Cinta Ryana

Cinta Ryana
Keputusan


__ADS_3

Siang ini seusai sekolah, Ryana bertemu dengan Juna untuk membicarakan keputusan final Ryana.


Ryana menunggu beberapa saat karena Juna mengatakan sedikit terlambat. Ryana menunggu di kantin tanpa menyadari sedari tadi Ari memperhatikannya.


"Hay, sudah lama menunggu?", Juna langsung duduk di hadapan Ryana.


" Ehhh.. belum Kak", Ryana sedikit terkejut.


"Oiya bagaimana keputusan kamu Ry, bersedia bergabung OSIS?", Juna bertanya penuh harap.


" Sudah Kak, dan jawaban nya aku mau bergabung, aku mau belajar lebih banyak selagi bisa", jawaban Ryana membuat Juna tersenyum lega.


"Baik, kalau begitu yuk kita langsung ke ruang OSIS, kebetulan nanti ada rapat OSIS, sekalian aku kenalkan pada teman-teman", ajak Juna.


" Baik Kak", ujar Ryana langsung mengekor di belakang Juna.


Mira menatap sinis kepergian Juna dan Ryana, cemburu menyeruak di dadanya. Ia tidak terima Juna dekat dengan siswi lain. Apalagi itu Ryana adik kelasnya yang lumayan populer, walaupun pendiam, banyak penggemar.


Juna dan Ryana sampai di ruang OSIS. Ryana langsung berkenalan dan ikut menyimak rapat untuk mempersiapkan programnya yang akan mendukung program besar OSIS.


Selama rapat Ryana mengeluarkan ide-ide cemerlang.


Teman-teman merasa kagum dengan pemikiran Ryana yang terkenal pendiam, bahkan bagi yang belum kenal terkenal angkuh, karena dia selalu menjawab seperlunya saja.


"Oke, rapat kita kali ini selesai. Untuk kegiatan bulan bahasa, kita setuju dengan rencana Ryana jadi kita bantu Ryana membuat detail kegiatannya. Mari kita pulang semoga selamat sampai tujuan. ", ujar Juna.


Semua beranjak keluar ruangan OSIS. Seperti biasanya Mira selalu menunggu Juna untuk pulang bersama, dia tidak mau berpisah dengan Juna.


Ryana langsung menuju halte bus. Saat menunggu ia terkejut karena pundaknya ditepuk dari belakang. Ya itu adalah Arka, kakak kelas Ryana sejak di sekolah menengah. Dari dulu memang perhatian dengan Ryana.


" Hallo dek, apa kabar?, lama kita tidak ngobrol ya? ", Arka menyapa Ryana penuh semangat.


" Ehh Kak Arka, ihhh iya juga ya, kakak sih sibuk terus, biasanya nemenin kalau istirahat ehhh ilang-ilang terus", gerutu Ryana.


"Iya, maaf ya Dek, kakak sedang ngurus syarat beasiswa", jelas Arka ia tidak ingin gadis kesayangannya salah paham.

__ADS_1


Dari dulu Arka memang menyukai Ryana, namun tidak pernah mengatakan apa-apa, ia ingin fokus belajar dan tidak ingin hubungan baik dengan Ryana berakhir. Ia hanya menunjukkan perhatian yang tidak begitu disadari Ryana, hingga Ryana menganggap itu seperti perhatian kakaknya.


"Iya deh, iya, tapi janji lho besok traktir es krim kalo kak Arka sudah tidak sibuk", Ryana memohon penuh harap, ada rasa kengen bepergian dengan Arka.


" Siap boss kecil", Arka menyetujui sambil menggandeng Ryana naik bus, rumah mereka memang berdekatan, masih satu komplek perumahan.


Selama di bus Ryana menceritakan keputusannya bergabung di organisasi OSIS. Arka tentu saja mendukung, karena ia juga aktivis OSIS, yang pensiun karena sekarang kelas XII persiapan ujian dan masuk perguruan tinggi.


"Ry, selama ikut OSIS hati-hati ya. Atur waktumu dengan baik. Mengambil keputusan juga harus dipertimbangkan. Terus harus profesional.", ada sedikit kekhawatiran dalam ucapan Arka.


Ya.. Arka tahu pacar Juna yang bernama Mira akan cemburu dengan Ryana mengingat Ryana memang menarik. Ia khawatir karena Mira terkenal suka memprovokasi.


"Siap kakakku.... ", ujar Ryana penuh semangat menenangkan Arka.


" Kalau ada apa-apa atau ada yang ganggu kamu, bilang lho ya dek, jangan sampai kakak tidak tahu dan tidak bisa melindungi kamu." , kali ini Arka serius dengan ucapan nya.


"Ya elah kak Arka, masih saja khawatir, aku ini sudah besar kali kak, sudah bisa jaga diri sendiri", Ryana sedikit kesal.


" Hihi... iya - iya, tidak usah ngambek, manisnya ilang lho.", Arka gemas sambil mencubit pipi Ryana.


.


.


Sementara di tempat lain Juna sedang berdebat dengan Mira.


"Kamu yakin Jun, mengajak anak ingusan itu di OSIS, dan mempercayakan kegiatan bulan Bahasa pada anak itu?", Mira berkata dengan penuh penekanan.


" Memangnya kenapa? aku lihat dia berpotensi, pendiam tapi saat bicara berbobot, lalu dia juga gemar membaca dan menulis, bahkan sering menulis di aplikasi novel online, dan novel nya bagus bagus, apa kamu tidak tahu?", Juna berkata sambil menatap Mira.


"Jangan bilang, kamu cemburu?", ucap Juna penuh selidik.


" Hmmmm tidak, siapa bilang, aku memang meragukan anak itu", Mira gelagapan menjawab pertanyaan Juna.


"Aku memang tidak rela ada gadis lain di sisimu Juna. Aku takut kamu berpaling, kamu hanya untukku", gumam Mira dalam hati.

__ADS_1


" Lagi mikirin apa?", perkataan Juna membuyarkan lamunan Mira.


"Ohh, tidak aku hanya memikirkan konsep hari ulang tahunku. Kan sebulan lagi aku ulang tahun ke 17.", sangkal Mira.


" Oh iya ya, coba lihat-lihat ulang tahun teman-teman yang dulu, siapa tahu ada yang menarik perhatian, dan bisa jadi inspirasi" , Juna memberikan saran.


.


.


Ryana sudah berada di rumah. Asyik membantu ibunya membuat puding kesukaan keluarga. Kata ibunya keluarga Om Joko mau datang.


Istri om Joko adalah teman ibu Ryana jadi tidak heran dua keluarga itu saling mengunjungi.


"Bu, memang om Joko kesini jam berapa? ", tanya Ryana.


"Katanya jam 6 an. Karena mereka mau ke rumah nenek Tuti dulu, katanya baru kurang enak badan, baru pulang nya mampir kesini", Bu Tika menjawab sambil mengaduk adonan puding yang mulai mendidih.


" Ohhh begitu Bu, semua nya kesini dong berarti Bu? ", Ryana menunggu jawaban ibunya.


" Iya dong sayang, kenapa kamu kangen ya sama Irwan si ganteng? ", Bu Tika terkekeh sendiri dengan ucapannya.


" Issshhhh ibu ini apaan sih, anaknya masih ABG kok diajari kangen-kangenan, ada-ada saja ibu itu", Ryan protes.


"Iya anakku sayang, udah sini bantu tata buah-buahan sebelum ibu tuang adonan pudingnya, setelah itu cuci semua sayurnya ya nak", Ujar Bu Tika sambil mematikan kompor.


" Siap ibuku, memang mau masak apa? kalau ditebak dari bahan-bahannya capcay kuah ya?" , Ryan hafal", sekali kebiasaan ibunya, saat menjamu tamu menu capcay kuah pasti ada.


"Anak pintar", ujar Bu Tika usai menuang adonan puding dalam cetakan.


"Kalau tugasmu sudah selesai, tolong rapikan ruang tamu dan ruang makan ya sayang, biar masaknya ibu yang selesaikan, sebentar lagi pasti ayahmu pulang, begitupun keluarga om Joko sampai sini", titah Bu Tika.


" Siap ibuku sayang, semua pasti beres deh kinclong semua", Ryana menyeringai sambil membawa sapu.


"Issshhhh dasar anak itu di rumah saja bawel, kalau di luar weesss diamnya minta ampun, harus disenggol dulu baru bunyi", bu Tika geleng-geleng dengan kelakuan putri nya sendiri. Ia tidak menyangka anak bungsunya sudah ABG, waktu beranjak begitu cepat.

__ADS_1


__ADS_2