Cinta Lama Belum (Tentu) Kembali

Cinta Lama Belum (Tentu) Kembali
CLB(t)K 24


__ADS_3

Suasana di dalam kamar rawat Annisa mendadak hening, dua orang yang beradu argumen hanya bisa menunduk diam kala sang ustadz memberi nasihat kepada keduanya.


"Jangan menikah hanya karena emosi seperti ini!" ucap sang ustadz memberi nasihat.


Annisa dan Reenan mengangguk serempak, tidak ada bantahan apapun saat mereka di beri nasihat seperti sekarang ini.


"Jika memang ingin menikah tunggu Annisa sehat dulu, semuanya akan di urus oleh ibu Annisa nanti" ucap ayah Annisa.


"Kalau memang sudah sangat ingin menikah, beri kakek waktu beberapa hari, kakek akan mengurus semuanya," Hardi, kakek Reenan memberikan pendapat.


"Jangan seperti ini, menikah bukan permainan, jangan memutuskan hal seperti itu karena emosi atau hal sepele lainnya" ucap ayah Annisa lagi.


"Bodoh!" tiba-tiba Joshua ikut bersuara, tak pelak tatapan tidak suka Annisa dan Reenan berikan padanya.


"Apa? Tidak terima ku katai bodoh?" ucap Joshua sambil berkacak pinggang.


Annisa dan Reenan kembali menunduk dalam, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka berdua.


"Reenan kau harus pulang, Annisa belum sah menjadi istrimu," kakek Reenan memberikan instruksi pada cucunya itu.


"Aku akan menginap disini sampai Annisa sembuh," Reenan berkata santai.


"Tidak usah! Pulang sana!" ucap Annisa.


"Aku mau disini!" Reenan tak mau kalah.


"Kau pikir ini rumahmu? Aku tidak perlu kau temani!"


"Aku harus memastikan kau dalam pengawasanku, bagaimana jika keadaanmu memburuk saat aku tidak disini?"


"Kau berharap keadaanku memburuk?" nada Annisa sedikit tinggi.


"Memang aku bilang begitu?" Reenan tak mau kalah.


"Kenapa bertengkar lagi?" tanya bu Lisa heran.


Reenan tetap bergeming di tempatnya tidak ingin meninggalkan Annisa.


"Terserah, tidur saja di lantai sana!" ucap Annisa kemudian.


"Josh belikan aku kasur lipat!" ucap Reenan menatap Joshua, yang di tatap hanya memutar matanya bosan.


"Beli sendiri! Istriku sebentar lagi kesini jadi aku tidak bisa kemana-mana"


"Sebenarnya bagaimana awal mula kalian jadi bertengkar seperti ini?" tanya Joshua yang bingung akan keadaan di depannya ini.


Reenan dan Annisa kompak diam, akan menjadi masalah jika Reenan menceritakan sebenarnya apalagi ada orang tua Annisa dan kakeknya.


"Kami tidak bertengkar, ini cara kami saling memperhatikan satu sama lain" ucap Annisa dengan nada suara yang melembut.


"Bertengkar begini? Unik sekali, sampai menghebohkan banyak orang," sambung Joshua lagi.

__ADS_1


30 menit berlalu satu persatu orang yang di dalam ruangan Annisa pamit untuk pulang, di mulai dari kakek Reenan dan ustadz, di susul ayah dan adik Annisa juga ibu Annisa yang akhirnya mengikuti suaminya pulang.


Tinggallah Annisa, Reenan, Joshua dan istri Joshua di dalam kamar itu.


"Bukankah kalian harusnya pulang besok?" tanya Annisa saat menyadari bahwa ini baru 3 hari dari kepergian Reenan kemarin.


"Reenan membuat semua berjalan cepat dan tepat, jadi kita bisa pulang lebih awal walaupun jam kerja dan jam tidurku kacau balau setiap hari," jawab Joshua.


"Kau itu suka sekali menyiksa orang!" tunjuk Annisa pada Reenan.


"Siapa yang menyiksa? Aku mengeluarkan uang lebih untuk kerja 3 harinya itu, di bandingkan dengan gajinya perbulan itu terhitung 3 kali lipatnya! Jadi jangan menuduhku sembarangan!" sahut Reenan santai.


Kini giliran Annisa yang menatap Joshua malas, jika tidak ada istri Joshua sudah bisa di pastikan Annisa akan berbicara panjang lebar terhadap Joshua.


"Jika aku pulang, kalian tidak akan melakukan hal apapun kan?" tanya Joshua pada Annisa.


"Hal apa? Aku sedang sakit begini mana mungkin melakukan hal seperti di pikiranmu itu!" balas Annisa.


"Tapi tenagamu luar biasa saat bertengkar tadi?" tanya Joshua dengan wajah mengejek. Annisa memutar wajah malas saat mendengar ejekan Joshua.


Tidak lama kemudian Joshua dan istrinya juga berpamitan untuk pulang ke rumah mereka.


"Tidurlah, sudah cukup untuk hari ini!" ucap Reenan.


"Aku belum mengantuk"


"Oke" jawab Reenan.


Mereka berdua kembali diam bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.


"Jangan memulai pembicaraan apapun yang akan berakhir dengan pertengkaran!" ucap Reenan memperingatkan.


"Aku saja belum mulai berbicara!" jawab Annisa kesal.


"Tidurlah!"


"Reenan, bolehkah aku bertanya?"


"Boleh"


"Siapa yang mengirimkan fotoku padamu waktu itu?" tanya Annisa penasaran.


Reenan mengambil handphonenya dan menunjukan pesan masuk berisi foto dimana Annisa keluar dari club malam bersama Damar.


"Tidak ada nama pengirimnya, aku sendiri bingung kenapa dia bisa punya nomer ku," ucap Reenan jujur.


"Kau tidak penasaran?" Annisa bertanya kembali.


"Aku penasaran, aku sudah menyuruh seseorang menyelidikinya tadi,"


"Maafkan aku," ucap Annisa.

__ADS_1


"Untuk?"


"Seharusnya aku memberitahumu dulu sebelum memutuskan pergi waktu itu, setidaknya tidak akan terjadi salah paham di antara kita"


"Tidak usah dipikirkan! Lagipula semua sudah terjadi,"


"Baiklah, tapi maafkan aku,"


"Iya, sekarang tidurlah!"


...****************...


"Apa calon istriku sangat menarik di matamu?" tanya Reenan pada seseorang di depannya,


"Apa maksudmu?" balas Damar.


Kini Reenan dan Damar sedang duduk di dalam kantor Damar. Reenan menyempatkan waktunya untuk singgah di kantor milik rekan kerja sekaligus rivalnya dalam mendapatkan cinta.


"Lihat ini!" Reenan menunjukkan foto yang ada di handphonenya.


Damar menyeringai sinis melihat foto yang di tunjukkan oleh Reenan.


"Kenapa? Anda tidak bisa menerima fakta bahwa masih ada sedikit rasa untukku di hati Annisa?" ucap Damar dengan nada mengejek.


"Sedang bermimpi?" tanya Reenan remeh "Nyatanya dengan seseorang mengirimkan foto ini untukku malah menjadi alasan kami akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini!"


"O ya? Lalu aku harus bagaimana? Mengucapkan selamat? Selama kalian belum resmi menjadi suami istri, masih ada kesempatan untukku mengambil posisiku kembali bukan?" ucap Damar.


"Teruslah bermimpi!" Reenan bangkit dari duduknya dan berhadapan dengan Damar, tak ada kata yang terucap, hanya tatapan mata yang menyiratkan bahwa kini mereka tidak menyukai satu sama lain.


"Aku tidak pernah melepaskan apa yang menjadi milikku, jika kau dulu melepaskannya itu karena kebodohanmu sendiri dan keberuntungan untukku!" lanjut Reenan.


Damar menatap Reenan tidak terima, rasanya ingin sekali membalas ucapan milik Reenan.


Reenan berlalu dari dalam ruangan milik Damar. Sebelum keluar Reenan menyempatkan untuk sedikit berbicara lagi pada Damar.


"Beritahu mantan kekasihmu,Jika berani membuat ulah lagi dan mengganggu Annisa lagi, dia akan langsung berhadapan denganku!'


Blam....


Pintu ruangan tertutup sempurna.


Damar berdiri mematung di tempatnya, Damar berpikir apa hubungan mantan kekasihnya dan Annisa hingga Reenan berkata semacam itu.


Tak lama Damar mengambil kunci mobil miliknya dan segera pergi ke apartemen milik Via mantan kekasihnya.


"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Damar sesaat setelah Via membukakan pintu apartemennya.


"Apa? Aku tidak tau apa yang kau bicarakan!" ucap Via bingung.


"Kau mengirim sesuatu pada Reenan?" tanya Damar langsung.

__ADS_1


"Aku....aku tidak..."


"Apapun tujuanmu hentikan! Aku tidak akan pernah kembali denganmu!"


__ADS_2