
Setelah kejadian konyol itu aku bertekad untuk tidak mempermalukan diriku lagi didepan umum. Mungkin karena aku sedikit trauma menjadi bahan pembicaraan maupun gunjingan disekolah tentang siswa yang semrawut dan kisah plesetan Pangeran dengan Cinderella yang bertabrakan mesra di depan kelas.
Berita konyol itu dengan cepat menyebar ke penjuru sekolah, karena memang sangat up to date untuk disebar luaskan. Ini terjadi karena dua peristiwa konyol itu beruntun dalam sesaat. Dimulai dari prosesi aku dihukum didepan lapangan bersamaan dengan pembacaan Tri Satya dan Dasa Darma olehnya. Sarah Aulia Putri benar-benar membacanya diluar kepala. Yapps benar, itulah namanya yang indah sesuai dengan orangnya yang dikenal cantik dan cerdas. Walaupun kecantikannya masih kalah sedikit bila dibandingkan dengan Zahra seorang siswi keturunan Arab-Indo itu. Akan tetapi, untuk ukuran gadis pribumi asli prodak Jawa tulen, mungkin Sarah sudah luar biasa dibanding pribumi yang lain.
Kemudian, semua peristiwa konyol berurutan terjadi setelah berselang beberapa saat prosesi hukumanku. Ajaibnya hal itu bersamaan diawali dengan pembacaan kode kehormatan Pramuka oleh Sarah. Selanjutnya, terjadilah moment tabrakan yang dianggap sebagai bertemunya Pangeran dan Cinderella. Hal inilah yang membuat berita itu mudah tersebar hangat. Dikarenakan kedua siswa-siswi itu, aku dan dia tampil menonjol dengan kontras perbedaan mencolok satu sama lain. Yang satu disiplin (Sarah) dan satunya lagi semrawut (Ikhsan). Keduanya dipertemukan dalam situasi yang dramatis semi romantis ala film Bolywood.
Berita itu beredar cepat menjadi konsumsi hangat siswa-siswi dan guru maupun karyawan sekolah disebabkan cerita itu diabadikan oleh Jurnalis and Mading Club dalam buletin maupun majalah dinding. Apalagi ditambah bumbu-bumbu menggelitik. Bumbu itu diambil dari sindiran pembina upacara tentang kesemrawutan dan pujian tentang kedisiplinan siswi progesif yaitu Sarah. Bumbu semakin hangat ketika ditambah pengakuan kakak Dewan Penggalang dan juga saksi mata yang melihat kejadian itu membuat cerita menjadi semakin sensasional. Semua itu tertulis dalam buletin yang tersebar dan majalah dinding yang terpampang di papan Mading sekolah. Dengan cepat Bapak ataupun Ibu guru, apalagi siswa seangkatan maupun kakak kelas sebagian besar mengenalku dan dia.
Setiap kali ada moment itu meledekku pasti entah guru maupun teman-teman selalu mencandaiku dengan hebatnya. Selama hampir satu semester aku selalu jadi bahan bulying yang membuatku sedikit tau diri dan memantik kedisiplinan serta semangat belajarku. Aku bertekad tidak mau malu-maluin lagi untuk kedua kalinya, maka setiap latihan pramuka aku selalu mematuhi tugas yang dibebankan. Begitu pula ketika pelajaran selalu antusias penuh semangat
Guru-guru yang mengajar ku hampir semua mengenalku tak terkecuali sampai Kepala sekolah juga mengenalku karena beliau mengajar mapel PKN, namanya adalah Bapak Syamsul. S.Pd.,M.Pd. Begitu pula guru Agama yaitu Pak Harun sedikit melintir dalil untuk menasehati, namun apa mau dikata pelajaran PAI yang hanya 2 jam seminggu lebih cepat ku lupakan dibandingkan pelajaran Matematika Pak Hendro yang seminggu bisa 4-6 jam.
Yups sejak saat itu aku semakin semangat belajar dan rajin latihan pramuka. Ketika kau tahu betapa bahagianya bisa menjadi anak Pandu maka kau akan berlatih segiat mungkin walau tubuhmu harus beradu dengan terik mentari.
********
Juara?
Waktu berjalan dengan cepatnya tak terasa penerimaan raport semester I pun tiba. Betapa aku tersentak kaget ketika Ibuku Musyarofah memberitahuku tentang hasil belajarku yang memuaskan yaitu peringkat pertama dikelas. Wah hal ini seperti mimpi di siang bolong. Aku merasa tidak percaya akan kemampuan diriku sendiri. Atau mungkin karena aku yang merasa malu terus-menerus sehingga berusaha memperbaiki diri dengan giat belajar dan mengerjakan semua tugas dengan baik tanpa peduli dengan perolehan nilai apapun. Semua itu dikarenakan sindiran pembina apel penutupan ekskul pramuka yang begitu menyudutkanku. Ditambah lagi beredarnya berita hangat tentang Pangeran dan cinderella yang membawa namaku dan nama Sarah dikenal diseluruh SMPN 02 Bumiayu. Tentu saja hal itu membuatku kehilangan seluruh sikap cuek bebek ku selama ini.
Betapa tidak malu, mulai dari teman seangkatan sampai kakak kelas saja yang sempat bertemu denganku menyapaku begini, “ Heyy.. ohya kamu siswa yang ada dalam cerita Pangerang dan Cinderella itu ya? Terlebih lagi teman-teman sekelasku yang membullyingku habis-habisan. Hal itu seperti berulang kali terdengar di telingaku, sehingga aku pun menjadi phobia dengan kata ‘Pangeran dan Cinderella’, merasa muak dengan kalimat itu. Maka ku putuskan untuk menjadi siswa yang cerdas, unggul, disiplin, suka menolong, baik hati, serta rajin menabung dan tidak sombong. Itulah yang mulai menginspirasi pikiran positifku. Bukan main memang sulitnya minta ampun,untuk mengamalkan gagasan itu. Aku juga sempat berpikir dengan keadaan Sarah sendiri, apakah dia juga merasa tertekan seperti aku.
“Ah masa bodoh lah, itu bukan urusanku yang terpenting sekarang aku menjadi siswa yang disiplin, hehehe”. Ucapku dalam batin.
********
Setelah berselang 2 minggu libur semester yang ku gunakan untuk banyak memancing belut, memelihara ayam bangkok, bermain layang-layang, bermain kelereng, bermain ketapel, bermain aburan gambar, bermain cimpatahan berupa potongan genting yang ditumpuk-tumpuk, pastak bola mirip kaya main golf, patok lele atau gatrik, adu gangsing dari tutup botol, pletokan dari bambu, nyeser ikan di wangan (sungai kecil), memodifikasi sepeda BMX kemudian juga bermain bola sampai magrib dan berbagai permainan lainya yang sungguh masih mengasyikkan dimainkan di Padukuhan Karanganggung, Desa Jatisawit, Kec. Bumiayu, Kab. Brebes, Prov. Jawa Tengah, Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berikutnya tiba saatnya memasuki rutinitas kegiatan belajar mengajar setelah libur panjang semester. Hari-hari berganti dengan cepat, sepertinya liburan semester ini tidak ada rasanya. Memasuki minggu pertama awal semester II tepatnya hari senin untuk pertama kalinya diadakan upacara bendera, namun di upacara bendera kali ini adalah spesial karena sekaligus pengumuman rangking 10 besar pararel dari masing-masing angkatan kelas VII, kelas VIII, dan kelas IX.
Inilah moment yang paling mendebarkan jantung siswa-siswi berprestasi menunggu sebuah apresiasi hasil buah belajarnya selama setengah tahun. Tapi semua itu tidak berlaku bagiku. Kali ini Bapak Kepala Sekolah Samsul S.Pd., M.Pd. menjadi pembina upacara sekaligus nanti memberi apresiasi kepada 10 besar pararel pada masing-masing angkatan kelas VII, kelas VIII, dan kelas IX.
Untuk pembaca nomor urut nama-nama siswa atau siswi yang memperoleh rangking pararel adalah Ibu Yuningsih S.Pd. Beliau selaku Humas sekaligus guru Biologi. Bu Yuningsih memulai pengumuman itu dari angkatan kelas VII berlanjut hingga kelas IX. Beliau menyebutkan satu-persatu nama siswa berprestasi itu dari urutan ke sepuluh pararel hingga pararel pertama . Terdengar sorak ria teman- teman bertepuk tangan ketika nama siswa atau siswi berprestasi disebutkan.
“ Berikut ini nama peringkat paralel 10 besar angkatan kelas VII;
- “ Peringkat kesepuluh besar diraih olehhh....???
Ananda Santi Aprilia dari kelas VII D.”
- “ Peringkat kesembilan besar diraih olehhh.....???
Ananda Puji Astuti dari Kelas VII H.”
- “ Peringkat kedelapan besar diraih
olehhh.....??? Ananda Ramadhani Setia Wati dari Kelas VII G.”
- “ Peringkat ketujuh besar diraih olehhh.....???
Ananda Soffia Liana dari Kelas VII C.”
- “Peringkat keenam besar diraih olehhh.....???
Ananda Rahma Ayuningtyas dari Kelas VII F.”
__ADS_1
- “Peringkat kelima besar diraih olehhh.....???
Ananda Zaenab Permata Sari dari Kelas VII B.”
- “Peringkat keempat besar diraih olehhh.....???
Ananda Nur Saudah dari Kelas VII B.”
“Untuk peringkat pararel tiga sampai pararel satu ini spesial... Saksikan setelah pandiwara berikut ini” Ledek Bu Yuni.
Ketika itu para peserta upacara riuh bersorak memprotes tindakan Bu Yuni. Aku juga melihat Bu Yuni seperti berbincang dengan beberapa Bapak dan Ibu guru. Tak terkecuali pula didalamnya ada Bapak Kepala Sekolah yang ikut berdiskusi lirih tanpa bisa terdengar oleh seorang pun peserta upacara. Saat itu pula aku mulai sedikit terpancing emosi setelah tahu seluruh rangking pararel diborong oleh putri, tidak adak putra sama sekali. Aku yang tadinya bersikap cuek masa bodoh kini mulai tersinggung, ketika tidak ada putra satupun yang meraih 10 besar pararel. Padahal kata Ibu aku rangking pertama dikelas VII A, masa tidak masuk 10 besar sama sekali. Ditambah lagi hal yang semakin membuat kesal adalah ketika berturut-turut pararel 5 dan 4 diraih kelas B, kelasnya Sarah Aulia Putri.
Kemudian aku juga sempat bertanya-tanya dalam hati tentang sarah.
“Padahal kata teman-teman dia aktif dikelas?
Apakah mungkin? Sarah hanya pembual saja sehingga tidak sempat meraih posisi 10
besar sama sekali ? Ahh itu kan bukan urusanku”.
Aku jadi bertanya pada diriku sendiri kemudian aku jawab sendiri, wah benar-benar pikiranku saat itu menjadi buyar tak karuan entah kenapa. Setelah Itu aku merenung mencermati perkataan Ibu yang mengatakan bahwa aku rangking pertama di kelas VIIA?
Ahh apa mungkin Ibu hanya menghiburku dengan mengatakan seperti itu ? Jujur aku belum pernah sama sekali melihat nilaiku, bahkan menyentuh raport pun aku belum sempat sama sekali. Padahal telah dua minggu lebih rapot itu dibagikan wali kelas kepada Orang Tua murid. Rapot itu masih tergeletak di tempat belajarku setelah Ibu menunjukannya pada Ayah.
******
Suara mikrofon mulai bersua lagi menunjukan Ibu Ningsih hendak melanjutkan pengumuman nama siswa yang menduduki posisi 3 besar pararel untuk angkatan kelas VII. Kali ini seluruh peserta upacara sangat penasaran siapakah yang berhasil memperoleh posisi 3 besar pararel tersebut.
“Okeh Ibu lanjutkan siapakah siswa spesial yang berhak meraih 3 besar pararel tersebut? Mereka adalah...? Ucap Bu Ningsih membuat seluruh peserta upacara penasaran.
“ Mau tau atau mau tau banget? Ledek bu Ningsih
“ Huhhhhh.. Huhhhhh.. Ayo jangan kelamaan Bu!! Protes sebagian besar peserta upacara penasaran.
“ Untuk peringkat pararel ketiga berhasil diraih oleh... Ananda??
“ Ayo gak usah kelamaan Bu!! Potong seorang siswa dengan berani dan lantangnya.
“ Anandaaaa..... Zulmi Ilmawan dari kelas VII
A.” Ucap Bu Ningsih Tegas.
Bertepuk tangan dan bersorak rialah seluruh peserta upacara. Sementara aku diam saja. Tapi aku sedikit agak lega kiranya mendengar Zulmi teman sebangkuku dari kelas VII A berhasil meraih pararel dua. Kali ini aku pun mulai berdebar penasaran karena sempat beberapa minggu yang lalu setelah pembagian rapot Zulmi bercerita padaku bahwa dia berhasil meraih rangking 2 dikelas. Selanjutnya dia juga bercerita bahwa akulah peraih rangking satu di kelas itu, ya aku percaya kalau dia rangking 2 dikelas karena dia terkenal rajin ikut Bimbel.
Akan tetapi, aku tidak percaya kalau aku sendiri yang rangking satu, karena aku memang tidak pernah ikut Bimbel sama sekali, belajar saja kalau ada tugas atau kalau lagi pengin belajar ya belajar.
Cerita itu persis apa yang Ibu sampaikan padaku 2 minggu lalu. Tapi, apakah cerita itu benar-benar nyata? Sebab, aku memang belum melihat nilaiku sama sekali sejak Ibu meletakkan rapot itu dimeja belajarku. Kemudian aku tiba-tiba terbangun dari lamunanku ketika Ibu Ningsih melanjutkan pengumuman peringkat pararel itu.
“ Untuk kali ini spesial langsung kami umumkan peringkat kedua dan pertamanya, Pararel kedua dan pertama berhasil di raih oleh.....?? Ananda.......
“ Ayo siapa Bu... ? Ayo Cepat.. Cepat!! Ayo
Bu..!!! Ayoooo Cepattt Buuuu!! Teriak hampir seluruh peserta upacara dengan rasa
penasaran akutnya.
__ADS_1
“ Pararel kedua dan pertamanya adalahhh...
Anandaa?? Sang Pangeran dan Cinderella” Ucap lugas Bu Ningsih.
Dalam sekejap semua peserta upacara hening sejenak, dan kemudian ritme suasana berganti menjadi sorak-menyorak ramai beserta gemuruh tepuk tangan, siulan kemesraan, canda tawa cekikikan yang sangat meriah melebihi hiruk pikuk berisiknya pasar kampung.
“ Huhhh.... Sous wite.... huhhhh...
Prokkkkk..... Prokkkk..... Prokkk.. Pangeran dan Cinderella...??? Viuwittt... Viuwittt... hehehh.... Hahahh..
hihiiiiiii, huhhuhuu..... Huhhhhh Sous Wite Pangeran dan Cinderella”. Teriak histeris sebagian peserta upacara bener-benar membakar suasana.
“Ya benar merekalah Pangeran dan Cinderella yang berhasil meraih pararel kedua dan pertama. Ananda Ihsan as-Sidiq dan Sarah Aulia Putri silakan untuk maju ke depan”. Panggil Bu Ningsih.
Dalam hati aku masih sangat malu dan bertanya-tanya kenapa peristiwa seperti ini bisa terjadi berkesinambungan. Apakah memang sudah menjadi suratan takdir? Ketika teman-teman bersorak ramai aku semakin tertekan walaupun ada sedikit kegembiraan bercampur kegelian.
Aku bergumam kok bisa yah aku meraih rangking dua pararel berurutan dengan Sarah sebagai pararel pertamanya. Beberapa detik aku berusaha mengusir pikiran negatif ku demi menyambut euforia kebahagiaan Bapak dan Ibu Guru, terkhusus Kepala Sekolah Bapak Samsul. Aku tidak mau terlihat bodoh ketika pemberian penghargaan di depan semua peserta upacara nanti. Ku beranikan diri untuk berdiri menuju ke depan lapangan yang didekorasi sebagai podium sederhana. Dengan langkah gagah penuh percaya diri ditambah senyuman manis membuatku penuh pesona.
Ketika berjalan aku melihat senyuman Sarah begitu merekah diterpa sinar mentari pagi laksana mutiara mermaid yang memantulkan cahaya bias seutuhnya. Aku terus berjalan hingga menuju podium dan menyapanya.
“ Hei, ternyata kamu memang cerdas juga ya sarah, pas seperti kata orang-orang. Tak salah aku mendengarnya”. Ucapku pelan.
“ Terima kasih. Maaf waktu itu aku salah sangka padamu dengan menganggap mu sebagai siswa semrawut yang tak tau aturan Eh ternyata anggapanku keliru tak beralasan, buktinya hasil belajarmu bisa sedikit bersaing denganku”. Ujar Sarah sedikit gengsi dan menyindir.
Angin pagi bersiul dengan sepoi meliuki dedaunan hijau di taman-taman kecil sebelah utara lapangan. Suara burung gereja pun ikut berkicau meramaikan euforia pengumuman juara pararel hasil belajar seluruh siswa. Matahari pagi mulai pula menyengatkan cahaya hangatnya ke seluruh permukaan kulit. Kegiatan ta’aruf pada pertemuan pertama di semester 2 akan segera dilaksanakan. Hari-hari baru dalam menuntut ilmu mulai memasuki babak kedua episode kelas 7 ini.
Benar sekali rutinitas belajar mengajar akan segera menemani kami dalam 5 bln lebih kedepannya. Hiruk pikuk beban tugas akan segera menghampiri kami tentunya. Itulah penuntut itu namanya kalau tidak maka tak ada gunanya pula sekolah tanpa ada masalah yang harus diselesaikan.
“Tak ku sangka hasil hasil belajarku diluar dugaan. Memang pepatah mengatakan usaha takkan membohongi hasil”.ucapku puas dalam hati.
********
Pangeran?
Tak disangka ternyata Sarah pun berpikir mengenai beberapa hal ya unik dan lucu untuk bisa dicermati. Angin berhembus sepoi-sepoi mengibaskan imaji rindu dalam kalbu anak hawa tapi benarkah? Itu terjadi padanya?Mungkinkah sarah berpikir dan berbicara kepada dirinya sendiri?
Seperti, manusia sedang mengobrol dengan sahabat jiwanya sendiri untuk meminta sebuah pertimbangan. Begitulah manusia memiliki sifat yang unik dan sulit ditebak.
*******
Ada yang aneh dengan ku kenapa hatiku berdebar-debar tatkala aku bertemu dengan cowok semrawut itu. Ia ganteng sih… Tapi…? Agak sedikit kayak gimana gitu. Ikhsan As-Sidiqqqq! Cowok tengil yang penuh intrik gila. Ia benar-benar membuatku malu berkali-kali. Uhhh dasar! Ikhsan!!!
Hal yang paling membuatku malu adalah ketika Ia menabrak ku selepas latihan Pramuka. Sungguh cowok tengil yang pernah aku temui. Tapi kadang ada yang unik juga kenapa cowok yang pertama kali terlihat semrawut kayak dia bisa berubah menjadi rajin belajar. Heran aku padanya? Ahhh masa bodoh lah….
Aku semakin bingun memahami sikapnya. Ahhh….. Tapi tetap saja aku jengkel dan gemas sekali padanya. Kenapa sampai dia bawa-bawa aku segala jadi buah bibir kisah Pangeran dan Cinderella? Makin lama makin hits lagi. Kadang aku gemes-gemes gimana gitu. Dasar cowok tengil!!!!!
Aku tengiang-ngiang melihat wajahnya dalam bayanganku. Ahhhhh tidak… Oh My God. No… No….. Tapi kalau dipikir kenapa sih dia sampai bisa dapat angking Pararel 2 segala? Padahal kan dia nggak jelas dan nggak pernah juga kelihatan ikut Bimbel? Eh tapi tadi pas senyum padaku, cool juga.. ya??? Aduh aduh kok aku begini…. Ya ampun Sarah….. Sarah…. Kau ini kenapa?
“Ah aku jadi kepikiran nih kenapa cowok tengil itu dikatakan pantas jadi Pangeranku? Trus aku jadi Cinderella gitu? Kenapa gossip itu semakin menghangat? Kenapa kamu nggak bisa jawab Sarah? Ayo Jawab?” Tanyaku pada diriku sendiri didepan cermin
“Ah sudah… sudah… Kamu ini Sarah… kenapa aku malah kagum sama cowo tengil itu.” Aku menepis anganku sendiri..
Mending sepulang sekolah aku merapikan kamar dan tempat tidurku. Terus rebahan sambil nunggu Sholat ashar. Ohya aku lupa kalau aku juga harus buat catatan kecil untuk agendaku di hari esok. Semangat Sarah……!!!! Ihhhh dasar aku!!!
***********
__ADS_1