Cinta Ryana

Cinta Ryana
Menunggu Kak Juna


__ADS_3

Kriiiiing kriiiiing kriiiiing.....


Bel berbunyi dengan suara nyaring, suasana di kelas Ryana menjadi gaduh usai seluruh siswa memberikan salam untuk Pak Ketut guru Bahasa Indonesia yang super sabar.


"Ry, pulang bareng yuk... aku mau minta tolong anterin ke toko Harum mau beli kue buat adikku", ajak Sofie teman dekat Ryana.


" Maaf Sof, aku tidak bisa, aku ditunggu Kak Juna, katanya mau ada yang dibicarakan ", sahut Ryana sambil mengemasi buku dan alat tulisnya.


" Wah, sayang banget padahal aku pengen kamu ikut pilihin kue buat adikku", ucap Sofie sambil memonyongkan mulutnya.


"Sofie sayang maaf ya", ucap Ryana sambil mencubit pipi Sofie gemas.


" Iya deh, aku ajak Dea aja kayaknya dia bisa, ya udah aku ke kelas Dea ya, daaahhhhh", ucap Sofie setengah berlari hingga tidak menyadari di depannya ada Kak Juna dan buuuuukkkk....


"Arrrgggghhh.... duh maaf Kak Juna, aku tidak sengaja", Sofie merasa sangat bersalah karena buku-buku yang dibawa Kak Juna berantakan.


Mendengar buku berjatuhan Ryana pun menghampiri Kak Juna dan Sofie yang sedang mengambil dan merapikan buku-buku Kak Juna.


" Sekali lagi maaf ya Kak", ucap Sofie sambil mengatupkan tangan.


"It's okay", jawab Juna


" Makanya Sof, kalau keluar kelas itu hati-hati untung cuma buku yang jatuh kalau kalian sampai terluka bagaimana?", Ryana sedikit berceramah membuat Sofie terkekeh.


"Ya elah Ry, muncul deh tuh sifat emak-emak mu, hahahaha... ", ucap Sofie sambil lari takut dicubit Ryana.


" Issshhh dasar Sofiiieeee", teriak Ryana.


Kak Juna sedikit melirik pada Ryana, ia terpesona pada Ryana dari awal bertemu sekitar 4 bulan lalu. Saat Juna sampai sekarang kak Juna masih terpesona pada Ryana.


Flashback on


Pagi ini Juna menaiki motornya menuju sekolah, ya dia sudah kelas XI dan akan menjadi panitia MOS hari ini. Saat di lampu merah ia melihat gadis dengan perawakan sedang, putih, mancung, rambut dikucir 7 dengan pita menjulang tinggi ala-ala "Tina Toon" dengan gigi gingsul saat tertawa, Juna langsung terpesona.


"Siapa gadis itu? Apa adik kelasku, dari peralatan MOSnya seperti dari sekolahku. Semoga saja aku dapat tugas di kelasnya", gumam Juna sambil terus memandangi gadis itu.

__ADS_1


Beruntung bagi Juna, ternyata Ryana memang ada di kelas yang didampinginya. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengerjai Ryana agar sering berinteraksi dengannya.


"Ryana Dewi, mana ini orangnya?", ucap Juna berlagak tidak tahu yang bernama Ryana.


" Saya Kak.... ", Ryana menjawab sambil mengangkat tangannya.


" Sini maju, coba tunjukkan hasil karya yang kamu bawa, katanya buat cerpen lucu", seloroh Juna.


"Iya, sini kami ingin dengar", sahut Dio wakil ketua OSIS.


Ya disini Juna aktif karena dia lah ketua OSIS nya, sedang Dio wakilnya.


" Ba ba ik Kak", ucap Ryana sedikit malu. karena pada dasarnya dia tidak percaya diri dengan cerita yang ia buat.


Tepuk tangan meriah menggema di seluruh ruang kelas, usai Ryana menceritakan cerpen nya dengan penuh penghayatan.


"Ceritanya memang bagus sekali, sudah seperti penulis profesional saja", gumam Juna semakin kagum.


Flashback off


" Maaf, Ryana aku sedang memikirkan sesuatu", jawab Juna sedikit asal.


Ryana menggidikkan bahunya "Kirain kesambet Kak" seloroh Ryana dibalas dengan terbahaknya Juna.


"Ihhh kamu itu ada-ada saja deh Ry, yuk ngobrol di taman depan ruang OSIS ada yang perlu aku omongin", ajak Juna.


" Ohhh iya Kak, baik", ucap Ryana sambil memikirkan kata penolakan halus untuk Kak Juna.


Sesampainya di taman mereka berdua duduk. Terlihat ruang OSIS masih ramai, juga lapangan sebrang taman ramai karena hari ini ada eskul basket.


"Oiya, mau bicara tentang apa Kak?", memecah keheningan karena dari tadi Juna malah sibuk entah mencari apa hingga mendiamkan Ryana.


" Ya sebentar, aku cari HP ku dulu, aku lupa ngabarin pacar aku kalau aku tidak bisa antar dia pulang", ucap Juna sambil menekan nomor Kak Mira pacar Kak Juna.


Ya... Ryana juga tahu kalau sudah hampir setahun ini Kak Juna menjadi pacar Kak Mira, seorang aktivis pramuka di sekolah.

__ADS_1


"Baik Kak", ucap Ryana sambil terus duduk dan memandang arah lapangan.


" Hmmmm jadi gini Ry, aku ingin kamu membantuku untuk mengurus seksi bidang sastra dan budaya, kebetulan ada kekosongan pengurus karena Rio kan pindah sekolah, aku ingin kamu yang menggantikan, kami sudah konsultasi dengan pak Ketut mengenai ini, gimana Ry, kamu mau kan?", jelas Juna panjang lebar.


Deg....


"Aduh tu kan dugaanku benar. Sejujurnya aku sangat malas ikut kegiatan OSIS yang terkenal eksklusif di sekolah, hiiii merinding aku", gumam Ryana.


" Kamu ngomong apa Ry?", komentar Juna mendengar suara Ryana yang tidak jelas.


"Ehhh ini itu, anu Kak, hmmmm gimana ya", Ryana bingung bagaimana menolak ajakan Kak Juna. Ia meremas ujung tasnya lalu memberanikan diri.


" Kak, aku minta maaf sebelumnya, sepertinya aku tidak bisa, karena aku tidak mau terlalu sibuk, aku sudah ikut ekskul pramuka, tari, mading, karya ilmiah, kalau tambah OSIS bisa-bisa aku pulang sore terus Kak", Ryana memberikan alasan yang masuk akal.


Juna terdiam, ia sangat berharap pada Ryana mengingat Ryana menang cocok untuk itu, gadis sederhana namun punya banyak kemampuan.


Ryana memang cantik, tapi dia selalu apa adanya, tidak terlihat menonjol seperti Dini cs yang mengutamakan penampilan daripada isi kepala.


"Kamu pikir dulu deh ya Ry, sayang lho kemampuan kalau dipendam", ucap Juna yakin Ryana akan membawa pengaruh baik di sekolah dengan program OSIS nya.


" Baik Kak, kalau sudah tidak ada yang dibicarakan aku undur diri, takut ibuku mencari", ibu Ryana memang disiplin, dan suka khawatir apalagi tadi Ryana tidak pamit pulang telat.


Juna menatap kepergian Ryana, jauh di lubuk hatinya ia terpesona, walaupun ia sadar sudah punya Mira yang menemaninya. Entah kenapa saat melihat Ryana, jantung Juna berdetak cepat, dia juga ingin selalu berdekatan dengan Ryana.


Dalam perjalanan pulang menaiki bus, Ryana terngiang perkataan Juna yang menginginkan nya aktif di OSIS. Antara senang mendapatkan kesempatan, bingung karena merasa minder, dan tidak enak menolak Kak Juna bercampur jadi satu.


"Ahhhhh kok bingung sih, kalau diterima pasti dari Senin sampai Sabtu sore terus pulang nya. Kalau ditolak, kok ya sepertinya aku sok sibuk sekali", lamunan Ryana.


" Ongkos mbak ", ucap kernek mengagetkan Ryana.


" Diiiihhhh abang Soleh mengagetkan saja", seloroh Ryana sambil memberikan ongkos berupa uang pas ke bang Soleh.


"Saya tidak mengagetkan mbak, mbak Ryana itu yang bengong, ati-ati mbak ayam saya bengong trus stroke... hahaha", ucap bang Soleh sambil tertawa.


Ryana hanya bisa bengong mencerna ucapan bang Soleh... mana ada ayam stroke batinnya.

__ADS_1


__ADS_2