
"Adam langsung pamit nggih Bu, maaf ndak bisa bantu-bantu untuk acara nanti malam, kebetulan ini nanti mbak Dhea pulang dari Surabaya jadi Adam mau jemput di stasiun", ucap Adam berpamitan pada Ita ibu Ryana.
" Ndak apa-apa Le, ini juga sudah banyak yang bantu, ada mbok Surti, Ryana, sama pak Budi. Salam untuk bapak ibumu, dan mbak Dhea sekeluarga ya Le", bu Ita menepuk lengan Adam.
"Adam pulang Bu, Ry", tak lupa Adam mencium punggung tangan Bu Ita.
" Hati-hati Le", menepuk pundak Adam dengan hangat.
"Nggih Bu", Adam pun melajukan motornya.
Ryana segera berganti pakaian dan segera membantu ibu memasak.
" Ini arisan apa to Bu? Seperti nya kok sering arisan", Ryana memecah suasana sambil mengaduk adonan kue.
"Iya nduk, ibu itu lupa tadi pagi mau bilang sama kamu. Ini arisan teman-temannya ibu waktu kuliah dulu nduk. Ya kira-kira ada 20 teman ibu kesini nanti jadi ayuk kita cepet-cepat selesaikan", Bu Ita menyemangati Ryana.
"O nggih Bu", Ryana patuh.
"Nanti kamu juga siap-siap, nanti beberapa teman ibu mengajak anak-anaknya jadi kamu bisa menemani ngobrol nduk," Bu Ita bergegas cepat menyelesaikan masakan andalannya, gudeg&opor.
Fajar mulai tenggelam, persiapan arisan sudah selesai, Ryana dan ibu juga sudah siap.
Di saat bersamaan ayah Bayu pulang. Bu Ita langsung menyambut ayah Bayu dengan senang.
__ADS_1
"Waahhh, ayah ndak jadi lembur to?", meraih tas kerja ayah Bayu.
" Ndak, Bu. Relasi ayah katanya ada keperluan mengantar mamanya jadi ditunda besok pertemuan nya. Lagi pula urusannya juga tidak tergesa-gesa kok Bu", ayah Bayu mengekor Bu Ita menuju kamar.
"Ya sydah Yah, ayah mandi nanti ibu buatkan teh hangat, segera ke ruang tengah ya Yah", anggukan Pak Bayu menjadi jawaban untuk Bu Ita.
Pukul 19.00
Satu per satu teman ibu datang. Benar saja ada beberapa yang membawa anak-anaknya. Ada yang anaknya sudah seusia Ryana, kuliah, kerja, bahkan masih SD... bonus anak katanya.
Acara pun dimulai. Ryana, mbok Surti, dan Pak Budi sibuk mengeluarkan kudapan dan minuman hangat untuk menghangatkan di saat cuaca begitu dingin.
" Aduuhhhh", Ryana mengaduh saat tanpa sengaja bertabrakan dengan tubuh kekar berotot.
Ryana bergeming, dia merasa familiar dengan wajah itu, tapi ragu....
" Itu kan gadis yang tadi makan mie bangka, sedang apa dia di sini", Ari mengamati sekitar.
"Ari sini", Bu Sinta mama Ari melambaikan tangannya.
"Ya Ma... ", Ari mendekat.
"Apa kabar tante Ita?", Bu Ita bengong.
__ADS_1
" Owalah ini Ari to... makin ngganteng kamu Le, kirain ndak kenal tante lagi", Bu Ita menepuk-nepuk pundak Ari.
"Ehhh ada, Ari", Pak Bayu ikut nimbrung, setelah menyapa tamu-tamu bu Ita yang lain.
" Iya Om", mereka berdua akhirnya memisahkan diri dari rombongan ibu-ibu untuk bicara masalah pekerjaan.
Ibu-ibu yang lain, jangan tanya, mereka heboh dengan cerita mereka.
Ryana pun tak kalah heboh dengan teman-teman barunya, anak-anak teman ibunya. Saat ini ia sedang menyuapi Galih yang ternyata adik Ari yang masih kelas 3 SD.
"Lho itu foto siapa Om?", Ari menunjukkan foto di dinding yang tak asing baginya ya.... itu adalah Ryana yang tadi ia lihat di warung mie bangka.
" Oooo itu anak Om yang ragil. Masa kamu lupa", Ari tercenung.
Pantas saja dia menatap Ryana terus, ternyata ia yang selama ini di hati Ari, namun Ari tidak menyadarinya.
"Oooo gitu, Om... Cantik.... ", Ari tanpa sadar mengucapkan kata itu.
Waktu semakin beranjak semua orang menikmati hidangan yang dimasak Bu Ita dengan bantuan Ryana dan mbok Surti.
" Waahhh jeng, masakanmu tidak berubah selalu enak", Bu Sinta memuji masakan Bu Ita.
"Iya benar", timpal Bu Damar.
__ADS_1
" Waahhh bisa saja, monggo selamat menikmati masakan rumahan, kan kalian sering maksn masakan restoran, sekali-kali makan masakan rumah to", timpal Bu Ita.
"Njenengan selalu merendah jeng", timpal yang lain.