Cinta Lama Belum (Tentu) Kembali

Cinta Lama Belum (Tentu) Kembali
CLB(t)K 28


__ADS_3

"Hanya mimpi buruk" ucap Reenan gugup.


"Oh"


"Kau ingin sarapan?" tanya Reenan mengalihkan pembicaraan.


"Boleh, minta di antar ke kamar saja ya" jawab Annisa.


Kemudian mereka berbincang ringan sambil menunggu sarapan mereka di antar ke kamar.


Tidak lupa Reenan menawarkan bulan madu kemanapun istrinya mau, dalam atau kuar negeri semua akan Reenan kabulkan.


"Aku belum berfikir kesana, entahlah aku hanya ingin bersantai di rumah" jawab Annisa jujur.


"Baiklah, jika tiba-tiba ingin pergi bilang saja padaku"


"Atau kau ingin ke suatu tempat?" giliran Annisa bertanya.


"Aku hanya ingin mengikuti mu" jawab Reenan.


Annisa mendengus geli dengan jawaban suaminya itu, apa suaminya ini tidak punya suatu keinginan yang harus Annisa ikuti?


"Apa kau tidak punya impian ingin pergi ke suatu tempat dengan istrimu?" tanya Annisa to the point.


"Ada, tapi aku belum bisa membawamu kesana,"


"Kenapa?"


"Kerena aku belum siap membawamu kesana,"


"Kemana memangnya?" tanya Annisa penasaran.


"Suatu saat nanti kau juga akan tau, tapi bukan sekarang waktunya,"


Annisa mengangguk, pada dasarnya dia juga bukan orang yang kepo dengan urusan orang lain, jadi rasa penasaran yang hinggap di pikirannya menguap begitu saja entah kemana.


...****************...


"Kau benar-benar akan terus bekerja?" tanya Reenan saat melihat istrinya sudah siap dengan pakaian kerjanya.


Annisa dan Reenan sudah kembali dari hotel 2 hari yang lalu, dan semalam mereka sepakat untuk kembali bekerja esok hari.


"Kenapa? Bukankah kita sudah sepakat di awal?" tanya Annisa tanpa menoleh ke arah Reenan.


Annisa sibuk merias wajahnya agar terlihat sedikit fresh pada pagi ini, maklum saja sebagai pengantin baru jam tidur Annisa banyan berkurang setelah menikah.


"Kau tidak lelah?" tanya Reenan khawatir.


"Jika aku lelah, aku akan menerobos ruangan mu dan akan tidur di sofa yang ada di ruangan mu!" balas Annisa santai.


Reenan hanya berdecak kesal dengan jawaban istrinya, jika ingin jujur Reenan senang-senang saja istrinya masih berkerja menjadi sekretarisnya itu berarti Reenan akan lebih tenang karena istrinya akan terus dalam pengawasannya.


Tapi jika ingin jujur lebih lebih dan lebih dalam lagi, Reenan sangat berharap istrinya di rumah saja melakukan apa yang ia suka, atau jika ingin membuka usaha Reenan akan dengan senang hati mengabulkan permintaan istrinya itu.


"Jangan kelelahan oke?" ucap Reenan pada akhirnya. Bagaimanapun mereka sudah membahas dan sepakat tentang hal ini jadi Reenan tidak mungkin menghalangi istrinya untuk bekerja.

__ADS_1


"Iya, tidak usah khawatir!" jawab Annisa seraya bangkit untuk memakaikan dasi Reenan.


"Kau istriku, kenapa aku tidak boleh khawatir?"


"Untuk apa? Aku bekerja denganmu, kau bisa melihatku dari dalam ruangan mu, dan yang terpenting aku adalah istrimu, apa yang perlu di khawatirkan dari itu semua?" tanya Annisa panjang lebar.


"Baiklah lakukan apa saja maumu, dan ini!" Reenan mengulurkan sebuah ATM dan kartu kredit pada istrinya.


"Gunakan ini untuk kebutuhanmu, kau bebas membeli apapun dari dua kartu itu!" sambung Reenan.


Annisa menerima kartu pemberian suaminya dan mengucapkan terima kasih.


Akhirnya mereka berdua berangkat bersama menuju ke kantor, karena Annisa tidak ingin statusnya di rahasiakan dan lagipula semua orang sudah tau bahwa ia menikahi CEO di tempatnya bekerja.


"Kau mimpi buruk lagi semalam?" tanya Annisa di tengah perjalanan. Reenan hanya terdiam kaku.


"Kenapa? Apa aku berteriak?" tanya Reenan.


"Tidak, hanya tidurmu gelisah dan bergumam tak jelas" terang Annisa.


"Sebenarnya apa yang kau mimpikan itu? Apa menakutkan sekali?" Annisa bertanya penasaran.


"Bukan apa-apa, hanya mimpi buruk biasa" jawab Reenan gugup.


"Perlu ke psikiater?" tanya Annisa lagi "Kalau mimpi buruk mu sangat mengganggu aku bisa menemanimu ke psikiater"


"Tidak, ini hanya mimpi buruk biasa, jangan di bahas lagi," jawab Reenan sedikit keras. Annisa hanya diam tidak berkata lagi.


...****************...


"Pulanglah!"


"Kau tidak bekerja lagi?"


"Tidak, jangan ganggu aku!"


Damar kembali bergumul dengan selimut dan tidak berminat untuk bangun dari tempat tidurnya.


"Kau sudah menumpang di rumahku sejak mantan istrimu kembali menikah!"


"Aku akan membayar mu nanti!" jawab Damar.


"Aku tidak butuh uangmu!" balas Kevin jengah.


Sejak Annisa kembali menikah, Damar selalu uring-uringan bahkan tidak mau kembali ke rumahnya.


Sebenarnya Kevin tidak masalah Damar menumpang di rumahnya, tapi melihat keadaan sahabatnya yang seperti gelandangan membuat Kevin geleng-geleng kepala.


Tidak mandi, makan sembarangan, tidak mau bekerja, bahkan kadang-kadang menangis sendiri membuat Kevin lama kelamaan menatap Damar prihatin.


"Kau ingin bercerita?" tawar Kevin.


"Tanpa aku bercerita kau pasti sudah tau keadaanku!" jawab Damar lemas.


"Tapi mungkin bercerita akan mengurangi sakit hatimu," tawar Kevin lagi.

__ADS_1


"Denganmu? Mending aku diam saja!" jawab Damar.


"Ingin rasanya aku menendang bokong mu keluar dari sini" ucap Kevin sambil menutup pintu kamar yang di tempati oleh Damar.


Sepeninggal Kevin Damar terlentang memikirkan hal-hal yang mengganggunya belakangan ini.


Penyesalan memang selalu datang belakangan, ia tidak pernah memprediksi bahwa ia akan kembali merasakan sakit hati tapi kali ini ia sakit hati karena tingkahnya sendiri.


Ia kira bahwa lepas dari Annisa akan membuatnya merasa bebas dan tidak terbebani dengan statusnya sebagai seorang suami, tapi nyatanya salah, lepas dari Annisa malah membuatnya semakin terpuruk.


"Bodoh!" rutuk Damar pada dirinya sendiri.


Damar kemudian bangkit dari tidurnya dan menuju kamar mandi, setidaknya ia harus mempertahankan kewarasannya sekarang. Mandi, bercukur dan menata rambutnya agar terlihat lebih hidup.


"Mau kemana?" Kevin menoleh saat melihat Damar sudah rapi dengan tampilannya.


"Mau ikut?" tawar Damar.


"Tidak, jika kau ingin bunuh diri aku tidak mau di jadikan saksi atau di ajak mati bersamamu" ucap Kevin santai.


Damar hanya terkekeh mendengar perkataan temannya.


"Sebentar lagi anak-anak lain akan kesini, kau tidak ingin bertemu mereka?" tanya Kevin lagi.


"Aku akan pergi sebentar, nanti aku kembali lagi kesini!"


"Kau mau kemana?" tanya Kevin lagi.


"Aku akan pergi sebentar, tenang saja aku tidak akan bunuh diri!" ucap Damar sambil berlalu pergi.


Damar melajukan mobilnya ke salah satu apartemen yang sangat ia hafal tempatnya.


Damar melangkah panjang untuk segera mencapai unit apartemen tujuannya.


Tok tok tok


Pintu terbuka setelah Damar beberapa kali mengetuk pintu di depannya.


"Damar?"


Bruk


"Kenapa? Masuk dulu!"


Via sedikit kewalahan karena saat membuka pintu Damar tiba-tiba memeluknya erat.


Mereka kemudian masuk dengan posisi Damar masih memeluk Via.


Mereka masih tetap berdiri dengan posisi Damar memeluk Via, Via membalas dengan mengelus punggung Damar lembut.


"Kenapa?" tanya Via lagi.


"Biarkan seperti ini dulu" jawab Damar.


Via mengangguk tanpa bersuara, ia hanya terus mengelus punggung Damar konstan hingga Via merasa punggung Damar bergetar hebat.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, menangis saja aku ada disini" ucap Via menenangkan.


Dan dua manusia itu hanya saling diam dengan pikiran dan perasaan masing-masing.


__ADS_2