
Sesampainya di rumah Ryana langsung mandi, mengganti baju, lalu makan sore ditemani sang Ibu.
Usai makan sore, Ryana membantu ibunya merawat tanaman si kebun belakang sebelum mengerjakan tugasnya.
"Bu, apa Ibu keberatan kalau Ryana pulang sore setiap hari?", ucap Ryana sambil menyiram bunga.
" Lho memang kenapa kok pulang sore terus nak? kamu dihukum guru?", Bu Tika menyahut sambil mencabut rumput.
"Hmmmm, Ryana diajak Kak Juna ikut kegiatan OSIS Bu, menggantikan Kak Rio", ucap Ryana malas.
" Ohhh jadi karna itu, sudah banyak ekskul dan ditambah ikut OSIS", sahut Bu Tika sambil duduk di sebelah Ryana.
"Kalau menurut Ibu ya Ry, kalau memang kamu suka dengan kegiatan itu dan kamu bisa atur waktumu, ya sudah ikut saja, toh kamu juga butuh berorganisasi, hitung-hitung latihan nak", tutur Bu Tika sambil mengelus pundak Ryana.
" Tapi ingat, yang utama itu sekolah nya, bukan cuma kegiatannya saja yang lancar, ehhh sekolah nya terbengkalai ", lanjut Bu Tika.
" Siap Bu boss, hahaha", teriak Ryana.
Bu Tika hanya menggeleng melihat putri bungsunya berlalu ke dalam rumah. Dia tak menyangka akan secepat ini putri bungsunya tumbuh, sudah gadis saja.
Malam pun tiba, Bu Tika sedang menyiapkan makan malam dibantu Ryana, saking asyiknya memasak sambil bercerita mereka tidak tahu kalau ayah sudah datang. Ya, ayah Ryana pak Andre yang memiliki pabrik kayu lapis baru saja pulang ke rumah, penat terlihat di wajah pak Andre.
"Hallo semua, asyik betul apa yang dibicarakan sampai ayah pulang tidak ada yang menyambut?", ucap ayah sedikit cemberut.
" Ehhh ayah sudah pulang, maaf yah kami tadi asyik menceritakan kisah Ryana waktu masih TK yang selalu hutang di kantin karena sangat suka beli puding di kantin dengan porsi double, padan uang sakunya tidak cukup, jadi ibu harus ke sana seminggu sekali untuk bayar utang ke bi Marni pemilik kantin", ujar Ibu.
"Oiyaaa, ayah ingat kisah itu, dulu kan Ryana memang hobi makan, badannya juga gempal, hahaha jadi lucu banget dulu ya Bu? ", sahut pak Andre.
__ADS_1
" Iya Yah, tidak menyangka sudah gadis anak bungsu kita ya yah, cantik sudah tidak gempal lagi, haha... tapi masih pemalu kayak dulu ya Yah?", sahut Bu Tika.
Ryana tampak tersipu malu, memang benar yang dikatakan ayah dan ibunya dulu menang dia gempal.
"Ihhhh ayah dan ibu buat Tika malu deh", seloroh Tika sambil bergelayut manja menggandeng ayah dan ibunya.
Ya kehidupan keluarga Ryana memang sederhana, namun begitu bahagia, walaupun agak terasa sepi sejak kakak Ryana bekerja dan menetap di Semarang menjadi wartawan sebuah majalah.
"Sudah-sudah, ayah mandi dulu sana, bau acemmmm, habis itu kita makan malam sama-sama, Ibu sudah buat sayur sop, rendang ayam kesukaan ayah, serta tempe goreng.", ucap Bu Tika.
" Wah... siap Bu boss, kelihatannya enak banget masakan ibu", ujar pak Andre seraya mengambil handuk dan menuju kamar mandi.
Suasana makan malam keluarga Ryana begitu hangat, tampak mereka sedikit berbincang mengenai kegiatan mereka hari ini. Ya, pak Andre memang membiasakan semua anggota keluarga untuk terbuka dengan kehidupan dan permasalahan mereka agar semua bisa saling membantu.
"Ry, ibu cuma mau mengingatkan, apapun keputusan kamu mengenai kegiatan OSIS itu, kamu harus pertimbangkan dengan baik, untung dan ruginya, jika kamu memutuskan untuk ikut kegiatan itu, ibu cuma minta kamu bisa atur waktu kamu, dan jangan lupa tugas utama kamu, belajar yang tekun", Bu Tika memecahkan sedikit kesunyian di meja makan karena semua sangat menikmati masakan Bu Tika.
"Ohhh, Ryana mau ikut kegiatan OSIS", potong ayah.
"Sebetulnya itu kesempatan bagus Ryana, kamu bisa belajar berorganisasi, tapi ingat juga apa yang dikatakan ibumu, perkataan ibumu itu betul sekali.", ayah meyakinkan Ryana.
Sebenarnya yang membuat Ryana ragu bukan karena dia sepenuhnya minder, hanya saja dia tahu pacar Kak Juna itu sangat posesif dan cemburuan, dia takut kalau Kak Meri tahu ia diajak Kak Juna ikut OSIS ia jadi dicemburui dan membuat sekolah nya tidak nyaman.
Kisah Meri sudah banyak yang tahu. Dia tidak mau ribut gara-gara masalah laki-laki,seperri tidak ada kegiatan lain saja. Itu pasti akan sangat mengganggu,menyita waktu dan pikiran. Ryana tentunya tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya dengan masalah yang tidak penting itu yang kemungkinan akan muncul jika menerima tawaran Juna. Itulah mengapa Juna, hanya berteman dengan laki-laki, menghindari ribut dengan Meri.
Usai makan malam Ryana masuk kamar untuk belajar dan mengerjakan tugas, sedangkan ayah dan ibunya bercengkrama di ruang televisi sambil ngobrol. Entah apa yang mereka obrolkan Ryana lun tidak tahu.
"Sebaiknya bagaimana ya aku? ikut tidak ikut tidak ikut tidak..... ", ucap Ryana sambil menghitung bersamaan dengan tokek yang berbunyi. " Wahhhh berarti jawabnya ikut ", seloroh Ryana.
__ADS_1
" Ikut tidak ikut tidak ikut", kali ini jawaban itulah yang didapatkan Ryana dari menghitung bunyi tokek yang bersuara kembali.
Ada - ada saja tingkah Ryana. Di saat mengerjakan tugas matematika dari Bu Ika malah kepikiran minta pendapat sang tokek....ahaha...
"Ahhh.... gimana ini, bingung kan jadinya, hmmm besok aku minta pendapat Tya&Dea sajalah", gumam Ryana.
Tya dan Dea merupakan sahabat Ryana dari SMP. Mereka bersahabat sampai sekarang, Ryana dan Tya satu kelas, sedangkan Dea ada di kelas sebelah. Persahabatan mereka memang seperti kepompong, tidak selamanya mulus, namun karena sudah paham tabiat masing-masing mereka akan kembali bersatu walaupun mereka ada masalah.
Dreeettt dreettt dreettttt
Tiba-tiba ponsel Ryana berdering, ada nama Juna disitu.
"Hmmm kok Kak Juna telpon ya, ada apa ini?", gunan Ryana.
" Hallo Kak, ada apa? ", jawab Ryana.
" Gini Ry, aku mau tanya gimana keputusanmu mengenai tawaranku, apa kamu sudah memikirkannya? ", jawab Juna di ujung telepon.
" Hmmmmmm, maaf Kak Juna, aku sebetulnya masih ragu, keputusanku belum bulat, masih ada yang harus aku pertimbangkan.", Ryana menjawab tegas.
"Baiklah kalau begitu, aku sangat berharap kamu bisa ikut Ry, aku percaya kemampuanmu. Kalau gitu aku tunggu sampai besok jawabanya karena harus segera ada pengganti Rio, karena sebentar lagi bulan bahasa", ujar Juna.
Sejenak Ryana berpikir. " Baik kak Juna, besok aku siap memberi keputusanku, mau bergabung atau tidak dalam kegiatan OSIS.", sahut Ryana.
"Baiklah, aku tunggu kabar baiknya, sampai besok Ryana'", ucap Juna lembut.
" Baik Kak ", sahut Ryana.
__ADS_1
Hmmmm rumit juga Juna, punya pacar posesif. Putusin saja lah, jalanmu masih panjang Juna....
Ryana juga tuh buat keputusan kok lama, takut ya sama Kak Meri hahahaha