Cinta Lama Belum (Tentu) Kembali

Cinta Lama Belum (Tentu) Kembali
CLB(t)K 23


__ADS_3

"Permisi?"


Suara pria terdengar dari arah luar ruang rawat inap Annisa.


"Iya? Silahkan masuk!" ucap Annisa dari dalam.


Ia hanya seorang diri pagi ini, ibunya sedang pulang untuk menyiapkan kebutuhannya di rumah sakit, ayahnya juga harus pulang untuk bekerja dan sang adik juga ada jadwal kuliah pagi ini.


Ceklek...


Pintu ruangan terbuka dan menampilkan seseorang yang Annisa pikirkan sejak semalam.


Reenan melangkah masuk dan mendekati Annisa, tak lupa ia menutup pintu di belakangnya.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" ucap Reenan sembari duduk di sebelah Annisa.


"Alhamdulillah lebih baik dari semalam," ucap Annisa.


Suasana di antara mereka mendadak canggung.


"Maaf" ucap Reenan tiba-tiba.


"Untuk apa?" jawab Annisa bingung.


"Untuk kecurigaanku terhadapmu, aku tau mungkin aku turut andil membuatmu jadi sakit begini," ucap Reenan sungguh-sungguh.


"Masih ada waktu untuk memikirkan kembali keputusanmu tempo hari, jika kau tidak bisa percaya padaku, aku tidak akan menghalangi mu untuk mundur," ucap Annisa santai.


Kenapa saat ia sakit harus di hadapkan dengan pemikiran-pemikiran yang memberatkan dirinya.


Saat menikah ataupun saat ini sepertinya saat sakit adalah saat tepat bagi seseorang menambah beban berat pikiran Annisa.


"Anda bisa pulang dan berpikir lagi tentang kelanjutan hubungan ini, apapun itu aku siap dan aku juga akan setuju apapun keputusanmu!" ucap Annisa tegas.


"Bukan seperti itu maksudku, aku tetap akan melanjutkan hubungan ini, kakek sudah...."


"Sudah ku katakan dari awal, jika ini hanya tentang tuan besar aku tidak akan mau, jadi sudahi saja!" ucap Annisa memotong perkataan Reenan.


"Annisa jangan potong pembicaraanku, dengarkan aku dulu!"


"Saat aku menikah lalu sakit seperti ini, hubunganku dan mantan suamiku yang tidak baik-baik saja ketahuan oleh ibuku, aku yang sakit juga harus berpikir bagaimana tentang kelanjutan pernikahanku dulu, dan sekarang hal ini terulang kembali, saat aku sakit aku di hadapkan pada hubungan dengan seorang pria lagi dan karena hubungan ini belum terlaku jauh kita sudahi saja, aku lelah benar-benar lelah," ucap Annisa panjang lebar.


Reenan terdiam, tidak ingin mengatakan hal apapun, ia membiarkan Annisa selesai dengan kalimatnya dulu,


"Perasaanku tidak enak sejak kemarin, aku sedang sibuk-sibuknya hingga aku lupa dimana aku menaruh handphoneku, pagi ini saat ku temukan handphoneku di dalam tas kerjaku dan membaca pesanmu aku langsung menuju ke ruang cctv, ingin mencari tau dulu apa kau sakit sejak di kantor atau kau sudah sakit sebelumya, aku lihat semuanya kau panik hingga mengacak-acak meja kerjamu, tanganmu mengepal dan kau menangis tapi tertahan, aku tau dan aku melihat semuanya" ucap Reenan.


Giliran Annisa terdiam mendengarkan perkataan Reenan.

__ADS_1


"Aku tau harusnya aku tidak bertanya seperti itu padamu saat kita berjauhan, itu akan menimbulkan asumsi yang berbeda di antara kita, tapi aku juga manusia yang bisa membuat kesalahan, aku tidak memaksamu untuk menjelaskan padaku, aku tau dan aku percaya bahwa kau tidak akan melakukan hal buruk di belakangku, aku percaya itu dan aku percaya padamu," sambung Reenan.


Annisa tertawa getir mendengar itu semua, rasanya ia sedang di bohongi atau di rayu dengan kalimat Reenan barusan.


"Sudahlah, aku tidak ingin menjelaskan ataupun di jelaskan tentang hal apapun, aku ingin bebas sendiri seperti dulu, jika pun aku harus kembali berurusan dengan seorang pria aku hanya ingin masa laluku tidak lagi mengusikku hingga hal-hal seperti ini bisa terulang kembali, aku hanya lelah dan tidak ingin repot berpikir yang aku sendiri sudah muak dengan hal itu, sudahi saja, aku juga akan mundur dari perusahaan mu"


Reenan mengacak rambutnya kasar, bingung melanda dirinya saat ini, ia benar-benar tidak tau lagi bagaimana caranya untuk meyakinkan Annisa.


Perempuan di depannya ini terlalu bebal, tapi Reenan juga sadar bahwa masa lalu perempuan di depannya ini juga tidak mudah.


"Dengarkan aku!" ucap Reenan "Setiap manusia bisa melakukan kesalahan, aku, kamu dan semua manusia bisa melakukan kesalahan, bisa curiga, bisa berpikir tentang hal yang bersimpangan dengan kenyataan, itu sifat manusia Annisa, dan aku juga manusia!"


"Aku percaya padamu tanpa harus kau jelaskan, aku percaya! Tapi jangan seperti ini, di sini bukan hanya kau yang punya perasaan, aku juga punya perasaan Annisa, aku juga bisa kecewa, marah dan sakit hati sepertimu!" ucap Reenan dengan satu tarikan nafas.


"Aku tau, karena itu kita harusnya saling menjaga jarak untuk menjaga perasaan masing-masing!" ucap Annisa tak mau kalah.


"Annisa!" Reenan reflek menutup mulutnya saat nada suaranya meninggi.


"Aku ingin istirahat!" ucap Annisa memalingkan muka agar tidak menatap Reenan.


Reenan mengambil handphonenya dan menghubungi Joshua.


"Bawakan aku pakaian ganti, aku tidak akan kembali kekantor, aku kirimkan alamatnya!" ucap Reenan lalu mematikan sambungan telfonnya.


"Kembalilah ke kantor, pekerjaanmu pasti banyak sekali!" perintah Annisa yang di abaikan oleh Reenan.


...****************...


1 jam berlalu, kini di dalam ruangan ada Annisa, Reenan, Joshua dan bu Lisa, keadaan canggung pastinya, saat mereka tau bahwa ada dua orang yang sedang berseteru.


Bahkan Joshua menutup mulutnya rapat-rapat sewaktu sampai di rumah sakit dan melihat Reenan menatap Annisa tajam tetapi Annisa pura-pura tidur untuk mengabaikan tatapan Reenan.


Bu Lisa juga tidak berani menginterupsi dua orang di depannya yang sedang saling menatap tajam gara-gara makanan dari rumah sakit.


"Makan!" titah Reenan.


"Tidak!" balas Annisa.


"Makan!


"Tidak!"


"Makan atau aku akan menciummu di depan ibumu!" ancam Reenan.


"Tidak, aku tidak mau makan itu!"


"Kau sakit! Jadi menurut saja apa susahnya!"

__ADS_1


"Makanan rumah sakit tidak enak!" ucap Annisa.


"Halah alasan, makan kalau mau sembuh!"


"Buang saja!"


"Jangan harap setelah ini kau akan dapat makan! Ibumu akan di antar Joshua pulang dan aku yang akan menemanimu disini!" ucap Reenan final.


Annisa mendengus sebal mendengar perkataan Reenan.


"Memang anda siapa? Kenapa mengatur-atur hidupku? Anda bukan siapa-siapa untukku kalau anda lupa!" ucap Annisa nyalang.


"Josh jemput kakek dan ibu tolong telfon ayah Annisa agar beliau bisa kesini, dan Josh panggil ustad keluargaku bawa kesini! Aku akan menikahi perempuan ini malam ini juga!" ucap Reenan.


Annisa melotot tajam "Kau gila?" ucapnya setengah berteriak.


"Aku akan menikahi mu secara siri dulu, setelah sembuh aku akan menikahi mu secara resmi, itu untuk pembuktian bahwa tidak ada yang boleh menantang ku!" Reenan menatap tajam ke arah Annisa.


Joshua dan bu Lisa hanya saling pandang melihat perseteruan dua orang di depannya ini. Tidak ada yang berani melangkah, karena melihat emosi dari dua orang yang sama-sama keras kepalanya ini.


"Bisa kita bicara baik-baik dulu?" bu Lisa akhirnya mulai berbicara.


"Aku sudah berbicara dengan baik sedari pagi bu, tapi anak perempuan anda benar-benar membuatku sakit kepala!" ucap Reenan tanpa melepas pandangan dari Annisa.


"Jangan menyesal dengan keputusanmu!" ucap Annisa.


"Tidak akan!" sahut Reenan cepat.


"Menikah bukan permainan nak, pikirkan dengan kepala dingin," mohon bu Lisa pada anaknya.


"Kita lihat saja bu, sejauh mana laki-laki ini bisa sombong!"


"Annisa! Jangan main-main dengan pernikahan, kau sudah pernah gagal dalam rumah tangga, jangan mengulangi kesalahan yang sama!" ucap bu Lisa memberi pengertian.


"Tenang saja bu, dia sudah berjanji kita bisa mengambil hartanya bahkan bisa membunuhnya jika dia macam-macam denganku!" ucap Annisa bertambah emosi.


"Annisa!" bu Lisa membentak anaknya.


"Telfon ayah bu, aku setuju menikah dengannya!" Annisa tidak melepaskan pandangannya dari Reenan.


"Baik! Josh jemput kakek sekarang dan jangan lupa menjemput ustad keluarga juga!"


"Aku punya syarat! Aku tetap ingin bekerja!" ucap Annisa dan di angguki oleh Reenan.


"Aku juga punya syarat! Aku tidak ingin menyembunyikan hubungan suami istri kita itu merepotkan!" ucap Reenan mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Annisa.


"Deal!" ucap mereka bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2