
2 tahun kemudian~
Hari ini adalah hari kelulusan yang paling dinantikan oleh semua siswa.Tak terkecuali Louis dan Feng.Mereka berdua lulus dengan nilai tertinggi.
"Selamat ya,sekarang kalian sudah lulus dengan nilai terbaik" ucap Melvi yang merupakan teman perempuan Louis dan Feng."Ya,terimakasih" ucap Louis dengan ramah.
"Emm...apa kalian mau merayakan kelulusan denganku?" tanya Melvi ragu.Louis dan Feng pun diam dan saling pandang.
"Ya,kami mau saja" ucap Louis setelah lama berpikir.
"Baiklah kalau kalian mau,nanti malam kalian bisa datang di cafe Xx,dan aku akan mengajak temanku Zara" ucap Melvi."Ya kami akan datang" ucap Louis dan Feng hanya mengangguk."Baiklah kalau begitu aku pergi dulu dan jangan lupa nanti malam"ucap Melvi kemudian berlalu meninggalkan Louis dan Feng.
"Aku rasa kau tertarik dengan pesona seorang Melvi" ucap Feng."Mungkin.Emm...menurutku Melvi itu gadis yang cantik dan mandiri,dia juga ramah dan tidak membedakan status sosial seseorang" ucap Louis memuji Melvi. "Ya ya terserah saja,namanya juga orang lagi jatuh cinta pasti semua tentang dirinya dianggap baik" ucap Feng.
***
Malam harinya
Malam ini Louis dan Feng sudah sampai di cafe Xx,saat ini mereka sedang menunggu kedatangan Melvi dan Zara.
"Hei bagaimana penampilanku?" tanya Feng sambil memutar tubuhnya tanpa malu jika dilihat oleh pengunjung cafe."Biasa saja" jawab Louis santai,namun itu cukup membuat Feng kesal.
"Kenapa kau menjawab 'biasa'?,seharusnya kau menjawab 'Penampilanmu sangatlah bagus dan kau juga terlihat sangat tampan' begitu!" protes Feng tidak terima."Kenapa kau malah protes?,bukannya tadi kau bertanya padaku bagaimana penampilanmu dan aku menjawab biasa dan kenapa kau malah protes?" ucap Louis.
"Ya aku protes karena kau menjawab biasa" ucap Feng."Kalau kamu tidak mau mendengar jawaban ku,kau juga jangan bertanya!,apa gunanya bertanya kalau kau tak mau menerima jawabannya?" ucap Louis kesal sedangkan Feng hanya diam karena yang diucapkan sahabatnya memang benar.
"Hai maaf ya aku terlambat" ucap Melvi yang baru saja datang bersama Zara."Ya,tak masalah,aku juga tau kalau kalian terlambat pasti karena berdandan" ucap Louis asal tebak.
"Dari mana kau tau,kalau kita terlambat karena berdandan?" tanya Melvi lalu duduk di kursi kosong begitupun dengan Zara."Aku hanya tau wanita itu kalau berdandan sangat lama" jawab Louis."Kau seperti peramal saja" ucap Melvi tersenyum.
"Em..apa kalian sudah memesan makanan?tanya Zara."Belum,kami menunggu kalian berdua" ucap Feng.
__ADS_1
"Baiklah aku akan ke sana memesan makanan,sepertinya pelayannya belum ke sini" ucap Zara lalu beranjak dari duduknya.
"Oh ya,apa rencana kalian setelah ini?" tanya Melvi membuka pembicaraan setelah beberapa saat hening."Kami berencana bekerja di sebuah perusahaan" ucap Louis.
"Oh.."ucap Melvi."Kalau kau?" tanya Louis.
"Aku berencana untuk pergi keluar negeri untuk kuliah dan juga belajar mengurus perusahaan ayah" jawab Melvi.
"Berapa lama kau di luar negeri?" tanya Louis.
"Aku juga tidak tau,mungkin aku akan lama".
"Em..apa aku boleh minta nomor teleponmu?" tanya Louis dengan ragu.
"Untuk apa?"tanya balik Melvi sambil mengerutkan alisnya.
"Aku akan menghubungimu saat aku sudah punya ponsel" jawab Louis.
"Terimakasih,suatu saat aku akan menghubungimu" ucap Louis."Ya aku tunggu kau menghubungiku" ucap Melvi.
5 tahun kemudian~
"Ini berkas yang perlu ditandatangani" ucap Feng yang saat ini sedang berada di kantor,lebih tepatnya ruangan Louis.
"Ok" jawab Louis kemudian membuka berkas tersebut dan membacanya dengan seksama.
"Tidak disangka kita jadi orang terpandang" ucap Feng yang saat ini sedang duduk santai di sofa."Iya,aku juga tidak menyangka"ucap Louis tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas.
Ya,sekarang Louis sudah memiliki perusahaan yang maju dan terkenal.Perusahaannya berkembang dalam jangka waktu 2 tahun.
Walaupun Louis hanya bersekolah selama 2 tahun,tetapi Louis mampu mendirikan perusahaan, dan itu karena kepintarannya.
__ADS_1
Dulu sewaktu di desa Louis tidak pernah bersekolah karena keterbatasan biaya.Setiap malam hari Louis selalu menyempatkan waktu untuk membaca buku.Dan saat di kota dia bersekolah sambil bekerja di sebuah cafe,di sekolah Louis juga tergolong orang yang pintar dan berprestasi.
"Besok lusa kau harus keluar kota untuk perjalanan bisnis" ucap Feng setelah puas melamun."Ya,kau siapkan semuanya" ucap Louis."Baiklah" ucap Feng kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Louis.
"Aku sangat merindukan kakek" ucap Louis sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi."Tak terasa sudah lima tahun kakek pergi" ucapnya lagi.
Saat sedang asyik melamun tiba-tiba Louis mendengar suara seseorang.
"Jika kau rindu dengan kakekmu,maka pergilah ke desa asalmu" ucap seseorang tersebut."Hah! siapa?!" ucap Louis kaget sampai berdiri dari duduknya."Kau tidak perlu tau siapa aku,suatu saat nanti kau akan tau siapa aku" ucap seseorang misterius itu."Siapa kamu sebenarnya!" ucap Louis sambil melihat setiap sudut ruangannya."Hei kemana kau?!,apa kau masih di sini?" tanya Louis dengan sedikit berteriak."Hei kenapa kau diam?!,ayo jawab!,apa kau masih disini?" ucap Louis sambil mengangkat vas bunga."Kenapa tidak ada jawaban?" gumamnya."Aku harus mencarinya sampai ketemu"ucap Louis kemudian mengambil satu map berwarna merah dan mengibaskan nya ke seluruh penjuru ruangan."Kamu kemana?" ucap Louis sambil terus mengibaskan mao berwarna merah itu.
Ceklek.
Pintu terbuka dan di sana sudah ada Feng yang menatap Louis."Apa dia gila?" gumam Feng lalu menghampiri bosnya.
"Hei,a-apa k-kau baik-baik saja?" tanya Feng sambil memegang pundak Louis."Aku baik-baik saja" jawab Louis sambil mengibaskan map merah tersebut.
"Ta-tapi kenapa kau mengibaskan map itu?" tanya Feng."Kau diamlah,aku sedang mencari seseorang" ucap Louis tanpa melihat ke arah Feng."Aku takut melihatmu" ucap Feng dengan wajah tak berdosanya.
"Apa kau melihat orang selain kita?" tanya Louis yang masih sibuk dengan aktivitas tidak jelasnya."Tidak" jawab Feng singkat.
"Tapi aku tadi mendengar suara orang" ucap Louis."Kau itu terlalu berkhayal" ucap Feng memutar bola matanya jengah.
"Aku tidak berkhayal Feng!" bantah Louis yang tak Terima jika dirinya di sangka berkhayal.
"Hah..sudahlah lebih baik kau selesaikan pekerjaanmu yang sudah menumpuk itu" ucap Feng sambil menunjuk meja kerja Louis yang terdapat setumpuk berkas."Baiklah dan ini gantilah dengan yang baru" ucap Louis kemudian menyerahkan map merah yang sudah tak berbentuk kepada Feng."Aku juga yang kena" ucap Feng menerima map tersebut dengan wajah melasnya.
"Sudahlah kau jangan terus mengeluh, kerjakan saja tugasmu" ucap Louis yang sudah duduk di kursi kebesarannya. "Ya,baiklah" ucap Feng kemudian keluar dari ruangan Louis dengan wajah yang kusut.
"Apa mungkin aku berkhayal" ucap Louis kembali memikirkan suara misterius tadi."Hah sudahlah jangan dipikirkan lagi" ucap Louis kemudian fokus pada berkasnya.
•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•
__ADS_1