
Pagi hari yang cerah, nampak mentari mulai mengintip dari dari celah jendela kamar yang di tempati Raka dan suci untuk tidur semalaman. Jam saat ini menunjukan 07:30, sudah sangat terlambat untuk pergi kesekolah. Tapi dua sejoli ini masih saja mengorok di tempat tidurnya, tidak ada yang membangunkan mereka dan alhasil mereka tidak masuk sekolah di hari itu.
Beda halnya dengan Dinda yang sudah dari jam 6 udah stay dalam kelas. Dinda memang terkenal teladan dan disiplin akan waktu. Tidak heran ia menjadi salah satu siswa prestasi di sekolah itu.
Dinda saat ini tengah asik membaca buku pelajaran, saat sedang sibuk membaca tiba tiba Amel and the geng masuk dalam kelas dengan senyum manis yang terlontar di bibir mereka masing masing. "Hay Dinda" ucap Amel dengan sangat ramah
Dinda menoleh ke arah sumber suara dan hanya menatap heran ke arah mereka.
"Jangan bingung gitu dong din, gue kesini gak berniat jahat ke elo" Ucapnya yang langsung duduk di kursi depan meja Dinda.
"Kita disini mau minta maaf atas kejadian kemaren"
"Iya Dinda, kita bertiga nyesel banget udah jahat sama Lo" sambung Lala dengan nada meyakinkan
Dinda makin bingung dan tidak tau apa maksud dari ini semua, tapi ekspresi Amel saat itu terlihat sangat menyesali perbuatannya, Amel meraih tangan dinda dengan perlahan. "Dinda gue mohon maafin kita ya Din, gue nyesel banget Din, tolong maafin kita Dinda" bujuk Amel dengan tulus.
Dengan polosnya Dinda menganggukan kepalanya, menandakan bahwa ia telah memaafkan Amel dan kawanan nya.
"Serius Din Lo maafin gue?" Tanya Amel
"Iya aku maafin kalian" jawab Dinda dengan polosnya.
Amel bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Dinda. "Makasih banget ya Din, gue nggak nyangka Lo baik banget selama ini" ucap Amel yang masih memeluk Dinda.
Jam sudah menunjukan pukul 8:30 pagi, apa yang mereka pikirkan semalaman sampai di jam segini masih belum bangkit dari tidurnya. Braaakkkk, terdengar bunyi pecahan gelas yang berasal dari dapur. Suci membuka matanya secara reflek, ia diam sejenak sampai menyadari satu hal. "Astaghfirullah ibu" ucapnya sambil bangkit dari kasurnya.
Dia menyadari ibunya belum sarapan dari tadi pagi, dan belum minum obat juga. Dengan secepat kilat ia menuju kamar ibunya tapi tak ada orang yang ia dapati, ia lanjut pergi ke area dapur dan betapa terkejutnya apa yang ia dapati. Ibunya tersungkur di atas lantai dengan kondisi kepala berdarah akibat terbentur sesuatu. Ia berlari menuju kearah ibunya, dan segera mungkin membantu ibunya yang lagi terbaring Tak berdaya.
kondisi Panik dan penuh kecemasan membuat suci tak berdaya mengangkat ibunya, akhirnya ia menjerit sekuat tenaga memanggil Raka yang masih tertidur dalam kamar. "Rakaaaaa toloong" jeritnya dengan sangat kuat, tapi Raka masih saja belum bangun dari tidurnya. "Rakaaaaa tolong rakaa" jeritnya sekali lagi dengan nada yang keras dari sebelumnya. Dengan kesadaran yang masih belum terkumpul Raka terbangun dan langsung berlari kearah sumber suara. Ia terkejut melihat suci yang lagi berusaha mengangkat ibunya sambil menangis, Raka mendekat dan segera menggendong ibunya suci ke area ruang tamu. "Suci, buruan Lo telpon ambulans" sergah Raka sambil menggendong ibunya suci.
Suci berlari kearah kamarnya untuk mengambil ponselnya, segera saja ia mengotak ngatik layar datarnya itu. Sementara itu ibunya di baringkan di atas sofa panjang ruang tamunya.
Sementara itu kondisi dalam kelas 11 IPA 1 SMA pelita bangsa tengah ricuh dan berisik, ini karena faktor jam kosong di tambah dengan guru mereka yang lagi rapat mengenai olimpiade yang akan di laksanakan 3 Minggu lagi.
__ADS_1
"Dinda, kita pergi jalan yuk" ajak Amel dengan nada manis
"Sorry Mel, sebentar aku ada janji belajar bareng anak bina bangsa"
"Plis Din, sekali ini aja. Anggap aja ini sebagai tebusan kesalahan gue ke elo" bujuk Amel makin menjadi
"Gabisa Mel, aku harus belajar"
"Din, sekali ini aja pliss. Gue cuman traktir Lo makan aja, setelah itu Lo boleh pergi lanjutin belajar" jelas Amel yang meyakinkan.
Dinda menarik napas sejenak dan mulai berpikir, lagian Jam belajar bareng Raka sebentar sore. Apa iya menyetujui aja ya ajakan Amel?
"Oke aku mau, tapi cuman makan siang aja ya"
"Serius Din? Aaarrghh makasih Dinda" ucap Amel kegirangan sambil memeluk dinda
Amel melepas pelukan nya dan langsung pindah ke tempat duduknya. ia menoleh ke arah dua teman nya sembari memberikan senyum tipis nya. Lala dan Rima yang menyaksikan itu hanya merespon dengan kedipan mata sebagai tanda kode sesuatu.
"PENGUMUMAN, BUAT ANAK ANAK KELAS X XI DAN XII. BERHUBUNGAN DENGAN DI ADAKAN RAPAT BERSAMA PARA GURU, SEMUA SISWA DI PEBOLEHKAN PULANG" jelas suara Bu kepsek yang terdengar dari toa sekolah.
Semua seisi kelas sontak berteriak bahagia, dengan cekatan mereka memasukan buku kedalam tas dan langsung berlarian keluar kelas. Dinda langsung beranjak dari kursinya di susul dengan Amel yang mengekor di belakangnya.
"Hay din, yok kita langsung jalan aja" desak Amel yang langsung merangkul Dinda keluar dari kelas.
"Iya bentar ya Mel, aku mau kab..."
"Udahh, Lo gak usah kabarin siapa siapa, toh kita cuman pergi makan aja" potong Amel dengan suara agak meninggi.
Dinda terkejut dengan perubahan sifat Amel, di tambah lagi dengan keberadaan Lala dan Rima yang tidak berada di samping Amel saat ini.
Seperti biasa, Dinda tak bisa berkutik . Saat ini ia hanya menuruti kemauan Amel yang membawanya menuju kearah parkiran tempat mobil Amel terparkir.
"Masuk" ucap Amel datar sembari memegang pintu mobilnya. "Kita cuman makan aja kan?" Tanya Dinda dengan firasat ragu. "Lo gak percaya sama gue? Udah lah masuk aja"
__ADS_1
"Temen kamu nggak ikut?" Tanyanya lagi
"Udah deh gak usah cerewet, masuk ajaa" tegas Amel yang mulai menampakan sifat aslinya.
Dengan polosnya Dinda masuk kedalam mobil Amel, dan duduk di bangku depan samping Amel menyetir. Amel masuk dan mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal. Awalnya masih biasa saja, tapi semakin kesini Dinda merasa banyak restoran dan rumah makan yang di lewati Amel. Perasaan Dinda makin tak karuan, ia tak tahu apa yang di rencanakan Amel kepadanya.
Belasan rumah makan dan restoran sudah di lewati. Entah tempat mana yang mau di singgahi Amel untuk mengisi perut kosongnya. Hingga tak terasa perjalanan sudah 30 menit, rumah dan bangunan sudah jarang terlihat. Hanya ada pepohonan dan semak semak belukar yang cukup tinggi, Dinda tersadar bahwa ini tidak beres. Langsung saja ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Allan. Tapi niatan nya itu terhalangi oleh Amel yang langsung menepis tangan nya untuk mengambil ponselnya.
"Kan gue udah bilang, jangan kabarin siapa siapa" tegas Amel yang membuat Dinda ketakutan.
"Aku mau turun, berhenti sekarang Mel" pinta Dinda semakin ketakutan. tetapi Amel tidak peduli. Ia tetap menambahkan kecepatan mobilnya hingga memasuki pekarangan jalanan kosong tak berhuni. Nampak di sisi kanan kiri jalan hanya terlihat pohon pohon yang tinggi, dan jalan yang tidak beraspal sama sekali.
"Hentikan mobilnya atau aku loncat" teriak Dinda dengan suara yang tegas.
Dengan cekatan Dinda mengambil tuas pintu mobil tersebut dan berusaha membuka nya. Akan tetapi mobil tersebut sudah terkunci dari dalam oleh Amel. Amel hanya tertawa jahat, ia tidak peduli dengan Dinda saat itu.
"Kamu pikir aku bodoh, aku akan pecahin kaca mobil kamu" tegas Dinda kepada Amel.
"Jangan gila ya Lo, mobil gue lebih mahal di banding harga diri Lo tau nggak, sini Lo diem" teriak Amel yang dengan reflek menarik rambut Dinda agar tidak berbuat macam macam
Dinda melawan, tak ingin tinggal diam. Amel yang tengah menyetir kini tengah oleng di karenakan Dinda memberontak.
"Lepasin aku, lepaasss" jerit Dinda dengan kuat.
"Diem Lo anjing"
Amel berusaha mengambil lakban yang berada di dashboard mobilnya, sementara itu Dinda terus saja berusaha melepaskan dirinya agar bisa keluar dari mobil Amel. Dengan sekuat tenaga Dinda langsung menendang Amel hingga terpental keluar dari mobilnya. Amel pingsan dan langsung tak sadarkan diri, melihat ada kesempatan Dinda langsung beranjak keluar mobil dengan perasaan tak menyangka. Iya melirik sejenak ke arah Amel yang pingsan dan langsung berlari menjauh dari lokasi tersebut.
Baru berapa langkah ia berlari, tiba tiba saja ada 5 orang segerombolan laki laki yang menghadang nya di tengah jalan sepi tersebut. Nampak di antara mereka ber 5 memakai jaket kulit dengan tulisan ragastranger
"Mau apa kalian, jangan sakiti saya" ucap Dinda dengan separuh nafasnya
"Lo gak akan bisa kabur dari gue lagi sayang" rayu seorang laki laki yang berdiri tengah tersebut.
__ADS_1