaan

__ADS_1


saat apel penutupan. Hahahahah”.  Ujar Zulmi menggasak ku (mencandai).


“ Huhhh...Pahlawan, superhero kelas VII A”. Sorak teman-teman sekelas.


“ Santai guys, biasa aja”. Jawabku cuek.


“Hebat ya sang pemberani, besok-besok malu-maluin kelas kita lagi, ya Pahlawan”.


Ujar Zulmi, diikuti cengengesan teman-teman kelas.


“Akan aku ulangi lagi. Hahahahhh”. Jawab ku meledek mereka semua sambil ketawa.


“ Huhhhhhhhh.... Dasar sem.. raa.. wutt wuhhh........! Ujar  teman sekelas menyoraki ku ramai.


“Good bye guys”.... Jawabku singkat.


Secepat kilat aku lari keluar kelas membawa tas karena merasa bebas pulang dan menang. Aku lari seperti motor GP yang ngebut di arena sirkuit saat detik terakhir menuju garis finish, kurang lebih aku seperti itu.


Tanpa kusadari aku yang terburu-buru ingin pulang dan lari kegirangan tidak memperhatikan kondisi sekitar dengan baik. Alhasil saat aku lewat pas didepan pintu kelas VII B disamping kelasku, tertabraklah seorang perempuan yang baru keluar dari pintu kelas itu. Derr gusrakkkkk, kedebukkk... Terpelantinglah aku dengan tak terkendali, kemudian aku jatuh kelantai begitu pula dengan dia yang aku tabrak itu. Ia tak sempat menghindar.


Naas saat jatuh tubuhku terpelanting bertumpu dengannya tanpa sengaja dan direncana sedikitpun. Ya aku berada diatasnya dan dia tertindih oleh tubuhku. Seolah-olah kami sedang berpelukan romantis mirip moment tabrakan antara seseorang lakon di film romantis, ya mungkin seperti itu benar adanya.


Mata kami saling menatap beberapa detik dan hampir juga hidung kami beradu. Wah keberuntungan bagiku bisa menatapnya sedekat itu, tapi mungkin tidak baginya. Sesaat kemudian dia sontak  mendorong tubuhku. Dengan sikap risih tak karuan dia berusaha menghindar dariku. Setelah itu kami pun bangkit dan berdiri. Sementara beberapa siswa lain yang melihat kami menyoraki kegirangan.


“Ciehh... Ciehhh... Ehem.. Ehemm.. Pangeran menabrak Putri Cinderella. Huhhh... Yeahhh.” Hardik beberapa siswa yang melihat kejadian itu. Mereka meledek kami dengan ketawa jahatnya.


 Aku lihat mukanya memerah marah bercampur malu. Kalau aku sih biasa saja mungkin merasa beruntung malahan.  Dalam hati aku berpikir andai saja hal itu bisa terjadi lebih lama, tidak hanya sepersekian detik itu. Beberapa saat kemudian dia merasa terusik dan mengeluarkan kata-kata yang menunjukan kemarahannya.


“Heyyy!!... Dasar kuarang ajar... Pasti kau sengaja menakbrakku ya? Kau pasti sengaja merencanakannya kan?” Berondongnya menginterogasi.


“ Iya aku sengaja”. Jawabku singkat sambil tersenyum genit.


“ Berani- beraninya kau berbuat seperti itu! Rasain nih!” Byurr sisa air minum yang dia pegang membasahi mukaku yang kucel tak karuan. Iya benar, dia menyiramkan sisa air minumnya padaku, mungkin karena sudah terlalu emosi dan merasa malu sehingga tidak bisa mengontrol dirinya. Aku tercengan sebentar dan kemudian tertawa geli.


“ Kok kamu malah tertawa cengengesan begitu, bukannya merasa bersalah dan malu atas sikapmu! Apa masih kurang hahhh??


“Coba berpikir deh, mana mungkin aku sengaja merencanakannya, orang kamu tiba-tiba nongol dari kelas begitu saja kaya setan”. Jawabku rasional.


“Ahh itu cuman alasan kamu saja, mengelak dari kesalahan.  Buktinya tadi sudah mengaku menjawab iya secara spontan.”


“Aku tuhh tadi  geli mendengar kamu main menuduhku begitu saja”.


“Kamu tuh udah salah nggak mau ngaku salah ya! Baru kali ini aku ketemu orang keras kepala kaya kamu. Ih-san as-Si-diq! Hari ini benar-benar hari yang kurang beruntung bagiku yaitu berurusan dengan orang sepertimu”.


“ Darimana kau tahu namaku?


“ Itu diatas sakumu kan ada tulisannya. Ikhsan As-Sidiq”.Tegasnya padaku


“ Ohya. Heheheh. Ini ku buktikan bahwa aku ngga sengaja, lihat nih siku tanganku lecet dan celana bagian lututku bolong sedikit dan agak lecet juga. Ngapain aku sengaja menabrak mu dengan mengorbankan diriku sendiri. Kalau aku sengaja mending aku cari cewe yang lebih cantik darimu untuk ku tabrak. Semisal Zahra itu yang keturunan Arab, siapa yang tak kenal kecantikannya sekaligus anak pengusaha rebana dari  Desa Kaliwadas.”  Jawabku seolah menang dari pertempuran badar.


“ Ahh. Aku masih tidak percaya dengan ucapanmu, bagaiman aku percaya sama siswa semrawut kaya kamu yang tak tahu aturan!


“ Ya udah itu sih terserah kamu. Mau percaya atau tidak, bukan urusanku, bagiku yang sudah terjadi ya sudah”.


Kemudian dia pergi dengan langkah cepatnya, aku lihat wajahnya yang masih menyimpan rasa jengkel kepadaku. Bagaimana tidak jengkel, dia pasti merasa sangat dipermalukan ketika siswa-siswi lainya melihat adegan tabrakan itu.  Sebab menurutnya adegan tabrakan itu dirasa kurang etis secara umum.


Tapi mau bagaimana lagi aku toh tidak merencanakannya, aku tidak bermaksud menabraknya dan berpikir mesum, itu semua terjadi di luar kendaliku. Walaupun aku merasa sedikit geli, lucu maupun baper tapi sungguh aku tidak berpikir sejauh orang-orang yang berpikiran kotor.

__ADS_1


*********


__ADS_2