
Ryana menenteng tasnya dengan gontai. Ia memang sudah berhasil mengerjakan ujian akhirnya dengan lancar. Namun bayang-bayang kata-kata Adam kemarin menghantuinya.
Adam akan ke Jakarta meneruskan study nya untuk meraih cita-cita nya menjadi seorang dokter. Itu artinya ia dan Adam harus berjauhan dalam waktu yang cukup lama.
Adam adalah kekasih Ryana. Mereka menjalin hubungan sejak kelas X. Perjalanan cinta mereka lancar sampai saat ini. Kedua orang tua mereka juga tidak mempersalahkan hubungan mereka.
"Dooooorrrrr", Ryana berjingkat mendengar suara cempreng Lini.
" Duhhhh kenapa sih Ry, kok kamu melamun, bukannya ujian tadi lancar jaya?", Lira keheranan mendapati Ryana bengong.
"Iya memang, tapi bukan itu yang kupikirkan. Aku lagi memikirkan Adam. Dia mau lanjut ke Jakarta", Ryana berucap sambil berdiri menggandeng Lini.
" Daahhhh gimana sih, kan deket Jogja Jakarta zeyeeeng", timpak Lini.
"Hehe iya sih tapi tidak yakin waktu Adam bisa seperti sebelumnya banyak buatku. Tau sendiri nanti kalau sudah di sana banyak sainganku.", kilah Ryana.
" Udah-udah tidak usah terlalu jauh berpikir gitu, tuhhh pangeran sudah jemput", Lini menunjuk Adam.
Benar saja Adam sudah nangkring di atas motor sportnya, sambil melambaikan tangan. Jangan ditanya, teman-teman Ryana semua ingin minta diperhatikan juga oleh Adam, si ganteng yang ramah. Paket komplit, ganteng, baik, pinter, idaman kaum hawa.
"Hallo sayang, kok bermuran durja", mengacak rambut Ryana dengan sayang.
" Hehe... iya ni sakit perut, gara-gara ujian", kilah Ryana.
__ADS_1
Tampak Lini menahan ketawa, mana ada Ryana nervous ujian secara dia juga berotak encer.
"Dah sana pada pulang. Jajan. Dam, kamu kan tau Ryana suka banget jajan, ajak aja jajan, pasti tidak cemberut lagi tuh...", Lini melenggang pergi begitu saja.
" Oiya yang, makan saja yuk. Aku laper banget, tadi belum makan soalnya. Kan kita sama-sama ujian hari ini", ajak Adam.
"Oke deh, tapi aku yang pilih restonya ya", tawa mengembang dari wajah Ryana.
Ryana langsung mengambil dan memakai helm nya dan nangkring di motor Adam. Mereka melaju membelah kota Jogja yang lumayan padat di jam pulang sekolah.
" Nahhh... ini dia, mie bangka kesukaan aku, hahaha", tawa renyah Ryana membuat Adam ikut gembira.
"Yuk masuk, sebelum ramai ni jam makan siang lho", Adam menggandeng erat tangan Ryana.
" Bu, pesan seperti biasa ya", saat Bu Ira menanyakan pesanan mereka.
Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang. Mereka makan bersama pengunjung lain yang berlomba-lomba mengisi perut di jam istirahat kantor. Ya tempat makan mereka merupakan kawasan kantor, wajar saja kalau mereka makan beramai-ramai dengan para pekerja.
Saat asik makan sambil cerita dan bercanda. Ada sepasang manik hazel yang menatap Ryana tanpa henti. Ia sungguh kagum dengan sosok Ryana. Cantik, adem, terlihat smart, ramah juga.
"Dam, besok kalau kamu di Jakarta kita bakal jarang ketemu dong ya?", Ryana mulai merajuk.
" Ry, kan kita hidup di jaman canggih, bisa video call kan, kalau kita sudah free kuliahnya", digenggam nya tangan Ryana dengan lembut.
__ADS_1
"Iiiihhhhh baru SMA saja sudah pegang-pegangan tangan", Ari berucap dalam hati memutar bola matanya malas.
Ya, lekaki yang dari tadi mengamati Ryana adalah Ari, pewaris tunggal perusahaan konstruksi dari Jakarta yang menetap di Jogja.
"Hmmmm..... oya juga ya, kenapa aku kok jadi primitif ndak kepikiran sampai situ", Adam makin gemas dengan Ryana sosok pintar yang terkadang lemot untuk hal sepele.
" Udah yuk habiskan makannya, nanti dicari Ibu lho, tadi aku sudah telpon ibu untuk mengajak makan tapi katanya kamu suruh pulang awal, mau ada arisan di rumah", ucap Adam.
"Lho... lhooo... kok ibu ndak bilang aku, minimal chat gitu", makin gemas Adam mendengarnya.
" Lah coba periksa tasmu, memang bawa HP?", Adam memijit kecil hidung Ryana.
"Oiya ya.... pantesan tumben juga tadi kamu ndak telpon aku juga to ya", cengir Ryana.
Mereka pun bergandengan tangan keluar. Manik milik Ari masih melihat dengan seksama.
" Dasar bocah, masih bau kencur saja sudah mesra-mesraan", umpat Ari.
Temannya heran melihat Ari seperti geregetan.
"Kenapa sih Ri", Juno keheranan
" Aahhhh tidak, yuk makan saja", Ari berkilah.
__ADS_1