
“Ayah, Mama, kenapa tiba tiba Risa dijodohin sama orang yang Risa belum kenal? Risa gamau nikah muda, Risa ga siap menjalin hubungan sama laki-laki baru.” Protes Risa sambil menangis pada orang tuanya. Mama melihat Risa dengan iba dan menyuruh Risa duduk dulu dan menenangkan diri.
“Ayah sudah menetapkan perjodohan ini sudah lama nak dengan Om Dipta.. Pandu anak Om Dipta juga sudah mapan, baik, tidak neko neko. Ayah ingin memberikan yang terbaik buat kamu.. Ayah mama takut kamu mengenal laki laki pilihanmu sendiri ke depannya, nantinya kami juga takut kejadian yang menimpa kamu dulu terulang kembali.” Jelas ayah pada anaknya itu dengan suara yang lembut.
“Tapi jangan tiba-tiba gini Yah.. Risa juga masih semester lima belum mendapat gelar sarjana tapi disuruh menikah muda… Risa ngga mau Yah…” ucap Risa menangis tersedu sedu, mama yang disamping Risa hanya bisa menenangkan anaknya itu. Mama tau perintah ataupun keputusan dari Ayah sangat sulit ditawar apalagi perjodohan ini merupakan perjanjian terdahulu dengan sahabatnya.
“Risaa.. Ayah memutuskan ini demi kebaikan kamu Nak..” tambah Ayah meyakinkan Risa.
Risa sudah tak tahan dan ia langsung masuk ke kamarnya sambil menangis.
“Udah Yah, biar mama jelasin pelan-pelan ke Risa.” Mama menenangkan perdebatan yang baru saja terjadi antara Ayah dengan anaknya itu.
Mama mengetuk pintu dan memasuki kamar Risa, Risa sedang berada di kasurnya menutupi seluruh badannya menggunakan selimut. Terdengar suara tangisan dari Risa, membuat mama semakin tidak tega terhadap perjodohan untuk anak semata wayangnya itu. Mama duduk sebelah Risa terbaring di tempat tidurnya.
“Risa… untuk saat ini tolong turuti kemauan Ayah ya nak ya, mama paham kamu belum siap menjadi seorang istri dari laki laki yang baru saja kamu temui tadi bahkan kamu belum mengenalnya. Mama tau kamu sendiri juga gamau dan gasiap untuk menikah muda. Ayah sama mama sendiri gamau kamu merasa takut terus menerus menjalin hubungan baru, mama sendiri juga gamau kamu mengalami kejadian seperti dulu yang membuat kamu dilarikan ke rumah sakit dan juga harus berkonsultasi sama psikolog Nak.. Risa.. kamu ga harus buru buru, kamu bisa mengenalnya terlebih dahulu.. Meskipun kamu masih menempuh kuliah, menikah bukan menjadi halangan bagi kamu untuk menempuh pendidikan Nak..”
__ADS_1
Risa mendengar penjelasan mamanya itu semakin menangis dan langsung memeluk mamanya, mama lantas membalas pelukan dari Risa.
“Risa sayang mama sama ayah, tapii.. Risa gamau maa…udah ga jaman jodoh jodohin kaya gini..” eluh Risa pada mamanya itu. Mama dengan iba mengelus kepala Risa untuk menenangkannya.
“Risaa.. ayah mama juga sayang kamu.. ini merupakan keputusan terbaik buat kamu… jalani saja dulu ya Nak..” pinta mama ke anaknya yang masih menangis di pelukannya itu. Mama kemudian mengecup kening Risa, lalu keluar dari kamar Risa untuk memberikan ruang sendiri bagi Risa. Risa masih menangis di tempat tidur.
Mengapa secepat ini aku menikah? Perjodohan macam apa ini? Laki laki yang belum aku kenal pun akan jadi suamiku? Pikiran Risa kacau dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Ia membuka ponsel lalu memutuskan untuk menelpon sahabatnya, Afifah. Menunggu panggilan berlangsung, Risa mengusap air matanya menggunakan tisu.
“Haloo Ris, ada cerita apa hari inii?” tanya Afifah dengan antusias pada sahabatnya tersayang itu. Tidak ada jawaban dari Risa, tetapi terdengar suara sesenggukan seperti orang menangis.
“Fah, aku dijodohin, aku akan menikah.” Jawab Risa dengan nada sedih dan lemah.
“wahh kamu ga jomblo lag-… LOH MENIKAH? HAH GIMANA RIS? KAMU MENIKAH? RIS??” jawab Afifah yang awaknya sempat mencerna perkataan sahabatnya kemudian terkejut.
“Iya Fah.” Jawab Risa singkat dengan nada lemah pasrah. Risa menceritakan semua kejadian yang telah terjadi padanya tadi. Mulai dari perkenalan keluarga Om Dipta, anaknya bernama Pandu, dan mengenai perjodohan. Risa menceritakan semuanya panjang lebar sambil menangis. Ia sudah tidak tahan dengan apa yang telah terjadi dan keputusan dari ayah dan mama. Afifah mendengar cerita Risa sangat serius dan ikut bersedih, sahabatnya menangis dari nada telepon yang mereka lakukan. Afifah sendiri masih sangat terkejut dan bingung merespon apa pada masalah yang dihadapi Risa, sahabatnya itu.
__ADS_1
“Ris yang sabar yaa, aku bingung mau menjawab apa, aku sendiri kaget banget kenapa tiba-tiba kamu dijodohin sama anak sahabat ayahmu itu.. Kamu juga gabisa juga menentang perintah kedua orang tuamu apalagi sama ayahmu Ris..”
“Risa kamu tenangin diri dulu yaa Ris.. Mungkin ayah sama mama ngga mau kamu seperti dulu Ris…” ucap Fifah menenangkan sahabatnya, ia masih terkejut dengan cerita Risa yang tiba tiba akan menikah. Afifah menanyakan siapa calon yang akan menjadi suami Risa itu. Risa menceritakan semuanya, rasa takut, kecewa, sedih, dan sebagainya ia ceritakan pada sahabatnya itu, Afifah sampai larut malam. Risa saat ini butuh teman cerita, hanya didengarkan saja, Risa merasa lebih baik daripada sebelumnya.
Kamis pagi di perkuliahan, Yasmin melihat Risa murung, lemas, dan ekspresi sedih terukir di wajahnya.
“Risaa kenapa kamu murung gitu? Kaya orang gapunya semangat hidup, laper kah? Atau baru galau?” tanya Yasmin sambil menyenggol tangan Risa.
“Gapapa Min, aku baru males ngomong aja..” jawab Risa dengan lesu kemudian menatap ponselnya.
“Loh tumben Ris, dilihat lihat kamu lagi galau ya? Punya gebetan kah? Atau gebetanmu punya gebetan lain?” tanya Yasmin bercanda pada Risa. Risa hanya melihat Yasmin diam saja dan tiba tiba tangannya mengacungkan jempol terbalik mengejek Yasmin.
“Nih bocah cuma jempal jempol dikira baru chat pake emot…” balas Yasmin terheran heran sama teman dekatnya itu. Tak lama, jam perkuliahan pagi dimulai, dosen memulai ujian karena minggu ini masih pekan ujian tengah semester dan terakhir adalah besok jumat.
__ADS_1