
2008 (SMP Negeri 02 Bumiayu Semester 2)
Semangat pantang menyerah terus membakar seluruh jiwa raga seorang penuntut ilmu sejati. Seluruh fokus indrawi tertuju pada samudra luas pengetahuan. Segala daya upaya dilakukan untuk mengarungi samudra ganas perjalanan, menuntut ilmu menjadi prioritas utamaku pada waktu itu. Ilmu telah menjadi madu yang mengobati seluruh kebodohanku. Ilmu benar-benar membuatku mabuk kepayang tak bisa tidur. Setiap malam ku habiskan untuk bercumbu dengan kasih ilmu. Mulai dari matematika, elektronika hingga tata boga, semua kucium mesra dalam pikiranku. Semua tugas sekolah menjadi camilan sederhana bagiku. Kegiatan pramuka pun menjadi wahana bermain kesukaanku. Aku terus belajar dan belajar sepajang pagi, siang, sore, hingga malam. Kata Ibu aku benar-benar dimabuk cinta oleh yang namanya ilmu, aku buta karena mencintai ilmu dengan sedemikian besarnya. Ya benar ilmu telah membuatku lupa daratan.
Di semester II kelas VII ini aku benar-benar belajar dengan loyalitas tanpa batas, segala persiapan aku persiapan mulai dari analisis, teknik belajar, teori, eksekusi, implementasi hingga evaluasi. Aku seperti punya kekuatan maha dahsyat dalam belajar. Aku mulai ikut bimbel dari bahasa Inggris, Matematika, IPA, hingga IPS. Setiap hari aku pergi ke perpustakaan. Kalau tidak pinjam buku minimal duduk santai membaca ringan.
Ketika Bapak atau Ibu Guru menerangkan aku seperti terhipnotis ke alam lain dengan penuh konsentrasi tingkat tinggi. Setiap ada sesi tanya jawab tak ku sia-siakan begitu saja. Aku bertanya dan menjawab persolan belajar seperti seorang yang sedang kesurupan. Aku bertanya dan menjawab seperti seorang pakar ahli yang sangat kritis menganalisis segala permasalahan. Aku heran juga dari manakah perasaan ini muncul ? Dari wangsit kah? Aku tak mengerti barangkali aku telah jatuh cinta dengan yang namanya ilmu.
Aku belajar dan belajar sampai Ibuku bingung dengan perubahan sikapku. Mau makan aku pengang buku, mau berangkat sekolah pegang buku, pulang sekolah pegang buku, mau pergi kemana-mana selalu pegang buku. Bahkan mau tidurpun aku pegang buku. Benar aku sudah tidak bisa lepas dari buku sama sekali. Belajar dan belajar dengan porsi berlebih tanpa batas. Semua bahan bacaan aku kupas mulai dari koran hingga resep makanan ibu.
“San belajar terus, gak cape apa? Sana main bola tuh sama teman-teman seperti biasa.” Ujar ibu mengingatkan.
“ Nanggung Bu ini lagi seru kapan-kapan aja main bolanya Bu. Ini lagi ngerjain latihan soal di LKS (lembar kegiatan siswa).”
“Ya udah terserah kamu San, tapi ingat jangan berlebihan San.
“Siap Bunda sayang.” Jawabku
Aku benar-benar terus belajar selama 5 bulan lebih dengan semangat prima 45 seperti pahlawan Indonesia. Saat UAS aku hanya membutuhkan 40 menit untuk menyelesaikan setiap mata pelajaran sedangkan UTS kemarin hanya membutuhkan waktu 30 menit, setelah itu aku keluar ruangan begitu saja. Sehingga di akhir UAS aku dipanggil kekantor dan diintrogasi oleh Kepala Pengawas UAS semester 2, namanya Bu Dwi Sintia.
“San kamu nda sembarangan kan ngerjain UAS? Masa sebentar sekali kamu menyelesaikan soal UAS cuman sekitar 40 menit? Selidik Bu Dwi.
__ADS_1
“Nggak lah Bu, aku kan udah belajar dan ikut bimbel juga. Jadi udah biasa sama soal-soal seperti itu Bu.” Jawabku enteng.
“ Yang bener San jangan bohong lo? Kamu tidak mau meraih peringkat pararel kedua lagi?
“ Tenang aja Bu, masalah nilai In syaa Allah beres, coba silakan cek saja sama guru mapel pasti nilaiku bagus. Heheh... ”.
“ Ya sudah terserah kamu San, yang penting kamu jangan merasa percaya diri berlebihan dulu apalagi sombong. Ibu tunggu nilai akhirmu saat pengumuman pararel nanti”.
********
Udara pagi pedesaan berhembus sejuk kaya akan oksigen, pucuk-pucuk embun pun bergulir jatuh ketanah surga yang katanya tongkat batu pun jadi tanaman. Riuh burung-burung menyeramkan melodi cinta pagi dilengkapi riang kupu dan capung menari. Pesona lembut desa dengan kearifan lokalnya yang agung. Suasana kesibukan pun mulai mengawali pagi yang indah. Dukuh Karanganggrung yang asri memberikan pesona tersendiri. Para pegawai siap dengan busana safarinya, para pedagang lengkap dengan perkakas dan gerobaknya, serta Ibu-ibu tandur ke sawah dengan gembiranya. Tak kalah juga para petani membawa sebilah arit dan cangkul keramatnya menuju sawah maupun ladangnya. Sementara sang pembajak sawah menggiring dua kerbaunya untuk mengolah tanah surga itu. Salam, sapa, dan senyum yang merekah menghiasi wajah-wajah penduduk menambah cerah suasana hati setiap orang yang melihatnya. Awan berarak dan angin sepoi terus berhembus.
Setiap pagi disaat libur semester 2 aku nikmati dengan suasana santai dari segala kesibukan sekolah, aku berusaha menjalani hariku dengan begitu harmonis. Aku tak lupa menyeruput secangkir kopi setelah sholat Subuh bersama Ayah, terkadang kami main catur dan juga jogging pagi. Memang libur panjang semester dua ini aku habiskan bersama keluarga dan para sahabat untuk bermain sepuasnya setelah aku belajar mati-matian kemarin. Sekarang aku ingin sedikit relaks walaupun aku tidak bisa jauh dari yang namanya buku, terutama novel. Aku telah menjadi kutu buku kata Ibu. Namun sayang, pengaruh dari novel yang ku baca memberi inspirasi luar biasa sekaligus bumbu cinta.
“Ohya San katamu untuk minggu ini kita mau melakukan aksi penggalang menanam di Gralang (bukit-bukit kecil disekitar Desa Jatisawit- Laren-Pruwatan)? Ujar Zulmi.
“ Ohya Zul, aku hampir lupa. Ya rencananya sih gitu. Untuk tanaman kan sudah kita siapkan beberapa bulan yang lalu. Trus sudah kita semai beberapa benih buah mulai dari rambutan, belimbing, mangga, jambu biji, sarikaya, nangka, dan alpukat serta kita juga berencana beli benih pohon jati kebon sekitar 50 benih.”
“ Okeh nanti aku kabarkan anak-anak siapa yang mau terjun dengan proyek kita ini, yaitu penghijauan Gralang yang gundul akibat oknum tak bertanggung jawab. Aku ajak Sarah sekalian gimana yoo San? Heheh?
“ Terserah kamu lah Zul.” Jawabku singkat
__ADS_1
“ Gitu aja ngambek hahahaha…. Nanti aku kabarin benar tuh si Sarah supaya ngajak teman-temanya juga.” Ujar Zulmi padauk. Kemudian kami pun terus membakar kalori dengan berlari kecil di pagi hari. Inspirasi penghijauan ini kami cetuskan saat kami terilhami oleh pesan Pak Tatag Heriadi di semester satu. Beliau selaku guru IPA mengatakan sebuah kalimat mutiara penuh inspirasi.
“Sebagai manusia yang baik kita perlu melakukan aksi reboisasi lahan kritis agar dapat kembali hijau sehingga keseimbangan ekosistem dapat terjaga dengan baik, karena menjaga lingkungan sudah menjadi kewajiban kita bersama”.
Kalimat inspirasi itu memantik kami berpikir kritis tentang kondisi alam sekitar kami yang perlu untuk diperbaiki walaupun sedikit, setidaknya aku dan Zulmi perduli akan lingkungan. Kemudian hari Senin pagi pekan kedua liburan semester kami melakukan aksi reboisasi itu. Seragam penggalang dengan kelengkapan atributnya melengkapi tubuh kami. Ada sekitar 80 anak yang berhasil kami rekrut dalam aksi penghijauan ini. Semuanya berasal dari kelas VII yang kebetulan akrab dengan Zulmi maupun aku, termasuk juga Sarah. Benih tanaman yang kami bawa total sekitar 300 benih karena memang satu anak ada yang membawa 2-4 benih tanaman dalam plastik polibag kecil.
Sekumpulan penggalang berjalan menyusuri Gralang sambil menyanyikan yel-yel penuh bersuka ria.
“ Kacung kampret jadi Pramuka...”Kacung kampret jadi Pramuka.....
“Naik Gunung- Turun Gunung...... “Naik Gunung- Turun Gunung.....
“Kacung kampret ikut mengembara!!
“Naik Gunung- Turun Gunung...... “Naik Gunung- Turun Gunung....
“Kacung kampret jadi Pandega!!.....Kacung kampret jadi Taruna!!....“Kacung kampret jadi Perwira!!.....
“Naik Gunung- Turun Gunung...... “Naik Gunung- Turun Gunung......
“Kacung kampret jadi Pramuka, Pandega, Taruna, Perwira!!!!!
__ADS_1
Hoyya!!!!!
*******