
Happy reading!š
****
Sesuai kata Dirga, ia membawa gadisnya ke taman. Casha, gadis itu tidak henti-hentinya tersenyum saat tangan kekar milik Dirga menggenggam terus tangannya.
Wajah Casha selalu memerah saat menatap mata Dirga yang terus menatapnya dengan intens. Gadis itu malu, dan memalingkan wajahnya dari Dirga. Dirga tertawa, Tawa pria itu sangat merdu. Casha mendelik saat melihat para wanita yang ada di cafe itu terpesona dengan tawa Dirga.
"Jangan ketawa, om." Casha mencebikkan bibirnya, Dirga tersenyum.
"Jangan cemburu. Mereka kan cuman bisa menikmati, sedangkan kamu? kamu alasan senyum ini mengembang," ucap Dirga. Casha tersenyum salah tingkah. Gadis itu memukul dada bidang Dirga. Dirga terkekeh.
"Ih gombal banget," ucap Casha.
"Itu nyatanya. Kamu selalu saja anggap kata-kata saya itu gombal," ucap Dirga. Casha tersenyum, berlari memeluk Dirga yang ada di depannya. Sedangkan Dirga tidak henti-hentinya tersenyum.
Hal yang langkah bagi pria itu, seorang gadis yang tingkahnya persis laki-laki kini tersenyum malu-malu. Dirga mengelus pucuk kepala Casha. Membalas pelukan gadisnya.
"Kamu cantik," ucap Dirga spontan. Casha yang masih memeluk Dirga, semakin salah tingkah.
Mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Bercanda bersama, hingga senja datang. Dengan Casha yang terus salah tingkah bersama Dirga. Dirga mengantarkan Casha pulang. Kini gadis itu yang tak ingin Dirga pergi.
"Lepaskan tangan saya," ucap Dirga lembut. Casha menggeleng, matanya menahan air matanya agar tidak keluar.
"Gak mau, kamu disini aja. Nginep," ucap Casha spontan. Dirga tertawa, mengacak rambut Casha.
"Kita belum bisa seatap, sayang." Ucapan sayang dari Dirga membuat Casha salah tingkah lagi.
"K-kamu bisa tidur di kamar tamu," kata Casha. Gadis itu menunduk.
"Lain kali aja yah sayang." Dirga mengelus kepala Casha. kemudian tersenyum, " makanya cepat lulus, biar kamu bisa aku nikahin," ucap Dirga. Casha yang semulanya menunduk, kini menatap Dirga.
"K-kamu udah tunangan sama Cishi," ucap Casha. Senyum Dirga menghilang.
"Sekalipun aku sudah tunangan dengan dia. Tapi aku cintanya sama kamu," ucap Dirga dingin. Casha menyadari perubahan raut wajah Dirga langsung mencium pipi Dirga. Pria itu terkejut, kemudian menatap Casha yang berlari masuk ke rumahnya. Dirga mengulum senyumnya.
"Gadis nakal, tapi saya cinta." Dirga terkekeh saat kata-kata itu keluar dari mulutnya.
***
Cishi keluar dari kamar mandi. Gadis itu baru saja melakukan ritual mandi. Cishi duduk di depan cermin, menatap dirinya. Saat hendak mengeringkan rambutnya, gadis itu tidak sengaja menatap sebuah foto seorang gadis. Gadis itu tersenyum kecil sambil memegangi pialanya, Senyum Cishi mengembang.
"Aku tidak tahu kamu sebahagia ini tinggal disini," gumam Cishi, Gadis itu mengusap foto Casha.
"Aku juga pengen kayak kamu. Maaf, aku memerlukan keluarga angkat kamu untuk aku," ucap Cishi sendu. Gadis itu kembali menyimpan figura itu.
Tidak lama dari itu, Cishi bangkit lalu mengelilingi kamar milik Casha. Terlihat mewah, bahkan kamar orangtuanya tidak semewah kamar Casha.
"Aku mulai iri sama kamu, Casha." gumam Cishi, menatap setiap sudut kamar yang ia tempati saat ini.
Gadis itu berjalan lagi, dan menyusuri kamar Casha. Hingga suara decit pintu berhasil mengalihkan perhatiannya. Cishi menatap Sandra yang tersenyum lembut padanya.
__ADS_1
"Turun yuk sayang, Dirga sama kakeknya datang," ucap Sandra. Wanita itu mengelus kepala Cishi dengan lembut, Cishi menikmatinya.
"Emm, iya," hanya itu yang Cishi katakan. Ia masih canggung dengan keberadaan Dirga.
Saat sampai, Dapat Cishi lihat seorang pria yang usianya lebih tua darinya dan pria yang seumuran dengan opanya. Pria itu, menatap Cishi dengan tatapan datarnya. Cishi menunduk.
"Ada apa, datang kemari?" tanya Vano ketus. Tentu saja. Semenjak perjodohan itu, Vano sedikit ketus pada kakeknya Dirga. Dilgan, kakek Dirga tersenyum yang menurut Vano itu adalah senyum menyebalkan.
"Saya datang kesini ingin membicarakan pernikahan Cucuku dan putrimu," ucap Dilgan. Mata Vano membulat, Pria paruh baya itu jelas tidak terima jika putrinya harus pergi ke rumah orang lain.
"Gak! sesuai perjanjian yah, Casha harus dapatkan gelar sarjananya baru bisa menikah," ucap Vano telak. Dilgan tertawa.
"Lama sekali," ucap Dilgan. Tanpa rasa bersalah sedikitpun. Wajah Vano semakin memerah. Sandra mengelus kepala suaminya, berusaha menenangkan.
****
Casha selonjoran di tempat tidurnya, gadis itu menatap sebuah Drama yang ada di laptop Cishi. Baru saja menutup mata akan tidur, Suara ketukan pintu membuat Casha membuka matanya.
Casha menatap Vanya yang tersenyum lebar, Wanita paruh baya itu membawakannya sebuah cemilan. Casha sangat di manjakan oleh Vanya.
"Ini minuman sama cemilan, Mami gak mau kamu bosan terus kamu pergi dari rumah Mami," ucap Vanya. Casha menatap Vanya sendu. Jujur Casha pun tidak ingin meninggalkan Vanya, tapi disatu sisi ia merindukan Vano dan Sandra.
"Mami aneh. Kalau Casha mau pergi pasti bilang kok," ucap Casha.
"Itu kalau kamu mau pergi bareng Dirga. Siapa tah--
"Sstt, Mami ngelantur banget," ucapan Vanya, Casha potong. Gadis itu menempelkan jarinya di mulut Casha. Mata Vanya berkaca-kaca, Wanita itu langsung memeluk Casha.
"Casha juga,"
"Jangan tinggalin Mami yah," ucap Vanya. Casha mengangguk di pelukan Vanya.
Saat asik berpelukan, Adrian datang. Diam-diam pria paruh baya itu tersenyum menatap ke-akuran Seorang ibu dan Anak. Adrian akui, bahwa ia dan istrinya sangat pilih kasih. Mereka lebih menyayangi Casha di bandingkan Cishi.
"Ada apa nih, main peluk-pelukan," ucap Adrian. Vanya dan Casha melepaskan pelukan mereka lalu menatap Adrian.
"Papi ganggu," ucap Casha. Gadis itu mencebikkan bibirnya, Vanya dan Adrian tertawa.
"Lagian kenapa gak ajak Papi," ucap Adrian setengah tertawa.
"Papi sibuk," ucapan Singkat dari Casha, menghentikan tawa Adrian sedangkan Vanya masih tertawa.
Adrian menatap datar putrinya, "Saya juga kerja buat kamu, yang suka menghamburkan uang." Ucap Adrian, masih dengan wajah datarnya. Casha mencebikkan bibirnya.
"Rugi dong kalau punya uang banyak, tapi gak di habisin," ucap Casha. Adrian mendelik.
"Tapi gak harus foya-foya dong," ucap Adrian sedikit gemas karena Casha.
"Visi misi Casha itu foya-foya,"
"Visi misi apaan itu," Vanya menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah Casha dan Adrian.
__ADS_1
"Udah ih, kenapa jadi berantem. Kita sini aja nonton," ucap Vanya melerai. Senyum Casha semakin mengembang. Adrian segera naik ke kasur, duduk di samping Casha.
"Pilih ini aja," ucap Adrian, Vanya dan Casha menolak. bagaimana mungkin mereka memilih film yang ada adegan bunuh-membunuh?
"Gak mau, Bagusan ini. Iya kan Mi?" Tanya Casha. Vanya mengangguk mengiyakan pilihan putrinya. Adrian hanya mengangguk pasrah. sulit memang jika harus melawan dua wanita pencinta K-Drama.
Diam-diam Casha mengulum senyumnya, baru beberapa hari disini, ia sudah merasa nyaman. Pelukan dari kedua orangtuanya begitu hangat. Ia harap semuanya tidak akan pernah berakhir.
****
Adirga.chya
Adirga.chya berbeda, dulu. jika dulu kita tidak saling mengenal dan sekarang kita saling jatuh cinta. aku mencintaimu my fiance.
Mata Casha membulat melihat fotonya bersama Dirga di upload dengannya. Wajahnya memerah, jantungnya berdebar. Gadis itu kembali terkejut saat dering ponselnya bergetar. Tertera nama Dirga di sana. dengan segera ia mengangkat telepon dari Dirga.
"Halo sayang," suara serak dengan intonasi berat terdengar dari seberang telepon.
"Halo, om. Ada apa?"
"Saya kangen kamu," ucap Dirga, Wajah Casha langsung memerah. Adrian yang kebetulan di samping putrinya itu mendengar dan melihat tingkah putrinya, tetapi ia hanya bisa pura-pura tertidur.
"Om gombal terus deh," ucap Caha setengah berbisik.
"Saya tidak gombal. Kamu kenapa bisik-bisik gitu?" Tanya Dirga.
"Papi sama Mami lagi tidur, di samping aku," ucap Casha. Gadis itu kembali merona saat Dirga mengatakan sesuatu.
"Aku kerja dulu. Aku mencintaimu," ucap Dirga tanpa menggunakan kata Saya-kamu.
"Casha juga, sayang sama om," dengan cepat Casha mematikan sambungan telepon itu. menenggelamkan kepalanya di bantal, dan bergumam tidak jelas.
Sedangkan di lain tempat, Adrian senyum-senyum sendiri. Pria itu juga merasakan apa yang Casha rasakan. Adrian pura-pura terbangun karena gumaman putrinya.
"Kamu kenapa?" tanya Adrian dengan suara seraknya. Casha mendongak. kemudian menggeleng.
"Papi kenapa bangun?" tanya Casha.
"Kamu berisik soalnya," ucap Adrian. Casha cengengesan. Adrian merotasi matanya.
"Udah. sini tidur," ucap Adrian. menarik Casha ke pelukannya, dan tidur. Vanya juga ikut memeluk.
****
**Bersambung....
Halooo, Berapa lama aku tidak up? hahaha tenang-tenang, sekarang aku up lagi.
semangat ya buat kalian, yang hari ini ujian.
__ADS_1
Thank you, and see you in the next chapterš¤**