
Pekan ujian tengah semester tiba, Risa berangkat kuliah berpamitan pada ayah dan mama.
“Hati hati ya Nak, semoga lancar sukses ujiannya..” doa mama saat menyalami anak kesayangannya itu.
“Aamiin maa.. Risa berangkat dulu ya Yah, Ma.” pamit Risa pada orang tuanya. Ia lalu mengenakan jaket dan menyalakan motornya kemudian berangkat ke kampus.
“Oh iya ma, ayah lupa, nanti temen ayah mau datang kesini sama keluarganya. Nanti Risa suruh pulang cepet ya..” ucap Ayah melihat Risa melaju mengendarai motor meninggalkan kedua orang tuanya.
“Loh Yah, jadinya hari ini??” ucap mama terlihat terkejut mendengar perkataan ayah. Ayah pun membalas dengan anggukan yang menandakan arti jawaban iya.
Risa melihat Yasmin sedang sibuk membuka membaca buku catatan berisikan materi kuliah yang diujikan hari ini. Risa pun melihat dan membaca buku catatan itu dari belakang tanpa sepengetahuan Yasmin.
“Metodologi penelitian terdapat beberapa car-… ASTAGA RISAA.. bikin kaget aja tiba tiba nongol dari belakang.” Yasmin terkejut melihat kehadiran Risa dari belakang karena Yasmin merasakan ada yang mengawasinya tapi ternyata sahabatnya sendiri. Risa tertawa kecil lalu duduk di sebelah teman dekatnya itu. Tak berbeda dengan Yasmin, Risa pun mengeluarkan buku catatan kuliah miliknya sendiri dan belajar seperti Yasmin lakukan.
“Omong-omong hari ini kan ada dua mata kuliah, nanti habis ujian gass main yok Ris, besok kan jadwal kosong diganti mingdep.” Ajak Yasmin tiba tiba. Risa terlihat serius mereview materi yang telah ia pelajari semalam terhenti mendengar ajakan dari Yasmin.
“Bolehh gass..” balas Risa dengan acungan jempol yang tak boleh terlewatkan. Beberapa menit setelahnya, dosen pengajar mata kuliah jam pertama sudah masuk kelas dan memulai ujian. Suasana hening, tenang, tetapi serius menyelimuti waktu ujian matkul pertama itu. Ujian berupa tertulis dengan soal essay. Sebagai mahasiswa psikologi, tak luput dari menganalisis sebuah kasus. Semua yang ada di ruangan tersebut mengerjakan dengan serius, menulis hasil pikiran mereka di lembar kertas ujian mereka masing-masing. Ada yang menulis menggunakan pulpen tanpa henti, ada yang sesekali berhenti untuk berpikir, ada juga yang melamun.
__ADS_1
“Gila soalnya menguras energi betul.” Keluh Yasmin yang terlihat ekspresi wajahnya seperti habis terbantai. Risa sendiri yang melihat ekspresi Yasmin langsung tertawa.
“Gapapa, Min. Kurang satu matkul lagi semangat!!” ucap Risa menyemangati Yasmin padahal ia sendiri pun merasa terbantai juga.
Lima sampai sepuluh menit kemudian memasuki mata kuliah jam kedua. Ujian kali ini berupa pilihan ganda yang menggunakan hp mahasiswa masing-masing. Disini suasana ujian terlihat lebih santai daripada ujian mata kuliah sebelumnya yang harus menganalisis kasus dalam bentuk essay. Di awal sebelum ujian dimulai, dosen memperingatkan kembali pada para mahasiswa untuk memiliki jaringan internet cadangan sendiri meskipun di kampus telah disediakan wifi secara gratis. Hal ini untuk berjaga-jaga apabila nantinya di tengah tengah sesi pengerjaan ataupun saat mengumpulkan jawaban ada kendala. Setengah waktu telah berjalan, ada beberapa mahasiswa yang telah menyelesaikan ujian, mereka menunggu jam kuliah berakhir dengan bermain sosial media secara sembunyi-sembunyi. Akan tetapi, ada juga yang beberapa yang masih mengerjakan serius. Risa telah mengisi semua jawaban tetapi ia tidak langsung mengirim jawaban miliknya tersebut. Ia kembali mengecek dan meneliti berulang kali jawaban yang ia pilih tiap soal-soal di formular ujian itu.
“Oke teman-teman, waktu ujian telah habis, terima kasih semuanya. Hati hati di jalan” Ucap dosen menutup sesi ujian kala siang hari itu. Para mahasiswa menjawab dengan antuasias karena tidak sabar untuk pulang ke kos ataupun ke rumah masing-masing.
“Yok ke mall nonton sama makan Ris.” Ajak Yasmin pada temannya itu.
“Nak, pulang sekarang yaa, ini di rumah ada yang mau bertamu, hati hati di jalan.” Perintah mama di teleponnya itu.
“Loh maa sekarang? Ini Risa mau main sama Yasmin.” Jawab Risa kecewa karena tidak jadi pergi main dengan Yasmin. Padahal Risa sudah membayangkan film yang ia dan Yasmin nantikan itu belum lagi makanan yang akan ia beli. Yasmin melihat Risa penuh selidik karena terlihat wajah Risa yang kecewa.
“Kenapa Ris? Kok tiba tiba cemberut gitu?” tanya Yasmin
“Anu maaf ya Min, keknya rencana main kita tunda dulu, ini mama tiba tiba telepon aku suruh pulang sekarang ada urusan.” Jelas Risa sambil cemberut.
__ADS_1
“Yahh okedeh kamu juga tidak bisa melanggar perintah dari ibu negara, yaudah pulang sanaa hati hatii Risa sayang..” jawab Yasmin menghibur Risa sambil memeluk teman dekatnya itu.
Risa buru buru mengambil motornya dan pamit pada Yasmin yang sedang menunggu ojek online. Di perjalanan pulang Risa sendiri bingung. Kenapa ia harus pulang karena hanya ada tamu? Apa tamu itu berurusan dengan Risa sendiri? Pertanyaan pertanyaan itu masih dalam benak Risa selama perjalanan. Sampai rumah, Risa melihat sebuah mobil dan beberapa sandal ataupun sepatu sekitar tiga orang tamu masuk di rumahnya. Saat hendak memasukkan motor ke garasi, suara Ayah memanggil Risa.
“Risa.. Nak, masuk dulu sapa dulu Om Dipta, Tante Sena, sama Mas Pandu.” Perintah ayah yang mengenalkan balik anak semata wayangnya itu pada keluarga sahabatnya. Risa mendengar nama-nama yang disebut Ayah merasa tidak kenal siapa mereka. Risa hanya tersenyum dan menyalami keluarga dari Om Dipta tersebut.
“Wah putrimu udah gede ya, Ga.” Sambut Om Dipta pada Ayahnya itu.
“Iya Pa, mana cantik manis juga, cocok nih kalo sama Pandu.” Tambah Tante Sena pada perkataan suaminya yang memuji anak dari sahabatnya itu.
Risa kemudian duduk ditemani mama di sampingnya merasa kaget dengan ucapan dari sahabat ayahnya itu. Lalu Risa menatap mamanya itu, mama hanya tersenyum dan tertawa kecil menanggapi pujian yang diberikan untuk anaknya itu. Risa tetap bingung pada percakapan yang berlangsung di ruang tamu saat ini. Lalu ia melihat seorang laki-laki perawakan tinggi dengan badan ideal, rambut rapi dengan potongan yang memperlihatkan dahinya, serta memakai kemeja tak lupa dengan lengan baju yang tergulung menampakan tangan laki laki itu. Laki-laki itu memakai kacamata berframe warna hitam. Ya bisa dibilang sangat tampan bagi sebagian besar orang. Sambil mengamati menelusuri laki-laki itu, tidak sengaja kedua mata Risa dan laki laki itu bertemu. Pandu Anggara, memiliki nama panggilan Pandu, laki laki berusia 28 tahun, bekerja sebagai dosen muda, kebetulan juga dosen satu universitas dengan Risa dan ayahnya. Tatapan tajam dari mata Pandu membuat Risa yang sedari tadi menulusuri siapa laki-laki tersebut.
Deg.
Risa sedikit tersentak, ia merasa tidak sopan apa yang telah ia lakukan barusan. Risa kemudian langsung menunduk menghindari kontak mata dengan Pandu itu.
Waduh, parah tatapan yang menakutkan, mana terlihat galak begitu. Batin Risa sambil menunduk takut akan tatapan dari Pandu. Perbincangan antara keluarga itu berlangsung sekitar kurang lebih satu jam. Om Dipta beserta keluarganya pamit pulang pada Ayah Arga, Mama Tuti, tidak lupa dengan anaknya, Risa. Setelah mobil dari keluarga Om Dipta meninggalkan rumah Risa, Risa kesal dan marah pada orang tuanya yang masih berada di ruang tamu.
__ADS_1