Cinta Diantara 3 Bunga

Cinta Diantara 3 Bunga
07 Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) 02


__ADS_3

  "SPENDA BUM... kami datang disini!


  "SPENDA BUM... kami datang menjadi!


  "SPENDA BUM... kami datang beraksi!


    "HOM palahom pala heaaaaaaa....


    "HOM palahom pala heahooooo....


     "HOM palahom pala heaaaaaaa....


     "HOM palahom pala heahooooo....


  "We are SPENDA BUM we are Is the best...


  "We are SPENDA BUM we are Is the best...


   "We are Is the best...


   "We are Is the best...


   "We are Is the best...


  "SPENDA BUM.... kami datang disini!


  "SPENDA BUM... kami datang menjadi!


  "SPENDA BUM.... kami datang beraksi!


   "SPENDA BUM.. kami datang !


    "SPENDA BUM.. kami menjadi!


    "SPENDA BUM.. kami beraksi!


     "KAMI DATANG, MENJADI ,BERAKSI!!!


     "KAMI DATANG, MENJADI ,BERAKSI!!!


     Lantunan yel yel membakar seluruh peserta UKT sambil terus berjalan menyusuri jalan raya pedesaan yang dikelilingi oleh perbukitan.


     Suasana tawa dan canda disela perjalanan menghiasi langkah kami.

__ADS_1


******


Pov Sarah


Beberapa saat lalu tadi pagi.....


Hari ini merupakan hari yang cukup spesial bagiku. Ada sebuah kenangan yang akan aku ukir bersama Ikhsan dan teman-teman. Bagaimana tidak hari ini aku akan mengikuti kegiatan UKT yang akan dilaksanakan di lapangan Tangsi (Gajah Mungkur)


"Aku mengharapkan sebuah keseruan yang bisa mengukirkan sejarah bagiku." Monolog Sarah.


"Entah mengapa aku semakin hari semakin menyukai Ikhsan. Aku tak menyangka semua ini bisa terjadi begitu saja." Monolog Sarah.


"Dia yang menembak ku dengan lantunan puisi yang begitu manis, cewek mana coba yang nggak nerima tembakan model gitu, Hehehe." Monolog Sarah sambil tertawa.


Pagi itu tanggal Kamis, 10 Juli. Aku bangun pagi-pagi dan sholat shubuh terus aku tak lupa bilang pada Ibuku. Untuk membuatkan ku menu bekal menu spesial nanti siang.


"Bu, punten (mohon) buatin aku menu spesial donk sing hari ini, hehhehe." Ujar Sarah pagi itu pada ibunya ketika sedang mengobrol di dapur, ia sedang membantu ibunya menyiapkan Sarapan pagi.


"Siap putri Ibu yang paling cakep! Mau buat kamu atau buat Ikhsan ni? Ujar ibu sambil tersenyum padaku. Disatu sisi aku juga paham dengan gurauan ibu yang meledekku.


"Ihhh, Ibu nggak ko cuman buat aku saja kok sama temen putri satu reguku. Kan nanti siang aku bisa dikirimi Ibu makan siang itu." Ujarkan ngeles lagi ledekan ibu.


"Aduh anak Ibu udah pandai bohong ni ya? Sudah nda usah alasan orang ibu juga tahu kok hehehe, Ya sudah terserah kamu aja Sarah." Ujar Ibu pasrah padaku.


Suasana pagi itu aku rasakan begitu indah tidak seperti biasanya. Entah mengapa pagi ini aku lebih bisa menikmati sabda alam pagi ini.


Sejuknya udara pagi dibukan Juni. Duhh dingin dan sejuk bersamaan. Bulan Juli ini bulan peralihan dari musim hujan menuju musim terang. Jadi ada sedikit curah hujan, tapi hanya sekedar menyiram tanah dan tetumbuhan saja.


Kulihat suasana sekitar begitu syahdu. Burung berkicau dengan nyalangnya, angin pun berhembus sepoi-sepoi.


Saat ku duduk diteras rumah dan kunikmati secangkir teh, ku merasa seakan menyatu dengan alam, sungguh sangat berbeda dengan hari-hari biasanya.


Terlihat tetesan embun pada bunga-bunga yang aku rawat bersama ibuku. Dari ujung dedaunan itu terlihat menawan embun itu usap begitu jernih seolah menggambarkan suana hatiku yang sedang bermekaran.


Ku seruput teh dalam cangkirku lagi, dan ku nikmati suasana pagi hari dengan semangat jiwaku.


Selepas aku membantu ibu di dapur aku sempatkan minum teh sejenak di teras rumah yang terdapat beraneka ragam bunga didepannya, setelah itu baru ku sempatkan untuk menyapa dan menelepon Sani.


 Pagi ini aku telephon terlebih dahulu Ikhsan. Tapi justru beberapa panggilan malah tak terjawab. Aku sedikit kecewa akan hal itu.


Namun syukurnya setelah beberapa saat kemudian Ikhsan pun menelepon balik aku. Sungguh berbunga-bunga hatiku, rasanya semriwing seperti angin menerpa tubuhku, satu kata sejuk.


Assalamu'alaikum, Hallo?" Ucapnya padaku diujung saluran

__ADS_1


"Walaikumsalam, Hallo Kanda?" Jawabku sedikit manja.


"Ehhh. Iyya Dinda". Membalas panggilan sayangku.


"Cie.. Yang lagi Kanda-Dinda Han..." Terdengar suara perempuan yang bisa dipastikan itu bundanya Ikhsan


Dering telephon sejenak senyap, mungkin saja ikhsan reflek me-mute loud speakernya, namun itu tidak ada gunanya karena aku juga toh sudah mendengar ledekan Bunda padanya. Aku pun malu-malu gimana gitu, Ikhsan di ledek Bunda tapi aku juga merasa terkena ledakan itu.


Yupz panggilan Kanda-Dinda berawal dari candaan ku dengan Ikhsan saat ku meledeknya, eh tapi malah jadi panggilan sayang sampai saat ini. Sungguh lucu tapi romantis.


"Ada apa Kanda?" Tanyaku pura-pura bingung


"Nggak ada apa-apa, Dinda, heheheh." kilahnya padaku.


"Ohya gimana kamu sudah siapin semua perlengkapan dan perbekalannya?" Tanyaku padanya mengalihkan perhatiannya. Aku takut dia justru malah menanyakan keanehan ku tadi.


"Sudah Alhamdulillah, ohya kamu sendiri gimana Din, sudah kamu siapin semua?"


"Aku juga Alhamdulillah sudah siap nih, tapi sebagian barang nggak aku bawa ke SPENDA (SMP N 2), toh ujungnya juga kan nanti lewat depan rumahmu, Hehehe.."


"Ohya Ya... Lokasinya kan di lapangan Desamu ya? Diatas rumahmu kan?"


"Yup betul... Jangan pula setelah acara mampir ya? Ujarku mengajak Ikhsan


"Siap Dinda, ntar aku ajak Zulmi sekalian ya?


"Eh.. Zulmi? Ya Sudahlah ngga papa, rame-rame juga boleh." Tawarku cukup kecewa.


" Iyya siap Dinda, udah dulu ya aku mau sarapan pagi? Jangan lupa kamu juga sarapan ya cantik?..." godanya ringan padaku.


"Iyya siap LAKSANAKAN.. Ikhsan Ku yang tampan. Bay... Assalamu'alaikum. Sampai ketemu di SPENDA." Balasku cukup genit menggoda Ikhsan lewat ujung telephon.


"Wassalamu'alaikum.. See you in SPENDA...


"Tutt..tutt.. Terdengar suara telepon tertutup.


Hemmm, sungguh berbeda hidupku kali ini banyak hal baru yang kurasakan saat kukenal Ikhsan. Mulai dari kekonyolannya hingga kejeniusan yang absurd. Tapi entah kenapa aku juga semakin menyayanginya.


Biarlah waktu berlalu, aku berharap dan bermimpi bisa melewati hariku-hariku bersamanya. Bisa melewati masa-masa sulit bersama.


Ya, ku harap juga kita bisa sekolah lagi sama-sama saat SMA atau bahkan sampai kuliah juga bersama satu kampus, atau bahkan lebih-lebih sampai menikah, punya anak dan menua bersama.


"Aduh kok aku jadi banyak ngayal ya?" Ujarku mencemooh diriku sendiri.

__ADS_1


****


__ADS_2