
Aktivitas selanjutnya aku dan Zulmi (sahabat satu kampung dan satu bangku) ingin camping ke puncak kebun teh Kali Gua, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes tepatnya di puncak Sakub. Kali Gua termasuk salah satu destinasi pariwisata di Kabupaten Brebes, daya tarik utamanya adalah gua peninggalan Jepang yang dibangun pada masa penjajahan dan juga kebun teh yang menawan.
Tujuan camp kami adalah puncak Sakub, tepat di posisi paling tinggi perbukitan kebun teh. Di Sana kami yang beruntung bisa melihat Sun Rice and Sun Set ditambah dengan potret Gunung Slamet yang begitu gagah. Panorama lembah pegunungan dibalut keasrian alam yang memukai membius indera mata untuk merasakan sensasi surga dunia. Hawa dingin daerah puncak merambah meresap kedalam pori-pori kulit. Hamparan hijau perkebunan teh, ukiran bukit-bukit menawan, serta berdiri kokoh gunung terbesar di Pulau Jawa, semua itu melukiskan tinta sketsa alam ciptaan Tuhan Yang Maha Agung. Kelembutan dan keramahan penduduk memberikan pesona suci, beriringan dengan itu kicauan riuh burung bernyanyi menambah kenikmatan hidup tersendiri.
Sekitar bada’ dhuhur hari Rabu kami berangkat berboncengan berdua menuju puncak dengan Kawasaki KLX 250 cc 2008 menyusuri jalan berliku menuju puncak. Walau kami belum punya SIM tapi kami nekad itulah sifat anak muda selalu impulsif dan penuh ego. Jalan yang menanjak dengan tikungan curam semakin memacu adrenalin kami. Aku dan Zulmi bergantian mengendarai motor KLX hingga sampai kebun teh tepat sebelum adzan Ashar berkumandang. Untuk parkir motor kami parkirkan di tempat penitipan.
Sebelum kami mendaki kepuncak bukit Sakub tak lupa terlebih dahulu kami mengambil air wudhu dibawah. Sebab, kami berencana menunaikan sholat ashar berjamaah diatas puncak Sakub. Betapa nikmatnya bisa bersujud menghadap Sang Pencipta ditempat yang menakjubkan, diatas ciptaan Maha Karya-Nya kami melantukan puji kepada Rabb Semesta Alam. Moment luar biasa ini membuat kami semakin mengagumi Cahaya Keindahan-Nya, karena Allah-lah pemilik segala keindahan.
*****
Malam bertabur bintang terus menunjukan eksistensinya. Aku dan Zulmi terpana melihat keindahan semesta yang begitu menakjubkan. Gugusan bintang membentang begitu elok untuk dipandang, semilir angin malam juga ikut meramaikan suasana malam. Melodi malam riang bersautan ketika jangkrik bernyanyi riang, suara tikus, suara burung malam, suara cenggerek, semua membentuk alunan musik natural yang nyaman sekali didengar.
Api unggun pun masih terus menyala menghangatkan dan menerangi sekitar tenda. Pelita api memang menghangatkan tubuh kami yang beku kedinginan, tak lupa pula kopi hangat merambah mengaliri tenggorokan kami dan menambah sensasi kedamaian hidup di alam surgawi. Malam cerah beribu bintang terus menaburkan keindahan cahyanya. Zulmi pun kemudian bernyanyi riang diiringi suara gitar. Setelah itu kami menikmati sensasi indahnya malam di Kali Gua.
“ Kopinya nih San udah aku buatin? Tanya Zulmi padaku.
“ Okeh boleh thanks ya.” Jawabku ringan.
Zulmi tersemnyum ringan. “ San aku bawa catur mini nih, kayaknya enak kalau kita main catur malem-malem dipuncak kayak gini, apalagi ditemani sinar bulan dan bintang. Gimana kamu mau main catur nggak nih? Kayaknya asyik banget kalau main catur sambil ngopi kayak gini. Aku jdi ngerasa rileks banget kita bisa ngecamp liburan kali ini.” Zulmi memberondong pertanyaan padaku.
“Boleh siapa takut”. Kemudian Aku menantang Zulmi dengan suara keberanian “ Ayo kita main catur yang kalah buat puisi gimana? Tantangku pada Zulmi.
Kemudian Zulmi melambaikan tangan “ Wah aku kan nggak bisa buat puisi San? Oleh karena itu aku yakin kamu yang pasti kalah San? Hehehh. Aku udah punya stategi jitu yang belum kamu ketahui. Aku jamin dejh kamu kalah...” Zulmi terlihat percaya diri banget.
“Ets selama ini kamu belum pernah memenangkan duel catur melawanku. Biasanya juga paling 2-1 atau kadang 2-0 kadang 3-1 atau pernah 3-0 kan?? Wkkekekkk.” Aku tertawa terbahak-bahak sambil mengejek Zulmi.
Wajah Zulmi cemberut seakan menantang dan yakin sanggup mengalahkan Aku dengan sekor telak. “ Malam ini kamu pasti keok San! Aku jamin kamu kalah dan harus buat puisi sesuai tantanganmu sendiri! Siap ya San? Nadanya serius.
“ Okeh mari kita buktikan. Hahahah.” aku tertawa geli.
Malam sampai pada puncak mungkin sekitar jam 11.30. Angin malam berhembus dengan puncak dinginnya. Kali ini susu jahe plus roti tawar lapis coklat siap menjadi amunisi penghangat malam selanjutnya. Malam semakin larut begitu pula permainan kami masih terus berlanjut. Kali ini skor masih 2-2, rupanya Zulmi telah berevolusi dahsyat dalam menerapkan strategi bermain caturnya. Zulmi telah belajar buku khusus cara jitu mematikan lawan yang dia beli di Gramedia Yogyakarta saat dia dan Ayahnya liburan ke Jogja pasca UAS semester 2 beberapa hari yang lalu.
“ Skak Mat San! Yeyey. Huu huu. Lalala. Mati kan? Zulmi menari kegirangan.
Aku terkejut meloncat dari sikap dudukku.“ Waduwww! Kok bisa ya? Aku nggak lihat itu? Aku benar-benar frustasi kali ini.
“ San, kan udah ku bilang aku pasti menang San! Ya Kan? Tadi tuh cuman trik aja biar 2-2. Heheh.”
Aku merasa jengkel dan terendahkan. “Wah paling juga gak sengaja”. Jawabku sinis.
“ Kalau udah kalah ya kalah aja San. Nggak usah banyak alasan. Sorry ya sekarang kamu levelnya dibawahku. Semua itu berkat buku ini (Cara Jitu Mematikan Lawan dalam Ber Catur) semuanya ada 3 jilid. Yeyey aku menag”.
“Aku pinjem donk?
“Ets nggak bisa. Hahahahahh. Beli sendiri.” Ledek Zulmi padaku.
“ Okeh fine besok gue beli langsung sampai jilid 3 sekaligus. Jawabku tegas.
“ Ets jangan lupa buat puisinya ya San? Bada’ subuh harus sudah jadi. Kalau nggak jadi lo pulang jalan kaki dari sini ke Bumiayu. Wkwkwk. Bisa mampus lu hahahah. Good Night Ikhsan.” Zulmi melambaikan tangan kemudian masuk kedalam tenda dan memulai hibernasi pesis seperti kepompong untuk melindungi hawa dingin.
Kali ini Zulmi benar-benar memojokkan ku. Ya aku kalah melawannya dalam pertandingan akbar catur di puncak sakub pada malam bertabur bintang dan cahaya rembulan. “Gublak aku harus buat puisi nih.” Keluhku dalam hati. Akupun akhirnya tidur dalam suasana kekalahan yang mencekam.
Berlanjut kami bangun malam dan sholat Tahajjud 11 rakaat di imami oleh Zulmi karena memang Zulmi punya banyak hafalan ditambah lagi suaranya yang merdu mirip syeikh Misyari Rasyid. Sejuk nian sukma dan jiwa ketika sholat malam di puncak walaupun kami hanya tayamum.
“ San bangun yok kita sholat malam ini udah jam 02.30! Bangun Woi Woi! Zulmi membangunkanku yang masih kedinginan dalam sleeping bag.
“ Okeh bentar zul”. Jawabku malas. “Waduh apa-apaan ni kamu kok nyipratin!! aduh dinginnn!! Gila lo zul dingin banget tau!” Hardikku menggerutu pada sikap Zulmi yang semena-mena.
“ Woi bangun San? Sekarang kita harus tayamum trus sholat malam biar asyik San? Gimana mau tidur lagi? Gue siram pake sebotol aqua mau?
“ Iyyyya-iyya Ustad .
“ Habis sholat jangan lupa buat puisinya. Wkwkwkwkk.”
“ Waduh Gubrak!! Dasar ada-ada aja kamu Zul.”
“Lah yang nantang buat puisi siapa???” Hardik zulmi padaku.
Kami pun akhirnya sholat malam dengan syahdunya diatas puncak Sakub. Lantunan ayat suci itu benar-benar menghujam kedalam kalbu. Angin, rembulan, gugusan bintang, hamparan kebun teh, awan berarak, semua itu menjadi saksi ketika kami pernah bersujud menghadapNya pada dingin malam pekat yang menggigit. Syahdu terasa, ketika manusia hidup di alam lepas memang benar-benar merasakan kedekatan dirinya dengan Sang Pencipta.
********
“ Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia, walau berat hadapilah, meraih cinta di dunia.... (nada dering penggilan masuk)
“ San... Ada telephone nih dari temanmu, coba kamu angkat tuh.” Ujar Ibu.
“ Dari siapa Bu? Tumben pagi-pagi ada yang telephone”
“Dari Sarah namanya. Tuh angkat aja mana tau penting. Ya udah Ibu mau kedapur dulu.”
“ Okeh makasih Bun”.
Aku bingun tumben Sarah telephone aku pagi-pagi bada’ shubuh. Jarang sekali ada temen yang telephon, paling cuman biasanya miss call. Aku bertanya-tanya dalam hati, ada sesuatu yang teramat penting kah?
“Assalamualaikum Hallo? Ohya Sar ada apa tumben telephon? Sapaku dingin.”
“ Walaikum salam San. Nda Papa San”. Disertai rasa malu-malu.
“Maksudnya apa Sar?
“Makasih ya buat puisinya. Bagus San. Pagi ini aku baru berani ngomong sama kamu setelah baca puisi itu.”
“ Puisi? Tanyaku Kaget.
“ Ya San bagus banget.”
__ADS_1
“ Trus gimana Sar?
“ Iyy...yya San Aku ma...uu.. jaa..di...an.. sama kamu.”
Tittt... Titt... Titt....
“ Hallo Sarah.. Kok dimatiin?
Kok jadian? Maksudnya apa? Puisi yang mana? Perasaan aku gak pernah nulis puisi buat Sarah? Kok tiba-tiba mau jadian. Waduh kok jadi begini ya. Aku juga bingun. Wah pasti ada yang tidak beres nih.
********
Jadian Sama Ikhsan
“ Sarah ini ada surat titipan dari Ikhsan. Baru ditulisnya kemarin pas kami ngecamp di Sakub..
“ Ohya Makasih Zul. Surat apaan Zul?” Tanyaku padanya.
“Special loh. Baca aja sendiri. Bye bye….” Secepat kilat setelah memberikan surat itu padaku Zulmi langsung meninggalkanku
“Ahhh….Aku dapat surat dari Zulmi katanya titipannya Si Ikhsan. Kata Zulmi Ikhsan buat surat itu khusus buatku di Puncak Sakub Kaligua. Aduh hatiku berdebar-debar nih. “Gimana Sarah baca nggak nih? Aduh aku bingun nih. Udah kamu baca aja Sarah! Ngapain kamu takut! Akhirnya aku memberanikan diri untuk membaca surat itu. Bismillah…. Aduh gimana??? Kamu berani Sarah Ayok….!”
Dear Honey
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”
”Di atas puncak ini aku ingin berseru... Terpesona oleh jingga pelangi
“Diatas puncak ini aku ingin berseru....Terbuai oleh rinai awan biru
“Diatas puncak ini aku ingin berseru... Terpesona oleh sabda cinta
Duhai pujangga... Duhai Penyair... Dendangkanlah pesan kalbu.. Biarlah angin mengirimkannya pada bunga terindah dari taman firdaus...
Angin berhembus sepoi menambah dingin udara pagi... Butiran cinta ini mengembun pada sosok penghuni nirwana.....
Siapakah gerangan ...Duhai Penguasa Semesta.
Siapakah Separuh Tulang Rusuk Itu.
Dewi kayangan kah atau bidadari Surga?
“ Aura cahyanya menyilaukan mata pujangga... Aku tak tau siapa dia?
Awan kelabu, angin malam, hujan rintik, tak sanggul menghalangi sinarmu wahai rembulan?
Pelangi esok nan cerah... Akan menggoreskan imajiner romansa kasih sang pujangga.
Ya kuharap sabda pagi ini sampai padanya.
Aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya... Aku ingin melihat semesta bersamanya....Aku ingin mengelilingi 5 benua dengannya..
Ya apakah kau mau?????? Atau tidak......? Wahai separuh rusukku??
Ikhsan As-Sidiq, Puncak Sakub
Dini Hari Pukul 04.30 Juni 2008
“Apa kamu sedang tidak bermimpi Sarah?” Plakk aku menampar pipiku sendiri.
Eh benar aku tidak sedang bermimpi. Aduh bagus banget yakin. Gila beneran nggak dia buat surat ini buat aku? Ahh cowok tengil itu. Haruskah dia jadi pangeranku? Aduh aku bingun nih. Gimana? Okeh aku ada ide gimana kalau aku tanya Sari aja. Gimana masukannya.
**********
Pagi ini kabut tipis masih saja nyaman menyelimuti Desa Jatisawit. Cahaya surya memang belum nampak dari ufuk Timur. Biasanya sang surya nampak di ujung Gunung Slamet yang memang tampak jelas dari desaku. Pagi hari ini aku menggayuh sepedaku menuju rumah Zulmi.
“ San kok kamu kelihatan kaya orang bingun gitu sih? Tanya Zulmi padaku.
“ Zul aku bingun nih bro, masa tiba-tiba Sarah nelpon aku mau ja-di-an, maksudnya apa?
“ Syukurlah kalian cocok tuh, mungkin juga jodoh. Heheheh...
“ Maksudmu apa Zul?
“ Nggak papa. Emang kamu lupa atau amnesia San? Kemarin kan kamu buat puisi?
“ Wah jangan-jangan kamu oknum busuknya Zul? Curigaku pada Zulmi.
“ Jangan asem, terong, slada, karo kentang? Wkwkwkwk. Dasar sok polos kamu San.” Seloroh Zulmi begitu saja.
“Maksudnya apaan kok sok polos sih? Wah dasar oknum tak bertanggung jawab. Pasti kamu yang ngasih puisi karyaku itu untuk Sarah? Ya kan Ngaku? Gue gibang lo bro!!! Hardikku pada Zulmi.
“ Lagian kamu buat puisi pas sama momentnya pake cinta-cinta segala. Denger nih ya San! Pas kamu tidur, sebelum aku bangunin kamu tuh ngigaunya manggil-manggil nama Sarah terus. Justru karna itulah aku temanmu yang baik San. Jadi aku kasih saja tuh puisimu untuk Sarah. Teman yang baik kan? Zulmi meledekku sambil tertawa cekikikan.
“Gundulmu Zul! Maksud puisi itu tuh bukan untuk Sarah. Itu cuman inspirasi pagi saja! Eh tapi bener gak? Pas aku ngigau emang aku manggil-manggil nama Sarah? Jangan-jangan kamu cuman cari alasan buat ngibul saja.” Aku bertanya menghardik padanya.
“ Inih aku buktiin rekamannya San kalau kamu gak percaya? Beneran kan kelihatan kamu ngigau treak-treak sampai ada gerakan tanganya lagi? Jelaskan? Apalagi diterangi lampu tenda yang menyinari? Gimana? Hayoo? Hahahahah. Zulmi menghardikku secara telak.
“ Aku nggak ngrasa gitu Zul?
“Namanya juga ngigau ya ngga krasa toh. Tapi kamu nggak bisa ngelak kan dengan video ini? Gimana? Kamu udah jadian sama dia kan?
“Waduh apaan ini aku kan nggak niat nembak dia Zul?
“ Ya udah jalanin aja barangkali takdir!
__ADS_1
“ Baranng kali itu batu, pasir dan lain-lain Zul.”
“ Kasian loh kamu udah kasih harapan padanyan masa kamu hancurkan begitu saja?
“ Wah gak peduli aku soal itu. Besok pas sekolah aku mau jelasin langsung kalau ketemu Sarah sepulang sekolah”. Ucapku datar.
******
Pagi itu adalah sebuah pengumuman tentang peringkat pararel seluruh siswa di SMP N 02 Bumiayu. Seperti biasa acara seremonial itu berlangsung dengan khidmat. Kali ini aku sangat terlalu terkejut dengan pengumuman yang disampaikan oleh Bu Yuningsih.
“Untuk Pararel kedua dan pertamanya adalahhh... Anandaa?? Cinderella Sang Pangeran.” Ucap lugas Bu Ningsih.
Seperti moment tahun kemarin sorak ria begitu padatnya hampi-hampir melebihi kebisingan para demonstran penurunan harga BBM. Tapi disini ada yang lain dalam sekejap aku terperanjat merenung melihat ekspresi Sarah yang sedikit kelihatan sembilu. Aku terdiam ketika di terlihat ada yang berkurang dalam semangatnya. Aku tak heran sebenarnya jika kali ini ketika aku sempat meraih rangking 1 pararel. Namun, sungguh yang membuatku terkejut ternyata disisi lain ada orang yang bersedih diatas kemenanganku.
Setelah menerima penghargaan dari Kepala sekolah dan sorak-sorai dari para siswa dan siswi aku melangkah menuju kelas seperti biasanya. Kini setelah kemenangan belajar aku merasa ada yang kurang dalam hidupku bukan kepuasan yang kudapat tapi ada sebuah rasa bersalah namun aku tak tau apa itu maknanya.
Didalam kelas imajinasiku melayang ke negeri antah berantah. Imajinasi yang merupakan sebuah sketsa daripada bayang-bayang abstrak membentuk kepingan-kepingan film yang terputar di otak. Otakku memproses sebuah kepingan film yang tak tentu begitu saja melintas dalam benakku. Waktu istirahat pun berlalu dengan cepatnya. Waktu pulang sekolah pun begitu cepat berlalu. Bel sekolah tanda berakhir pun membuyarkan lamunan panjangku.
“ Tet tet telotet!! Saatnya pulang sekolah!! “Tet tet telotet!! Saatnya pulang sekolah!! “Tet tet telotet!! Saatnya pulang sekolah!! Bunyi bel memekik begitu membuyarkan lamunanku.
Aku bergegas mempersiapkan diri untuk pulang. Aku bersiap-siap pulang bersama Zulmi. Aku berencara mengajak Zulmi untuk menemui Sarah dan menjelaskan semua bentuk kesalah pahaman yang terjadi.
“ Zul temenin aku nemuin Sarah Yuk? Aku mau njelasin soal yang kemarin itu.”
“ Pergi aja sendiri”. Jawabnya datar.
“ Brother jangan gitu lah. Itu kan gara-gara kamu juga! Ayo pokoknya ikut.
Aku menarik Zulmi dan merangkulnya secara paksa supaya mau mengikutiku menemui Sarah untuk menjelaskan semua yang terjadi adalah sebuah kesalahpahaman. Semua itu merupakan intrik dari oknum busuk si Zulmi, aku tidak berniat menembaknya sama sekali. Ya kali ini Sarah sudah kelihatan keluar dari ruang kelasnya bersama Sari teman sebangku Sarah.
Dengan cepat aku mengambil peluang untuk mengajak Sarah berbicara bersamaku dan Zulmi. Pada saat itu aku memberi tahu terlebih dahulu Sarah. Posisi Sarah memang sedang bersama Sari. Mereka sedang menunggu sebagian siswa pulang dari sekolah setelah melaksanakan Sholat Dhuhur di Mushola kecil Sekolah.
Sebagian besar siswa pun akhirinya pulang. Aku mengajak mereka ke Lobi dekat perpus lantai dua di Sekolah. Letak perpus memang agak jauh dari Mushola sekitar 100 meter lebih. Perpustakaan sekolah kami memang cukup lengkap, terletak dilantai dua sehingga ketika membaca kami bisa sambil merilekskan mata dengan melihat landskap pemandangan sekitar yang dikelilingi sawah, ladang dan perbukitan rindang yang menghijau. Dari situ pula kami biasa melihat hamparan padi saat menguning, gugusan perbukitan, ladang yang membentang, serta awan berarak yang terlihat berjalan disebelah gunung Slamet. Semua itu terlihat samar dari kejauhan.
Tak terasa kami berempat pun sampai di lobi perpus lantai dua yang terlihat sudah sepi. Kali ini Zulmi mulai melakukan tingkah polah untuk meledeki aku dan Sarah.
“ Cie cie, ehem, ehem.” Sebuah intrik dahak yang dibuat-buat.
“ Apaan sih Zul. Tadi aja di kelas nggak batuk.” Gerutuku pada Zulmi
“ Huahhee, ehek ehek.” Sari ikut memotong dengan batuk alay yang dibuat-buat pula.
“ Ini apaan lagi kamu Sar? Ikut-ikutan Zulmi juga hah? Potong Sarah tiba-tiba.
“ Gini aku mau ngomong soal puisi it....
“ Ohya santai aja.” Potong Sarah.
“Cie yang dapat puisi dari Pangeran, baru jadian nie ye?.” Ledek Sari
“ Apaan sih kamu Sar tau aja dasar emak-emak rempong! Gerutu Sarah
“ Itu yang buat puisi Ikhsan sendiri loh. Apalagi dibuatnya pas sepertiga malam setelah kami sholat tahajud bersama di puncak sakub. Hemmm Itu terjadi waktu kami camping liburan kemarin. Dapat momentum dan Spesial banget kan Sarah? Hehehhehh. San San.”
“ Apaan kamu Zul ngopor-ngomporin aja. Kamu lebih-lebihkan lagi dasar! Begini loh ceritanya....
“ Ohya makasih ya San bagus kok lumayan untuk penulis amatir.” Potong Sarah seketika dengan ekspresi malu-malu kucingnya, terlihat juga senyum manisnya.
“ Bagini loh Sarah dia tuh buatnya setelah ngigau manggil-manggil namamu, hehehheh. Pas aku mau bangunin dia untuk sholat tahajud eh dia masih tidur dan ngigau manggil namamu gitu. Hahahah. Ini buktinya Sarah, Sari.” Kemudian Zulmi menunjukan rekaman videonya untuk mereka.
“ Apa-apaan kamu Zul. Itu kan cuman ngigau Zul..
“ Ah gak usah banyak alasan lagi San orang ada buktinya kok. Cie-cie pangeran. Heheheh.” Potong Sari begitu cepat.
“ Apaan sih kamu Sar! Ikut-ikutan Zulmi juga nih.” Ujar Sarah
“ Tapi nggak gitu ceritanya. Beginih loh ceritanya...
“ Udah nggak usah cerita. Ohya makasih ya San buat puisinya bagus loh. Selamat juga ya buat peningkatan prestasi belajarnya. Kamu udah ngalahin aku nih.”
“ Ohya karena usaha memang tak membohongi hasil. Ohya sebenarnya..” Ujarku kemudian langsung dipotong oleh Sarah.
“ Ohya San selamat ya atas prestasi belajar aku jadi ikut seneng juga loh.”
Ini buatmu San.” Tiba-tiba Sarah memberikanku sebuah hadiah berupa tali pramuka dan hasduk pramuka beserta sepucuk surat.
“ Apaan ini Rah?
“ Udah bawa aja. Kami langsung pulang ya San.” Berinya padaku malu-malu dengan mengulurkan kedua tanganya yang sedikit ragu. Kemudian ia pergi bersama Sari begitu saja.
“ See You San, see you Zul.” Ucapan selamat tinggal dari Sarah dan Sari sambil melambaikan tangan mereka meninggalkan aku dan Zulmi.
Mereka pergi meninggalkan aku dan Zulmi begitu saja tanpa sempat aku menjelaskan permasalahan puisi yang sebenarnya. Kali ini aku tak punya kesempatan untuk menjelaskan pada Sarah tentang kronologi sebenarnya dari sejarah puisi romantis itu.
“ San udah anggap saja kamu udah jadian resmi sama Sarah. Kasian tuh dia sudah benar-benar menaruh harapan sama kamu.”
“ Gimana ya Zul. Aku sekarang malah jadi tambah bingung. Saat aku mau menjelaskan semuanya malah dipotong terus sama Sarah dan Sari, ditambah lagi sekarang aku dikasih tali sama hasduk ini. Waaduh gimana ya? Ujarku benar-benar bingung.
“ Udah gak papalah kamu jadian aja, kan sudah terlanjur Sarah naruh harapan sama kamu San. Apalagi dia udah ngasih itu ke kamu. Lebih baik kayak gitu, daripada nanti kamu malah nyakitin dia gimana? Zulmi berusaha membujukku.
“ Ya udahlah Zul nanti coba tak pikir secara matang lagi.” Keluhku secara pelan pada Zulmi.
Sarah dan Sari pun telah pergi meninggalkan kami dari lobi perpus di lantai dua dan berjalan menuruni tangga terlebih dahulu. Siang itu akupun pulang bersama Zulmi dengan perasaan bingun yang semakin menjadi. Kebingungan itu berujung pada kesalahpahaman puisi karyaku yang diberikan Zulmi kepada Sarah. Kondisi seperti ini sungguh membuatku mengalami dilema yang dihadapkan pada ikatan pacaran. Sungguh kenyataannya terjadi atas kesalahpahaman yang telah salah dipersepsikan oleh Sarah kepadaku. Dengan persepsi itulah aku melihat Sarah menaruh harapan padaku dalam hubungan yang lebih serius lagi dari sebelumnya.
Aku berjalan bersama Zulmi menelusuri halaman sekolah yang telah sepi karena sebagian besar siswa telah meninggalkan sekolah ini. Pikiranku kalut dalam dilema kebingungan antara ingin menjelaskan yang sebenarnya terjadi terkait puisi itu. Semua seperti bertarung melawan perasaan ketidaktegaanku pada harapan Sarah yang benar-benar telah bersemi perasaannya untukku.
__ADS_1
Zulmi dan aku terus berjalan dan sampailah di tempat penungguan angkudes dari Desa Pruwatan kearah Bumiayu. Pikiran kalut itu terus bergelayut dalam benakku. Aku mengembara jauh dalam lamunan saat perjalananku bersama Zulmi di angkudes. Angkudes biru langit melaju dengan kencangnya menembus arus waktu. Perlahan-lahan kami meninggalkan sekolah SMPN 02 itu. Melaju terus menerobos hembusan angin diiringi mentari yang masih bersinar dengan teriknya lagi menyengat. Angkudes terus melaju di jalan raya yang padat meliuk-liuk dengan gesitnya begitu pula dengan pikiranku yang melambung keberbagai permasalahan hidup, terkhusus masalah aku dan Sarah. Biarlah angkudes melaju mengikuti arah mata angin yang berhembus dari utara ke selatan. Tak terasa waktu pun berjalan melaksanakan tugasnya. Akan tetapi, kala itu aku belum pula selesai dari alam khayalku tentang arti dunia bersamanya.
*******