Cinta Lama Belum (Tentu) Kembali

Cinta Lama Belum (Tentu) Kembali
CLB(t)K 27


__ADS_3

Lelah.


Berjam jam duduk di atas panggung pelaminan dan harus selalu tersenyum membuat Reenan lelah bukan main, walaupun tadi mereka berganti pakaian menggunakan jas dan gaun tapi rasa pegal karena memakai kain jarik masih menghinggapi kakinya sampai saat ini.


"Ingin mandi?" suara lembut sang istri membuat Reenan seketika duduk melupakan lelahnya.


"Iya,"


"Ingin ku siapkan air hangat?" tawar Annisa lagi. Reenan menggeleng, ia tidak terlalu suka mandi air hangat baginya mandi menggunakan air dingin lebih menyegarkan.


"Aku tidak terlalu suka mandi air hangat,"


"Kalau begitu mandilah sekarang, sebelum semakin larut malam"


Reenan mengangguk dan berdiri lalu melangkah menuju kamar mandi yang ada di kamar itu.


Annisa segera menyelesaikan ritual wanita memakai serangkaian skincare yang ia bawa dari rumah kemarin, setelah itu Annisa duduk di atas tempat tidur sambil membaca novel yang ia bawa juga dari rumah.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka.


Dari dalam kamar mandi menampilkan sosok Reenan yang hanya menggunakan selembar handuk untuk menutupi bagian tubuhnya dari pinggang hingga lutut.


Bohong jika Annisa tidak tertarik, terbukti Annisa menatap terang-terangan tubuh Reenan yang Annisa tidak pernah duga sebelumnya.


Annisa yakin bahwa suaminya pasti rajin berolahraga, terbukti dari tubuh suaminya yang terbentuk bagus.


"Awas air liurmu jatuh," ucap Reenan usil,


Annisa seketika sadar lalu pura-pura kembali membaca novel yang ia pegang, walaupun ia tau konsentrasinya sudah buyar ketika melihat tubuh suaminya tadi tapi ia tetap berpura-pura membaca untuk menghilangkan rasa malu.


Setelah Reenan berganti baju menggunakan kaos tanpa lengan dan celana pendek, ia mendekati istrinya lalu menyerahkan handuk yang ia pengang.


Awalnya Annisa bingung, tapi seketika ia paham saat Reenan duduk di tepi kasur membelakanginya.


Annisa lalu bangkit dan bertumpu pada lututnya, setelah itu ia membawa handuk tadi ke kepala Reenan untuk mengeringkan rambutnya juga sedikit memijat kepala Reenan.


"Kau tau?" ucap Reenan tiba-tiba.


"Apa?" jawab Annisa bingung.


"Bajumu bisa saja mengundangku untuk melakukan sesuatu padamu"


Annisa langsung melihat baju yang ia kenakan, ia sadar bahwa pakaian ini tidak bisa di kategorikan sebagai baju tidur yang sopan, bajunya berbahan sutra dengan tali spaghetti di kedua bahunya lalu panjangnya hanya setengah jengkal di atas paha.


"Koperku terbawa Andi pulang tadi, hanya ini baju yang ku temukan, ini saja hadiah dari temanku yang ada di tumpukan kado disana" tunjuk Annisa pada sofa di depan tempat tidur mereka "Aku rasa ini yang paling sopan, aku merasa jual diri jika memakai hadiah yang lainnya" sambung Annisa.

__ADS_1


Annisa benar-benar tidak habis pikir dengan teman-temannya, bisa-bisanya mereka memberikan hadiah baju-baju seksi untuknya, Annisa saja malu melihatnya apalagi memakainya, tidak akan pernah pikir Annisa.


"Aku tidak ingin memaksamu, tapi melihat penampilanmu bagaimana aku bisa menahan diriku sendiri?" tanya Reenan.


Annisa menghentikan kegiatannya mengeringkan rambut Reenan, kini ia duduk kembali di tempat tidur dan memakai selimut hingga menutupi pinggangnya.


"Aku malu" ucap Annisa lirih.


"Aku akan tidur di sofa, jika aku memaksakan diri tidur disini aku takut akan kehilangan kendali" ucap Reenan sambil bangkit berdiri, tapi niatnya ia urungkan saat tangan lembut milik istrinya memegang punggung tangannya.


Annisa menunduk malu, tapi ia juga tidak melepaskan genggaman tangannya pada punggung tangan Reenan, hingga akhirnya Reenan duduk mendekat pada istrinya.


"Jika aku bertanya hal ini, apakah kau akan tertawa?" tanya Annisa.


"Memang bertanya apa hingga aku harus tertawa?" jawab Reenan.


"Apa 'itu' sakit?" tanya Annisa malu-malu.


Reenan hanya terdiam, tapi ekspresi terkejut tidak bisa ia sembunyikan dari wajahnya.


"Annisa, kau sudah pernah menikah pastinya kau juga tau bahwa......." perkataan Reenan terhenti saat ia menyadari sesuatu.


Reenan tersenyum menatap istrinya ini, entah kebaikan apa yang membuatnya beruntung seperti ini.


"Sejauh apa hubunganmu dengan Damar?" tanya Reenan lembut, ia memberanikan diri untuk membelai surai lembut istrinya yang sedikit basah itu.


"Aku sudah berusaha untuk melakukan kewajibanku, tapi dia tidak pernah mau denganku" jawab Annisa semakin lirih, dan tentu saja hal itu membuat Reenan tersenyum semakin lebar.


"Remas bahuku atau lenganku jika nanti terasa sakit, sebisa mungkin aku akan melakukan perlahan" ucap Reenan.


Setelah itu Reenan memajukan wajahnya untuk mencium bibir istrinya, Annisa tentu saja tegang dan bingung harus bagaimana, ini pertama kali untuknya.


"Ikuti saja nalurimu, tidak usah merasa harus langsung bisa, lama kelamaan kau juga akan terbiasa," ucap Reenan di sela ciumannya.


Annisa terus mengikuti apa yang Reenan lakukan, sebisa mungkin ia mengimbangi suaminya, setidaknya drama korea yang selama ini ia tonton bisa sedikit memberinya pencerahan tentang bagaimana melakukan ciuman.


"Aku akan berusaha selembut mungkin, jika sakit berteriak lah, kamar ini kedap suara," ucap Reenan. Annisa hanya mengangguk patuh dengan ucapan suaminya itu.


...****************...


Annisa bangun dengan rasa lelah yang luar biasa, setelah melakukan serangkaian acara pernikahan di tambah malam hari ia harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri tentu saja hal ini membuat tubuhnya sedikit kewalahan.


Tapi Annisa tetap memaksakan diri untuk segera bangun, adzan subuh sudah berkumandang beberapa waktu lalu dan dirinya masih terjebak di atas tempat tidur dengan rasa ngilu di inti tubuhnya.


Ingin rasanya Annisa menjambak rambut suaminya itu. Apanya yang tidak sakit, nyatanya tubuhnya serasa di belah menjadi dua.


Ia terdiam saat melihat bercak merah tertumpah di atas seprei putih yang ia tempati, kehormatan yang ia jaga selama ini akhirnya bisa ia persembahkan untuk seseorang yang halal baginya.

__ADS_1


Annisa tersenyum lalu berusaha berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi, Annisa berjalan keluar mencari pakaian yang setidaknya layak untuk ia kenakan, tapi yang ia temukan hanya kaos milik suaminya yang ada di luar koper dan celana panjangnya juga.


Setidaknya pakaian ini tidak seseksi pakaian yang ia kenakan semalam, setelah memakai pakaian suaminya dan solat subuh Annisa melepaskan celana milik suaminya yang ternyata kebesaran di tubuhnya dan kini Annisa hanya menggunakan kaos biru navy milik suaminya.


"Bangun, sudah subuh" Annisa mengguncang lengan suaminya perlahan, Reenan hanya menggumam tapi tidak juga bangun.


"Reenan bangun!" Annisa kembali mengguncang tubuh suaminya.


Bukannya bangun Reenan malah membawa Annisa ke pelukannya dan membuat Annisa kembali berbaring di dalam pelukan Reenan.


"5 menit saja, boleh?" tanya Reenan dengan suara khas orang tidur.


"Tidak, ayo bangun sekarang!" Annisa semakin kuat mengguncang tubuh Reenan.


Reenan mau tidak mau menuruti kemauan istrinya itu, ia bangkit lalu berjalan masuk ke arah kamar mandi.


Saat suaminya sedang di dalam kamar mandi Annisa segera membereskan kekacauan yang ia dan Reenan ciptakan semalam, ia mencopot seprei yang sudah tidak karuan itu lalu menata bantal guling yang ia pakai semalam.


Setelah ganti baju dan solat subuh Reenan berjalan ke arah sofa sambil membawa handphonenya yang ia matikan semalam.


Banyak pesan yang masuk berisi ucapan selamat dari teman-temannya maupun rekan kerjanya, Reenan membalas ucapan mereka satu persatu.


"Sedang apa?" Annisa mendekat ke arah Reenan.


"Membalas pesan, duduklah!" Reenan menepuk tempat kosong di sebelahnya.


Annisa duduk menuruti perintah Reenan, salah satu tangan Reenan merangkul bahu Annisa.


"Sepertinya aku tau kaos itu" ucap Reenan tanpa melihat ke arah Annisa.


Annisa mengerucutkan bibirnya kesal, mau bagaimana lagi, ia juga tidak punya baju lagi.


"Bisa tolong belikan aku baju?" pinta Annisa.


"Aku sudah menyuruh seseorang untuk membelikan baju untukmu" ucap Reenan.


Mereka terdiam cukup lama dengan Reenan yang masih setia menatap handphonenya.


"Reenan, bisakah aku bertanya?" ucap Annisa.


"Tanya saja,"


"Apa yang kau mimpikan semalam? Kenapa kau berteriak ketakutan dan berkeringat, aku sudah berusaha membangunkan mu tapi tidak berhasil hingga aku memelukmu pun kau masih gelisah, hingga hampir satu jam kau baru bisa tenang kembali, sebenarnya kau bermimpi buruk atau apa sampai seperti itu?" tanya Annisa penasaran.


Tubuh Reenan mendadak kaku, jempol tangannya seketika berhenti memencet pesan yang sedang ia ketik, Reenan pikir lelah tubuhnya semalam membuat dirinya tidak akan memimpikan kejadian itu, tetapi hasilnya sama saja dan bahkan istrinya kini juga menyadarinya.

__ADS_1


__ADS_2