
Kini Via duduk dengan kaki di angkat ke atas sofa dengan kepala Damar yang bersandar di bahunya.
Ingin rasanya Via memeluk dan menenangkan Damar sekuat tenaga, tapi ia sadar bahwa bisa saja Damar risih dengan tingkahnya.
"Ingin makan sesuatu?" tanya Via pada Damar setelah sekian lama diam.
"Aku tidak lapar"
"Aku pesankan sesuatu ya?" tanya Via lagi.
"Diamlah, aku hanya ingin seperti ini sebentar saja!"
Via menuruti perkataan Damar dan kembali diam menelan semua kata-katanya, dia tidak ingin memancing amarah Damar saat ini.
Setelah merasa tenang, Damar mengangkat kepalanya yang sedari tadi bersandar di bahu Via.
Via menoleh ke arah Damar "Sudah merasa lebih baik?"
Damar mengangguk.
"Ingin minum teh hangat?" tawar Via kembali dan di balas anggukan oleh Damar.
Via bergegas bangkit menuju dapur untuk membuatkan teh, ia harap tehnya ini dapat sedikit membuat Damar tenang setelah menangis tadi.
"Ini" Via menyerahkan teh yang di buatnya di depan Damar.
"Terima kasih" jawab Damar sambil menerima teh yang Via buat.
Via kembali duduk di sebelah Damar dengan menjaga jarak di antara mereka,
"Apa kau juga merasa sakit seperti ini saat meninggalkanku dulu?" tanya Damar tiba-tiba tanpa melihat ke arah Via.
"Jika harus jujur, aku sangat sakit hati saat harus meninggalkanmu, apalagi penyesalanku tentang anak kita, aku bahkan hampir bunuh diri waktu itu," ucap Via.
"Lalu?"
"Aku sadar aku harus menebus kesalahanku padamu, dan saat aku kembali tenyata kau sudah menikah dengan orang lain, aku kembali sakit hati lagi saat itu, dan sekarang melihatmu seperti ini membuatku merasa sakit hati yang kesekian kalinya, tapi mungkin ini balasan yang harus aku terima karena masa laluku, aku hanya bisa ikhlas dan pasrah menerima ini semua" jawab Via panjang lebar.
"Kau perempuan yang baik, aku harap di masa yang akan datang kau menemukan laki-laki yang baik juga, yang bisa menjagamu dan membahagiakanmu seumur hidupmu" ucap Damar tulus.
"Terima kasih" ucap Via sambil tersenyum.
Walau di hatinya bukan kalimat itu yang ingin Via dengar tapi ia menghargai doa yang Damar berikan untuknya.
"Aku akan pergi ke Paris" ucap Via sesaat setelah mereka diam.
"Kapan?"
"Minggu depan, jika tidak sibuk dan berkenan tolong antar aku ke bandara ya?" pinta Via, kali ini senyum tulus terukir di bibir indah Via.
"Aku tidak berjanji, tapi akan ku usahakan mengantarmu, kabari saja besok jika sudah mau berangkat" jawab Damar.
"Baiklah"
"Ayo aku traktir makan, suasana hatiku sedikit membaik sekarang" ucap Damar.
"Kenapa? Karena tau aku akan pergi lalu suasana hatimu membaik?" tanya Via usil, Damar hanya mengacak rambut Via sebagai jawaban.
__ADS_1
"Tunggu sebentar aku akan ganti baju" Via segera melompat dari duduknya dan melesat masuk ke dalam kamarnya.
Malam ini, dua hati yang pernah saling melukai sudah menerima balasan masing-masing, mereka akan berdamai dengan takdir yang sudah Tuhan gariskan untuk mereka berdua.
Memaafkan dan mengikhlaskan memang menjadi obat paling ampuh untuk hati yang sedang terluka.
"Ayo," Via keluar dari kamar dengan baju kaos santai dan rok cokelat kesukaannya.
"Ayo" Damar berdiri dan melenggang menuju pintu keluar bersama Via.
Hati mereka sudah lebih baik kini, walau belum sepenuhnya pulih tapi waktu akan membuat mereka terbiasa hingga melupakan rasa sakit yang mereka punya.
"Aku ingin makan sesuatu yang pedas" ucap Damar saat mereka masuk ke dalam mobil.
"Boleh, lebih enak lagi jika ada menu ayamnya,"
"Dari dulu selalu saja ayam" ucap Damar mengingat makanan kesukaan perempuan di sebelahnya ini.
"Itu seperti makanan wajib untukku"
"Terserah kau sajalah" jawab Damar pasrah.
Mereka pergi ke restoran yang Via inginkan, Damar ingin memberikan kenangan indah pada Via sebelum perempuan itu pergi ke Paris minggu depan.
Hanya kenangan sederhana saja, yang penting tidak ada lagi perseteruan di antara mereka, toh mereka sudah dewasa sudah bukan waktunya menyelesaikan masalah dengan bertengkar dan saling meneriaki satu sama lain.
Walau luka tetap masih tertinggal setidaknya nanti pasti akan sembuh dengan sendirinya tanpa mereka berdua sadari.
"Kau belum makan berapa hari?" Via ternganga saat melihat porsi makan Damar dan cara makan laki-laki di depannya ini.
"Sejak mantan istriku menikah aku tidak tau apa yang aku makan, bahkan aku lupa kapan terakhir kali aku makan" ucap Damat jujur.
"Ini nasi kelima mu ya, perutmu tidak begah?" tanya Via kembali, Damar hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Aku mau pesan ayam lagi" Damar bangkit dari duduknya tetapi lengannya di tahan oleh Via.
"Damar duduk! Sudah cukup! Jika ingin lagi nanti kau bisa membungkusnya untuk di bawa pulang, tapi sekarang sudah cukup ya!"
"Aku masih sedikit lapar" ucap Damar memelas.
"Satu setengah ekor ayam dan lima bungkus nasi masih membuatmu lapar? Jangan bercanda, nanti pesan untuk dibawa pulang saja!"
Damar mengalah dan kembali duduk di tempatnya semula.
...****************...
"Emhhh...." Annisa menahan suaranya saat sang suami memegang kakinya.
"Bagaimana bisa seperti ini?" Reenan mendongak dan melihat wajah istrinya yang sudah merah padam menahan sakit.
"Sepertinya ini terkilir" ucap Annisa menahan sakit.
"Iya aku tau ini terkilir, tapi bagaimana bisa kau terkilir sampai seperti ini?" tanya Reenan lagi.
"Aku jatuh tadi dan tau-tau kakiku sudah sakit saat aku berdiri"
"Ayo pulang, aku akan membawamu ke tukang urut!" ajak Reenan.
__ADS_1
"Tidak! Aku takut, pasti sakit sekali jika di urut nanti"
"Kalau kakimu bengkak bagaimana?"
"Bagaimana kau saja yang mengurut kakiku?"
Reenan sukses terkejut dengan pertanyaan istrinya ini, bagaimana bisa istrinya minta di urut olehnya yang sama sekali buta akan hal urut mengurut seperti itu.
"Jangan bercanda sayang, aku tidak bisa mengurut, kalau salah urat bagaimana?" tanya Reenan lembut.
"Tapi aku takut"
"Ayo, tidak ada bantahan lagi!"
Annisa akhirnya mengalah dan mengikuti Reenan ke tempat urut yang di rekomendasikan oleh Joshua,
Sesampainya disana, benar saja yang di takutkan oleh Annisa, kakinya terasa sakit bukan main.
Reenan hanya menenangkan istrinya saat melihat Annisa kesakitan seperti itu.
"Apa ini tidak apa-apa? Kenapa istri saya kesakitan seperti ini?"
Tukang urut itu hanya tersenyum geli melihat mereka berdua.
"Sini mas tangannya" ucap tukang urut itu pada Reenan, Reenan hanya menurut saja.
Tukang urut itu mempraktekkan pada lengan Reenan agar Reenan tau seberapa besar tenaga yang tukang urut itu keluarkan untuk Annisa.
"Ini tidak sakit, hanya seperti di usap"
"Itu karena masnya tidak salah urat atau terkilir seperti istrinya, tapi jika terkilir seperti ini pasti terasa sakit sekali, tapi ini hanya sebentar nanti juga akan baik"
Tukang urut itu kembali melakukan aksinya pada Annisa, lama kelamaan Annisa sudah tidak berteriak kesakitan bahkan sudah merasa lebih baik.
"Terima kasih"
Annisa dan Reenan segera berpamitan setelah Annisa selesai dan setelah mereka berbasa basi sebentar.
"Langsung pulang?" tawar Reenan, Annisa hanya mengangguk.
Sampai di rumah Annisa dan Reenan langsung masuk ke dalam kamar mereka dan duduk di sofa depan tempat tidur.
"Lelahnya" keluh Annisa.
"Ingin mandi?" tawar Reenan.
"Sebentar, aku ingin duduk dulu"
Reenan mengikuti Annisa duduk di sebelahnya, tangannya mengusap kepala istrinya sayang.
"Sayang?" panggil Reenan.
Annisa hanya bergumam menjawab panggilan Reenan.
Tanpa aba-aba Reenan menggendong Annisa ke arah kamar mandi di kamar mereka.
"Reenan jangan macam-macam ya! Kakiku sakit, aku akan memukulmu nanti! Reenan! Reenan!"
__ADS_1
Blammm
Pintu kamar mandi tertutup sempurna.