Cinta Lama Belum (Tentu) Kembali

Cinta Lama Belum (Tentu) Kembali
CLB(t)K 22


__ADS_3

"Apa tidak cukup dengan membuang ku? Apa tidak cukup dengan membuatku muak denganmu? Kenapa setelah bercerai kau itu selalu merepotkan ku! Aku bahkan tidak ingin bertemu denganmu! Tapi kenapa malah kau terus-terusan datang di hadapanku! Aku muak Damar aku muak!" Annisa berkata di depan Damar yang sebenarnya tidak mabuk sama sekali,


Damar menyusun strategi agar Annisa bisa bertemu dan berbicara dengannya dari hati ke hati, walau bagaimanapun Damar sangat ingin memperjuangkan Annisa kembali untuk menjadi istrinya.


Dengan memanfaatkan Kevin, ia berusaha membujuk temannya itu untuk menghubungi Annisa agar bisa bertemu dengannya.


"Aku salah, aku tau itu, tapi bisakah kita berbicara dulu?" ucap Damar perlahan. Ia tau Annisa sedang berada di puncak emosi gara-gara dirinya.


"Bicara saja dengan bayanganmu!" Annisa segera berlalu menuju pintu keluar apartemen Damar.


"Annisa aku mohon, sekali ini saja aku mohon padamu pertimbangkan lagi tentang perasaanmu padaku, aku tau masih ada sedikit cinta bukan untukku?" ucap Damar dengan percaya diri.


"Cinta untukmu sudah mati dan ku kubur dalam-dalam hingga tidak bersisa sama sekali!"


"Annisa kumohon, pikirkanlah kembali, aku benar-benar tidak ingin kembali kehilanganmu!" ucap Damar putus asa.


Damar sadar waktunya sebentar lagi untuk memperjuangkan perasaannya pada mantan istrinya itu, oleh karena itu Damar berusaha sekuat tenaga untuk membuat Annisa yakin dan dapat kembali padanya.


"Persetan! Jangan pernah muncul di hadapanku lagi!"


BLAMMM.......


Annisa menutup pintu apartemen Damar sekuat tenaga, peduli setan jika pintu itu rusak, Annisa benar-benar tidak peduli tentang hal itu.


Annisa segera memasuki mobilnya dan berlalu dari kawasan apartemen milik Damar. Tanpa Annisa tau bahwa sepasang mata menyoroti langkahnya saat pergi dari kawasan itu.


Klik...


Beberapa foto saat Annisa berjalan menuju ke arah mobilnya hingga sampai Annisa pergi semua di ambil secara rinci.


Terkirim...


Foto-foto itu terkirim entah kepada siapa, yang jelas langkah Annisa mungkin tidak akan semulus seperti yang ia bayangkan.


...****************...


"Aku akan pulang lusa," ucap Reenan saat Annisa bertanya melalui telfon kapan ia akan kembali,


"Aku lupa kau baru dua hari disana," balas Annisa.


"Ada apa memangnya?" tanya Reenan kembali.


"Tidak ada apa-apa, kalau begitu aku tutup dulu telfonnya" ucap Annisa mengakhiri panggilan telfonnya.

__ADS_1


Annisa kembali pada rutinitas bekerjanya, semakin hari semakin ia merasa ahli menghandle semua pekerjaannya sendiri tanpa bantuan Joshua.


"Maaf mba ada paket untuk mba Annisa," seorang office girl menyerahkan sebuah map coklat besar untuk Annisa.


"Dari siapa?" tanya Annisa bingung, pasalnya ia merasa tidak pernah memesan barang apapun melalui ekspedisi.


"Saya tidak tau, kalau begitu saya permisi dulu," ucap office girl itu sopan. Annisa juga mengangguk sopan.


Annisa segera membuka map coklat itu dan betapa terkejutnya ia saat melihat foto-fotonya dari saat dirinya menjemput Damar di club hingga saat ia keluar dari kawasan apartemen Damar.


Bersamaan dengan itu sebuah pesan masuk yang membuat Annisa bingung harus berkata apa.


[ Foto ]


[Bisa tolong jelaskan tentang ini?]


Sebuah pesan masuk dari Reenan semakin membuat Annisa kelimpungan, siapa yang mengambil foto-foto ini? Bagaimana bisa ia kecolongan tentang hal seperti ini? Pikiran-pikiran buruk terus saja berseliweran di kepala Annisa.


Tanpa pikir panjang Annisa segera menghubungi Reenan, berharap Reenan akan mengangkat telfonnya.


"Reenan!" ucap Annisa saat panggilan telfonnya langsung terhubung dengan Reenan.


"Bagaimana?" ucap Reenan dalam.


"Jelaskan pada saat kita bertemu esok lusa, jangan melalui telfon!" ucap Reenan lalu mematikan sambungan telfonnya.


"Apa lagi ini?" ucap Annisa sambil meremas handphone yang ada di tangannya.


Annisa ingin berteriak dan ingin menangis menghadapi ini semua, kenapa setelah bercerai ada saja batuan yang menyandung langkah kakinya di kehidupannya saat ini.


Status yang di pandang sebelah mata, gosip yang tidak benar, ucapan-ucapan menyakitkan dari sekelilingnya, dan di tambah lagi dengan hal ini, rasa-rasanya Annisa ingin pergi jauh dari ini semua.


Membuka lembaran baru, dengan nama dan identitas yang baru, tinggal di lingkungan yang baru, dan memulai semuanya dengan awal yang baru, Annisa ingin seperti itu saja saat ini.


"Kenapa bertubi-tubi sekali?" ucap Annisa pada dirinya sendiri.


Annisa tetap berusaha fokus dengan pekerjaannya walaupun pikirannya sedang entah berada dimana.


Rasanya badannya mendadak menggigil kedinginan dan rasa panik semakin meningkat, Annisa berusaha untuk mengatur nafasnya dengan baik, tapi gagal tangganya tiba-tiba terkepal sendiri dan air mata semakin deras keluar.


"Bagaimana ini? bagaimana?" ucap Annisa terus menerus. Beruntungnya tidak ada yang sadar dengan kondisi Annisa saat ini.


Selain karena ada sekat pemisah antara ruang Annisa dan ruang karyawan, kebetulan saat ini juga sudah memasuki jam makan siang jadi seluruh karyawan keluar untuk beristirahat.

__ADS_1


Annisa terus saja bergelut dengan pikirannya, tidak ada yang bisa menolongnya selain dirinya sendiri saat ini.


Tangan yang semakin dingin dan terkepal erat membuat Annisa semakin tidak terkendali,


30 menit berlalu, Annisa sudah mulai bisa menguasai dirinya sendiri, ia berusaha menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang menghampirinya saat ini, walau keringat dingin masih terus saja keluar dari tubuhnya setidaknya tangannya sudah bisa ia lemaskan dan tidak terkepal lagi.


"Tarik nafas dan hembuskan perlahan" Annisa tetap berbicara pada dirinya sendiri.


30 menit sebelum jam pulang kantor Annisa sudah menghubungi adiknya untuk menjemputnya, Annisa sadar bahwa saat ini ia tidak bisa jika harus mengendarai motor seorang diri itu bisa membahayakan dirinya.


"Kenapa minta di jemput? Bagaimana motormu?" tanya Andi saat Annisa sudah memasuki mobil.


"Biarkan saja tidak usah khawatir, esok kau mengantarku kembali bisa?" tanya Annisa.


"Bisa, sekalian aku berangkat kuliah" jawab Andi.


Saat sampai rumah Annisa langsung membersihkan dirinya lalu merebahkan tubuhnya setelah mandi dan bersih-bersih.


Rasanya lelah dan pusing yang ia rasakan saat ini, kepalanya sangat berat dan tubuhnya juga mendadak demam.


"Makan malam?" sang ibu masuk dan mengajak Annisa untuk makan.


"Bu, aku tidak enak badan" ucap Annisa lesu.


"Coba sini ibu lihat" Lisa berjalan mendekat ke arah anak perempuannya "Panas sekali?" sambungnya kemudian.


"Ada obat demam tidak?" tanya Annisa pada ibunya


"Kita ke rumah sakit saja, panasmu tinggi sekali," ucap Lisa sambil berlalu ke luar kamar untuk memanggil suaminya.


...****************...


"Apa pekerjaanmu berat?" tanya Lisa saat Annisa sudah di pindahkan ke kamar rawat.


"Semua pekerjaan pasti memerlukan tenaga dan pikiran bu, jadi maklum saja jika sampai kelelahan,"


"Ini kali kedua kau masuk rumah sakit dengan penyakit yang sama,"


"Takdir mungkin," jawab Annisa sekenanya.


Annisa segera meraih handphonenya dan mengirim pesan pada Reenan bahwa esok dia tidak bisa masuk ke kantor,


Satu jam dua jam hingga tiga jam Annisa menunggu balasan dari pria itu tapi kenyataannya nihil, bahkan Reenan juga tidak membaca pesan yang ia kirimkan, bahkan hingga Annisa tertidur balasan yang ia harapkan tak kunjung ia dapatkan.

__ADS_1


__ADS_2