Cinta Yang Tak Terlihat

Cinta Yang Tak Terlihat
Bab 9


__ADS_3

Dinding rumah sakit menyimpan berbagai air mata dari banyak orang. Banyak doa yang di panjatkan dan banyak harapan tulus yang dilontarkan. Begitupun dengan kondisi suci saat kini, ia hanya duduk di lantai sambil memeluk lututnya. Air matanya terus bercucuran melihat ibunya terbaring di rumah sakit untuk kedua kalinya.


"Apa jadinya gue tanpa nyokap gue rak" ucapnya dengan suara bergetar.


"hey sini liat gue" ucap Raka dengan lembut sambil memegang kedua pipi suci dan di arahkan ke depan wajahnya. Raka menatapnya dengan tatapan dalam.


"Lo itu berarti buat gue ci, gue gak mau lihat Lo nangis kayak gini, suci yang gue kenal adalah orang yang kuat" ucap Raka menguatkan.


"Lo ingat nggak, waktu kita masih kecil, gue nangis waktu jatuh dari sepeda, saat itu Lo ngomong sesuatu ke gue, Lo ingat kan?" Sambung raka yang membuat suci seakan mengingat kembalii.


"Raka gak boleh nangis, kalau Raka nangis nanti yang kuatin suci siapa" ucap Raka yang membuat suci terenyuh.


"Sekarang, kini gantian gue yang ngomong gitu ke elo"


Ia meraih tangan suci dan langsung menggenggam nya. "Suci jangan nangis, Raka gak tau harus nguatin siapa lagi kalau bukan suci"


Suci tersenyum dan langsung memeluk Raka dengan sangat erat. Ia melampiaskan kesedihan nya dalam pelukan raka. "Apapun keadaannya, gue akan selalu ada buat Lo" ujarnya sambil memeluk suci dengan hangat.


Mereka berdua tinggal saling menguatkan satu sama lain, suci hanya terduduk lesu di atas lantai, sedangkan Raka duduk di depan suci sambil terus memegang tangan nya.


15 menit menunggu hasil, akhirnya dokter keluar ruangan dengan ekspresi yang lesu. "Dengan keluarga Bu Ratih?". Suci menoleh dan langsung bangkit dari duduknya, tak lupa ia mengelap air matanya dan tetap berusaha untuk tenang. "Iya dok Saya anaknya" ucap suci dengan lugas.


"Sebelumya mohon maaf nak suci, tapi ibu kamu harus melakukan tindakan operasi. Tulang ekor bekas benturan kemaren bertambah parah, mungkin karena ibu kamu memaksa untuk berdiri dan terbentur kembali saat dia terjatuh" ucap dokter itu dengan suara tenang


"Lakukan apapun itu agar ibu saya bisa sembuh dok"


"Sebelumnya nak suci urus biaya administrasi dulu"


"Kira kira berapa biaya administrasi nya dokter?"


"Kisaran 50 juta rupiah"


Setelah mendengar itu suci sontak mundur beberapa langkah dengan tatapan kosong, ia merasa tulang dan sendinya sudah tak menyatu lagi. Dengan reflek Raka memegang tangannya agar tak jatuh ke lantai, ia menarik suci agar mendekat ke arahnya. Suci menoleh dengan tatapan berkaca kaca.


"Gue gak punya duit sebanyak itu Raka" ucapnya dengan penuh kerisauan.


"Lo tenang dulu yaa, g..gue bisa pinjem ke orang tua gue dulu" jawab Raka penuh keraguan


"Gak usah Raka, gue tau kondisi orang tua Lo kayak gimana, pokoknya jangan ngerepotin mereka"


Ia memalingkan wajahnya sejenak, sembari memijit kecil kepala nya yang sedikit pusing memikirkan biaya itu. "Yaudah nanti kalau uang administrasi nya sudah ada, silahkan hubungi pihak rumah sakit ini ya. Saya pergi dulu" ucap dokter itu sambil meninggalkan Raka dan suci

__ADS_1


"Apa gue cari kerja part time aja yaa?"


"Gak boleh, Lo harus fokus sama sekolah juga"


"Trus siapa yang mau bantu kita untuk nyari uang itu rak?? Gak ada kann?"


"Gue akan bantu Lo suci"


Raka dan suci reflek menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara yang menyahuti omongan suci tersebut. Dan betap terkejutnya mereka karena ternyata orang itu adalah Allan Fernando.


"Lo kok bisa tau gue dan Raka ada di sini?" Tanya suci sambil berjalan mendekati Allan


"Panjang ceritanya, yang pasti gue akan bantuin Lo"


"Gue gak mau repotin Lo all"


"Trus?? Lo mau liat nyokap Lo sakit terus kayak gitu?"


Suci menoleh ke arah Raka, Raka tersadar dan hanya merespon dengan anggukan kecil. "Oke gue mau, tapi gue pinjam dan akan gue ganti, semoga nanti kita berdua menang olimpiade dan hadiahnya gue ksih sepenuhnya buat Lo" ujar suci kepada Allan


"Tapi sebelum itu jelasin dulu, Lo tau dari mana gue dan Raka ada di rumah sakit ini" sambung suci yang bertanya dengan Raka


"Hari ini sekolah gue pulang lebih awal, gue mutusin untuk datang kerumah Lo untuk lanjutin belajar, tapi di tengah jalan gue liat Raka ngiringin ambulans di belakangnya. Dan bisa gue tebak dalam ambulans itu ada Lo ci. Dan saat itu juga gue ikutin kalian, lebih terpenting nya lagi gue udah dengar semuanya, gue udah mantau dari jauh" jelas allan kepada Raka dan suci.


"sekarang kan gue temen Lo juga, gue akan bantu sebisa gue. Yaudah kalau gitu gue pergi proses dulu ya" ujar Allan yang sambil melangkah menjauh dari suci.


"Gue ikut, gue gak bisa biarin Lo ngurus semuanya all"


"Yaudah yuk sini" ajak Allan kepada suci.


Mendengar respon persetujuan Allan, suci langsung menoleh ke arah Raka. "Gue titip nyokap gue dulu ya rak"


"Iya gue tungguin kok" ucap Raka sambil tersenyum.


Raka menunggu di depan ruangan ICU tersebut, sedangkan Allan dan suci pergi ke pusat administrasi untuk mengurus Pembayaran operasi ibunya. Di sepanjang koridor suci tak henti hentinya mengucapkan terima kasih ke Allan. Hal ini membuatnya makin semangat untuk belajar lebih giat agar ia bisa memenangkan olimpiade nanti dan segera mengganti uang milik Allan. Tak terasa mereka sudah hampir dekat dengan pusat administrasi, Allan menoleh ke arah suci yang sedari tadi menampakkan wajah tenang. "Sehabis ini gue mau ajak Lo ketemu seseorang"


Suci mengernyitkan dahinya, mukanya nampak bingung dengan maksud perkataan Allan.


"Seseorang siapa?"


"Nanti juga Lo tau" ucap Allan sambil tersenyum.

__ADS_1


Allan dan suci sudah sampai di tempat yang mereka ingin datangi, hingga tak terasa proses pembayaran sudah selesai. Suci merasa lega karena operasi ibunya akan segera di tanganin kurang lebih 3 jam lagi. Suci merasa bersyukur bisa mengenal Allan sebagai teman nya. Suci berniat mau balik ke tempat ruangan ibunya, tapi Allan menarik tangan nya dan mengajak suci ke suatu tempat dimana ia akan mengenalkan seseorang kepadanya.


Mereka berdua menaiki anak tangga satu demi satu, suci yang mengekor dari belakang dan mulai menyadari bahwa tempat yang ingin ia tuju bersama Allan adalah rooftop rumah sakit. Entah apa maksud Allan membawanya ke lantai tertinggi yang ada di rumah sakit itu. hingga saat mereka sudah sampai Allan memberikan senyuman manisnya nampak kedua matanya sudah mulai berkaca kaca.


"Ngapain Lo ajak gue kesini, gue gak bisa lama lama, kasian Raka nunggu sendiri" ucap suci kepada Allan. Respon Allan hanya masih tetap tersenyum, air matanya sudah mulai menetes di pelipis nya. "Tunggu sedikit lagi, gue mau kenalin Lo sama seseorang" jawab Allan dengan mata berkaca kaca.


Allan beranjak dari tempat berdirinya, dan mulai berjalan ke arah kursi besi yang mengarah ke halaman depan gedung. jika dilihat dari atas hanya terlihat pucuk pepohonan dan jika melihat kebawah hanya terlihat lahan parkir yang begitu luas. Allan duduk di kursi itu dan begitupun dengan suci yang hanya menurut. Allan mengelap air matanya sembari menunduk mengingat suatu kejadian yang terjadi di rooftop ini.


"Gue punya adik kembar ci, nama nya Allina feronica" lontar Allan yang langsung to the point.


Suci terkejut atas apa yang di ucapkan Allan, ia mengesampingkan badannya ke arah Allan dengan mimik wajah yang bingung.


"Tepat di hari ini, gue dan adik gue ulang tahun ke 18 tahun, dan di hari ini juga, tepat 3 tahun dia meninggal karena bunuh diri"


Dengan reflek suci memegang kedua tangan Allan sembari menguatkan nya. "Kalau Lo gak sanggup cerita gak apa apa kok, Lo jangan maksain all" ucap suci dengan nada lembut.


"Sifat dan perilaku Allina itu hampir mirip kayak Lo ci, setiap gue ngelihat Lo seakan akan gue ngerasa kalau adik gue masih hidup"


"Allina, Dinda dan Amel itu dulu nya bersahabat ci, semasa SMP mereka ber 3 gak pernah lepas satu sama lain. Sampai pada akhirnya Allina nyuruh gue untuk pacaran sama Amel" tegas Allan di penghujung kalimatnya. Suci saat kini masih fokus menyimak dengan penjelasan Allan.


"Allina kenapa bisa nyuruh Lo kayak gitu?" Tanya suci memecah suasana


"Karena saat itu hanya Amel yang masih jomblo" ucapnya sambil menyengir.


"Kenapa mesti Lo? Kan banyak cowo yang lain"


"Karena Amel suka sama gue, meskipun gue gak suka sama dia"


Suci reflek membelalak kan matanya. "Kalau Lo gak suka, ngapain Lo pacarin?" Sergah suci yang mulai meninggi


"Karena gue sayang sama adik gue ci, gue gak mau bikin dia kecewa dengan nolak permintaan nya, meskipun gue sempat bilang ke Allina kalau gue gak suka sama Amel"


"Jangan bilang ke gue kalau Lo sukanya sama Dinda?"


Allan hanya tertunduk sambil menganggukan kepalanya. Suci bertambah shock, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan nya. Ia tak menyangka terhadap apa yang di beberkan Allan terhadap nya.


"Saat kami masih SMP, Dinda udah pacaran sama ketua osis SMA pelita bangsa. saat gue tahu, gue langsung mundur dan mendam perasaan gue ci" jelas allan yang masih menunduk. Suci memegang pundak Allan dan mengelusnya dengan lembut.


"Perasaan Lo ke Dinda itu sama seperti perasaan gue ke Raka, Lo gak boleh memaksakan seseorang untuk terus mengelilingi diri Lo. Emang pada nyatanya sakit, tapi inilah dunia"


Allan mengangkat wajahnya ke depan dan mulai tertawa kecil saat mendengar perkataan suci. "Anjir Lo, ternyata ingat juga sama kata kata gue" Timpal Allan yang masih tertawa.

__ADS_1


"Gue dukung Lo kalau misal mau jadian sama Dinda" jawab suci sembari tersenyum.


__ADS_2