
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Louis,ya hari ini dia akan melakukan operasi.Saat ini dia sedang berada di dalam ruang rawatnya bersama dengan Melvi,Zara dan Feng.
"Jangan takut" ucap Melvi sambil memegang erat tangan Louis yang sudah mengeluarkan keringat dingin."I-iya" jawab Louis dengan gemetar.
Ada perasaan senang sekaligus takut dalam dirinya.Dia takut jika operasinya tidak berhasil dan dia juga senang jika operasinya berhasil.
"Tuan,coba anda bayangkan jika mata Anda di congkel dengan pisau,uhh pasti rasanya sangat sakit" ucap Feng sambil memegang sebelah matanya dengan kedua tangan.
"Feng!" ucap Melvi dengan mata yang melotot seolah ingin keluar dari tempatnya.
"Haha maaf,tapi jika dibayangkan pasti sakit juga" ucap Feng bergidik ngeri.
"Kalau kau tau itu mengerikan kenapa malah kau bayangkan! dasar bodoh!" ucap Louis dengan geram.
"Apa kau takut?" tanya Feng tepat sasaran.
"Si-siapa yang takut" ucap Louis dengan suara yang lebih lunak dari sebelumnya.
"Kalau kau takut bilang saja,kenapa harus pura-pura?" tanya Feng lagi.
"A-Aku me-memang tidak takut sama sekali" ucap Louis walaupun dia sempat membayangkan betapa sakitnya jika matanya dicongkel oleh pisau.
__ADS_1
"Sudahlah Feng,kau jangan menggoda Louis lagi,kasihan dia jadi ketakutan" ucap Melvi menahan tawa.
"Iya aku tidak akan menggodanya lagi,kasihan wajahnya terlihat tegang" ucap Feng dengan wajah prihatinnya.
"Maaf mengganggu,operasinya sudah bisa dilaksanakan" Ucap Dokter dari ambang pintu.
"Kalau begitu di lakukan sekarang saja" ucap Melvi.
Empat orang perawat berjalan mendekati tempat Louis untuk membawa brankar Louis ke ruang operasi.
"Gak usah takut" Melvi menggenggam erat tangan Louis yang berkeringat dingin.Dia yakin Louis pasti sedang takut saat ini.
Empat perawat tadi pun mendorong brankar Louis menuju ruang operasi.
"Jangan takut okay" Melvi menggenggam tangan Louis dengan erat,mencoba menguatkan Louis.
"Iya" Louis mengangguk mantap.Dia berusaha menyingkirkan pikiran negatif yang bersarang dipikirannya.
"Maaf operasi harus segera dilaksanakan" Tegur sang Dokter.
Melvi dengan perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Louis,dia sejenak menatap wajah Louis yang dipenuhi oleh keringat.
__ADS_1
"Jangan takut" ucap Melvi sekali lagi,sebelum brankar Louis benar-benar masuk ke dalam ruangan operasi.
"Jangan takut gitu Mel" Zara tau sahabatnya kini juga sangat takut.
"Kita tunggu saja disini" Feng duduk dengan santai di kursi depan ruang operasi.Dia memang terlihat santai namun tidak dengan perasaannya.Dia memang takut kalau operasi yang dilakukan Louis gagal.
Melvi dan Zara pun ikut duduk di kursi panjang yang ditempati Feng.
Mereka bertiga tampak menunggu dengan wajah khawatir.
Melvi pun juga beberapa kali melihat pintu ruangan operasi dengan perasaan khawatir.
Tanpa dirasa sudah 3 jam mereka menunggu Louis.Dan selama itu pula tidak ada tanda-tanda operasi akan selesai.
"Mel Jangan mondar-mandir gitu" Zara sudah jengah melihat sahabatnya yang kini tengah mondar-mandir di depan pintu operasi.
Tak lama kemudian pintu operasi terbuka dan menampilkan dokter yang memakai pakaian steril,dan jangan lupa wajah yang dipenuhi keringat.
"Operasi berjalan lancar,pasien akan dipindahkan di ruangan rawat" ucap Dokter tersebut lalu kembali masuk ke dalam untuk memindahkan Louis ke ruangan rawat.
"Syukurlah operasinya berjalan lancar" Ucap Feng.
__ADS_1
"Hah...Syukurlah" Melvi mengelus dadanya dengan perasaan lega.
Dia kembali menatap pintu operasi yang terbuka lebar dan menampilkan Louis yang sedang terbaring dengan mata yang ditutupi oleh perban putih.