
"Jadi kakak yang..." Annisa tidak bisa melanjutkan perkataannya.
"Maaf jika aku harus memberitahumu dengan cara seperti ini, tapi itulah kenyataannya" ucap Via.
"Karena foto yang kakak sebarkan itu aku harus menanggung lagi resikonya, harus sakit hati lagi, sampai harus masuk rumah sakit lagi" nada suara Annisa semakin meninggi.
"Jika memang kakak sangat ingin kembali pada Damar, silahkan! Ambil saja! Tapi jangan seperti itu, menguntit seseorang bukanlah hal yang baik!" Annisa lantas berdiri dan berlalu pergi.
Annisa mempercepat langkahnya ketika ia sadar bahwa Via berlari mengejarnya.
"Dengarkan aku dulu, aku memang ingin kembali pada Damar, tapi ia sama sekali tidak mau melihatku, pertemuan kami hanya diisi dengan emosi dan amarah darinya, dia benar-benar ingin kembali lagi padamu!"
"Lalu apa hubungannya denganku? Apa aku mengganggu kalian? Apa aku masih berusaha membuat Damar kembali padaku? Kenapa tega sekali padahal aku sudah tidak ingin berurusan dengan masa laluku!"
Annisa berjalan cepat sebelum orang lain sadar bahwa kini dirinya sedang berdebat.
Annisa sebisa mungkin menghindar dan berlari menjauh sebelum langkahnya disusul oleh Via lagi.
...****************...
Reenan benar-benar membuktikan ucapannya, terbukti dengan malam ini ia membawa kakeknya untuk melamar Annisa secara resmi.
Semua berjalan lancar, niat Reenan di terima dengan baik oleh keluarga Annisa, mereka sudah sepakat 2 minggu lagi akan melangsungkan pernikahan.
Walaupun keraguan masih ada di hati Annisa tapi ia coba memantapkan diri untuk kembali membina rumah tangga.
"Masih ragu?" Annisa terkejut saat mendengar pertanyaan Reenan.
"Mengagetkan saja!"
Reenan hanya memandang wajah Annisa tanpa berniat berkata-kata lagi.
"Apa terlihat sekali?" tanya Annisa, Reenan hanya mengangguk mengiyakan.
"Aku ingin sepenuhnya percaya tapi kau tau sendiri kan bagaimana masa laluku?"
Reenan kembali mengangguk mengerti.
"Percaya saja padaku, aku tidak bisa berjanji bahwa pernikahan kita akan selamanya bahagia, tapi aku berjanji akan berusaha untuk menjagamu dan pernikahan kita" ucap Reenan.
Kini giliran Annisa yang mengangguk setuju, hal itu membuat Reenan tersenyum lega.
__ADS_1
...****************...
Hari berganti hari, hingga tidak terasa esok pernikahan Annisa dan Reenan akan di langsungkan.
Hati Annisa selalu saja berdebar kencang saat ia sadar bahwa esok ia akan kembali menyandang status sebagai seorang istri.
Jika di pikirkan lagi, hampir 2 minggu ini hari-harinya diisi dengan gosip kantor yang sejujurnya membuat ia sedikit jengah.
Belum lagi pesan-pesan dari mantan suaminya yang sampai saat ini masih berusaha untuk membuatnya kembali.
"Jangan hiraukan apapun, fokus saja untuk pernikahan kita" ucap Reenan kala Annisa mengeluh tentang semua hal yang mengganggunya.
Bicara tentang Damar dan Via, Annisa mengundang mereka berdua untuk datang ke hari pernikahannya besok, ia berharap dengan datangnya mereka berdua tidak akan ada lagi yang mengganggunya di masa yang akan datang.
Bahwa pernikahannya juga akan membuktikan bahwa tidak ada kesempatan lagi bagi masa lalu Annisa untuk kembali.
"Akan ku usahakan hadir di pernikahanmu," pesan Damar saat undangan pernikahan telah sampai padanya beberapa hari lalu.
Sungguh Annisa berharap bahwa Damar akan berhenti mengganggunya lagi.
"Tidur! Ini sudah hampir pagi" bu Lisa menegur anak perempuannya yang masih setia berdiri di balkon hotel tempat mereka menginap.
Annisa dan seluruh keluarga besarnya juga keluarga Reenan memang menginap di hotel yang sama untuk mempermudah acara pernikahan besok pagi.
"Tidak usah mewah-mewah, ini pernikahan keduaku, aku malu!" ucap Annisa saat tau Reenan sudah membooking hotel yang akan mereka jadikan tempat akad dan resepsi pernikahan.
"Memangnya kenapa kalau pernikahan kedua? Tidak bolehkah di rayakan? Kau juga pasti punya pernikahan impian kan?"
"Pernikahan pertamaku hanya sederhana tapi khidmat!" jelas Annisa.
"Jangan samakan pernikahanmu dulu dengan pernikahan bersamaku, aku ingin kau merasakan menjadi ratu yang berbahagia di hari pernikahanmu, kau bebas mewujudkan seperti apa pernikahan impianmu!"
"Bagaimana jika aku ingin pernikahan seperti negeri dongeng?" tanya Annisa menantang.
"Besok kita pesan sesuai keinginanmu, kau bebas memilih apapun konsep yang kau inginkan,"
"Bagaimana denganmu?"
"Aku akan mengikuti apapun maumu, aku tidak punya pilihan khusus, aku sudah bahagia jika melihatmu juga bahagia," ucap Reenan di sertai kedipan mata di akhir kalimat.
"Gombal!" ucap Annisa menahan rona merah di pipinya.
__ADS_1
...****************...
"Saya terima nikah dan kawinnya Annisa Harsono binti bapak Hendra Harsono dengan maskawin tersebut tunai." Reenan mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas.
"SAH" ucap para saksi bersamaan.
Reenan bisa bernafas lega sekarang, gugup yang sedari tadi ia rasakan sudah menguap hilang entah kemana.
Annisa juga merasakan hal yang sama dengan Reenan, tak terasa air mata menetes dari pelupuk mata Annisa.
Bahagia, haru, senang, lega semua menjadi satu hingga Annisa tidak bisa berkata apapun lagi.
Reenan dan Annisa bangkit dari duduknya, Reenan mengulurkan tangannya dan di sambut Annisa dengan mencium punggung tangan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.
Banyak sorak sorai hadirin yang ikut berbahagia melihat pernikahan mereka berdua,
Setelah sesi ijab kabul selesai, Annisa dan Reenan mengganti baju mereka untuk melakukan resepsi bertema adat jawa tengah lengkap.
Awalnya Reenan bingung kenapa Annisa ingin mengusung tema adat jawa tengah, ia pikir Annisa akan memakai gaun-gaun seperti negeri dongeng atau semacamnya, tapi setelah Annisa menjelaskan bahwa ayahnya berasal dari jawa tengah akhirnya Reenan mengangguk paham.
Seluruh prosesi adat Annisa lakukan dengan penuh kebahagiaan, jika dulu ia hanya menerima bahwa pernikahannya di langsungkan di rumah tanpa adanya pesta mewah sekarang ia bisa mewujudkan pernikahan khidmat impiannya.
Pandangan Reenan tidak pernah lepas dari wajah ayu istrinya itu, Reenan sangat bersyukur bisa mewujudkan salah satu impian Annisa.
Semua prosesi upacara adat Reenan lakukan dengan ikhlas, walaupun ia harus menahan pegal karena memakai kain jarik dan juga beskap pengantin tapi ia dengan rela hati melakukannya asal sang istri bahagia.
Saat sudah duduk di atas panggung pelaminan, Reenan bertanya pada istrinya.
"Bahagia?" tanya Reenan memastikan.
"Sangat bahagia, terima kasih" balas Annisa jujur.
Jika sekarang sedang tidak berada di atas panggung, ingi sekali Reenan memeluk istrinya ini.
"Aku berharap ini sebagai pernikahan terakhirku, dan kita akan selalu bahagia dalam pernikahan ini," sambung Annisa sambil tersenyum menatap Reenan.
Cantik.
Cup.
Klik.
__ADS_1
Momen yang sangat pas di abadikan oleh sang fotografer, saat Reenan mencuri sebuah ciuman di bibir istrinya.