
Di sinilah, Casha sekarang. Di taman, gadis itu membuntuti Cishi. Sekarang Casha percaya jika ia mempunyai kembaran. Dada Casha sesak melihat betapa manisnya Dirga pada kembarannya.
"Kenapa kalau sama gue, dia kasar banget? Apa gue bukan tipenya dia?" ucap Casha. gadis itu tersenyum kecut. Air matanya lolos begitu saja.
"Ah, cengeng banget gue." ucap Casha. Gadis itu menghapus air matanya lalu pergi dari sana. Ia tidak mau mencari penyakit dengan terus memperhatikan mereka berdua.
Di perjalanan, Casha melihat keramaian di ujung jalanan. Casha menghampiri keramaian itu, Matanya membelalak melihat ada pertawuran. Sedetik kemudian matanya berbinar, ia ikut bergabung.
"Heh! sini lawan gue," ucap Casha. tanpa sadar tingkahnya di awasi oleh seseorang. Casha berdecak kesal, ia diacuhkan oleh mereka.
Saat Casha menepi, ekor matanya tak sengaja menangkap seseorang yang membawa senjata tajam. Dengan gerakan kilat, Casha menendang pisau itu lalu mengambilnya. Semua orang bersorak, karena kegiatan yang dilakukan Casha.
Sedangkan orang itu, menggeram kesal. Matanya menatap nyalang pada Casha. Saat akan memberikan bogeman pada Casha, Gadis itu lebih dulu berbalik lalu menodongkan pisau. Spontan membuat pria itu mundur. Casha tertawa.
"Hahaha lucu lo, beraninya pake senjata tajam. Liat noh yang lain pake tangan kosong, cupu banget," ejek Casha. Gadis itu pergi meninggalkan area pertawuran itu. sedangkan pria yang sedari tadi menatap Casha, menyunggingkan senyumnya.
"Dia sangat menarik," gumam pria itu.
Casha kembali berjalan, Niat hati ingin kembali kerumahnya namun ia batalkan saat melihat betapa damainya Vano dan Sandra bersama kembarannya itu. Matanya kembali memanas. Dalam satu hari Cishi berhasil merebut hati Vano, Sandra dan Dirga.
Tangan Casha mengepal, melihat tangan Cishi yang seenaknya merangkul lengan milik Dirga. Dan What the hell? Dirga tidak keberatan? Dada Casha bergemuruh.
"Gue emang benci ama tuh om-om, tapi bukan berarti hati gue gak sakit ngeliat dia bareng cewek lain," ucap Casha, gadis itu memegang dadanya.
"Aaaa...kenapa gue jadi cemburu gini sih. Apa iya gue udah mulai jatuh cinta sama tuh Om?" tanya Casha pada dirinya sendiri.
Tidak mau berlama-lama melihat kebahagiaan Vano dan Sandra bersama kembarannya, Casha berbalik pulang ke rumah gadis yang bernama Cishi. Di perjalanan Casha tentunya tidak berhenti merapalkan sumpah serapahnya untuk Cishi.
"Sial! enak banget tuh cewek, manfaatin posisi gue! dapet kasih sayang." Ucap Casha. gadis itu menendang botol kaleng yang ada di jalanan itu. Dan tanpa ia ketahui, botol kaleng itu mengenai kepala seseorang.
Casha terus berjalan, hingga ia sampai di rumahnya ah ralat rumah Cishi.
"Percuma banget, rumah gede penghuninya gak ada," ucap Casha saat gadis itu berada di depan rumah mewah milik Cishi.
"Eh, non Cishi udah pulang?" tanya Bi Sum. salah satu pelayan yang ada di rumah ini. Bi Sum tersenyum manis padanya, Casha membalas senyuman itu.
"Iya Bi. Cishi minta tolong yah, bawakan tas Cishi. Cishi laper mau makan dulu, hehe." Gadis itu berujar sambil memperlihatkan deretan giginya yang Rapi, Bi Sum tersenyum, malahan terheran dengan sikap anak majikannya.
"Non, Cishi beda banget. kalau dulu mau nyuruh kaga pake tolong didepannya, sekarang mah sebaliknya," ucap Bi Sum. Ia tersenyum bahagia.
Casha memakan makanannya, gadis itu melahap habis lauk yang ada di meja makan, tanpa menyisakan apapun. Vanya dan Adrian pulang, Casha mengernyit.
"Bukannya, mereka berdua selalu pulang malam yah, emm itu sih yang di katakan Bi Sum," batin Casha.
Adrian menatap piring yang ada di meja makan itu. Sudah habis. Adrian menatap Casha, sedangkan Casha berbalik menatap mata elang milik Adrian. Satu alis Casha terangkat.
"Kenapa?" tanya Casha. Adrian tersentak.
"Kenapa menghabiskan semua makanan Casha?" ucap Adrian. Casha melotot saat mendengar Adrian memanggi namanya dengan benar. Adrian tersenyum tipis.
"Papi tahu kalau kamu itu Casha, tenang saja hanya papi yang Tahu. Mami kamu tidak," ucap Adrian Casha mengangguk.
"Lo-
"Papi, panggil papi," ucap Adrian. Memaksa Casha memanggil dirinya dengan sebutan Papi.
__ADS_1
"Oke Papi. Darimana Papi tahu kalau aku Casha bukan Cishi?" Tanya Casha. Adrian tersenyum.
"Papi seorang ayah. Banyak yang membedakan kalian, jika menurut papi. Yang pertama, senyum kalian. senyum kalian berbeda, jika Casha senyumnya persis dengan Papi sedangkan Cishi persis dengan Mami," ucap Adrian. Casha mengangguk.
Adrian memeluk Casha erat, "Papi kangen banget sama Casha. Sempat merasa gak bisa bareng-bareng lagi, tapi ternyata Tuhan punya rencana yang lain," ucap Adrian. Casha tidak memberontak lagi.
"Bertahun-tahun Papi nyari Casha, tapi Papi tidak pernah ketemu dengan Casha. Papi cukup senang, saat Tahu yang ada dirumah Papi adalah Casha bukan Cishi," ucap Adrian.
"Papi, sesak!" Sentak Casha. Adrian melepaskan pelukannya. Kemudian menatap Casha lamat-lamat.
"Maafkan Papi. Papi sangat merindukan mu makanya, pelukan papi erat banget," ucap Adrian. Casha mengangguk.
"Apa Cishi selama ini tidur di gudang itu?" tanya Casha, menunjuk gudang yang ada di samping kamar Adrian. Adrian meringis, lalu mengangguk.
Casha mengangguk mengerti, sekarang ia tahu kenapa wajah Cishi berseri-seri bersama keluarganya. Itu karena keluarganya selalu punya waktu untuk dirinya, banyak kasih sayang disana.
"Casha mau baik ke kamar," ucap Casha. Gadis itu menggunakan lift karena tidak mau kelelahan. Adrian tersenyum tipis.
*****
Seorang pria berjalan, menelusuri lorong rumahnya. tempat dimana, ia di besarkan. Dalam keadaan gelap, pria itu menenteng sebuah tongkat baseball di pundaknya.
Senyum tipis pria itu terlihat jelas, namun sayang tidak ada yang melihatnya. Pria itu tersenyum Pshyco. Mengambil sebuah foto yang ia ambil diam-diam.
"Apa yang sudah ku targetkan menjadi milikku, akan menjadi milikku," ucap Pria itu sambil memegangi foto itu.
"Aku benci perselingkuhan, tapi aku melakukannya. Tau kenapa Lebah? Karena itu menghibur," lanjut pria itu. Matanya seketika menajam.
"Akh..kau milikku, seorang," Suara berat itu menggema di ruangan kosong itu.
Pria itu berjalan menuju ranjangnya. Menatap ponselnya yang terus berdering. Ada grupnya yang tidak jelas itu berbunyi. Jelas grup itu bersama teman-temannya.
"Dia cantik sekali," Puji pria itu. Bibirnya terus melengkungkan senyuman yang indah.
"Akh...kenapa aku cemburu pada boneka itu," Pria itu berdecak kesal melihat keberadaan boneka itu. Lalu tanpa sadar menyeringai.
****
Tugas bulan telah selesai, Kini matahari lagi yabg bertugas. Seorang gadis, masih bergeming di kasurnya. Tidak ada niatan untuk bangun.
Sesaat gadis itu merasakan, ciuman tepat di pucuk kepalanya. Gadis itu mengerjabkan matanya, melihat siapa yang menciumnya. Ternyata Adrian, pria paruh baya itu tersenyum manis.
"Selamat pagi, putri Papi," sapa Adrian. Casha yang baru saja membuka mata kini tanpa sadar tersenyum.
"Pagi, Pi." Casha menatap balik, pada Adrian.
"Mandi gih, hari ini kamu kan sekolah," ucap Adrian. Casha mengangguk, namun sedetik kemudian ia menatap Adrian.
"Casha sekolah di mana?" tanya Casha, Adrian menatap Casha sejenak.
"Untuk saat ini, kamu sekolah di sekolahnya Cishi dulu yah," Ucap Adrian. Casha mendelik.
"Sebagai Cishi juga?" tanya Casha, Adrian mengangguk. Casha hanya menghela nafas berat.
"Papi janji sayang, kamu tidak akan bertahan hidup sebagai Cishi. Secepatnya mereka akan tahu kalau kamu bukan, Cishandra tapi Cashandra," ucap Adrian. Pria paruh baya itu berjanji pada Casha. Casha mengangguk.
__ADS_1
"Inget, Casha bukan seperti Cishi yang hanya menginginkan janji, Casha berbeda, Casha hanya perlu bukti," ucap Casha. Adrian mengangguk, Jelas tahu perbedaan mencolok diantara mereka berdua.
Setelah mengatakan itu, Casha beranjak dari kasurnya menuju toilet. Gadis itu akan bersiap menuju sekolahnya. Gadis itu menepuk keningnya, Lupa menanyakan nama sekolah Cishi.
"Akh...kehidupan gadis itu rumit banget, apa ini?? bajunya kebesaran banget," ucap Casha. Gadis itu mengoceh tidak jelas saat melihat isi lemari Cishi yang di penuhi dengan baju yang kebesaran.
"Cupu banget sih tuh anak," ucap Casha. Gadis itu memakai, pakaian milik Cishi, merutuki ke cupuan saudaranya.
Casha turun dari kamarnya, gadis itu menuju meja makan. Biasa untuk sarapan, Vanya menatap Casha heran. Kebiasaan Casha dan Cishi benar-benar berbeda.
Seorang Cishi itu tidak bisa sarapan, jika ia sarapan maka beberapa jam kemudian sarapannya ia akan muntahkan. Beberbeda dengan Casha, gadis itu selalu sarapan.
"Loh bukannya, kamu gak suka sarapan?" tanya Vanya. Casha tersentak. Kenyataan menyiksa apalagi ini yang ia dapatkan.
"No. aku sarapan," ucap Casha. menatap menu sarapan, tidak ada susu yang biasa ia minum.
"Aki mau roti sama susu, kenapa gak ada?" tanya Casha. Baik Adrian dan Vanya meringis. Adrian meringis karena melupakan bahwa yang ada rumah ini adalah Casha. Vanya yang tidak tahu bahwa Casha sekarang antusias untuk sarapan.
"Mami buatkan dulu yah?" tanya Vanya. Belum beranjak, Vanya sudah di tahan oleh Casha.
"Tidak usah, Cash-eh Cishi udah gak mood. Nanti Cishi sarapan di sekolah aja," ucap Casha. Gadis itu bangkit dari duduknya. Lalu pergi tanpa berpamitan.
"Mas, Cishi beda banget. kamu tau kenapa?" tanya Vanya. Adrian hanya diam, lalu mengedikkan bahunya acuh.
Casha berjalan ke sekolahnya, lebih tepat sekolah Cishi. Gadis itu menyesal, bahkan sangat. Sekolah Cishi ini adalah sekolah yang paling Casha benci, Senior high school.
"Akh..benci banget gua ama ni sekolah, tapi bodohnya gua malah sekolah disini," gerutu Casha. Gadis iru memasuki sekolahnya, beruntung ia tidak terlambat.
Saat berjalan melewati lapangan, segerombolan tante-tante eh maksudnya gadis berwujud tante-tante datang menghampiri Casha. Casha nengernyit saat salah satu diantara mereka menyodorkan sebuah buku.
"Apa ini?" tanya Casha.
"Kerjain tugas gue," Casha melotot.
"Apa-apaan! gak, gue gak mau! gue bukan babu lo," setelah mengatakan itu Casha berjalan menjauh. Gadis itu menggerutu lagi, kehidupan Cishi sangat menyusahkan.
Sedangkan gadis yang menyodorkan tugas pada Casha tadi menggeram kesal. Wajahnya memerah menahan kesal.
"Udah berani ya melawan," ucap gadis itu. Gadis itu tersenyum licik.
Sedangkan Casha, gadis itu memasuki kelas. Pertama kali memasuki kelasnya, yang ia dapati meja milik Cishi penuh coretan dan sampah. Mata gadis itu mebelalak.
"SIAPA YANG NGELAKUIN INI?" Teriak Casha mata gadis itu memerah, karena kesal.
seorang anak cowok, berjalan lali tersenyum miring. Cowok itu berdiri dihadapan Casha lalu berkata, bahwa ia yang melakukannya. Casha yang kesal melihat itu, menendang perut pria itu. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali.
"Gue tidak selemah Cishi, Sialan." Maki Casha Cowok itu. Semuanya memekik, saat melihat tingkah Casha. sedangkan Cowok itu meringis, Merasakan tendangan Casha.
"Bersihin sekarang atau gue lempar lo dari lantai atas," Ancam Casha. Gadis itu benar-benar marah.
Cowok itu bangkit, lalu membersihkan meja milik Casha. Casha tersenyum senang, lalu meletakkan kepalanya di meja itu. Ia mulai tertidur, Siswa-siswi yang ada di kelas itu terpengarah, Cishi tidur di kelas? itu yang ada di pikiran mereka pertama kali.
****
**Bersambung....
__ADS_1
Halo guyss...aku kembali lagi hehehe, ini mungkin jadi part yang paling panjang hahaha. So jangan bosan-bosan baca cerita aku🤗
thank you, see you next day**