
Di pagi yang cerah ini, seperti biasa Ryana bangun pagi. Ia bersiap-siap untuk bersekolah. Sesegera mungkin mandi, mengganti bajunya dengan putih abu-abu, dan sarapan. Ketika jam menunjukkan pukul 06.00, ia langsung berlari menghampiri ayahnya di halaman belakang untuk berpamitan dan mencium ibunya yang sedang membereskan dapur lalu menuju jalan raya untuk menunggu bus.
Lima menit kemudian bus yang ditunggu pun datang, ia segera menaiki bus langganannya. Tiap pagi bus itu memang penuh oleh anak sekolah karena sebagian besar belum mempunyai kendaraan sendiri. Ryana menikmati perjalanan sekitar 30 menit menuju sekolahnya.
"Hay Ryana, tumben cerah sekali wajahmu? Lagi gembira?", sapa Tya teman beda kelas Ryana yang baru saja naik bus itu.
" Hehehe kamu itu tahu aja, iya lah jelas, kan aku habis dapat uang saku tambahan", jawab Ryana sambil terkekeh.
Sesampainya di sekolah, Ryana langsung menuju kelasnya meletakkan tas lalu keluar lagi menghampiri teman-temannya.
"Hallo, pagi semuanya", sapa Ryana.
" Pagiiiiii.... ", jawab teman-teman Ryana yang kurang lebih ada 5 orang.
" Eh, udah pada siap ulangan kimia belum ini?", seloroh Ari teman yang paling supel di kelas.
"Sudah doong.... ", jawab semuanya dengan kompak.
__ADS_1
Jelas saja mereka semua kompak sudah siap, bagaimana tidak guru kimia yang terlihat lemah gemulai itu salah satu guru killer di sekolahnya.
Lima menit kemudian guru kimia pun datang. Tanpa basa-basi langsung memulai ulangan kimia yang menyeramkan itu. Seluruh siswa di kelas Ryana langsung diam berkonsentrasi memulai menjawab soal tersebut.
" Aahhh.... selesai juga, tidak sia-sia aku belajar teratur selama ini, ini semua juga berkat kak Awi yang selalu mendorongku untuk selalu membaca ", gumam Ryana.
Ya.... kak Awi adalah kakak sulung Ryana yang tinggal di Semarang, ia ingat betul sejak ulang tahun ke tujuh, kakaknya selalu memberikan hadiah buku setiap Ryana ulang tahun.
" Oke semuanya, waktu habis, ayok dikumpulkan", seru Pak Bari guru kimia dengan tegas.
Semua siswa lalu menyerahkan kertas mereka dan keluar kelas untuk beristirahat.
" Ehhmmm, tidak ada sih Kak, gimana? ", sahut Ryana heran tiba-tiba kakak kelasnya itu mengajaknya ngobrol.
" Hmmm ya udah nanti aku samperin ke kelas ya sepulang sekolah ", lanjut Juna.
" Baik, kak", jawab Ryana.
__ADS_1
Selama pelajaran berikutnya Ryana mulai berpikir ada apa gerangan kak Juna mau mengajaknya bertemu, padahal selama ini dia tidak pernah punya urusan dengan kakak kelas, kecuali saat awal masuk dulu, dia memang selalu jadi bahan incaran kakak pendamping MOS.
"Ryana, bisakah kamu maju untuk mengerjakan soal ini?", sapa Bu Ika guru matematika yang kocak.
" Siap Bu", kata Ryana penuh semangat.
Bagaimana tidak matematika adalah mata pelajaran favoritnya.
"Hebaaatttt, kalau ada yang tidak paham boleh tanya Ryana ya, mungkin lebih paham dengan penjelasan Ryana dari pada Ibu, hahaha....", seru Bu Ika disambut tawa oleh seluruh siswa.
Dia memang kagum dengan jawaban Ryana yang singkat padat namun tepat.
Sekembalinya duduk di tempatnya Ryana makin penasaran dengan tujuan kak Juna.....
"Bukannya kak Juna itu aktivis OSIS ya? Hmmmm jangan-jangan mau mengajakku ikut kegiatan OSIS. Wah... kalau itu niat Kak Juna, sungguh aku merasa tidak memiliki cukup kemampuan untuk itu", gumam Ryana.
Ryana merasa sedikit minder dengan kemampuan yang dimilikinya, ia merasa tidak bisa mengikuti kegiatan OSIS.
__ADS_1
Waaahhh....
Hmmm... kira-kira dugaan Ryana tentang kak Juna betul tidak yaaaa🥰🥰🥰