Couples Swapped

Couples Swapped
part 8


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama, Dirga datang membawa sekantung ciki yang Casha inginkan. Casha berlari menghampiri Dirga em..lebih tepatnya yang ada di tangan Dirga.


Dirga tersenyum, melihat ke-antusiasan Casha. Pria itu berjalan mendekati Casha, yang duduk selonjoran di sofa. Dirga menepuk kaki Casha, agar kaki gadis itu memberi ruang pada Dirga untuk duduk.


Casha cengengesan, kemudian berterimakasih kepada Dirga. Dirga hanya mengangguk, kemudian bermain ponsel. Sambil memakan cemilan yang ada di tangan Casha, gadis itu memperhatikan Dirga.


Casha cemberut, saat senyum Dirga terbit ketika bermain ponsel. Gadis itu menyimpan cemilannya, lalu bergelayut manja di lengan milik Dirga. Dirga masih tidak sadar, pria itu masih fokus pada ponselnya. Casha semakin cemberut.


"Om," panggil Casha. Dirga hanya berdehem singkat, lalu kembali fokus pada ponselnya.


"Sayangg." Ucap Casha spontan. Dirga berbalik, lalu meletakkan ponselnya dan menatap Casha yang sedang menundukkan kepalanya, malu.


"Panggil apa tadi?" tanya Dirga, pria itu menahan senyumnya agar tidak tercipta.


"O..om," cicit Casha gugup, gadis itu meremas tangannya sendiri.


"Bukan yang itu, cantik. Setelah itu," ucap Dirga. Wajah Casha semakin memerah karena ucapan Dirga.


"Sayang," ucap Casha. Dirga akhirnya tertawa, Casha menatap Dirga yang tertawa. Gadis itu memukul pelan lengan Dirga, hingga Dirga berhenti tertawa.


"Kamu lucu," ucap Dirga singkat. Casha yang tidak mau salah tingkah lagi, memilih mengambil cemilannya kemudian, memakannya kembali.


Dirga melirik Casha, dari ekor matanya. Sedikit terkekeh, karena gadisnya malu-malu.


"Besok kamu sekolah kan?" tanya Dirga. Casha mengangguk dengan pipi mengembung.


"Jangan selingkuh," ucap Dirga. Casha mendelik, merasa bahwa apa yang Dirga ucapkan itu sangat jahat.


"Ih, emang aku pernah selingkuh?" tanya Casha. Gadis itu memasang wajah juteknya.


"Aku mau ke London besok," ucap Dirga tanpa mau menjawab pertanyaan Casha. Karena ia pun tahu, kekasihnya itu tidak akan melakukan pengkhianatan.


Mata Casha mengerjap, mencoba mencermati ucapan Dirga. "Besok?London?" Beo Casha, Dirga mengangguk membenarkan.


"Berapa hari?" tanya Casha. Dirga memejamkan matanya, saat pertanyaan itu muncul dari mulut kekasihnya.


"Enam," jawab Dirga. Casha mengangguk. "Bisa gak ya aku nahan kangen sama kamu, selama enam hari?" tanya Casha cekikikan. Dirga menatap Casha yang berfikir bahwa ia di sana hanya hitung minggu saja.

__ADS_1


"Bulan," tambah Dirga. Casha yang mendengar itu tersedak oleh cemilannya. Casha menatap Dirga tidak mengerti.


"Maksud kamu?" tanya Casha. Dirga berbalik, menatap Casha dengan intens. "Aku pergi selama enam bulan, bukan enam hari," jelas Dirga. Casha tertawa hambar.


"Boong banget," ucap Casha, Dirga menggeleng. "Aku serius," ucap Dirga. Casha menghentikan tawanya kemudian menatap Dirga sendu.


"Selama itu? kamu ngapain aja? nanti aku kangen kamu gimana? nanti ak-"


"Kita masih bisa Video call sama telepon, sayang." Dirga berucap, memotong ucapan Casha yang semakin membuat Dirga tidak tega meninggalkan kekasihnya, selama itu.


"Aku mau ikut,"


"Boleh. Kalau kamu di ijinin sama Papi kamu," Casha cemberut, keluar rumah sendiri saja tidak dibiarkan apalagi pergi selama itu bersama pria yang masih belum menjadi suaminya.


"Papi gak bakalan kasih ijin," ucap Casha, dengan kepala menunduk dan bibir bawahnya, maju ke depan.


Dirga mengacak-acak rambut milik, Casha. Gemas dengan ekspresi yang kekasihnya tunjukkan padanya.


"Janji bakalan sering telpon kamu," ucap Dirga. Casha hanya mengangguk malas, kemudian naik ke kamarnya. Dirga ingin menyusul, namun di tahan Oleh Adrian yang entah kapan sudah ada di sana.


"Saya hanya ingin dia terbiasa," ucap Dirga. Pria itu menunduk, berusaha tidak memperlihatkan wajah sedihnya, "Tanpa ada saya di hidupnya," lanjut Dirga lirih.


"Dengan alasan itu? kamu pikir setelah Casha tau, apa ia akan memaafkan kamu? kamu melarang putriku selingkuh tapi kamu?" ucap Adrian sinis, sebelum meninggalkan Dirga, pria paruh baya itu mendaratkan kepalan tangannya yang sedari tadi mengepal, ke wajah Dirga.


Dirga hanya bisa pasrah, ketika Adrian memukul wajahnya. ia juga salah, merasa bersalah dengan gadisnya.


***


Adrian menatap seorang gadis di hadapannya dengan tatapan datarnya, Gadis itu dengan gugup meraih telapak tangan milik Adrian namun di tepis kasar oleh Adrian.


"Mengambil milik kakak kamu?" ucap Adrian dingin. Cishi menatap Adrian terkejut, dari mana Papi tau kalau aku Cishi?


"Saya sudah tau semuanya, dan saya bersyukur yang ada di rumah saya sekarang, Casha bukan kamu," Cishi merasakan dadanya sakit mendengar ucapan Adrian. Memang benar, selama ini yang Adrian dan Vanya inginkan hanya Casha bukan dirinya.


"Saya hanya mau bilang sama kamu, jangan mengambil apa yang sudah Casha miliki," ucap Adrian. Cishi tau maksud dari Papinya itu.


"Tapi tanggal pernikahannya sudah di tentukan Pi," ucap Cishi. Adrian menatap tajam Cishi.

__ADS_1


"Kenapa tidak kamu hentikan? apa karena kamu juga suka sama dia?" Tanya Adrian. Cishi tersentak, suara Adrian meninggi.


"Iya. Cishi juga suka," jawab Cishi. Gadis itu menutup matanya saat melihat tangan Adrian melayang ke arah wajahnya.


Plakk!


Cishi merasakan wajahnya memanas. Mata gadis itu berkaca-kaca mendapatkan tamparan pertama kali dari sang ayah. Meski Adrian tidak pernah menunjukkan kasih sayang padanya, tapi pria paruh baya itu tidak pernah angkat tangan seperti tadi.


"Minta sama keluarga kamu, dan Calon kamu itu. Agar merahasiakan pernikahan kalian, jika sampai Casha tau, kamu orang pertama yang saya hancurkan hidup kamu," Ancam Adrian. Setelah itu, Adrian pergi dari hadapan Cishi.


Cishi menangis, sesegukan. Gadis itu mengusap air matanya, dan pulang. Memohon pada orang tua barunya, agar pernikahannya di adakan secara sederhana.


Sampai di rumahnya, ia mendapati Dirga yang sedang mengobrol pada kedua orangtuanya. Jantung Cishi bergerak dua kali lebih cepat dari biasanya.


"Saya ingin, pernikahan saya dan Casha di laksanakan secara sederhana dan tamunya hanya keluarga dari kedua bela pihak saja yang datang," ucap Dirga. Sesak, itu yang dirasakan Cishi. Bahkan Dirga pun, menginginkan hal yang sama dengan Papinya.


Seluruh keluarga mereka menggeleng tidak terima, namun karena Cishi meyakinkan mereka semua, akhirnya mereka melakukan pernikahan mereka secara sederhana, enam bulan dari sekarang.


Setelah memutuskan hal itu, Cishi dan Dirga pergi ke taman belakang rumah milik Cishi. Dirga menatap Cishi, meski mereka berdua mirip. Namun di mata Dirga, Casha yang paling cantik.


"Saya tidak suka kamu, apalagi cinta," ucap Dirga, memulai pembicaraan. Cishi menoleh kemudian mengangguk mengerti.


"Saya harap, kamu tidak kelewat batas. Saya mencintai saudara kembar kamu," ucap Dirga lagi. Cishi hanya mengangguk.


"Saya minta maaf jika tidak bisa memberikan kamu Nafkah batin," Cishi mengangguk lagi. Meski rasa sesak itu terus menyerang hingga ke rongga dadanya. tidak bisa di pungkiri, Cishi pun mencintai Dirga.


Dirga tahu, bahwa Cishi memiliki perasaan padanya, itulah mengapa pria itu memberitahu pada Cishi agar tidak kelewat batas. Karena ingin menghubungi Casha, Dirga pergi meninggalkan Cishi.


****


Haloo semuanyaaa hehe. Maaf ya, baru update.


See you, another day and time.


Don't be bored to read my story🤗


see you in the next chapter.....

__ADS_1


__ADS_2