
"Takut karena kejadian yang lalu ya Ris?” tanya Yasmin langsung ke poinnya. Risa menatap Yasmin dengan wajah yang datar. Pertanyaan Yasmin tersebut asal ceplos saja keluar dari mulutnya. Mendapat tatapan Risa yang datar tersebut, Yasmin merasa takut dan bersalah menanyakan itu. Lalu tiba-tiba Risa mengacungkan jempol tepat di depan wajah Yasmin. Yasmin kaget dengan teman kesayangannya yang merespon dengan acungan jempol saja.
“Apa sih Ris, jawab pake mulut bukan tangan” tanggapan Yasmin yang sebelumnya deg deg an merasa takut menyinggung perasaan Risa yang akhirnya tertawa dengan respon temannya itu.
Yasmin, merupakan satu-satunya teman di perkuliahan Risa yang tahu apa yang telah terjadi dan dialami oleh Risa di masa lalu. Setelah mereka berdua selesai makan, Yasmin pamit pulang pada Risa.
“Duluan ya Risa sayangg, semangat organisasinyaa” pamit Yasmin dengan lambaian tangannya. Risa membalas dengan lambaian tangannya. Ia lalu melihat hp nya untuk mengecek jam berapa dan menunjukkan pukul setengah satu siang. Risa bergegas menuju ke masjid yang berada di dekat fakultasnya untuk melaksanakan shalat dzuhur. Setelah shalat, Risa kembali ke gedung fakultasnya untuk menunggu waktu kumpul organisasinya. Ia harus menunggu setengah jam, ia tidak pulang karena merasa na “
nggung kalau pulang.
“Halo maa, Risa pulang sore yaa, ada rapat organisasi” Risa menelpon mamanya untuk memberi kabar kalau ia pulang sore.
“Iyaa nak, hati hati ya pulangnya” jawab mamanya di telepon. Risa langsung menutup teleponnya dan menonton series kesayangannya sembari menunggu waktu. Tiba tiba suara laki-laki memanggil Risa. Radit, teman kuliahnya, pastinya laki-laki. Meskipun Risa kurang suka berinteraksi dengan laki-laki, ia tetap memiliki teman laki-laki meskipun hanya beberapa saja. “Belum pulang kenapa Ris” Tanya Radit sambil melirik yang ditonton Risa di hp miliknya. “Wah kamu juga nonton itu Ris, gila tuh series keren parah” belum Risa menjawab pertanyaan dari Radit, Radit memberitahu series yang ditonton Risa.
“Iya dit, nanti ada rapat BEM jadinya nunggu disini, mau pulang juga nanggung, kamu sendiri belum pulang?” tanya balik dari Risa.
“Ini habis rapat hima sih, mau pulang juga.” jawab Radit.
“Oh yaudah hati hati pulangnya.” sahut Risa. Ia kembali menonton series drama yang ada di hpnya tetapi ia merasa ada yang mengawasi. Ternyata Radit masih ada di depannya.
“Ga jadi pulang dit?” tanya Risa kebingungan. Radit langsung duduk di sebelah Risa.
__ADS_1
“Nggak ah aku temenin aja, di kos juga ga ngapa-ngapain” jawab Radit sembari mengeluarkan hp di dalam tasnya.
“Ah gausah ditemenin, aku juga biasa sendiri lah dit santai aja” jawab Risa, ia merasa merepotkan temannya itu. Radit hanya menatap Risa dengan senyum dan kembali menatap layar hp nya. Risa semakin bingung dengan tingkah laku teman laki-lakinya itu dan juga kembali menonton series drama. Raditya Prawira atau biasa disapa dengan Radit, merupakan teman Risa yang dulu kebetulan satu kelompok dengan Risa dan Yasmin di ospek perkuliahan. Radit merupakan pribadi yang ramah pada semua orang atau friendly dalam bahasa masa kini. Radit merupakan satu-satunya teman laki laki Risa yang bisa dibilang akrab tetapi tidak bisa dibilang dekat sedekat Yasmin. Selebihnya Risa hanya kenal dengan teman laki-laki di angkatannya. Dan yang sampai berkomunikasi layaknya teman adalah Radit ini. Mereka berdua sibuk menatap layar hp nya masing masing.
Suara Radit memecah keheningan dan tentunya memecah fokus Risa dalam menonton series dramanya itu.
“Ngomong-ngomong, kamu punya pacar ya Ris?” tanya Radit tiba-tiba merujuk pada hal yang menurut mayoritas orang termasuk hal yang pribadi.
“Hah? Kenapa tanya gitu dit?” tanya balik Risa yang membuat kebingungannya semakin bertambah.
“Gapapa sih, tanya aja” jawab Radit yang menatap layar hpnya.
“Ga ada.” Jawaban singkat dan datar keluar dari mulut Risa. Radit langsung menoleh ke Risa dengan cepat.
“Kenapa ga cari pacar lagi aja Ris?” tanya Radit yang membuat Risa semakin kesal. Risa hanya menatap datar Radit dan kembali menatap hpnya.
“Gapapa.” Jawaban dari Risa yang singkat dengan nada datar terdengar di telinga Radit yang menunggu jawaban Risa sejak tadi. Radit merasa Risa memiliki suatu alasan yang membuatnya tidak mencari pacar.
“Aku rapat dulu ya dit” pamit Risa pada Radit. Risa menuju motornya diikuti langkah Radit yang sama sama menuju motornya. Usapan lembut di kepala Risa yang membuat Risa sempat terdiam.
“Hati hati ya Risa” ucap Radit sambil mengelus kepala Risa. Risa tidak merespon apa apa dan hanya diam.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju tempat rapatnya pun Risa masih terdiam sepanjang jalan, ia merasa aneh dengan usapan tangan Radit di kepalanya. Risa hanya memiliki sedikit teman laki-laki dan ia takut percaya lagi pada laki laki ketika akan memulai hubungan baru. Risa sudah lama tidak mendapat perlakuan itu, terakhir bersama mantannya yang sangat amat membuat luka dalam bagi hati Risa. Luka yang membekas di hati Risa membuatnya takut pada laki-laki dan ia tidak mau percaya lagi pada semua aki-laki kecuali ayahnya. Karena luka itu, Risa pernah berpikiran kalau ia tidak mau menikah dan hanya ingin hidup bahagia bersama kedua orang tuannya dengan kesuksesannya sampai tua dan selamanya.
Setelah sampai di tempat rapat, Risa mengikuti rapat dan sempat ia tidak bisa fokus karena kejadian tadi. Setelah rapat selesai, ia mengambil motornya dan bersiap siap untuk pulang. “Risaa!!” suara laki-laki memanggil Risa dengan keras. Seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan mengenakan kemeja motif kotak kotak menghampiri Risa yang sudah berada di motornya.
“Eh Langit, ada apa teriak teriak begitu?” jawab Risa. Rifaldi Langit Pratama biasa dipanggil Langit, merupakan mahasiswa fakultas teknik yang sama sama menempuh semester lima sama halnya dengan Risa.
“Kamu sakit kah? Tadi di rapat aku liat kaya lemes dan ga fokus gitu.” tanya Langit sambil menatap wajah Risa memastikan bahwa Risa tidak apa-apa.
“Gapapa, cuma kecapekan aja.” jawab Risa sembari senyum pada Langit.
“Oh gitu yaudah hati hati baliknya, aku kesana dulu ya..” pamit Langit pada Risa dengan berlari sembari memberikan lambaian tangan. Langit merupakan teman satu divisi dengan Risa, memiliki kepribadian yang ekstrovert, ramah pada semua orang, sangat peduli dengan orang lain dan peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Di perjalanan pulang pun, Risa masih terdiam dengan kejadian tadi. Ia mengendarai motor sambil sempat melamun meski tindakannya ini berbahaya.
Sampai rumah, Risa langsung membersihkan tubuhnya dan seperti biasa ia setiap hari mengobrol dengan sahabatnya sejak duduk di bangku SMP yang sekarang berkuliah berbeda kota dengan Risa. Afifah Wulandari nama lengkap sahabat Risa biasa dipanggil Fifah. Fifah merupakan sahabat Risa sejak SMP yang sekarang tengah menjalani koas di salah satu rumah sakit di kota sahabatnya berkuliah. Risa dan Fifah bertukar cerita dan sempat saling curhat sama lain.
“Fifah, kalo cowok tiba-tiba tanya punya pacar atau ngga ke cewe tuh kenapa ya? Terus tiba-tiba ngusap kepala si cewe kenapa ya?” tanya Risa pada sahabatnya. Fifah terdiam, mencerna pertanyaan dari sahabatnya ini.
“Risa.. RISAA!! KAMU PUNYA PACAR YA? ATAU BARU DIDEKETIN COWO??” Fifah kaget dan menjawabnya dengan kaget juga. Risa yang mendengar jawaban Fifah juga sangat terkejut.
“Santai Fahh, cuma tanya doangg” jawab Risa.
“Ah ga percaya aku, kamu udah berani buat bangun hubungan lagi Ris? Ris ini Risa kan??” Tanya Afifah yang masih kaget dengan pertanyaan Risa yang tiba-tiba bertanya tentang hal itu. Afifah tahu segala hal termasuk kisah percintaan yang dialami Risa dan apa yang telah terjadi dan yang dialami Risa hingga saat ini.
__ADS_1
“Ya ampun nggak Fahh, aku Cuma tanya doangg, cepet jawab alasannya apa kok cowo begitu?” Tanya Risa sekali lagi pada sahabatnya, Afifah.