Cinta Lama Belum (Tentu) Kembali

Cinta Lama Belum (Tentu) Kembali
CLB(t)K 21


__ADS_3

Pagi hari seperti biasa Annisa berangkat lebih awal karena ia tau Reenan akan pergi hari ini hingga 4 hari ke depan.


"Hai?" sapa Joshua saat melihat Annisa duduk di mejanya.


"Hai juga,"


"Kabar baik?" tanya Joshua lagi.


"Baik sekali," ucap Annisa sambil tersenyum.


"Bukan kabarmu, kabar lainnya" ucap Joshua sambil menaik turunkan alisnya.


"Apa?" tanya Annisa bingung.


"Ayolah, Reenan sudah memberitahuku"


"Kalau sudah di beri tau kenapa masih bertanya padaku?"


"Hanya ingin saja," ucap Joshua usil.


Annisa benar-benar malas menanggapi laki-laki di depannya ini.


"Kau tau?" ucap Joshua lagi.


"Tidak" sahut Annisa cepat.


"Ish! Pekerjaan di luar kota kali ini harusnya 1 minggu, tapi tiba-tiba bosmu menelfon ku untuk memadatkan seluruh jadwalnya dan harus selesai dalam 4 hari," jelas Joshua.


"Wow, pasti kau akan lelah sekali," ucap Annisa menampakan wajah yang pura-pura sedih.


"Menurutmu?" ucap Joshua sambil berlalu masuk ke dalam ruangan Reenan.


Di dalam ruangan Reenan tengah berkutat dengan ipad miliknya, Reenan bahkan mengabaikan Joshua yang sudah berdiri di seberang meja kerja Reenan.


"Ayo berangkat!" ucap Joshua.


Reenan mengangguk dan segera memasukkan beberapa dokumen ke dalam tas kerjanya.


"Ayo,"


"Tidak pamit pada calon istri?" tanya Joshua jahil.


Joshua tersenyum lebar sedangkan Reenan hanya tersenyum mendengar pertanyaan Joshua.


"Aku pergi dulu" ucap Reenan saat berada di depan meja Annisa.


"Baiklah, hati-hati di jalan" ucap Annisa dengan tulus.


"Aku juga pergi dulu," ucap Joshua, Annisa hanya mengendikkan bahu acuh.


"Oke, kau seperti itu padaku ya, sekarang kita kemusuhan!" ucap Joshua berlalu pergi dengan muka yang di tekuk.

__ADS_1


"Dia salah makan obat atau memang sarafnya agak kena sih?" gumam Annisa melihat tingkah Joshua.


Waktu berlalu begitu cepat, jam pulang kantor tersisa 5 menit lagi, Annisa segera merapikan semua barang dan bersiap-siap untuk pulang.


Hujan deras yang mengguyur kota sejak pagi bertambah deras seiring senja yang datang di sore hari, Annisa menghela nafas pasrah, ia sudah mengirim pesan pada adiknya untuk menjemputnya tapi melihat kondisi hujan seperti ini pasti akan memakan waktu cukup lama untuk adiknya sampai disini.


Annisa berlari menerobos hujan untuk menuju ke halte yang ada di dekat kantor. Ia akan menunggu adiknya di halte agar lebih mudah pikir Annisa.


Tin tin.....


Suara klakson mobil mengalihkan pandangan Annisa dari layar handphone yang sejak tadi di pegangnya.


"Masuklah!" Seseorang berteriak dari dalam mobil, Annisa menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.


"Tidak, terima kasih," tolak Annisa sopan.


Damar. Laki-laki yang memanggil Annisa dari dalam mobil kini beralih keluar untuk mendekati mantan istrinya itu.


"Ayo aku antar pulang," tawar Damar saat sampai di depan Annisa.


"Tidak, adikku sebentar lagi sampai," jawab Annisa.


"Kalau begitu tunggu di dalam mobil saja, disini dingin dan juga berbahaya jika seorang diri, apalagi kau perempuan!"


"Tidak, aku disini saja, Andi sebentar lagi sampai," tolak Annisa lagi.


"Baiklah aku temani disini sampai adikmu sampai" Damar memposisikan dirinya duduk di sebelah Annisa.


Sebelum duduk, Damar melepas jas yang di pakainya lalu memakaikan di bahu Annisa, tentu saja Annisa kaget tapi juga tidak menolak karena tubuhnya sedang kedinginan.


"Dimana kekasihmu?" tanya Damar kemudian.


"Sedang keluar kota,"


"Oh," respon Damar singkat.


Mereka berdua duduk diam menunggu Andi yang belum juga datang sejak tadi.


"Apa kesempatanku benar-benar sudah habis?" tanya Damar tiba-tiba.


Annisa hanya diam tidak ingin menjawab pertanyaan Damar.


"Berikan sedikit saja lagi waktu untuk membuktikan bahwa aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu!"


"Maaf," lirih Annisa.


"Penyesalan itu selalu datang terlambat bukan?" tanya Damar pada Annisa dan dirinya sendiri.


"Jika tidak kehilangan, kakak juga tidak akan tau jika seseorang akan lebih berharga ketika ia sudah memutuskan pergi dan tidak kembali lagi," ucap Annisa bersamaan dengan datang mobil yang di kendarai oleh adiknya.


"Aku permisi, terima kasih jasnya" Annisa menyerahkan jas milik Damar dan segera berlari ke arah mobilnya.

__ADS_1


"Sakit sekali rasanya," gumam Damar sambil melihat mobil Annisa yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangan matanya.


Menjelang malam Annisa terduduk di kasurnya sambil menyalakan laptop untuk mendengarkan lagu yang ia putar dari youtube.


"Sedang apa kira-kira dia disana?" gumam Annisa sambil melihat nama pada ponselnya.


Reenan. Annisa ragu untuk menghubunginya dahulu, takut jika ia akan mengganggu kerja atau istirahat pria yang sedang berada jauh darinya itu.


Tapi tiba-tiba ponselnya berdering menandakan panggilan masuk. Annisa gelagapan lalu mengatur nafas untuk mengangkat panggilan itu.


Mereka berbicara cukup lama, basa basi saling menanyakan bagaimana hari yang mereka jalani, tapi rasanya tetap kaku dan segan, Annisa masih belum bisa menghilangkan fakta di pikirannya bahwa Reenan tetap saja bos di tempatnya bekerja.


"Anda sudah makan malam?" tanya Annisa.


"Sudah, rileks saja jangan terdengar seperti kau adalah bawahanku!" ucap Reenan terdengar geli.


"Aku sungguh belum terbiasa dengan ini!" Annisa bersungut kesal.


"Biasakanlah! kirim pesan jika sedang senggang, telfon jika sedang santai, aku akan segera membalasnya,"


"Baiklah, aku akan mencobanya," ucap Annisa di iringi senyum di wajahnya.


"Tidak ada yang ingin di katakan padaku?" tanya Reenan.


"Tidak, sudah cukup sepertinya dan aku juga mengantuk!"


"Tidurlah, akan ku tutup panggilannya,"


"Hmmm"


Annisa segera meletakkan handphonenya dan mematikan laptopnya, matanya tiba-tiba saja mengantuk karena lelah dan hujan yang belum juga reda.


Saat kantuk menghinggapi matanya tiba-tiba saja panggilan masuk kembali membuatnya terjaga.


"Ya halo?" tanya Annisa tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.


"Annisa?" panggil seseorang dari seberang telfon.


"Aku kevin teman Damar" ucap seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai teman mantan suaminya.


"Apa? Ada perlu apa menelfon ku malam-malam?" ucap Annisa bertambah kesal.


"Damar mabuk berat, aku juga tidak mungkin meninggalkan club ku sekarang, jadi jika tidak keberatan jemput lah dia, dia menyebut namamu terus sejak tadi jadi aku menelfon mu," jelas Kevin.


"Apa temannya hanya kau? Telfon saja temannya yang lain, jangan aku! Aku sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengannya!" ucap Annisa emosi dan segera menutup panggilan telfonnya.


Annisa kembali merebahkan dirinya di atas kasur, dia hanya membolak balikkan badan karena tiba-tiba kantuknya pergi entah kemana,


"Aku ingin sekali mengumpat, akan ku hajar jika aku bertemu dengannya nanti!" ucap Annisa.


Hatinya tetap tidak tega saat mendengar kabar tentang mantan suaminya yang tergeletak tidak berdaya dan menyebutkan namanya.

__ADS_1


Annisa bersiap-siap untuk menjemput Damar di club, walau ia harus melalui segala macam kebohongan pada orang tuanya tapi Annisa akhirnya mendapatkan ijin untuk pergi sendiri malam ini.


"Aku akan membunuhmu Damar!" ucap Annisa nyalang.


__ADS_2