
Ryana termenung di teras belakang sambil menikmati pie kesukaannya. Ia menerawang jauh mengingat pertemuannya kembali dengan Ari setelah sekian lama terpisah. Sejak berpisah mereka memang tidak pernah bertemu, namun Mamanya Ari dan ibu Sinta selalu bertukar kabar dan saling bertukar cerita kabar anak-anaknya. Hanya memang Ari tidak pernah memberi kabar pada Ryana.
Sekelebat kenangan manis bersama Ari muncul kembali di hati Ryana, walaupun dulu ia masih anak-anak, ia bisa merasakan ketulusan dan kehangatan hati Ari. Tanpa terasa ia tersenyum sendiri saat mengingat kenangan demi kenangan.
"Nduk kok tersenyum sendiri, ada apa to?", membawa coklat panas dan diletakkan di meja di depan Ryana.
" Ehhh ibu, bikin kaget saja", Ryana menggeser duduknya agar ibunya bisa ikut duduk.
"Ingat Ari ya?", pertanyaan yang membuat Ryana kaget sekaligus ingin mengakui bahwa itu betul.
" Kok ibu tahu?", bu Ita langsung mengelus wajah Ryana dan mendekapnya.
"Ya jelas tahu to nduk, ibu tahu kalau kamu kangen Ari, kan sudah lama tidak bertemu, dari dulu kan kalian selalu bersama, main bareng, apalagi usia kalian tidak terlalu jauh jadi bisa satu pemikiran", bu Ita memang sangat memahami putrinya.
__ADS_1
Memang dari dulu Ryana dan Ari sangat dekat, bahkan bu Ita juga sudah menganggap Ari anaknya sendiri jadi tidak heran dengan kedekatan Ari dan Ryana.
"Tapi kenapa ya Bu, Mas Ari kok kayaknya jadi beda, ndak hangat kayak dulu lagi? Bawaannya kalau ketemu aku kok kayak sewot, apalagi kalau aku lagi sama Adam", bu Ita tersenyum mendengar ucapan putrinya itu.
" Nduk ya mungkin saja Ari sedang ada masalah di kampusnya. Ibu dengar dia sedang menyelesaikan skripsi nya, banyak pikiran, terus lihat kami malah santai-santai sama Adam jadi sewot".
"Lha ibu saja ndak marah to kalau aku sama Adam", bu Ita memegang tangan Ryana.
"Siap, bu boss.... ", Ryana langsung lari saat ibunya akan mencubit nya.
Ibu Ita hanya geleng-geleng kepala melihat gadis kecilnya sekarang sudah mendekati dewasa, sudah akan menjadi seorang mahasiswa. Memang ada sedikit kekhawatiran saat Ryana dekat dengan Adam, dilihat dari sudut pandang manapun Adam secara sosial ekonomi jauh di atas keluarga Ryana, keluarga mereka sangat terpandang, ibu Ita hanya berpikir itu masih pertemanan remaja jadi tidak ada masalah selagi masih saling support dan tidak merugikan satu sama lain mengapa tidak membiarkan Ryana dan Adam dekat.
Bu Ita pun beranjak menghampiri Ryana yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah dan mengajak untuk makan malam. Mereka hanya makan malam berdua karena yang lain belum pulang.
__ADS_1
Malam ini ibu memberi tahu Ryana bahwa besok mereka diundang dalam acara peresmian rumah sakit baru milik keluarga Ari, hal itu membuat Ryana tiba-tiba tersedak. Ia tidak menyangka jika ternyata keluarga Ari kembali untuk meresmikan rumah sakit. Salah satu cita-cita Ari dulu.
Ia baru tahu rumah sakit baru yang berada tak jauh dari rumahnya itulah rumah sakit keluarga Ari. Sungguh sangat menggembirakan untuk Ryana.
"Sudah.... sana tidur, besok biar bisa bangun pagi kan sekolah. Sama jangan lupa besok langsung pulang,Ia karena sorenya ke rumah sakit ikut peresmian ya nduk, " ibu Ita berkata sambil beres-beres meja makan dan mencuci peralatan makan.
"Siap bu boss.... ", Ryana berlari sambil tersenyum karena besok pasti bisa bertemu dengan mas Ari nya.
Ryana ingin berbicara dengan Ari seperti dulu bukan seperti kucing sama tikus seperti akhir-akhir ini.
Ia yakin besok mas Ari nya mau untuk berbicara dengannya lebih halus lagi. Ia pun memejamkan mata berharap esok pagi bangun dengan segar dan sehat.
-to be continued-
__ADS_1