
“Fifah aku mau cerita nih, jadi aku kayaknya dideketin sama cowo..” belum Risa menyelesaikan kalimat miliknya, Afifah langsung memotong.
“JANGAN JANGAN INI COWO YANG KAMU CERITAIN ITU RIS?!! Dia siapa? Kenapa kok kamu mendadak bilang gini?” tanya Afifah yang sangat antusias ingin mengetahui siapa laki-laki yang dimaksud oleh Risa.
“Radit namanya.” Risa kemudian menceritakan segala kejadian yang menyangkut Radit dengannya, seperti di kampus bagaimana, lewat chat juga bagaimana.
“ITU MAH DIA EMANG DEKETIN KAMU RISAAAA!! Please deh kamu peka dikit lah..” jawab Afifah yang mulai agak kesal dengan Risa yang kurang peka, mungkin karena Risa sudah lumayan lama menjomblo.
“Tapi kamu sendiri mau buka hubungan baru Ris? Kamu yakin? terlepas dari apa yang telah terjadi dengan hubunganmu bersama mantanmu itu?” Fifah menanyakan dengan serius pada sahabatnya melalui video call yang mereka lakukan. Risa sempat terdiam terlihat ia merenung dari ekspresi wajahnya.
“Itu Fah, jujur aku sendiri masih takut. Tapi..” Risa menghentikan jawabannya.
“Tapi apa? Balik lagi pada kamu Risa. Sebagai sahabat, aku hanya gamau kamu tersakiti lagi seperti dulu Ris.. Aku tau kamu merasakan sakit yang amat sangat sampai kamu punya trust issues sama seorang laki-laki. Semua pilihan ada di kamu Ris, aku mendukung pilihan yang kamu ambil untuk memulai hubungan baru kembali atau tidak. Jadi, tolong saran aku pikirkan kembali ya Ris.” Jelas Fifah dengan serius dimana sebelumnya ia sangat antuasias dengan cerita dari sahabat tersayangnya itu. Balasan anggukan dan senyuman Risa terlihat dari layar video call itu. Setelah mengobrol berbagai topik, Afifah menutup video call mereka dan mempersiapkan keperluan koasnya pagi berikutnya. Sama halnya dengan Risa, ia juga akan melanjutkan tugas dari organisasinya. Malam itu, Risa begadang sampai tengah malam untuk mengerjakan laporan organisasinya itu dan kemudian setelah selesai ia memutuskan untuk tidur.
Perkuliahan dijalani Risa dari pagi sampai menjelang sore. Yasmin, teman dekatnya hari ini tidak masuk kelas karena sakit. Yasmin pun tidak lupa mengabari Risa bahwa ia tidak masuk kelas dan minta maaf tidak bisa menemani Risa. Kebetulan juga Risa hari ini tidak membawa motor karena ia merasa capek. Begadang tadi malam membuat Risa memutuskan untuk naik ojek online saja meskipun harus membayar ongkos. Selepas kelas selesai, Risa memesan ojek online melalui aplikasi. Melihat Risa akan memesan ojek online, Radit menyapa Risa.
“Ris ga pulang?” tanya Radit pada Risa, ia sempat melirik hp Risa yang akan memesan ojek online.
“Loh kamu ga naik motor? Udah aku anterin aja Ris sampe rumah.” Ajak Radit yang membuat Risa terdiam.
“Gausah Dit, aku naik ojol aja.” Tolak Risa pada ajakan Radit.
__ADS_1
“Udah gapapa kaya siapa aja Ris, itung itung biar hemat.” Jawab Radit sambil menarik tangan Risa untuk jalan menuju motornya.
Terpaksa Risa menerima ajakan Radit untuk diantar pulang. Akhir akhir ini mereka berdua juga lebih dekat dan akrab daripada cuma sebatas kenalan teman sekelompok ospek.
“Kita mampir dulu ya Ris beli makan laper.” Ajak Radit tiba tiba membelokan motor yang dikendarai mereka berdua berhenti di sebuah warung sehingga Risa belum sempat menjawab ajakan dari Radit itu.
Mereka berdua akhirnya memesan makanan dan mengobrol seperti halnya teman akrab. Selepas makan dan membayar makanan yang mereka beli. Saat mereka berdua jalan keluar menuju motor Radit, Radit mengelus kepala Risa. Risa kaget langsung menghindar dan Radit sendiri juga terkejut.
“Kamu memang kaya gini ya dit ke semua orang? khususnya cewek?” tanya Risa sambil bercanda.
“Ga, baru kamu doang.”
Deg.
“Ris, ngapain? Cepet naik..” ucap Radit yang mengagetkan Risa dari pikirannya tadi.
Di motor pun Risa diam dan hanya merespon perkataan Radit seperlunya saja. Setelah 15 menit perjalanan akhirnya mereka telah sampai di rumah Risa. Risa mengucapkan terima kasih karena Radit mengantarkannya pulang. Dari jendela ruang tamu, Ayah melihat Risa diantar seorang laki-laki dan ayah terlihat kurang suka.
“Ayah Mama.. Risa pulangg..” Risa memasuki ruang tamu dan terlihat Ayah sedang duduk di kursi tamu sambil membaca koran.
“Laki-laki tadi siapa?” tanya ayah dengan nada kurang suka dan ekspresi datar terlihat dari wajah ayah.
__ADS_1
“Teman Risa, Yah.” Jawab Risa yang merasakan hawa kurang enak.
“Jangan coba-coba kamu memutuskan pacaran lagi ya Risa, ayah tidak suka. Lain kali jangan sampai kamu berduaan lagi sama seorang laki laki seperti tadi.” Perintah ayah dengan tegas yang membuat Risa terkejut.
“Tapi dia cuma teman Risa, Yah.” Jelas Risa pada ayahnya yang kembali membaca koran.
“Risaa…” panggil ayah dengan tegas sembari menatap Risa dengan tatapan tajam. Balasan anggukan dan menunduk dari Risa yang kemudian ia langsung masuk ke kamarnya. Tak sengaja mama melihat dan mendengar percakapan Risa dengan ayah di ruang tamu. Mama juga melihat kalau anaknya diantar pulang oleh seorang laki-laki.
Mama mengetuk pintu kamar Risa dan langsung masuk. Risa sedang duduk di tempat tidur sambil bermain hp. Terlihat ekspresi kesal terpancar dari wajah Risa.
“Risaa..” panggil mama pada Risa yang masih asyik bermain hp.
“Nak, niat ayah tadi baik pada dirimu, ayah sama mama juga gamau kamu merasakan sakit lagi seperti dulu akibat cinta semacam itu, ayah sama mama tau betul rasa sakit yang kamu alami dulu itu sampai kamu sakit berhari-hari sampai di bawa ke rumah sakit.” Ucap mama sambil mengelus kepala anak semata wayangnya itu.
“Dia cuma temen Risa ma, ga lebih, tapi..” Risa mengurungkan kalimatnya itu.
“Tapi apa nak? Kamu suka sama dia?” tanya mama yang membuat Risa kaget dan langsung menyanggah pertanyaan mama.
“EH NGGAK MA.. Risa ga suka sama dia kok cuma anggap teman aja.” Sanggahan Risa yang terlihat panik membuat mama tersenyum. Risa yang melihat senyum mama merasa aneh. Seperti senyum menggoda, tahu bahwa Risa menyukai teman laki laki tersebut.
“Yaudah kalo ga suka dan cuma anggap teman. Mama sebagai orang tua kamu pengen melakukan yang terbaik buat kamu. Mama ulangi, kalo mama juga ga ingin kamu sakit seperti dulu lagi.” Jelas mama sambil meninggalkan Risa yang berada di kamarnya.
__ADS_1
“Ma beneran dia cuma teman ga lebih.” Sanggah Risa meyakinkan mama dan mama hanya memberi balasan senyuman pada Risa.